NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:41.4k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.

Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Lima

Azka tidak langsung pulang ke rumah keluarganya. Begitu mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Handoko, pria itu justru mengarahkan mobil menuju apartemen yang selama ini ditempati Vania.

Tangannya tetap tenang menggenggam kemudi, tetapi pikirannya tidak setenang itu. Percakapannya dengan Reatha terus terngiang-ngiang.

Apa aku sebagai anak bisa menolak permintaan orang tua?

Azka menghela napas panjang. Gadis itu ternyata tidak seperti yang ia bayangkan.

Sebelumnya, Azka mengira Reatha akan menjadi perempuan yang menyebalkan. Ia bahkan sudah menyiapkan berbagai kemungkinan. Bisa saja gadis itu sengaja menerima pernikahan tersebut karena mengincar kekayaan keluarganya.

Namun, Reatha justru terlihat begitu tenang. Tidak meminta apa pun. Tidak menunjukkan ketertarikan kepadanya.

Bahkan ketika Azka mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki kekasih, Reatha hanya menjawab bahwa ia sudah mengetahuinya. Seolah-olah pernikahan mereka memang hanya sebuah kewajiban.

Azka mengetuk-ngetukkan jarinya pada kemudi. Bukankah dirinya juga sama? Ia menerima pernikahan itu bukan karena cinta. Ia bahkan tidak mengenal Reatha dengan baik. Alasannya hanya satu. Keluarga.

Jika menolak pernikahan tersebut, ayahnya mengancam akan mencoret namanya dari keluarga. Dan Azka belum siap kehilangan semuanya.

Ia masih membutuhkan modal dari keluarganya untuk membangun bisnis sendiri. Begitu bisnis itu berhasil dan mampu berdiri tanpa bantuan siapa pun, ia akan meninggalkan keluarganya. Termasuk pernikahan ini.

Azka sudah memikirkan semuanya. Setidaknya, itulah yang ia yakini. Karena bagi Azka, tidak ada yang lebih penting daripada Vania. Cinta yang selama ini ia pertahankan. Cinta yang ia yakini tidak akan pernah berubah.

Beberapa menit kemudian, mobil Azka memasuki basement apartemen. Ia mematikan mesin, mengambil ponselnya, lalu turun dari mobil. Langkahnya cukup cepat. Ia ingin segera bertemu Vania.

Entah kenapa, setelah bertemu Reatha tadi, ia justru semakin ingin memastikan bahwa Vania tidak memikirkan hal-hal buruk tentang pernikahan tersebut. Azka naik menuju unit apartemen.

Begitu pintu dibuka, ia langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda. Ruangan itu sunyi. Dan yang paling membuat Azka mengernyit adalah sosok Vania yang duduk sendirian di sofa.

Kepalanya tertunduk. Rambut panjangnya sedikit berantakan. Matanya sembap.

Azka langsung menutup pintu. “Vania," panggilnya dengan suara pelan.

Gadis itu perlahan mengangkat wajah. Begitu melihat Azka, air matanya justru kembali mengalir.

Azka langsung menghampirinya. “Ada apa, Sayang?” tanyanya.

Vania tidak menjawab. Ia justru berdiri dan langsung memeluk Azka. Tubuhnya bergetar. Azka sempat terkejut, tetapi tangannya segera melingkari tubuh Vania.

“Kenapa menangis?” tanya Azka lagi.

Vania menyembunyikan wajah di dada pria itu. “Aku dengar sesuatu.”

“Apa?” tanya Azka.

“Aku dengar kamu akan menikah.”

Azka terdiam.

“Seminggu lagi,” lanjut Vania dengan suara bergetar.

Azka mengusap punggungnya perlahan, dan berkata, “Ya.”

Vania langsung melepaskan pelukannya. “Kamu benar-benar akan menikah?” tanyanya.

Azka mengangguk. “Aku pernah mengatakan kepadamu, kan? Aku dipaksa menikah.”

“Tapi kamu setuju.”

“Aku tidak punya pilihan.”

Vania menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kenapa kamu tidak melawan?”

Azka menghela napas. “Kalau aku menolak, Papa akan mencoret namaku dari keluarga.”

Vania terdiam.

“Aku tidak peduli dengan pernikahan itu,” lanjut Azka. “Aku hanya masih membutuhkan keluarga untuk sementara.”

“Untuk apa?" tanya Vania.

“Untuk modal.”

Azka duduk di sofa.

