NovelToon NovelToon
Tawanan Pangeran Siren

Tawanan Pangeran Siren

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Beda Dunia / Fantasi
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.

Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.

Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Strategi Bertahan di Sarang Iblis

Rasa dingin yang merayap di Penjara Karang Bawah bukanlah dingin biasa yang pernah kurasakan saat menyelam di laut dalam. Ini adalah dingin yang menusuk, membekukan, dan seolah membawa hawa kematian yang pekat. Tubuhku gemetar hebat di atas lantai batu karang yang basah dan berlendir. Pakaian selam hitamku yang robek-robek tak mampu lagi menahan serbuan hawa menggigil yang terus-menerus menggerogoti hingga ke sumsum tulang.

Aku meringkuk memeluk kedua lututku yang memar, berusaha membagikan sedikit kehangatan tubuh yang tersisa pada diriku sendiri. Namun, jangankan rasa hangat, napasku saja sudah berubah menjadi hembusan asap tipis setiap kali aku menghela napas panjang.

Setiap kali aku memejamkan mata untuk beristirahat, memori tragis beberapa jam lalu berputar kembali bagai kaset rusak di dalam kepalaku. Jeritan histeris teman-teman sesama penyelam dan tim peneliti kami, suara tulang patah yang berderak keras, bayangan darah kental yang mewarnai air laut menjadi merah pekat, serta tawa mengerikan para prajurit Siren yang mengoyak dada manusia tanpa belas kasihan. Bau amis darah itu rasanya masih melekat ketat di rongga hidungku, membuat perutku mual luar biasa.

("Tuhan... kalau tahu liburan kerja menyelam ini bakal berakhir jadi ajang jagal manusia massal, mending dari kemarin aku jualan es lilin aja di desa! Mana dinginnya kebangetan lagi, rasa-rasanya badanku mau berubah jadi es batu sebelum sempat ketemu si pangeran iblis besok malam!")

Aku menghembuskan napas berat, menatap sekeliling ruangan yang mengurungku. Sungguh, ini adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah kuketahui sepanjang hidupku. Aku selalu berpikir bahwa kehidupan bawah laut sepenuhnya dikelilingi oleh air. Namun tempat ini, penjara karang bawah tanah milik bangsa Siren, benar-benar sebuah anomali. Ada kubah sihir atau semacam teknologi purba yang menahan jutaan kubik air laut agar tidak merembes masuk secara penuh, menciptakan rongga udara raksasa tempat para tahanan bisa bernapas, hidup, dan disiksa secara perlahan tanpa tenggelam.

Dahulu, para tetua di desaku sering bercerita tentang 'Teluk Bayangan'. Mereka bilang tempat itu hanyalah mitos lama atau dongeng pengantar tidur untuk menakut-nakuti para nelayan agar tidak berlayar terlalu jauh ke tengah samudra. Kabut tebal yang selalu menyelimuti kawasan itu dipercaya sebagai fenomena alam biasa. Tapi sekarang aku tahu kebenaran yang mengerikan di baliknya.

Teluk Bayangan itu benar-benar ada. Teluk tersebut sengaja dibuat transparan dan tak kasat mata bagi penglihatan manusia biasa, tertutup oleh lapisan ilusi sihir kabut abadi. Di balik bayangan menyelimuti yang tampak kosong dari luar, berdiri sebuah peradaban megah dan mengerikan. Istana Siren berdiri amat megah, terukir indah dari karang-karang raksasa yang menjulang tinggi menembus permukaan laut, memadukan keindahan arsitektur koral dengan kegelapan sihir bawah air. Dan di sinilah aku sekarang, mendekam di lantai terdasar dari kemegahan yang mematikan itu.

"Ssshh..." aku meringis pelan saat tak sengaja menyentuh luka goresan karang di pahaku.

Rasa takut mati kembali membakar dadaku. Aku menepuk-nepuk kedua pipiku yang dingin sampai memerah untuk mempertahankan kesadaran. Tak ada gunanya menangisi nasib atau meratapi kematian rekan-rekanku jika aku sendiri berakhir menjadi bangkai di tempat ini.

("Fokus, Alessia! Kau nggak boleh mati konyol di sini! Kalau kau mati, siapa yang bakal ngirim uang buat beli obat Ayah? Siapa yang mau bayar uang sekolah ke tiga adikmu yang racunnya minta ampun itu? Kau harus mikir! Gunakan otak encermu itu buat bikin strategi survival!")

Aku mulai merangkak perlahan memutari sel, mengamati setiap celah dan sudut ruangan dalam kegelapan yang dirambati cahaya obor sihir biru. Penjara ini terbuat dari struktur karang hitam yang sangat keras dan mustahil dihancurkan dengan tangan kosong. Jerujinya terbuat dari susunan tulang rusuk ikan purba raksasa yang sudah dimantrai sihir pelindung.

Berada di sini tanpa senjata adalah tindakan bunuh diri jika berpikir untuk kabur secara fisik.

