NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Pagi itu, Jakarta menyambut Naya dengan langit yang masih diselimuti sisa-sisa mendung dari badai semalam, namun udara terasa jauh lebih bersih. Sinar matahari pagi mengintip malu-malu dari celah tirai kamar tamu, menyorot wajah Naya yang baru saja membuka mata.

Ajaibnya, Naya tidur sangat nyenyak. Entah karena kelelahan fisik akibat menangis seharian, atau karena efek menenangkan dari secangkir chamomile buatan Kafka dini hari tadi.

Mengingat kejadian di dapur semalam, Naya refleks menarik selimut menutupi separuh wajahnya. Jantungnya kembali berdegup dengan ritme yang tidak normal. Kata-kata Kafka masih terngiang jelas di telinganya, berputar-putar layaknya kaset rusak yang menolak untuk dimatikan.

"Aku pulang untuk mengambil alih tugas itu."

Naya mengerang frustrasi di balik selimut. Apa maksudnya? Apakah Kafka sedang mempermainkannya? Tapi tatapan pria itu semalam... tatapan yang begitu gelap, intens, dan menuntut... sama sekali tidak terlihat seperti sebuah candaan.

"Nggak, Naya. Lo jangan kegeeran. Dia itu Kafka. Adik laki-laki Nessa yang dulu sering lo marahin gara-gara ngilangin Tupperware emaknya," Naya mensugesti dirinya sendiri, memukul kepalanya pelan dengan bantal. "Dia cuma berusaha ngehibur lo karena kasihan. Titik."

Setelah berhasil meyakinkan dirinya sendiri—atau lebih tepatnya, memaksa akal sehatnya untuk kembali bekerja—Naya beranjak dari kasur. Ia mandi, lalu membongkar kopernya untuk mencari pakaian kerja. Hari ini ia harus kembali ke kantor. Naya memilih kemeja berbahan chiffon warna biru laut yang dipadukan dengan celana kulot putih dan blazer senada. Ia merias wajahnya sedikit lebih tebal dari biasanya, memulas concealer ekstra di bawah matanya untuk menyamarkan jejak tangis, dan menggunakan lipstik berwarna peach agar wajahnya terlihat lebih segar.

Naya menatap pantulan dirinya di cermin. Ia bukan lagi wanita menyedihkan yang menangis di lorong apartemen. Ia adalah Naya yang mandiri, dan ia tidak akan membiarkan patah hati menghancurkan karirnya.

Ketika Naya menuruni tangga menuju ruang makan, aroma roti panggang, mentega, dan kopi kembali menyambutnya. Sepertinya rutinitas pagi di rumah ini telah berubah drastis sejak Kafka kembali.

Di ruang makan, Nessa sedang berdiri terburu-buru menenggak segelas susu sambil menjepit tas kerjanya di ketiak. Sementara itu, Kafka duduk dengan tenang di kursi makan. Pria itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hitam pekat yang kancing lengan bagian bawahnya digulung hingga sebatas siku, memperlihatkan lengannya yang berotot dan jam tangan kulit klasik di pergelangan tangannya. Rambutnya ditata rapi ke belakang, memberikan kesan eksekutif muda yang sangat mendominasi.

"Pagi, Nay!" sapa Nessa dengan mulut setengah penuh. "Lo gila ya, baru juga diselingkuhin masa udah masuk kerja aja? Ambil cuti kek dua hari buat meratapi nasib."

Naya menarik kursi di seberang Kafka dan duduk. "Gue ada pitching proyek jam sepuluh nanti, Nes. Nggak mungkin gue batalin gara-gara cowok brengsek."

"Bagus! Itu baru sahabat gue!" puji Nessa seraya mengacungkan jempol. "Eh, gue cabut duluan ya, ada briefing pagi. Lo diantar Kafka aja ke kantor. Mobil lo kan masih di bengkel, terus lo jangan berani-berani pesen ojol, gue nggak rela Naya yang lagi fragile ini kenapa-napa di jalan."

Naya buru-buru menggeleng. "Eh, nggak usah! Gue pesen taksi aja, Nes. Kafka kan—"

"Aku yang antar."

Potongan kalimat Kafka terdengar begitu pelan, tenang, namun memiliki otoritas yang mematikan semua bentuk bantahan. Naya menoleh, menatap pria yang duduk di seberangnya itu. Kafka tengah menyesap kopi hitamnya, matanya menatap lurus ke arah Naya di atas bibir cangkir.

