Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Bandung 1
Dua orang duduk di satu meja yang sama, tetapi hampir tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Suasana hening hingga akhirnya Jove memutuskan untuk mengakhiri waktu istirahatnya. Sebelum pergi, ia terlebih dahulu mengabari Alaska bahwa dirinya sudah berada di perjalanan menuju Bandung.
“Maaf, aku duluan,” kata Jove, tetap sopan kepada rekan bisnisnya. “Dan terima kasih untuk kopinya,” lanjutnya tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
Nic ikut berdiri.
“Hati-hati di jalan. Sampai bertemu nanti di Bandung.”
Jove hanya mengangguk kecil sebelum melangkah pergi.
Nic tetap berdiri di tempatnya, memperhatikan Jove yang berjalan menuju mobil. Tidak lama kemudian, mobil Jove meninggalkan area peristirahatan.
Nic pun akhirnya kembali menuju mobilnya dan melanjutkan perjalanan.
Sepanjang perjalanan, pikirannya terus tertuju kepada Jove.
Ia menilai wanita itu cukup angkuh dan dingin. Namun, entah mengapa, ada sesuatu dari diri Jove yang terasa begitu mirip dengannya.
“Akan seperti apa pernikahan kami jika aku menikahinya?” gumam Nic.
Ia terdiam sejenak, kemudian kembali bergumam.
“Tapi bukankah itu bagus? Sepertinya dia juga tidak memiliki keinginan untuk menjalin hubungan. Mungkin pernikahan kami hanya akan sebatas formalitas.” Batin Nic.
Sementara itu, Jove akhirnya tiba di hotel yang dipilihnya selama berada di Bandung. Hotel tersebut masih merupakan bagian dari bisnis keluarga yang berasal dari pihak ibunya.
Begitu sampai di kamar, Jove langsung mengistirahatkan tubuhnya. Ia tidak lupa mengabari Alaska bahwa dirinya sudah tiba di Bandung dengan selamat.
Namun, ketika hendak beristirahat, tiba-tiba saja pikirannya kembali tertuju kepada Nic.
Sudah dua kali mereka bertemu, tetapi entah mengapa pria itu justru membuat pikirannya sedikit berisik.
“Nicholas Alvarendra,” ucap Jove pelan.
Ia kemudian mengambil ponselnya dan mencari nama Nicholas Alvarendra di mesin pencarian.
Beberapa berita tentang Nicholas langsung bermunculan.
“Pengusaha muda yang membawa Alva Corp semakin maju.”
“Nicholas Alvarendra mendapatkan penghargaan sebagai CEO muda dan kreatif.”
Jove membaca beberapa berita tersebut dengan saksama. Namun, jarinya berhenti ketika menemukan sebuah berita yang terbit lima tahun lalu.
“Nicholas Alvarendra dikhianati kekasihnya yang seorang model. Kekasihnya hamil dari sahabat sekaligus rekan bisnis Nicholas sendiri.”
Jove terdiam cukup lama.
Ia kemudian mengembuskan napas pelan.
“Ternyata dia sama denganku. Pernah dikhianati.”
Menjelang sore, Jove memutuskan untuk keluar dari hotel. Ia berjalan-jalan di sekitar hotel dengan berjalan kaki.
Jove menyukai suasana kota yang ramai seperti ini. Semakin sore, semakin banyak orang yang berlalu-lalang. Lampu-lampu penerangan pun mulai menyala, membuat suasana kota terasa semakin hidup.
Jove kemudian duduk di salah satu kursi yang berjajar di sepanjang trotoar. Ice matcha latte berada di tangannya, sementara pandangannya mengamati orang-orang yang berjalan berlalu-lalang dan kendaraan yang melintas di jalan.
Setidaknya, Bandung tidak sesesak Jakarta.
Pejalan kaki masih ramai, lampu-lampu mulai berkelap-kelip, dan udara yang ia hirup terasa lebih ringan dibandingkan Jakarta.
“Harusnya aku mengajukan diri untuk mutasi ke kantor cabang Bandung saja,” gumam Jove.
Dan ini pertama kalinya setelah sekian lama, senyum tipis muncul di wajahnya.
“Sepertinya aku sangat cocok tinggal di sini,” imbuhnya.
Tanpa Jove sadari, sejak tadi seseorang memperhatikannya.
Nic.
Ternyata mereka menginap di hotel yang sama. Nic sempat melihat Jove ketika wanita itu keluar dari hotel. Entah karena kebetulan atau rasa penasaran, ia kemudian mengikuti langkah Jove hingga akhirnya menemukan wanita itu sedang duduk seorang diri di pinggir trotoar.