Artinya, satu-satunya jalan keluar untuk bertahan hidup adalah memanfaatkan pikiranku. Aku harus membuat diriku berguna di mata Pangeran Nataniel.

Nataniel... mengingat namanya saja sudah membuat bulu kudukku berdiri serentak. Sosok pangeran bertubuh tinggi besar, berwajah tampan bak dewa namun memiliki iris mata keemasan yang dingin tanpa rasa kemanusiaan. Dari interaksi singkat tadi, aku bisa membaca sedikit tabiatnya. Nataniel adalah tipe penguasa yang angkuh, dominan, dan sangat cepat bosan. Dia membiarkanku hidup bukan karena kasihan, melainkan karena dia menganggapku sebagai 'mainan' atau 'badut' baru yang sanggup menghiburnya.

"Besok malam, aku ingin badut ini membawakanku pertunjukkan cerita manusia yang paling menarik..." Kalimat dingin Nataniel bergema kembali di ingatanku. Itu dia! Itu celah kesempatan terbesarku.

("Oke, mari kita susun rencananya baik-baik. Si Nataniel iblis ganteng itu minta cerita, kan? Dia pengen didongengin! Berarti posisi aku sekarang mirip kayak Scheherazade di cerita 1001 Malam! Selama ceritaku menarik dan bikin dia penasaran, dia nggak bakal punya alasan buat melempar aku ke kuali minyak mendidih atau menjadikan dagingku stok makanan rakyatnya!")

Aku mulai memilah-milah memori di dalam kepalaku. Aku harus menyusun strategi pendongeng yang ulung. Cerita yang kubawakan besok tidak boleh cerita biasa yang membosankan. Aku harus meracik dongeng manusia dengan bumbu drama, aksi, komedi, dan yang paling penting cliffhanger atau gantung cerita di bagian paling menegangkan!

"Langkah pertama," gumamku pelan sembari menggoreskan batu kecil ke lantai karang untuk mencatat garis besar rencana di dalam pikiran. "Aku harus berpura-pura menjadi manusia paling penurut, paling lemah lembut, dan paling memuja keagungannya. Biarkan dia merasa memegang kendali penuh atas hidupku."

"Langkah kedua," lanjutku dengan mata berbinar-binar di tengah kegelapan. "Setiap kali aku mendongeng untuknya besok malam, aku harus sengaja memotong ceritanya di puncaknya! Aku bakal bilang, *'Aduh Yang Mulia, ceritanya bersambung besok malam ya, hamba sudah terlalu lelah dan sulit konsentrasi...'*. Kalau dia penasaran sama kelanjutan ceritanya, dia terpaksa harus membiarkan aku bernapas satu hari lagi! Begitu terus setiap hari!"

"Langkah ketiga..." aku berhenti sejenak, meraba kantong kain berisi mutiara yang masih terikat rapat di tas pinggangku. "Mutiara-mutiara ini harus tetap tersembunyi. Jangan sampai para penjaga tambun di luar itu melihatnya. Harta kecil ini bisa jadi kartu AS-ku untuk menyuap siapapun kalau keadaan makin mendesak."

Aku tersenyum tipis, merasakan percikan semangat bertahan hidup kembali membara di dalam dadaku. Rasa takut yang tadinya melumpuhkan kini berganti menjadi kewaspadaan yang tajam.

("Bagus, Alessia! Kamu itu penyelam paling tangguh di desa, masa cuma gara-gara disekap Siren langsung menyerah? Biarkan harga diriku terinjak-injak sampai meluncur ke dasar samudra terkutuk ini, yang penting nyawaku tetap selamat sampai ada kesempatan buat kabur!")

Tiba-tiba, tiupan angin dingin yang teramat menusuk berhembus melintasi sel karangku, memadamkan obor sihir biru di dinding secara mendadak. Kegelapan pekat menyelimuti seluruh ruangan dalam sekejap. Tubuhku membeku. Ketakutan yang sempat surut kini kembali menyengat tengkukku.

Di luar sel, suara dengkur parau dari dua prajurit Siren yang berjaga terdengar samar-samar, menandakan mereka telah tertidur lelap akibat kelelahan. Kondisi koridor penjara benar-benar sepi dan mencekam.

Dan tepat pada saat itulah, bisikan misterius yang terdengar tadi kembali merayap pelan, merembes keluar dari celah retakan karang di dinding belakang tempatku bersandar.

"Hehe... rencana yang sangat amat manis untuk seekor serangga kecil..."

Suara itu terdengar amat parau, berat, dan bergetar penuh penekanan yang membuat kulit kepalaku terasa meremang. Itu bukan suara Nataniel, bukan pula suara prajurit Siren. Suara ini terdengar sangat tua, seperti gesekan dua batu purba yang terendam di dasar lumpur beracun selama ratusan tahun.

Aku buru-buru berbalik, menggeser tubuhku menjauh dari dinding karang dengan napas memburu. "S-Siapa itu?!" bisikku tertahan, berusaha tidak memicu perhatian penjaga di luar.

