Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 — Kamar Para Pengantin
Malam turun sempurna, menyelimuti kemegahan kompleks Kediaman Keluarga Pei yang sangat luas dengan gulita. Terbagi menjadi empat bagian utama, arsitektur kediaman ini mencerminkan struktur kekuasaan dan hierarki yang mengakar kuat di dalam klan.
Di bagian tengah bersemayam halaman utama tempat sang kepala keluarga dan Nenek Pei bernaung—pusat kendali dan penghormatan tertinggi keluarga besar Pei. Sementara itu, sisa area kediaman dibagi menjadi tiga sisi halaman terpisah untuk masing-masing cabang keluarga.
Pei Chanqing dan sang ibu menempati sisi halaman barat. Area ini dipenuhi dengan wibawa dan ketenangan, sebuah lambang atas pencapaian gemilang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ayah Pei Chanqing bersama sang kakek telah gugur di medan perang demi mempertahankan kerajaan, meninggalkan nama besar sebagai pahlawan bangsa. Warisan darah pejuang itulah yang kini dipikul oleh Pei Chanqing, membawanya menaiki tangga militer hingga dinobatkan sebagai panglima perang termuda yang paling disegani di seluruh kekaisaran.
Sebaliknya, kondisi di sisi halaman utara—tempat paling belakang dan terpencil di kompleks tersebut—jauh dari kata megah. Di sinilah Pei Yu dan keluarganya tinggal.
Keluarga halaman utara tidak memiliki kekayaan ataupun pengaruh politik yang besar. Pencapaian tertinggi kepala keluarga mereka hanyalah menduduki posisi sebagai pejabat sipil tingkat lima di pemerintahan—sebuah jabatan rendahan yang membuat mereka kerap dipandang sebelah mata oleh para kerabat cabang lain. Rasa insecure, ambisi yang terpendam, serta kepahitan hidup inilah yang membentuk karakter Pei Yu dan keluarganya menjadi penuh perhitungan dan haus akan status.
Kini, di bawah bayang-bayang malam yang sama, kedua pasangan pengantin baru itu melangkah menuju kamar pengantin di halaman masing-masing, membawa jurang perbedaan nasib yang begitu kontras.
Malam di kamar pengantin halaman barat tampak begitu tenang, diterangi oleh pendar hangat cahaya lilin merah yang menari-nari di atas meja kayu berukir. Kedua mempelai duduk berdampingan di tepi ranjang berkanopi brokat merah. Suasana yang biasanya dipenuhi ketegangan asing bagi pasangan yang baru dijodohkan justru menyisakan keheningan yang sarat akan rasa saling mengerti.
Sesekali, sang Panglima besar yang biasanya garang di medan perang itu tampak ragu. Pei Chanqing berdeham beberapa kali, mencoba meredakan debar di dadanya. Sementara itu, Yueli duduk anggun dalam diam, kedua tangannya yang terbalut kain sutra merah menyatu dengan rapi di atas lututnya, menunggu dengan kepala terangkat tenang.
"Kita..." Pei Chanqing membuka suara, keraguan terselip di balik nada dalamnya, membuat kalimatnya menggantung di udara. "...harus mulai."
Yueli menelan ludahnya pelan. Pikirannya tetap tajam, bergerak lembut dan penuh perhitungan, menimbang batas-batas dari aliansi politik yang kini telah berubah menjadi ikatan suami istri.
Melihat keheningan itu, Pei Chanqing bergerak mendekat. Tangannya yang kokoh terulur, menggenggam jemari Yueli dan meremasnya dengan lembut, seolah menyalurkan keyakinan tanpa kata. Perlahan, tangan sebelahnya menangkup dagu Yueli, memalingkan wajah wanita itu agar menatap langsung ke dalam manik matanya.
Satu kecupan yang hangat dan penuh keintiman tersemat di keningnya. Sentuhan itu perlahan turun, menyapa pipi, hingga akhirnya mendarat di bibirnya. Ciuman itu bukan sekadar formalitas pernikahan, melainkan sebuah lumatan panjang yang dipenuhi ketulusan dan ketertarikan yang diam-diam telah tumbuh di antara mereka.
Mata Yueli yang awalnya terbuka lebar karena terkejut perlahan-lahan melembut. Seiring berjalannya waktu, pertahanan rasionalnya melebur, terbawa hanyut dalam kehangatan malam itu. Matanya terpejam sepenuhnya, membiarkan dirinya menikmati setiap keintiman yang mengalir, merasakan debar jantung yang menyatu di balik sunyinya kamar pengantin halaman barat.
Lama-kelamaan, batasan-batasan di antara mereka melebur, terbawa arus gairah yang kian meninggi bagai angin malam yang membelai tirai kamar. Perlahan namun pasti, lapisan demi lapisan pakaian bersulam emas itu tertanggal sempurna, menyisakan kulit yang bersentuhan langsung di bawah selimut merah yang hangat.