Tanpa banyak berpikir, Nic memutuskan menghampirinya.
“Kamu di sini?” tanya Nic sembari duduk di sebelah Jove, dengan tetap menjaga jarak.
Jove menoleh. Ia cukup terkejut karena kembali bertemu dengan Nic.
“Hm,” jawabnya singkat.
“Di mana hotelmu?” tanya Nic, berpura-pura tidak tahu.
“Grand Hotel.”
“Aku juga menginap di sana,” kata Nic.
Jove tidak memberikan respons apa pun. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah jalan.
Nic memperhatikan sikap Jove yang memang tidak banyak bicara. Karena Jove tidak kunjung membuka percakapan, akhirnya Nic kembali bertanya.
“Jam berapa besok ke proyek?”
“Jam sembilan,” jawab Jove singkat.
“Mau berangkat denganku?”
Seketika Jove menoleh ke arah Nic yang duduk di sebelahnya.
Nic yang merasa ditatap langsung menyadari bahwa kalimatnya terdengar terlalu ambigu.
“Maksudku, kita kan menginap di hotel yang sama dan tujuan kita juga sama. Jadi, aku berpikir tidak ada salahnya kalau kita berangkat bersama.”
Jove kembali mengalihkan pandangannya. Matanya lurus menatap kendaraan yang berlalu-lalang di hadapan mereka.
“Besok jam delapan aku tunggu di restoran hotel. Setelah sarapan, kita bisa pergi.”
Nic terdiam sesaat.
Ia tidak menyangka Jove akan langsung menyetujui ajakannya.
“Oke,” jawab Nic singkat.
Keduanya kembali terdiam, menikmati suasana sore tanpa banyak bicara.
Nic menatap jalanan di hadapannya.
Ia tidak tahu kenapa keberadaan Jove sore ini terus mengusik pikirannya.
Perempuan itu dingin. Tidak banyak bicara. Bahkan terkesan tidak peduli dengan siapa pun di sekitarnya.
Anehnya, Nic justru merasa nyaman.
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada usaha untuk mendekatinya.
Mungkin, pikir Nic, jika benar suatu hari nanti mereka menikah, pernikahan itu tidak akan serumit yang dibayangkannya.
Dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta.
Mungkin justru itu yang membuat mereka bisa bertahan.
Sementara Jove menyesap matcha latte-nya perlahan. Sesekali, tanpa sadar, pandangannya beralih kepada pria di sampingnya.
Entah kenapa, sejak mengetahui masa lalu Nic, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Mungkin karena mereka memiliki luka yang hampir sama.
Sama-sama pernah percaya.
Sama-sama pernah dikhianati.
Dan sama-sama memilih untuk tidak lagi berharap pada cinta.
Jove mengembuskan napas pelan.
“Mungkin kami memang cocok dalam satu hal,” gumamnya dalam hati. “Sama-sama tidak ingin menikah karena cinta.”
Tanpa Jove sadari, keputusan kecil untuk berangkat bersama esok pagi mungkin akan menjadi awal dari sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
Mereka kembali ke Hotel, dan sepanjang berjalan mereka hanya saling diam. Begitupun saat berpisah di lift hotel, Jove menuju lantai tertinggi, dimana kamar khusus yang diperuntukan pemilik hotel akan ia tempati, sementara Nic hanya sampai di lantai tujuh saja. Tidak ada salam perpisahan, hanya anggukan kecil saat Nic harus keluar lebih dahulu dari lift.
Di dalam kamar, ponsel Jove berdering. Nama Alaska muncul di layar ponsel. Dan dengan segera, Jove mengangkat panggilannya.
“Iya Dad.”
“Besok kamu berangkat jam berapa?”
“Jam sembilan.”
“Di jemput supir perusahaan?”
“Tidak, tapi aku akan pergi dengan seseorang.”
“Dengan siapa?”
Jove terdiam sebentar. “Nic.”
Di seberang sana, Alaska juga mendadak diam.
“Maksudmu Nicholas Alvarendra?”
“Iya. Kebetulan proyeknya sama.”
Jove tidak tahu kalau setelah telepon itu berakhir, Alaska justru tersenyum kecil.
Karena tanpa Jove sadari, Jove baru saja mulai mengenal pria yang selama beberapa hari terakhir diam-diam sedang dipertimbangkan sebagai calon suaminya.