“Aku ingin membangun bisnis sendiri. Aku ingin suatu hari nanti tidak bergantung pada papa lagi."

Vania ikut duduk di sampingnya. “Setelah bisnis kamu berhasil?”

“Aku akan pergi," jawab Azka mantap.

“Pergi?”

“Aku akan meninggalkan keluarga itu. Dan tentu saja ....” Azka menatap Vania. “...aku juga akan meninggalkan pernikahan tersebut.”

Vania menggigit bibir. “Benarkah?”

“Benar, Sayang," jawab Azka.

“Jadi kamu menikahi wanita itu hanya sementara?” Kembali Vania bertanya.

“Ya.”

“Lalu setelah itu?”

“Aku akan kembali kepadamu.”

Vania menatap wajah Azka lama. Namun, rasa takut masih terlihat jelas di matanya.

“Aku tetap takut.”

Azka mengerutkan kening. “Takut apa?” tanyanya.

“Aku takut kamu akan jatuh cinta kepadanya.”

Azka hampir tertawa. “Itu tidak mungkin.”

“Bagaimana kalau nanti kamu melihat sisi lain dari wanita itu?”

“Vania.” Azka memegang kedua pipi gadis itu. “Aku mencintaimu. Tidak ada yang bisa menggantikanmu.”

Vania diam sesaat dan berkata, “Tapi cinta bisa berubah.”

“Tidak untukku," balas Azka mantap. Azka mengusap air mata di pipi Vania. “Dengar. Aku memang akan menikah dengannya, tapi pernikahan itu hanya di atas kertas. Aku tidak akan menyentuhnya.”

Vania menatapnya, lalu bertanya, “Bahkan jika kami tinggal satu rumah?”

“Aku tidak akan menyentuhnya," ujar Azka.

Vania menghela napas. “Kamu janji?”

“Aku janji.”

Tangisan yang sejak tadi menghiasi wajah Vania perlahan berubah menjadi tawa kecil.

Azka mengusap ujung hidungnya. “Nah. Sekarang jangan menangis lagi.”

Vania terkekeh. “Aku cuma takut kehilangan kamu.”

“Kamu tidak akan kehilangan aku," ucap Azka. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Sebagai tanda maafku karena telah membuatmu kuatir, kita ke butik sekarang."

“Boleh beli apa saja?” tanya Vania dengan mata berbinar.

“Beli apa saja yang kamu mau.”

“Benar?” tanya Vania lagi untuk meyakinkan.

“Benar.”

Vania langsung memeluk Azka. “Terima kasih, sayang!”

Azka tertawa kecil. “Sudah, sana siap-siap.”

Vania langsung berdiri. “Aku ganti baju dulu!”

Gadis itu berlari menuju kamar.

Azka hanya menggeleng sambil tersenyum. Tidak sampai tiga puluh menit kemudian, Vania keluar dari kamar dengan penampilan yang jauh berbeda. Ia mengenakan dress sederhana dengan blazer, rambutnya ditata rapi, lengkap dengan tas kecil di tangannya.

Azka sampai mengangkat alis. “Cepat juga.”

Vania tersenyum bangga. “Kalau urusan belanja, aku memang selalu cepat.”

Azka tertawa dan berkata, “Kalau begitu ayo.”

Mereka kemudian pergi ke sebuah butik mewah yang berada di pusat kota. Begitu memasuki butik, Vania langsung berubah seperti anak kecil yang melihat toko mainan. Matanya berbinar melihat deretan tas dan pakaian dari berbagai brand ternama.

“Azka!”

“Apa, Sayang," jawab Azka.

“Lihat itu!” Vania menunjuk sebuah tas yang terpajang di balik kaca. “Bagus, kan?”

Azka melihat sekilas. “Bagus.”

“Aku suka.”

“Ambil saja," ucap Azka.

Vania langsung tersenyum. “Benarkah?”

“Iya.”

Pegawai butik mengambilkan tas tersebut. Namun, perjalanan belum selesai.

Beberapa menit kemudian, Vania menemukan tas lain. “Kalau yang ini?”

“Ambil.”

“Yang ini juga bagus.”

“Ambil.”

Vania mulai tertawa. “Kamu tidak pernah bilang jangan.”

“Aku sudah bilang. Hari ini kamu bebas," balas Azka.

Akhirnya satu tas berubah menjadi dua. Dua berubah menjadi tiga. Belum lagi beberapa pakaian, sepatu, dan aksesori.

