Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyuman Palsu di Atas Abu Kemenangan
Udara di dalam ruang rapat dewan juri terasa begitu pekat oleh ketegangan yang mencekam. Di atas meja kayu mahoni yang panjang, beberapa lembar laporan forensik digital dibentangkan berdampingan dengan layar monitor yang memuat log aktivitas server pusat. Juwita duduk di kursi saksi dengan tangan gemetar dan mata bengkak. Air matanya sudah mengering, menyisakan jejak garam di pipinya yang tirus, namun rasa sesak di dadanya belum juga mereda.
Beberapa saat yang lalu, ia hampir saja kehilangan segalanya. Label sebagai pelaku kecurangan siber dan penyebar malicious payload hampir menghancurkan hidupnya untuk kedua kalinya. Namun, keadilan kecil datang dari tempat yang tidak disangka-sangka. Profesor Hendra, yang sejak awal memantau integritas kompetisi tersebut, memerintahkan tim forensik independen untuk membedah ulang anomali yang terjadi pada menit-menit terakhir pengunggahan file Juwita.
Hasilnya membuat bulu kuduk merinding. Tim forensik menemukan bahwa skrip perusak itu tidak berasal dari dalam direktori asli Juwita, melainkan disusupkan secara ilegal melalui celah jaringan lokal (LAN) dari terminal lain—sebuah serangan siber tingkat lanjut yang menggunakan token akses bersama.
Meskipun bukti digital belum cukup kuat untuk langsung menyeret pelaku utama ke meja hijau karena jejak IP-nya disamarkan dengan cerdik, Profesor Hendra menolak mentah-mentah keputusan diskriminasi tersebut.
"Sistem kita yang gagal memberikan isolasi keamanan yang sempurna bagi peserta," tegas Profesor Hendra di hadapan Kepala Sekolah dan panitia. "Dan sebagai Ketua Dewan Juri, saya tidak akan membiarkan seorang jenius dihancurkan oleh celah sistem yang dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab. Juwita berhak mendapatkan satu kesempatan terakhir. Hari ini, di ruangan ini, di hadapan kita semua, dia akan merekonstruksi ulang kodenya di atas sistem sandbox tertutup yang steril."
Kabar mengenai kesempatan kedua itu menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru sekolah. Bagi Juwita, ini adalah secercah cahaya di tengah kegelapan total. Namun, di balik kelegaan itu, sebuah kesadaran dingin mendadak menghantam benaknya bagaikan sambaran petir.
Ia teringat kembali pada malam-malam saat ia bekerja bersama di perpustakaan. Ia teringat siapa saja orang yang memiliki akses langsung ke direktori kerjanya, siapa yang memegang kata sandi jaringan lokal, dan siapa satu-satunya orang yang duduk tepat di sebelah mejanya saat insiden itu terjadi.
Kevin.
Nama itu bergemuruh di kepalanya, memecahkan seluruh sisa-sisa keyakinan naif yang sempat ia bangun. Peringatan ibunya kembali terngiang-ngianh dengan sangat jelas di telinganya: “Harimau mungkin bisa mengubah belangnya untuk sementara waktu, tapi seekor pemangsa tidak akan pernah melupakan nalurinya.”
Juwita menyadari bahwa air mata penyesalan dan sikap manis yang ditunjukkan Kevin selama beberapa minggu terakhir bukanlah sebuah penebusan dosa. Itu adalah sandiwara busuk—sebuah topeng kepalsuan yang dirajut dengan sangat sabar untuk melumpuhkan kewaspadaannya sebelum menikamnya dari belakang. Rasa sakit karena dikhianati jauh lebih menyayat hati daripada rasa sakit karena dihina.
Di luar ruang sidang dewan juri, di koridor utama yang lengang, Kevin Aditama berdiri mondar-mandir dengan gelisah. Kuku-kukunya mencengkeram erat tepi saku celananya. Ketika ia mendengar berita bahwa dewan juri memberikan kesempatan kedua bagi Juwita untuk membuktikan diri, darah di dalam tubuhnya mendidih seketika.
Sial! Sialan! teriak Kevin di dalam hatinya, giginya bergemeretak menahan amarah yang meluap-luap. Kenapa gadis jalang itu tidak mau hancur?! Kenapa selalu ada saja orang tua keparat yang melindunginya setiap kali dia berada di ambang kekalahan?!
Kemarahan yang luar biasa bergolak di dadanya. Rencana yang ia susun berbulan-bulan, malam-malam panjang yang ia habiskan untuk mencari celah demi menjatuhkan Juwita, hampir saja sia-sia hanya karena para juri tua itu memutuskan untuk memberinya panggung lagi. Jika Juwita berhasil menyusun ulang kodenya hari ini, maka seluruh skema busuknya akan terbongkar, dan posisinya sendiri di sekolah akan musnah untuk selama-lamanya.
