Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.
Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.
Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Kesepakatan di Atas Meja Marmer
Hening kembali menguasai sudut privat Kopi Sunyi setelah permohonan jujur dari Arga membalut ruangan. Nadia membuka matanya perlahan, mengikis habis sisa-sisa rasa iba yang sempat hinggap di dalam benaknya. Naluri bisnis dan naluri kepemimpinannya yang tajam bertindak cepat, memutar balik situasi krisis ini menjadi sebuah peluang tidak terduga. Di matanya, sosok Arga yang tegap, jujur, dan memiliki harga diri tinggi justru jauh lebih memenuhi kualifikasi dibanding Bimo yang pengecut dan kekanak-kanakan.
Nadia memajukan kepalanya sedikit, memandangi Arga dari atas ke bawah sebelum melayangkan pandangan dingin pada Bimo.
"Kamu mau pekerjaanmu sebagai Satpam di Menara Utama Nugroho Group tetap aman, kan, Arga?" tanya Nadia dengan nada tenang, namun sarat akan penekanan yang mutlak.
Arga mendongak, matanya menatap lurus ke arah Nadia tanpa ragu. "Iya, Bu. Saya sangat butuh pekerjaan itu. Saya siap menerima hukuman disiplin atau pemotongan gaji, asal saya tidak dipecat."
Nadia mengulas senyum tipis yang sangat sulit diartikan. "Saya tidak akan memotong gajimu. Saya juga tidak akan memecatmu dari posisi Satpam."
Bimo yang duduk di samping Arga seketika bernapas lega, meraut wajah kegirangan. "Tuh kan, Wa! Bu Nadia tuh sebenarnya baik! Makasih banyak ya, Bu Nadia—"
"Diam, Bimo. Saya belum selesai bicara," pangkas Nadia cepat, tatapannya membekukan kegembiraan Bimo seketika.
Nadia beralih menatap sekretarisnya. "Rina, keluarkan draf surat kesepakatan baru dari tasmu."
"Baik, Bu Nadia," sahut Rina sigap. Ia merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan selembar kertas putih tebal bertuliskan format perjanjian resmi, lengkap dengan beberapa poin kolom kosong yang sengaja disiapkan untuk situasi darurat.
Nadia mengambil kertas itu, meletakkannya tepat di tengah meja marmer di antara Arga dan Bimo. Jemari Nadia yang ber cat kuku merah mengetok permukaan kertas tersebut.
"Kondisi saya saat ini sedang terdesak," ucap Nadia jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi. "Kakek saya yang sedang terbaring di rumah sakit sudah terlanjur mengumumkan berita pernikahan saya ke publik dan media nasional. Berita itu tidak bisa ditarik kembali tanpa menghancurkan harga diri keluarga Nugroho dan membuat saham perusahaan anjlok."
Arga mengerutkan alisnya dalam-dalam, firasatnya mendadak berubah tidak enak. "Maksud Bu Nadia bagaimana?"
"Saya tidak sudi menikah dengan pria pengecut seperti Bimo, sekalipun itu cuma nikah kontrak satu tahun," pangkas Nadia tegas seraya melirik cemooh ke arah Bimo. "Oleh karena itu, saya memutuskan untuk memberi kamu kesempatan memperbaiki situasi ini."
Mata Arga melotot perlahan. "Memperbaiki... Maksudnya bagaimana, Bu?"
Nadia memajukan tubuhnya, menatap Arga tepat di manik matanya dengan aura dominasi yang sangat kuat. "Pria yang memalsukan tanda tangan di Kafe Merah malam itu adalah kamu. Pria yang membuat saya penasaran selama dua hari ini adalah kamu. Dan pria yang punya tanggung jawab atas anak-anak panti asuhan itu... juga kamu."
"Bu Nadia... jangan bilang kalau..." suara Arga tertahan di tenggorokan, napasnya memburu.
"Saya akan menyusun kontrak pernikahan baru," tegas Nadia tanpa ragu. "Bukan atas nama Bimo Wira Perkasa, melainkan secara sah di atas kertas perjanjian internal atas namamu, Arga Dewa Putra."
DEGG!
