Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
masa lalu
tengah malam juna merengek gelisah. melihat dayat tidur dengan pulas diatas sofa, Olivia tidak tega untuk membangunkannya.
Olivia mendekati bayi mungil itu, meberikan susu formula untuknya. setelah rewel sebentar, juna akhirnya tertidur pulas. Olivia menepuk-nepuk bayi juna agar dia tenang.
*****
Keesokan harinya.
dayat terjaga dari tidurnya, mencari keberadaan Olivia yang semula duduk di kursi samping.
Dayat melihat Olivia tidur sambil memeluk juna. dayat ingin membangunkan Olivia, tertidur dengan posisi duduk dan kepala berada di atas tempat tidur pasti membuat badan Olivia sakit. sebelum dayat meninggalkan untuk sholat subuh, dayat memandang wajah Olivia.
"seandainya kamu mau menjadi ibu dari juna aku pasti senang vi" ucap dayat dalam hati. lalu meninggalkan kamar itu.
Olivia terjaga setelah seorang perawat hendak melihat suhu badan juna.
"maaf mbk membangunkan" ucap perawat itu yang tak sengaja menyenggol tangan Olivia.
Olivia membuka matanya "ndak pa-pa sus. bagaimana keadaan juna sus?"
"suhu badannya masih cukup tinggi mbk, kita tunggu hasil dari labnya ya"
"iya sus terimakasih" ucap Olivia ketika perawat itu selesai dengan tugasnya.
Olivia melihat kearah sofa, tidak di dapati dayat disana.
"sudah bangun vi?" dayat kembali masuk kekamar rawat anaknya itu
"iya mas. suster baru aja meriksa juna. katanya nunggu hasil labnya"
"terimakasih ya vi. sudah perhatian ke juna"
"sama-sama mas. kamu dari mana?"
"habis sholat subuh" ucap dayat mengusap anaknya. "cepat sehat anak ayah..." ucap dayat kepada juna yang masih tertidur pulas.
"vi... kamu capek. kamu pulang aja vi"
"jika aku pulang, bagaimana dengan kamu mas? kamu kan harus kerja. bagaimana dengan juna?"
"mungkin aku hanya absen sebentar vi, trus kembali lagi kesini. aku ndak bisa terlalu lama meninggalkan juna"
"kamu ke kantor dulu mas, setelah selesai urusan di kantor aku pulang"
"kamu yakin ndak capek?"
"ndak mas. mumpung aku ndak ada job. jadi aman" ucap Olivia
"terimakasih ya vi... bagaimana jika tidak ada kamu"
"sama-sama mas"
Dayat berpamitan untuk mencari sarapan untuk mereka berdua.
Olivia mengambil ponselnya yang sengaja dia taruh di atas meja dalam keadaan mati. setelah mengaktifkan lagi ponselnya. beberapa pesan dari dimas. Olivia hanya membuka pesan itu dan tidak ada keinginan untuk membalasnya.
"makan vi" dayat tiba membawa beberapa kotak berisi makanan dan camilan.
Olivia membantu dayat untuk membuka kotak makanan tersebut.
"apa ini mas?"
"itu ayam pedas. kayaknya enak" ucap dayat sambil membuka botol air mineral untuk Olivia.
"ini ayam kampung?"
"iya... kenapa ndak suka?"
"aku ndak suka mas. kamu aja yang makan ini ya. aku pake telur aja" ucap Olivia menukar nasi milik dayat.
"yah... aku kira kamu suka vi"
"maaf ya mas"
mereka berdua menikmati makan pagi itu.
Ditengah menyantap makanan, ponsel Olivia berdering.
melihat siapa yang mengubunginya, Olivia membalikkan ponselnya.
"ndak kamu angkat vi?"
"nanti aja mas. masih makan" ucap Olivia cuek.
Ponsel Olivia berdering kembali. Olivia melihat siapa yang menghubunginya, orangnya tetap sama. kini ponsel itu dia selipkan di bawah bantal kursi sofa.
"dia pasti stres vi... dari kemarin ndak kamu respon"
"biar dia memperhatikan istrinya mas. aku ndak mau menganggu kesenangan mereka"
"kamu yakin jika dimas sekarang tengah senang?"