Erangan lembut bersahutan di tengah keheningan malam, menyatu dengan detak jantung yang berpacu cepat. Cahaya lilin di sudut ruangan berkedip pelan, bayang-bayang mereka menari di dinding seiring dua jiwa dan raga yang tenggelam sepenuhnya, menyatu dalam ritual sakral yang mengukuhkan ikatan mereka lebih dari sekadar kontrak di atas kertas.
Tatkala mereka berdua tengah terhanyut dalam puncak keintiman dan kenikmatan, tiba-tiba keheningan malam di halaman barat dipecahkan oleh suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa. Disusul oleh pekikan tertahan dari seorang pelayan yang berlari kencang membelah koridor.
Suara itu semakin mendekat, membuat kedua tubuh yang tengah berbaring di atas ranjang terkejut seketika. Pei Chanqing langsung menarik diri, napasnya memburu dengan manik mata yang menajam. Tanpa membuang waktu, sang Jenderal sigap meraih pakaiannya dan mengenakannya dengan kilat.
Di sisi lain, Yueli bangkit dengan gesit. Ia menyambar pakaiannya secara sembarang, lalu dengan cepat melapisi tubuhnya menggunakan jubah luar milik sang suami yang berukuran jauh lebih besar, menutupi bahunya yang telanjang.
Brak!
Pintu kamar pengantin diketuk dengan panik dari luar, sebelum akhirnya dibuka setengah. Tanpa menunggu pelayan itu bersuara, Pei Chanqing sudah melangkah keluar dengan rahang mengeras, menghampiri seorang pengawal pribadi yang berdiri dengan napas terengah-engah di ambang pintu.
"Ada apa?" tanya Pei Chanqing dingin, suaranya sarat akan ketegasan seorang panglima perang yang baru saja diganggu di tengah malam buta.
Pengawal itu membungkuk dalam-dalam, wajahnya pucat pasi diterangi cahaya lentera malam. "Lapor, Jenderal... Halaman utara... Kediaman keluarga Pei Yu mengalami kebakaran besar!"
Dengan langkah tergesa dan dipimpin oleh rasa waspada, Pei Chanqing merengkuh pinggang Yueli, membimbing sang istri membelah kegelapan malam menuju sudut paling utara kompleks kediaman. Begitu mereka mendekat, suasana sudah berubah menjadi lautan kepanikan.
Kobaran api besar menjulang tinggi, melahap sebagian besar bangunan kayu di halaman utara dan membulat pekat, menelan isi kediaman dalam lidah api yang mengaum. Para pelayan dan prajurit hilir mudik berlarian sambil membawa ember-ember air, berteriak panik berusaha memadamkan amukan si jago merah.
Di tengah kekacauan itu, sesosok tubuh terkapar tak berdaya di atas tanah—Pei Yu. Pria itu terduduk kaku dengan pakaian pengantin yang separuh hangus dan kotor oleh abu, tatapannya kosong menatap puing-puing rumahnya yang runtuh.
Tak jauh dari sana, suara isakan tangis melengking memecah malam. Xuer berdiri dengan rambut acak-acakan dan gaun pengantin merah yang kini ternoda oleh jelaga hitam. Matanya yang basah oleh air mata tak sengaja menangkap siluet dua sosok yang baru tiba: Panglima Pei Chanqing dan Yueli, yang berdiri berdampingan dengan balutan jubah kebesaran sang suami.
Mata Xuer seketika berbinar penuh harap palsu. Tanpa memperdulikan situasi, ia menangis histeris dan berlari kencang menerjang ke arah mereka.
"Pei Gege... Kakak...!" teriak Xuer putus asa.
Gadis itu hampir saja melemparkan tubuhnya untuk memeluk Pei Chanqing, mencari perlindungan dan simpati dari pria yang tadinya ingin ia rebut. Namun, sebelum tangan Xuer sempat menyentuh jubah sang Jenderal, Yueli bergerak jauh lebih cepat.
Dengan gerakan sigap dan anggun, Yueli melangkah maju, menempatkan dirinya secara mutlak tepat di depan tubuh suaminya. Alhasil, alih-alih memeluk sang Panglima, Xuer justru menabrak dada kakaknya sendiri dan terpaksa mendekap Yueli.
Suasana mendadak menegang. Di balik pelukan paksa itu, Yueli menurunkan pandangannya, menatap sang adik tiri dengan senyuman tipis yang teramat dingin. Tanpa membiarkan Xuer membuka mulut untuk merengek, Yueli merapatkan bibirnya ke telinga gadis itu, membisikkan kalimat tajam dengan nada penuh ancaman:
"Ingatlah posisimu," bisik Yueli pelan, penuh penekanan. "Belajarlah tahu diri tentang batasan."
...----------------...
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu