NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Tetangga Yang Tidak Pernah Terlihat

Setelah kejadian anak-anak bermata hitam semalam, aku tidak tidur sama sekali.

Aku duduk di ruang tengah bersama keluarga Kiai Jirji sampai subuh. Begitu azan subuh asli dari Banyuwangi kota terdengar sayup-sayup, semua teror hilang. Lantai tidak merembes air hitam lagi. Boneka kayu itu kembali jadi kayu biasa.

Pagi jam 6, aku putuskan keluar. Aku butuh manusia. Butuh mengobrol sama orang hidup.

Aku berjalan ke rumah Pak Min, orang pertama yang aku temui di gapura kemarin. Rumahnya hanya berjarak empat rumah dari rumah kakek.

Aku ketuk pintu.

"Pak Min? Pak Min?"

Tidak ada jawaban. Padahal dari celah jendela kayu, aku lihat lampu petromak di dalam masih menyala. Dan ada bayangan orang duduk di kursi dan diam.

"Pak Min, ini Arga! ucapku.

Bayangan itu bergerak. Pelan. Mendekat ke jendela. Tapi tidak membuka pintu.

Aku mengintip. Dan aku melihat Pak Min. Duduk, menatap lurus ke depan, wajahnya pucat. Matanya terbuka lebar tapi kosong. Di pangkuannya ada piring nasi yang sudah berjamur hitam.

Di belakang Pak Min, ada istrinya, Bu Min, berdiri di dapur. Juga diam. Menatap dinding seperti patung.

Aku lari ke rumah sebelahnya. Rumah Bu Lastri dan sam, pintu tertutup dari jendela, Bu Lastri sedang menyapu lantai, tapi gerakannya diulang-ulang terus. Menyapu di tempat yang sama selama 10 menit tanpa henti. Seperti kaset rusak.

Rumah ketiga, rumah Pak Lurah. Lebih aneh. Seluruh keluarganya duduk di ruang tengah melingkar, menghadap ke tengah lingkaran yang kosong. Mulut mereka komat-kamit membaca sesuatu, tapi tidak ada suara. Mata mereka semua hitam.

Aku pun berteriak, "Pak Lurah!"

Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang dengar.

Satu dusun, 15 rumah, semua penghuninya ada di dalam rumah. Tapi tidak ada satupun yang keluar. Tidak ada yang beraktivitas normal. Tidak ada yang masak, tidak ada anak yang main.

Mereka semua seperti dikurung di dalam rumah mereka sendiri.

Aku kembali ke rumah kakek dengan napas ngos-ngosan. Kiai Jirji sudah menunggu di teras.

"Tuan sudah lihat?" tanyanya pelan.

"Mereka kenapa? Kesurupan? tanyaku penasaran.

Kiai Jirji menggeleng, cahaya putihnya meredup sedih.

"Bukan kesurupan, Tuan. Mereka sembunyi. Ini aturan kampung ini selama 40 tahun sejak Mbah Suro jadi penjaga. Aturannya: kalau penjaga baru pulang, semua warga tidak boleh keluar rumah selama 3 hari 3 malam. Tidak boleh terlihat oleh penjaga baru."

"Kenapa? tanyaku lagi.

"Karena kalau mereka terlihat oleh Tuan sebelum Tuan resmi disumpah jadi penjaga, Banaspati bisa memakai wajah mereka. Jin Kafir bisa meniru wajah tetangga Tuan dan masuk ke rumah Tuan. Jadi mereka mengurung diri mereka sendiri untuk melindungi Tuan."

Aku pun merinding.

Jadi tetangga yang tidak pernah terlihat itu bukan karena mereka benci aku.

Tapi karena mereka melindungi ku dengan cara menghilang. batinku.

"Terus sampai kapan mereka begitu? tanya ku.

"Sampai Tuan selesaikan sumpah di masjid ghaib nanti malam. Setelah itu, Tuan akan bisa bedakan mana manusia asli, mana Jin Kafir yang menyerupai manusia...."jawab kiyai Jirji.

Siang itu, aku coba lagi. Aku keliling dusun bawa rantang berisi nasi dari keluarga Kiai Jirji. Aku taruh di depan setiap pintu rumah.

"Tetangga, ini Arga, aku taruh nasi ya..."

Tidak ada jawaban. Tapi begitu aku pergi 10 langkah, aku dengar pintu terbuka pelan. Tangan pucat mengambil rantang itu dan pintu tertutup lagi dengan cepat.

Mereka lapar. Mereka takut. Tapi mereka masih hidup.

Dan sore jam 5, saat aku kembali dari keliling, semua rantang sudah kembali di teras rumahku dengan keadaan kosong dan bersih habis dicuci. Dan di atas setiap rantang ada satu lembar daun pisang bertuliskan dengan arang:

"TERIMA KASIH, NAK ARGA. BERTAHANLAH. JANGAN BUKA PINTU UNTUK KAMI."

Mereka tidak pernah terlihat, tapi mereka ada.

Dan malam ini, aku tahu, tetangga yang akan mengetuk pintu rumahku bukan tetangga asliku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!