Suasana di meja itu mendadak membeku seketika. Bimo melotot dengan mulut terbuka lebar, sementara Arga tersandar kaku di kursi kayunya, tidak percaya dengan apa yang baru saja meluncur dari bibir sang CEO.
"B-Bu Nadia bercanda, kan?!" cetus Arga panik, suaranya sedikit meninggi. "Saya ini cuma Satpam di kantor Ibu! Saya cuma rakyat biasa yang tinggal di kontrakan! Mana mungkin saya menikah sama CEO Nugroho Group?!"
"Saya tidak pernah bercanda soal urusan bisnis dan keluarga," sahut Nadia dingin dan tenang. "Pernikahan ini tetap berstatus pernikahan kontrak selama satu tahun. Di depan publik dan media, kamu akan diperkenalkan sebagai Bimo untuk menjaga stabilitas saham. Tapi di balik layar dan secara hukum internal kita, kamu adalah suami kontrak saya."
"Enggak, Bu! Saya enggak bisa!" tolak Arga tegas seraya menggelengkan kepala. "Ini sudah kelewat gila! Saya bantu Bimo kemarin cuma buat bikin Ibu ilfil, bukan buat menggantikan posisinya jadi pengantin!"
Nadia menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangan di dada dengan senyuman penuh kemenangan. Ia tahu betul kartu as apa yang sedang dipegangnya saat ini.
"Dengar penawaran saya dulu sebelum kamu menolak, Arga," potong Nadia santai. "Kalau kamu setuju menandatangani kontrak baru ini, saya memberikan dua jaminan mutlak."
Arga menahan napasnya, menatap Nadia dengan sejuta tanda tanya. "Jaminan apa?"
"Pertama, posisi pekerjaanmu sebagai Satpam di Nugroho Group dijamin aman seratus persen selama dan sesudah masa kontrak berakhir, bahkan dengan kenaikan jabatan resmi," ujar Nadia rinci. "Kedua... saya akan memberikan bayaran tunai dalam jumlah yang sangat besar. Cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan operasional, renovasi, dan pendidikan anak-anak di panti asuhanmu sampai mereka lulus."
Rina menambahkan penjelasan dengan nada profesional. "Bu Nadia juga akan menanggung seluruh biaya hidup Mas Arga selama satu tahun masa pernikahan kontrak ini berlangsung."
Arga tertegun. Penawaran itu menghantam dinding pertahanannya dengan sangat telak. Bayangan wajah anak-anak panti asuhan yang membutuhkan biaya sekolah dan atap tempat tinggal yang layak mendadak menari-nari di dalam pikirannya. Penawaran Nadia bukan sekadar ganjaran biasa, melainkan jawaban atas segala kesulitan finansial yang mencekiknya selama ini.
Bimo yang melihat celah keselamatan bagi dirinya langsung menyenggol paha Arga dengan bersemangat. "Wa! Ambil, Wa! Ini kesempatan emas buat lu! Lu dapat uang buat panti asuhan, terus gue juga selamat enggak jadi dituntut sama Bu Nadia! Lu penolong gue banget, Wa!"
Arga menepis pelan tangan Bimo dengan tatapan tajam yang penuh rasa jengkel. "Diam lu, Bim! Ini gara-gara lu masalahnya jadi beranak-pinak begini!"
Nadia mengambil pulpen bermerek berlapis emas dari dalam saku mantelnya, lalu meletakkannya tepat di atas kertas perjanjian baru tersebut. Ia menatap Arga dengan pandangan menantang yang begitu memikat.
"Jadi bagaimana, Arga Dewa Putra?" tanya Nadia penuh intonasi penekanan, mengunci pandangan Arga. "Pilihan ada di tanganmu sekarang. Kamu mau menolak lalu dipecat dan melihat panti asuhanmu kesulitan... atau kamu mau menerima tawaran ini, menjadi suami kontrak saya selama satu tahun, dan menyelamatkan semua hal yang kamu perjuangkan?"
Arga menatap pulpen emas dan lembaran kertas di atas meja marmer itu dengan napas yang berhembus berat. Tawaran Nadia bergema berulang kali di dalam dadanya, memaksa sang Satpam untuk mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.