NovelToon NovelToon
Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Jin Nyasar Di Desa Kertajaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Komedi
Popularitas:658
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Tiga pemuda bokek di Desa Kertajaya nekat mencari cara mendapatkan uang. Alih-alih menemukan keberuntungan, mereka justru selalu terjebak dalam masalah kocak yang bikin hidup mereka semakin kacau. Tanpa mereka sadari, petualangan aneh yang lebih besar sudah menunggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Ke Kos

BAB 19

Suasana di dalam kamar nomor empat terasa jauh lebih senyap dari biasanya setelah kepulangan mereka dari lokasi pohon beringin tumbang. Bayu langsung merebahkan diri di atas kasur busa tipis sambil menatap langit-langit kamar dengan napas terengah-engah, sementara Dimas meletakkan tas ranselnya di atas meja dan duduk tenang di tepi kursi.

Raka menutup pintu kayu kamar rapat-rapat, memastikan kunci slot terpasang dengan benar. Ia kemudian berbalik dan menatap ke arah sudut ruangan tempat Zahmira berdiri.

Perempuan bergaun ungu itu tidak langsung duduk atau berbicara seperti biasa. Ia berdiri kaku di dekat jendela kecil, membelakangi mereka, dengan kedua tangan yang saling meremas erat di depan gaunnya. Sikap diam itu menunjukkan betapa dalam pikiran sang putri jin sedang berkecamuk setelah melihat prasasti kuno tertanam di bawah akar pohon beringin tadi siang.

Baru saja Raka hendak membuka mulut untuk memecah keheningan, suara ketukan pintu yang sangat keras dan familier tiba-tiba menggelegar dari luar.

Tok! Tok! Tok!

"Raka! Bayu! Dimas! Buka pintunya!" suara melengking penuh emosi milik Bu Ratna langsung membahana di koridor luar, membuat Bayu yang tadinya setengah berbaring langsung melonjak kaget dari kasurnya.

Bayu mengelus dadanya panik. "Ya ampun... Baru juga sebentar kita masuk kamar, daster hijau lumut udah datang lagi. Ini nagih uang kos apa lagi sih? Padahal kan kemarin udah lunas!"

Dimas bangkit dari kursinya, lalu berjalan membuka kunci daun pintu dan membukanya lebar-lebar.

Sosok Bu Ratna langsung mendesak masuk dengan daster hijaunya yang berkibar, membawa aura omelan mingguan yang begitu pekat.

Tangannya berkacak pinggang, sementara telunjuk kanannya menunjuk-nunjuk ke arah lantai dekat pintu.

"Kalian ini ya! Kalau lewat depan tangga jangan suka ninggalin jejak kotor!" sergah Bu Ratna galak, tanpa membuang waktu. "Itu di lantai koridor depan kamar nomor tiga ada sisa lumpur kering berceceran! Siapa yang baru dari sawah atau kebun tapi nggak cuci kaki dulu, hah?"

Raka menghela napas lega dalam hati mendapati bahwa kemarahan Bu Ratna kali ini bukanlah karena masalah uang sewa, melainkan sekadar urusan kebersihan lantai koridor kos. Ia buru-buru memasang senyum paling sopan.

"Ah, maaf, Bu... Tadi kami habis jalan-jalan agak jauh sampai ke barat pasar, mungkin sepatu kets Dimas atau sandal Bayu ada yang kena tanah basah," dalih Raka cepat, meredakan situasi.

Bu Ratna mendengus kesal sambil melipat tangan di dada. "Makanya, kalau jalan pakai mata, jangan pakai dengkul! Lantai baru dipel kemarin sore sama anak kos nomor dua, sekarang sudah cemong-cemong kayak jalan kerbau. Pokoknya besok pagi giliran kamar nomor empat yang harus ngepel lantai koridor lantai dua! Nggak ada penolakan!"

"Siap, Bu! Besok pagi jam sepuluh kita pel bersih sampai kinclong pakai karbol wangi melati!" jawab Bayu sigap dengan gaya hormat, berusaha secepat mungkin merayu pemilik kos agar lekas pergi.

Bu Ratna memutar bola matanya malas, memberikan satu kali pelototan tajam kepada Bayu sebelum akhirnya memutar tubuh dan melangkah pergi sambil mengomel pelan menuruni tangga.

Brak!

Pintu ditutup rapat kembali oleh Dimas. Suara langkah sandal jepit Bu Ratna berangsur-angsur menjauh, meninggalkan keheningan yang kembali merayap di dalam kamar sempit tersebut.