Azka hanya mengikuti dari belakang. Sesekali ia melihat ponselnya, sementara Vania sibuk memilih barang.

“Kalau begini caranya, aku bisa menghabiskan satu toko," ucap Vania.

Azka memasukkan ponselnya ke saku. “Silakan.”

“Serius?”

“Iya.”

“Jangan menyesal.”

“Aku tidak akan menyesal," jawab Azka.

Hampir satu jam kemudian, mereka akhirnya sampai di kasir. Beberapa pegawai butik membawa begitu banyak barang hingga meja kasir hampir penuh.

Vania berdiri di samping Azka sambil tersenyum puas. Ketika total belanja muncul di layar, Vania sempat terdiam. Hampir setengah miliar rupiah.

“Azka ...,” panggilnya pelan.

"Iya," jawab Azka singkat.

“Kamu harus membayar banyak,” ucap Vania.

Azka hanya melihat angka tersebut sekilas. “Tidak masalah.” Ia mengeluarkan kartu dari dompetnya. “Tolong diproses.”

Pegawai butik mengangguk. Beberapa saat kemudian, transaksi selesai.

Vania langsung menghampiri Azka. “Terima kasih, sayang.” Ia memeluk lengan Azka. “Aku benar-benar senang," ucapnya.

Azka tersenyum. “Sudah tidak sedih?” tanyanya.

Vania menggeleng. “Nggak.”

“Bagus.”

Vania menatapnya penuh kasih. “Aku percaya sama kamu.”

Azka mengusap kepala Vania. “Jangan pernah meragukanku.”

Vania mengangguk. Ia memeluk lengan Azka dengan manja.

1
Naufal Affiq
azka kata menjaga dan mencintai jauh sekali beda nya,kau hanya di titip kan beni hanya menjaga adik nya bukan untuk di nikahi,jadi kau harus tegas sama vania,jangan selalu ancamannya tentang beni aja,jadi kau seperti manusia bodoh
Eonnie Nurul
pagi2 sudah di bikin pania darah tinggi 😡 lanjutkan pania drama mu dengan menggunakan nama beni 🙄
Sugiharti Rusli
mungkin yang selama ini dia pikir cinta, tapi itu hanya rasa tanggung jawab dan sekedar amanah dari sahabatnya si Beni,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya Azka memang memaksakan sekali kalo menjaga Vania dengan mencintainya dan akan menjadikan seorang istri nanti,,,
Apriyanti
coba LG keadaan Vania Dateng kermh mamah mertua Dateng biar abis di semprot SM mamah nya Azka,, lanjut thor 🙏
Sugiharti Rusli
kalo si Azka menyadari si Vania benar" memanfaatkan kelemahan dirinya saat disebut nama abangnya yah selama mereka berhubungan,,,
Sugiharti Rusli
yah kalo si Vania pasti akan selalu menuntut kalo si Azka tidak ada kabar saja dia sudah ketakutan sendiri seperti sekarang, padahal sudah dibilang Azka sakit,,,
Sugiharti Rusli
apalagi saat sekarang kondisi Azka sedang sakit, meski bisa saja Reatha ga perduli, tapi dia tetap memperhatikannya sih,,,
Sugiharti Rusli
justru karena sikap Reatha/Raisa selama jadi istri Azka selama beberapa bulan ini ga pernah menuntut perhatiannya yah, dia jadi nyaman,,,
Akasia Rembulan
feeling orang tua itu ngga pernah salah Azka..
Nar Sih
cerita yg bagus mama,asyik di bca nya👍🥰
Nar Sih
jls lah reata disana org istri nya
Nar Sih
untung yg kmu nikahi reatha semoga kmu ngk marah bila nanti kbnran dtg
Sri Supriatin
lanjuut Thor 🙏🙏🙏
Radya Arynda
haduh pelakor2,,,mati aja.jijik kalau baca tentang vania,,,pelakor ngak tau malu
Radya Arynda
laki2 goblok,,di budak sama vania dengan dalih balas budi mau aja,,,,tolol...
ken darsihk
Vania kebakaran jenggot mengetahui kedekatan nya Azka dngn Raisa istri nya 🤣🤣🤣
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Ida Nur Hidayati
Vania....Azka dan Raisa suami istri jadi kalau mereka berdekatan itu wajib
Naufal Affiq
gak sadar juga kamu vania,rea itu istrinya,kamu hanya pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!