"Jangan takut, Gadis Penyelam..." bisikan itu terkekeh pelan, menimbulkan gaung dingin di dalam rongga telingaku. "Aku hanyalah bayangan dari masa lalu yang terikat di tempat ini. Sama sepertimu... aku adalah mangsa dari kesombongan sang Pangeran Siren."

Mata cokelatku mencoba menembus kegelapan pekat di celah retakan karang tersebut. Namun yang bisa kulihat hanyalah sepasang titik cahaya kemerahan yang redup, seperti sepasang mata tersembunyi yang mengawasiku dari kedalaman dinding batu.

"Kau berpikir bualan dan dongeng manusiamu sanggup menjinakkan Nataniel?" bisik suara itu lagi, kali ini terdengar penuh cemoohan yang dingin. "Kau tidak tahu apa-apa tentang iblis itu, Gadis Kecil. Nataniel bukan sekadar predator... dia tidak memiliki hati. Besok malam, saat dia bosan dengan bualanmu, dia akan mengulitimu tanpa berkedip."

Jantungku berdegup gila-gilaan menahan sensasi horor yang merayapi seluruh tubuhku. Strategi survival yang baru saja kususun rapi di dalam kepala mendadak terasa goyah akibat gertakan suara misterius ini.

("Aduh, ini suara penghuni gaib dinding karang kenapa malah bikin down, sih?! Nggak bisa apa dukung aku dikit biar agak tenang?!") Aku mengepalkan jemariku yang gemetar, mencoba memberanikan diri meski dadaku terasa sesak oleh ketakutan.

"Aku tidak punya pilihan lain!" bisikku balik dengan nada tegas yang kupaksakan. "Entah dia punya hati atau tidak, aku akan tetap bertahan hidup! Aku tidak akan biarkan diriku mati di sel bau ini!"

Hening sejenak. Suara dari balik dinding itu tidak langsung membalas. Titik cahaya kemerahan di balik retakan karang berkilat pelan, sebelum akhirnya kekeh pudar yang menyedihkan terdengar kembali.

"Keberanian yang memukau dari makhluk selemah dirimu..." gumam suara tua itu lambat. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa lama keberanianmu bertahan besok malam saat berhadapan langsung di hadapan tahta Nataniel..." Setelah kalimat itu diucapkan, hawa dingin yang melekat di dinding karang perlahan memudar. Cahaya redup dari obor sihir di luar sel menyala kembali secara misterius, membiaskan bayangan bayang-bayang panjang di atas lantai.

Aku terduduk lemas, menyandarkan dahi ke lututku yang gemetar. Suara misterius itu memang menakutkan, namun perbincangan singkat tadi menyadarkanku pada satu hal penting, ada rahasia besar yang tersembunyi di dalam istana Teluk Bayangan ini. Dan mungkin, rahasia itu bisa menjadi kunciku untuk lolos dari tempat ini di masa depan.

Aku menghela napas panjang, memejamkan mata rapat-rapat sambil terus merapalkan doa di dalam hati. Malam yang panjang dan mencekam ini baru saja dimulai, dan besok malam, panggung pertunjukan hidup dan matiku bersama Pangeran Nataniel akan resmi dibuka.

⭐⭐⭐⭐⭐

Halo Kiravers! Gimana bab keduanya? Makin tegang dan bikin penasaran banget, kan? Siapakah sebenarnya sosok pemilik suara misterius di balik dinding karang sel Alessia? Akankah strategi "1001 Malam" buatan Alessia berhasil mengelabui dan melunakkan hati dingin Pangeran Nataniel besok malam? Yuk, jangan lupa klik LIKE, simpan novel dan VOTE cerita ini sekarang juga, lalu lanjut baca bab berikutnya ya!

1
Helmy Faldy Alaydrus
ini si alesia makan apa thor
Pena kira: ikan lele kak😄
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍👍
Pena kira: 🙏 terimakasih kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ada akademi vokal di dunia siren yak😄
Pena kira: mau join kak😄
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ttp kek bocil😄
Pena kira: xixixixi
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
cobain dulu lah kabur
Pena kira: kesian kang ikan lele Dumbo nya kak kalo ditinggal kabur
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
lawak lawak
Pena kira: 🤣🤣🤣 terimakasih kk
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍👍
Pena kira: terimakasih kk
total 1 replies
Pena kira
tapi gantengnya nggak ngotak kak😭
Best
seramnye..
Pena kira: tapi gantengnya nggak ngotak kak 😭
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
ikut mual njirrr🤢
Pena kira: minum antimo kak..aman😅
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍 lanjut thor
Pena kira: asiap kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍
Pena kira: makasih kakak
total 1 replies
Best
hadir Thor..
Pena kira: thanks a lot kak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
gila kuat banget mental si alessia
Pena kira: sempat hidup generasi sandwich kak 😂
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
bagus lho tapi masih sepi. semangat thor bagus cerita nya..next👍
Best: "Baby or Babi." judul novel terbaru aku. Romansa yang di taburi juga dengan humor dan fantasi. Yuk mampir
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!