Namun, di tengah badai kemarahan yang membakar isi kepalanya, insting licik Kevin kembali mengambil alih. Ia tahu persis apa yang harus ia lakukan. Saat pintu ruang sidang terbuka dan Juwita melangkah keluar dengan wajah pucat namun dipenuhi tekad baja, Kevin segera mengubah ekspresinya dalam hitungan detik.
Ia membuang jauh-jauh kilatan kebencian di matanya, lalu memasang senyuman paling lebar, paling hangat, dan paling memprihatinkan yang ia miliki.
"Juwita!" panggil Kevin dengan suara yang sengaja dibuat bergetar penuh kelegaan, bergegas mendekati gadis itu.
Juwita menghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap pemuda di hadapannya dengan sorot mata yang kini telah berubah total—bukan lagi tatapan gadis naif yang mudah percaya, melainkan tatapan dingin seorang pemburu yang mengenali wujud asli mangsanya di balik kulit domba.
Kevin tidak menyadari perubahan tatapan itu; ia terlalu fokus memainkan perannya sebagai sahabat yang setia. "Aku baru dengar beritanya! Ya ampun, Juwita, aku bersyukur banget Tuhan masih adil sama kamu!" ucap Kevin penuh semangat, merentangkan tangannya seolah hendak memberikan dukungan moral. "Aku tahu kamu tidak mungkin melakukan hal sedemikian keji itu. Pasti ada orang tak bertanggung jawab yang menjebakmu! Kamu harus kuat, ya. Aku bakal selalu dukung kamu sampai kamu menang!"
Juwita terpaku menatap wajah Kevin. Melihat bagaimana pemuda itu tersenyum manis di atas kebohongan yang dibuatnya sendiri, perut Juwita mendadak mual. Betapa hebatnya sandiwara ini. Bahkan setelah mencoba menghancurkan masa depannya, Kevin masih sanggup berdiri di hadapannya sambil berpura-pura menjadi pahlawan pelindung.
Di dalam hatinya, amarah Juwita mendidih menjadi bahan bakar yang jauh lebih kuat dari apa pun di dunia ini. Rasa sakit hati karena dikhianati berubah menjadi tekad es yang tidak bisa dipatahkan oleh sihir apa pun. Namun, alih-alih meledakkan kemarahannya di tempat terbuka dan memperlihatkan kartunya, Juwita memutuskan untuk bermain di arena yang sama.
Ia melukiskan sebuah senyuman tipis di bibirnya—senyuman misterius yang membuat Kevin sempat merasakan secercah rasa janggal di dadanya, meski segera ia tepis.
"Terima kasih banyak atas dukungannya, Kevin," ucap Juwita dengan nada suara yang terdengar begitu lembut, begitu tenang, hingga Kevin mengira aktingnya berhasil seratus persen. "Tanpa bantuan dan dukunganmu selama ini... mungkin aku tidak akan pernah belajar bagaimana mengenali wajah-wajah orang yang sebenarnya ada di sekitarku."
Kevin mengerjap sejenak, merasakan ada makna terselubung yang terasa dingin di balik kalimat itu. "A-apa maksudmu, Juwita?" tanyanya canggung, mencoba tersenyum.
"Tidak ada apa-apa," jawab Juwita tenang. Ia melangkah melewati Kevin begitu saja, menepuk pelan bahu pemuda itu dengan gerakan yang sangat ringan. "Doakan aku ya, Kevin. Semoga di kesempatan kedua ini, aku bisa membuktikan siapa pembuat aslinya... dan siapa pencuri yang bersembunyi di balik topeng."
Langkah Juwita menjauh menyusuri koridor, meninggalkan Kevin yang berdiri mematung di tempatnya.
Bahu Kevin mendadak merinding dingin. Untuk sepersekian detik, pemuda itu merasa seolah-olah kedoknya telah sepenuhnya dikupas oleh tatapan mata Juwita tadi. Namun ia segera menggelengkan kepalanya keras-keras, menepis rasa takut yang tiba-tiba merayap di dadanya. Tidak mungkin, batin Kevin meyakinkan dirinya sendiri dengan seringai sinis. Dia cuma gadis bodoh dari bantaran rel kereta. Apapun yang dia coba buktikan hari ini, aku akanPastikan dia tetap gagal.
Di dalam ruang laboratorium isolasi yang steril, Juwita duduk di depan komputer baru yang disediakan khusus oleh dewan juri. Ia menarik napas panjang, menutup matanya sejenak, dan merasakan detak jantungnya yang bergemuruh. Ia tidak lagi berjuang sendirian. Di luar sana, ada ibunya yang menunggunya dengan doa-doa tulus, dan di dalam dadanya, api perlawanan kini menyala lebih terang dari sebelumnya.
Juwita membuka matanya, meletakkan jemarinya di atas keyboard, dan bersiap untuk menuliskan babak penentuan yang akan meruntuhkan seluruh kebohongan dunia di hadapannya.