"Tuh kan, dia mau. Udah ya, gue berangkat! Bye!" Nessa langsung melesat pergi menuju pintu depan, meninggalkan Naya berduaan saja dengan Kafka di ruang makan yang mendadak terasa kehilangan pasokan oksigennya.

Kafka meletakkan cangkirnya perlahan. Matanya kini menyapu penampilan Naya dari atas ke bawah dengan gerakan yang pelan, nyaris seperti belaian kasat mata. Naya tiba-tiba merasa salah tingkah. Ia merapikan ujung blazernya dengan gugup.

"Kenapa?" tanya Naya defensif. "Dandananku aneh?"

"Tidak," jawab Kafka. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat mematikan. "Kau terlihat sangat cantik dengan warna biru, Kak. Membuat matamu terlihat lebih hidup."

Wajah Naya memanas dalam hitungan detik. Pujian itu diucapkan dengan nada yang begitu kasual, seolah memuji Naya adalah sebuah fakta absolut seperti matahari yang terbit dari timur. Sebelum Naya sempat menyembunyikan rona merah di pipinya, Kafka sudah bangkit berdiri, mengambil kunci mobil dari atas meja.

"Habiskan sarapanmu. Aku tunggu di garasi."

Perjalanan menuju kawasan Sudirman pagi itu lumayan padat. Naya duduk diam di kursi penumpang, matanya pura-pura fokus pada kemacetan di luar jendela. Aroma cedarwood dan mint yang selalu menguar dari tubuh Kafka kini memenuhi kabin mobil, membuat Naya tanpa sadar merasa sangat nyaman dan terlindungi.

Saat Kafka mengerem mobilnya perlahan karena antrean lampu merah, tanpa sengaja Naya menjatuhkan ponselnya yang sejak tadi ia pegang hingga tergelincir ke bawah jok.

"Ah, sial," rutuk Naya pelan. Ia melepas sabuk pengamannya dan menunduk untuk mengambil ponsel tersebut.

Begitu ia berhasil meraih ponselnya dan kembali duduk tegak, Kafka secara tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Naya. Pria itu mengulurkan kedua lengannya, mengurung tubuh Naya di antara sandaran kursi dan dada bidangnya.

Napas Naya seketika tertahan. Wajah Kafka berada begitu dekat hingga Naya bisa melihat helaian bulu mata pria itu yang lebat dan mencium aroma sabun mandi dari perpotongan lehernya. Otak Naya kosong melompong. Ia pikir Kafka akan... menciumnya?

Namun, terdengar bunyi klik yang cukup keras.

Kafka menarik sabuk pengaman Naya dan memasangkannya kembali ke tempatnya. Pria itu tidak langsung menarik diri. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Naya dengan jarak kurang dari satu jengkal.

"Jangan lepas sabuk pengamanmu saat mobil sedang berjalan, Kak. Itu berbahaya," bisik Kafka, suaranya mengalun rendah, bergetar menyapu pipi Naya.

"I-iya... m-maaf," cicit Naya, suaranya keluar seperti tikus kejepit. Matanya tidak berani menatap mata legam Kafka, melainkan terpaku pada kancing kerah kemeja hitam pria itu.

Kafka terkekeh pelan melihat reaksi gugup Naya. Pria itu akhirnya menarik tubuhnya mundur, kembali fokus pada kemudi sesaat sebelum lampu berubah hijau. Meninggalkan Naya yang kini harus berjuang mati-matian menstabilkan detak jantungnya dan mengipasi wajahnya yang terasa seperti direbus. Sialan. Adik sahabatnya ini benar-benar berbahaya bagi kesehatan jantungnya.

Dua puluh menit kemudian, mobil SUV itu menepi dengan mulus di pelataran lobi gedung perkantoran tempat Naya bekerja.

"Makasih tumpangannya, Kaf. Aku kerja dulu," pamit Naya dengan cepat, meraup tas tangannya dan berniat segera melarikan diri dari pesona mematikan pria di sebelahnya.

"Kak Naya," panggil Kafka sebelum Naya sempat membuka pintu.

Naya menoleh. "Ya?"

"Jam berapa kau selesai hari ini?" tanya Kafka sambil mematikan mesin mobil.

"Mungkin jam lima sore. Kenapa?"

"Aku akan menjemputmu. Tunggu di lobi, jangan pulang sendiri," perintah Kafka. Nada bicaranya santai, namun tidak memberikan opsi 'tidak' sebagai jawaban.

"Nggak usah, Kaf! Astaga, aku bukan anak TK. Aku bisa pesan ojol atau naik MRT. Kamu urus aja urusan kantormu sendiri, jangan terus-terusan jadi sopirku," tolak Naya halus, sungguh tidak enak hati.