"entahlah... pengantin baru pasti senang lah. seperti mas dayat dulu senang kan?"
"ya beda vi... kalau aku sama, kesya sama-sama suka. ya pasti senang lah"
"kalau boleh tau, istrinya mas dayat sakit?"
"dia sakit tapi ndak bilang, 2 tahun pernikahan dia menutupi penyakitnya. seandainya aku tau vi... " dayat sesekali melamun sambil menyuap makanannya "waktu hamil juna aku tau penyakit dia. dokter menyarankan untuk membatalkan kehamilannya tapi kesya tetap bertahan sampai juna lahir. dan juga kesya meninggal"
"ya ampun mas... yang kuat ya mas. demi juna"
"harus vi... aku mencari babysitter untuk juna tapi belum dapat juga"
"pelan-pelan mas. Untuk saudara mas dayat ndak ada yang mau bantu jaga juna?"
"kemungkinan besar adikku tahun depan bantu aku untuk jaga juna, setelah dia lulus sekolah"
"syukurlah mas"
dayat selesai dengan makanannya.
"kamu kenal Siska dimana vi?"
"waktu itu Siska datang ke cafe mas dimas, trus sekarang kami ngontrak bareng mas"
"ow... satu kontrakan sama siska?"
"iya. mas dayat dengan mas dimas sudah kenal lama?"
"aku sama dimas teman mulai SMP vi, sampai sma juga satu sekolah. trus dia pindah ke Surabaya"
"kalau dengan siska?"
"aku kenal siska ya karena aku sering main ke rumah dimas, siska hampir setiap hari di rumah dimas"
"ooh... makanya kenal dekat ya mas"
"Iya vi... sering ketemu juga. dulu dia itu tomboy, eh sekarang bisa jadi cewek beneran"
"bisa aja kamu mas..."
"jombang kan memang panas, jadi setiap hari siska itu pakai hotpants. sampai pernah kejatuhan puntung rokoknya dimas"
Olivia tertawa
"pasti sakit mas"
"bukan sakit lagi... melepuh vi. mungkin membekas sampai sekarang"
setelah menghabiskan makanannya. juna menangis
dengan cepat dayat menghampiri anaknya itu.
"masih panas kamu nak" ucap dayat memegang dahi juna.
"mas... sudah siang. kamu berangkat kerja aja. juna biar aku jaga" ucap Olivia menggendong juna yang tengah menangis.
"terimakasih ya vi... aku ndak akan lama. mungkin 2 jam lagi aku sudah datang"
"kamu bereskan dulu pekerjaanmu mas, ndak usah buru-buru. juna aman bersamaku" Olivia meyakinkan dayat.
"terimakasih ya vi... cepat sembuh ya sayang" dayat mencium juna yang tengah di gendong Olivia
"Hati-hati mas"
"iya vi"
dayat meninggalkan anaknya bersama Olivia.
Ponsel Olivia kembali berdering.
"apa ada mas?" kali itu Olivia menjawab panggilan telepon dimas
"ada apa? kamu tanya ada apa? dari semalam kamu aku telpon ndak kamu Jawab sayang"
"aku kan ndak mau ganggu malam pertamamu mas"
"malam pertama kamu bilang?"
"di mana-mana yang namanya pengantin baru kan menikmati malam pertama" ledek Olivia.
"kamu sekarang ada dimana sayang?"
"aku masih di rumah sakit"
"rumah sakit mana?"
"kenapa? kamu mau kesini? jangan ngaco kamu mas"
"aku rindu sayang... kangen... "
"belajarlah untuk mencintai istrimu mas"
"kamu mau meninggalkanku sayang? dan sekarang sedang dekat dengan dayat?"
"nah mulai ngaco lagi kan. sudah lah mas. aku capek debat terus"
"ucapanku benar? kamu sama dayat sedang ada hubungan?"
"jangan ngawur kamu mas"
"kamu sekarang dimana sayang????"
"sudah mas. ndak enak sama dinda tau kamu hubungi aku. bisa-bisa aku dilabrak sama istrimu"
"vi... kenapa ya ketika kamu bilang istrimu rasanya jengkel banget vi?"
"makanya belajar buka hatimu untuk dinda mas. dia masa depanmu dan aku masa lalumu'
"