Bayu mengembuskan napas panjang sambil merebahkan diri kembali ke kasur. "Fiuh... Syukurlah bukan nagih utang susulan. Kalau tiap hari diteror daster hijau, umur saya bisa pendek sebelum wisuda."

Raka tidak menanggapi keluhan Bayu. Langkah kakinya perlahan mendekati sudut ruangan tempat Zahmira berdiri sejak tadi. Ia berdiri tepat di hadapan sang putri jin, menatap wajah cantik itu dengan sorot mata yang tenang namun penuh selidik.

"Mbak Zahmira," panggil Raka dengan nada suara yang sengaja dilembutkan.

Zahmira menoleh perlahan. Sorot mata tajamnya bertemu dengan pandangan Raka. Tidak ada lagi kilatan arogansi yang mendominasi yang terlihat sekarang hanyalah sisa-sisa kegelisahan yang gagal disembunyikan.

"Ada apa lagi, manusia?" tanya Zahmira dingin, berusaha menegakkan dagunya. "Apakah perempuan berdaster tadi datang untuk memarahi kalian lagi karena lantai kotor?"

"Bukan urusan Bu Ratna yang mau kita bahas sekarang, Mbak," jawab Raka pelan, melipat kedua tangannya di dada. "Tapi prasasti batu hitam dengan ukiran simbol keemasan yang tadi kita lihat di bawah akar pohon beringin."

Mendengar kata prasasti batu hitam disebut, tubuh Zahmira kembali menegang sesaat. Ia membuang muka ke arah meja kecil. "Itu bukan urusan kalian.

Benda itu adalah peninggalan masa lalu yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan fana kalian."

"Bagaimana bisa tidak ada sangkut pautnya kalau Mbak sendiri kelihatan syok setengah mati pas melihatnya?" sanggah Raka rasional. "Mbak Zahmira, dari awal Mbak tinggal di sini, kami nggak pernah menuntut Mbak buat cerita macam-macam.

Tapi kalau prasasti itu memang ada hubungannya sama dunia Mbak dan sekarang muncul di desa kami, bukannya kita juga perlu tahu sedikit?"

Dimas dan Bayu yang mendengar percakapan serius itu langsung terdiam. Bayu bangkit dari kasurnya, duduk bersila sambil menatap Raka dan Zahmira bergantian dengan ekspresi serius yang jarang sekali terlihat di wajahnya.

Zahmira terdiam cukup lama. Ia menatap tiga pemuda di depannya satu persatu Raka yang berdiri tenang penuh tanggung jawab, Dimas yang mengamati dengan kepala dingin, dan Bayu yang meskipun sering berisik, tampak siap mendengarkan. Ada rasa asing yang berkelebat di dalam dada sang putri jin untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian menghadapi masalah dari dunianya.

Zahmira menghela napas panjang sebuah helaan napas lelah yang terdengar begitu berat dari sosok seorang putri gaib.

"Benda itu..." suara Zahmira akhirnya memecah keheningan, terdengar jauh lebih pelan dan rapuh dari biasanya. "...adalah prasasti penanda penjaga tempat yang dibuat oleh para leluhurku di masa lalu."

Zahmira melangkah pelan meninggalkan jendela, mendekati meja kecil di tengah ruangan.

"Dulu, benda semacam itu ditanam di beberapa titik sebagai penanda batas wilayah spiritual," lanjut Zahmira menjelaskan dengan sorot mata menerawang. "Tetapi, prasasti yang tertanam di bawah pohon beringin tadi... tanda itu seharusnya sudah lama tidak aktif atau tertimbun rapat di tempat tersembunyi. Mengapa ia bisa muncul dan berpindah ke tengah-tengah pemukiman manusia Kertajaya, itu yang membuatku heran."

"Maksud Mbak, ada yang sengaja memindahkan atau menanam benda itu lagi di sana?" tanya Dimas dengan kening berkerut.

"Entahlah," jawab Zahmira pelan menggelengkan kepala. "Aku sendiri belum tahu siapa yang melakukannya atau apa tujuan sebenarnya di balik kemunculan benda itu."

Suasana di dalam kamar mendadak menjadi sangat sunyi. Raka merenungkan setiap kata yang diucapkan Zahmira. Ia tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya, ia merasa prasasti yang mereka lihat siang tadi bukan sekadar batu tua yang kebetulan tertanam di bawah akar pohon.

1
falea sezi
lanjut🤣 q kirim bunga
Putri Pinrang: Baik terimah kasih sudah koment😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!