Alih-alih membalas, Kafka justru melepaskan sabuk pengamannya dan ikut keluar dari mobil bersama Naya. Naya menautkan alisnya, bingung melihat pria itu mengikutinya berjalan menuju lobi.

"Kamu ngapain ikut turun?" tanya Naya heran.

"Memastikan tidak ada hama yang mengganggumu pagi ini," jawab Kafka datar, matanya menyapu sekeliling lobi gedung dengan tatapan tajam layaknya seorang sniper.

"Hama apa sih, Kaf? Kamu aneh banget deh," Naya menggelengkan kepala, tertawa pelan. Ia berbalik untuk melanjutkan langkahnya menuju turnstile mesin tap kartu karyawan.

Namun, tawa di bibir Naya langsung menguap seketika saat pandangannya menangkap sosok yang berdiri di dekat pilar lobi utama.

Reno.

Pria itu mengenakan kemeja abu-abu yang lengannya digulung asal, penampilannya masih terlihat sama kacaunya dengan kemarin. Di tangannya, ia menggenggam sebuket besar bunga Lily putih—bunga kesukaan Naya. Begitu melihat Naya berjalan masuk, wajah Reno seketika semringah. Pria itu setengah berlari menghampiri Naya, sama sekali tidak memedulikan tatapan beberapa karyawan lain yang berlalu-lalang.

"Nay! Sayang, akhirnya kamu datang juga," seru Reno lega. Ia mengulurkan buket bunga itu ke hadapan Naya. "Ini bunga kesukaan kamu. Please, kasih aku waktu lima menit aja. Kita perlu bicara. Aku nggak bisa tidur semalaman mikirin kamu."

Langkah Naya terhenti. Darahnya yang semula mengalir normal kini terasa mendingin. Rasa muak dan jijik kembali merayap naik ke tenggorokannya. Melihat wajah pria ini mengingatkannya pada suara desahan dari dalam kamar apartemen itu.

"Pergi, Reno. Aku nggak mau bikin keributan di kantorku," ucap Naya dingin, suaranya bergetar menahan amarah yang berusaha ia redam demi menjaga profesionalitas.

"Nay, tolonglah. Aku tahu aku salah, aku khilaf. Tapi kita nggak bisa berakhir kayak gini. Tiga tahun, Nay. Kamu mau buang memori kita tiga tahun cuma gara-gara satu malam?" Reno melangkah lebih dekat, nadanya terdengar sangat putus asa, namun entah mengapa terdengar sangat manipulatif di telinga Naya. Pria itu bahkan berani mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan Naya.

Namun, sebelum jemari Reno berhasil menyentuh kain blazer Naya, sebuah tangan besar dan hangat dengan cepat melingkar di pinggang Naya.

Tarikan kuat pada pinggangnya membuat tubuh Naya sedikit terhuyung ke belakang, mendarat dengan mulus tepat di atas dada bidang seseorang. Seseorang yang sangat kokoh, memancarkan aroma cedarwood, dan memberikan perlindungan absolut.

Kafka.

Pria itu berdiri menjulang tepat di belakang Naya. Tangannya melingkar posesif di pinggang ramping Naya, menempelkan punggung wanita itu pada dadanya seolah Naya adalah properti pribadinya yang sangat berharga.

Reno terkesiap, tangannya membeku di udara. Matanya membelalak kaget saat melihat pria mengerikan yang kemarin nyaris mematahkan pergelangan tangannya kini berdiri memeluk Naya di tempat umum.

"Sepertinya peringatanku kemarin siang belum cukup menembus otakmu yang dangkal itu ya?" suara bariton Kafka mengalun berat dan mematikan. Matanya menatap Reno dengan sorot sedingin bongkahan es di kutub utara.

"L-lo ngapain di sini, hah?!" Reno mencoba meninggikan suaranya untuk menutupi rasa gentarnya. "Ini urusan gue sama cewek gue! Lo nggak usah ikut campur!"

Kafka tersenyum sinis. Senyum yang membuat siapa pun yang melihatnya tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan bahaya.

"Mantan," ralat Kafka dengan penekanan di setiap suku katanya. "Dia mantanmu. Dan mulai detik ini, segala urusan tentang Naya, adalah urusanku."

Reno menggeram marah. Ia menatap Naya dengan tatapan terluka dan menuduh. "Jadi ini alasan kamu gampang banget mutusin aku, Nay? Karena kamu udah punya simpanan berondong?! Oh, pantesan kamu sok jual mahal! Ternyata selera kamu adik sahabat kamu sendiri?!"

