Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 04.
Sore itu, SMA Pancasila bermandikan cahaya keemasan.
Langit bersih tanpa setitik pun awan mendung, kontras sekali dengan cuaca abu-abu kemarin yang sempat membuat lapangan futsal becek. Namun, bagi Stella, cuaca yang cerah ini justru membawa bencana kecil yang luar biasa memalukan.
"Aduh, plis... jangan sekarang," bisik Stella panik.
Ia sedang bertengger di pagar besi belakang sekolah, mencoba mengintip ke lapangan futsal. Di sana, Gibran—cowok dengan senyum sehangat matahari yang sudah ia taksir sejak semester lalu— sedang menggiring bola dengan lincah.
Keringat yang membasahi dahi Gibran berkilau diterpa cahaya sore, membuat Stella sempat terhipnotis selama beberapa detik.
Tapi romansa fana itu langsung buyar begitu Stella sadar rok celana abu-abunya tersangkut di ujung pagar besi yang tajam.
Stella mencoba bergerak naik, tapi bunyi kreeek kecil menghentikan jantungnya. Sial. Kalau ia memaksa turun, celananya pasti robek besar. Dan yang lebih parah, ia bisa jatuh terjungkal dengan posisi yang sangat tidak estetik.
"Butuh bantuan?"
Suara itu berat, datar, dan muncul entah dari mana. Stella tersentak kaget hingga hampir kehilangan keseimbangan. Ia menoleh patah-patah ke bawah dan mendapati Lingga sudah berdiri di sana.
Lingga adalah anomali di SMA Pancasila. Jika Gibran adalah matahari yang disukai semua orang, Lingga adalah sudut bayangan yang dingin.
Cowok itu selalu memakai seragam dengan rapi, tapi tatapan matanya begitu pekat dan sulit dibaca. Ia jarang bicara, dan gosipnya, ia tidak suka berurusan dengan hal-hal yang tidak penting.
"Lingga..." cicit Stella, wajahnya langsung memerah padam. Dari sekian banyak orang di sekolah ini, kenapa harus si manusia es satu ini yang memergokinya dalam kondisi sekonyol ini?
Lingga tidak merespons panggilannya. Ia hanya menatap ujung celana Stella yang tersangkut, lalu mendongak menatap mata Stella yang bulat berair karena panik.
Tanpa babibu, Lingga melangkah mendekat. Jiwa efisiennya tampaknya tidak tega melihat ada siswi yang bergelantungan seperti jemuran di pagar sekolah.
"Pegangan ke pundak gue," perintah Lingga singkat.
"Hah? Tapi—"
"Gak usah banyak tapi. Pegang, atau gue tinggal?" ancam Lingga, nadanya tidak membentak, tapi sukses membuat Stella langsung mencengkeram kedua pundak tegap cowok itu.
Lingga maju selangkah lagi, mengikis jarak di antara mereka.
Stella bisa mencium aroma parfum dan wangi sisa detergen dari seragam Lingga.
Jantung Stella mendadak berdegup dua kali lebih cepat, dan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Gibran di lapangan sana.
Dengan satu tangan, Lingga meraih besi pagar untuk menstabilkan posisi, sementara tangan satunya bergerak cekatan melepaskan kain celana Stella yang tersangkut.
Jari-jari Lingga yang panjang sempat tidak sengaja menyentuh kulit pergelangan kaki Stella, menyalurkan rasa hangat yang membuat Stella merinding ringan.
"Udah lepas. Sekarang turun. Lompat dikit," ucap Lingga.
Masalahnya, Stella sudah terlanjur lemas. Saat ia mencoba menurunkan kakinya, tumpuannya goyah. Stella tergelincir dari pijakan pagar.
"Eh—eh!"
Grep.
Lingga refleks menangkap pinggang Stella agar cewek itu tidak menghantam tanah.
Alhasil, Stella jatuh tepat ke dalam pelukan Lingga. Tubuh mereka bertubrukan, menyisakan jarak yang begitu tipis hingga Stella bisa merasakan embusan napas Lingga di pucuk kepalanya.
Tangan Stella mencengkeram erat kemeja belakang Lingga, sementara kedua lengan Lingga mendekapnya erat untuk menahan beban tubuh mungil gadis itu.
Selama tiga detik yang terasa seperti tiga abad, dunia seolah berhenti berputar.
Riuh teriakan anak-anak futsal di lapangan mendadak senyap. Stella bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berkejaran, bertalu-talu di dalam dada. Wangi tubuh Lingga memenuhi indra penciumannya, terasa begitu nyata dan mengintimidasi.
Ada getaran aneh yang menjalar di balik rusuk Stella—sesuatu yang belum pernah ia rasakan bahkan saat menatap Gibran dari kejauhan.
Lingga sendiri sempat membeku. Sepasang matanya yang biasanya sedalam sumur tua berkedip sekali, menatap wajah Stella yang berada tepat di bawah dagunya.
Detik itu, ada emosi samar yang lewat di mata Lingga—sebuah keterkejutan yang langsung ia kubur dalam-dalam.
Begitu menyadari posisi mereka, Lingga langsung melonggarkan pelukannya. Ia menarik tangannya kembali dengan gerakan yang sangat kasual, seolah-olah baru saja memindahkan sebuah barang, bukan memeluk seorang gadis.
Stella berdiri dengan kaki gemetar, buru-buru merapikan rok celananya yang untungnya tidak robek. "Ma-makasih, Ling. Gue beneran gak sengaja tadi..." Stella terbata-bata, menunduk dalam-dalam karena tidak sanggup menatap mata cowok itu.
Lingga tidak menjawab. Ia hanya membersihkan telapak tangannya yang kotor karena debu pagar dengan cara menepuk-nepuknya santai. Wajah nya kembali sepenuhnya tanpa ekspresi. Tidak ada senyum, tidak ada ejekan, bahkan tidak ada kerutan terganggu. Dingin dan datar, seperti Lingga yang biasanya.
Tanpa sepatah kata pun, Lingga membalikkan badan. Ia berjalan menjauh menyusuri koridor belakang yang sepi, meninggalkan Stella yang masih terpaku di tempatnya dengan perasaan yang campur aduk.
Stella memegang dadanya sendiri. Jantungnya masih berdegup kencang, meninggalkan rasa hangat yang tertinggal di permukaan kulitnya.
Ia menoleh kembali ke arah lapangan futsal. Di sana, Gibran baru saja mencetak gol dan tertawa bersama teman-temannya. Gibran terlihat sangat tampan. Tapi anehnya, sore ini, fokus Stella justru teralihkan oleh punggung tegap Lingga yang perlahan menghilang di belokan koridor sekolah.
......................
...****************...
Tbc,