Plak!

Bukan Kafka yang menampar pria itu, melainkan Naya. Tangan Naya gemetar hebat setelah mendaratkan tamparan keras di pipi kiri Reno. Napas Naya memburu, matanya berkaca-kaca menahan amarah yang meluap hingga ke ubun-ubun.

"Jangan pernah samakan aku dengan dirimu yang murahan itu, Reno," desis Naya tajam, suaranya penuh racun. "Kamu yang selingkuh, kamu yang menghancurkan semuanya. Dan sekarang kamu mau lempar kesalahan ke aku? Benar-benar pengecut."

Reno memegangi pipinya yang memerah, matanya membelalak tak percaya. Ia menatap buket Lily di tangannya yang kini terlihat seperti lelucon.

Sebelum Reno bisa membuka mulut lagi, Kafka sudah mengangkat tangannya, memberikan isyarat pada dua orang petugas keamanan berseragam safari yang sejak tadi mengawasi keributan kecil itu dari kejauhan.

"Pak, tolong seret pria ini keluar dari gedung. Dia mengganggu ketertiban staf di sini. Jika dia berani kembali, saya tidak akan ragu menuntut pihak keamanan gedung karena kelalaian," perintah Kafka dengan nada bos besar yang sangat berwibawa, benar-benar tidak sesuai dengan usianya yang baru dua puluh dua tahun.

Dua petugas keamanan itu mengangguk patuh—terintimidasi oleh aura otoriter Kafka—dan segera menarik kedua lengan Reno secara paksa.

"Lepasin! Gue bisa jalan sendiri!" bentak Reno meronta. Ia menatap Naya untuk terakhir kalinya. "Kamu bakal nyesel, Nay!" teriaknya sebelum akhirnya diseret keluar dari lobi menuju pintu putar, meninggalkan beberapa helai kelopak Lily yang rontok dan terinjak-injak di atas lantai pualam.

Keheningan yang canggung menyelimuti lobi. Beberapa staf yang Naya kenal segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk dengan ponsel mereka. Naya memejamkan mata, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut pusing. Rasa malunya sungguh luar biasa, namun rasa leganya karena Reno akhirnya pergi jauh lebih besar.

Naya baru menyadari bahwa tangan Kafka masih melingkar erat di pinggangnya, menyalurkan kehangatan yang membuat kakinya yang lemas tetap mampu berdiri tegak.

"K-Kaf... udah," gumam Naya pelan, menepuk punggung tangan pria itu.

Kafka segera mengurai pelukannya, mundur satu langkah untuk memberikan ruang bernapas bagi Naya. Namun, tatapannya tidak lepas dari wajah wanita itu. Mata elang yang tadinya menyorotkan aura membunuh pada Reno, kini seketika melembut layaknya embun pagi.

Dengan sangat natural, tangan besar Kafka terangkat. Jemarinya yang hangat dan sedikit kasar menyelipkan anak rambut Naya yang berantakan ke belakang telinga. Sentuhan itu tidak berlangsung lama, namun cukup untuk membuat seluruh saraf di tubuh Naya meremang.

"Kau sangat berani hari ini," puji Kafka pelan, suaranya mengalun hangat, sangat bertolak belakang dengan nada arogannya beberapa detik lalu. "Aku bangga padamu."

Naya menatap sepasang mata legam itu, merasakan tenggorokannya tiba-tiba mengering. Pujian Kafka terdengar begitu tulus, menyentuh relung hatinya yang paling dalam. Tidak ada pria yang pernah menatapnya dengan kekaguman seintens ini, tidak juga Reno.

"Nanti sore jam lima, tunggulah di sini. Aku akan menjemputmu," ucap Kafka lagi, kali ini mengusap puncak kepala Naya sekilas sebelum melangkah mundur. "Semangat kerjanya, Kak Naya."

Kafka membalikkan badannya dan berjalan keluar lobi dengan langkah panjang dan tegap. Punggung lebarnya perlahan menghilang di balik pintu kaca, namun presensinya yang luar biasa mendominasi masih tertinggal pekat di udara, mengunci pandangan Naya.

Di tengah keramaian lobi gedung perkantoran, Naya berdiri mematung. Tangannya menyentuh dadanya sendiri, merasakan ritme jantungnya yang berpacu liar. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Naya menyadari bahwa adik sahabatnya itu sama sekali bukan anak laki-laki. Dia adalah seorang pria. Pria yang sangat berbahaya bagi kewarasannya.

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!