NovelToon NovelToon
Rumah Impian Yang Retak

Rumah Impian Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.

Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Tangan Rian langsung mencekal pergelangan tangan Nadia persis saat wanita itu hendak menyentuh gagang pintu utama. Cengkeramannya sangat kuat, seolah mencegahnya untuk pergi dengan rasa putus asa yang tak pernah Nadia lihat sebelumnya dari sosok pria yang selalu tampil sempurna, dan dingin itu.

​"Nadia, tunggu... Tolong, jangan pergi," bisik Rian dengan suara parau yang hampir pecah.

​Nadia menghentikan langkahnya, namun ia tidak berbalik. "Lepaskan, Mas. Bukankah ini yang kamu dan ibumu inginkan? Biarkan aku pergi agar kamu bisa fokus dengan pekerjaanmu, dengan Maya, dan ibumu tidak perlu lagi melihat menantu yang dianggapnya tidak berguna ini."

​"Tidak, Nadia! Demi Allah, tidak!"

​Secara mengejutkan, Rian melepaskan cengkeramannya dan perlahan menjatuhkan kedua lututnya ke atas lantai. Tubuhnya merendah, berlutut tepat di belakang Nadia. Pria yang memiliki harga diri tinggi itu kini bersimpuh di belakang istrinya

​"Mas... apa yang kamu lakukan?" Nadia terperanjat, memutar tubuhnya dengan mata membelalak tak percaya.

​"Maafkan aku, Nad... Maafkan aku," ratap Rian, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi pipinya. Tangannya gemetar meraih jemari Nadia yang dingin dan bergetar, menggenggamnya erat-erat seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melepaskannya sedetik saja.

"Aku mengaku salah. Aku pria jahat, aku suami yang tidak punya hati. Selama ini aku lari dari duka kehilangan anak yang aku harapkan karena aku pengecut. Aku menimbun diriku dengan pekerjaan karena aku takut menghadapi kenyataan bahwa aku gagal menjagamu!"

​Nadia membeku. Ini adalah pertama kalinya Rian mengakui rasa sakitnya secara terbuka sejak tragedi di rumah sakit beberapa tahun lalu.

​"Soal Maya, demi Tuhan tidak ada hubungan apa pun di antara kami selain profesionalitas pekerjaan, Nad. Tapi aku sadar, batasku sudah salah. Aku membiarkan dia memberi perhatian yang seharusnya hanya milikmu, dan aku membiarkanmu merasa sendirian di rumah ini," Rian mendongak, menatap mata Nadia dengan sorot mata yang penuh penyesalan dan ketakutan kehilangan istrinya.

​"Tolong, beri aku satu kesempatan lagi. Hanya satu kesempatan, Nadia. Aku akan berubah. Aku akan memperbaiki semuanya dari nol. Rumah ini... hidupku... tidak ada artinya tanpa kamu. Tempat ini bukan rumah tanpa kehadiranmu, Nad. Tolong jangan tinggalkan aku."

​Nadia menatap Rian yang masih berlutut di hadapannya. Pria yang dulu berjanji di hadapan ayahnya untuk menjaganya, pria yang pernah menjadi alasannya tersenyum, kini hancur berkeping-keping di bawah kakinya. Di dalam benak Nadia, perang batin bergejolak hebat. Luka akibat pengabaian bertahun-tahun dan kata-kata tajam ibu mertuanya masih terasa perih. Namun, di balik rasa sakit itu, kenangan masa-masa indah saat mereka saling mencintai dengan tulus kembali berputar. Rasa cinta yang sempat tertimbun oleh kekecewaan ternyata belum sepenuhnya mati.

​Nadia menarik napas panjang, membuang rasa sesak di dadanya. "Berdirilah, Mas. Jangan seperti ini."

​"Kamu tidak akan pergi?" tanya Rian penuh harap, matanya mencari kepastian.

​"Satu kesempatan," ujar Nadia pelan namun tegas, menatap lurus ke mata suaminya. "Ini adalah kesempatan terakhir yang aku berikan, Mas. Bukan untuk mengabaikan rasa sakitku, tapi untuk menghargai masa lalu yang pernah kita bangun bersama. Kalau kamu mengulanginya lagi, tidak ada lagi kata maaf."

​Senyum lega yang bercampur dengan haru mengembang di wajah Rian. Ia segera berdiri dan langsung merengkuh tubuh Nadia ke dalam pelukannya, sebuah pelukan hangat dan erat yang sudah bertahun-tahun tidak Nadia rasakan. Rian membisikkan kata terima kasih berulang kali di puncak kepala istrinya, bertekad tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

​Namun, kehangatan momen itu seketika pecah oleh suara derap langkah kaki dan deheman keras dari arah belakang. Bu Ratna berdiri di dekat meja makan dengan tangan bersedekap dan wajah yang tertekuk, dia tidak suka melihat pemandangan di hadapannya.

​"Astaga, Rian! Apa-apaan kamu ini?!" seru Bu Ratna dengan nada tinggi dan ketus. "Kamu ini kepala keluarga, seorang direktur perusahaan! Kenapa harus berlutut dan mengemis-ngemis pada wanita seperti dia? Kamu memalukan keluarga, Rian! Kalau begini caranya, dia bakal merasa besar kepala dan makin semena-mena sama kamu, dia akan bertingkah seenaknya nanti!"

​Rian melepaskan pelukannya perlahan, lalu membalikkan badan menghadapi ibunya. Sikap Rian kali ini berbeda, tidak ada lagi keraguan atau kepatuhan yang biasa ia tunjukkan pada ibunya.

​"Cukup, Bu," tegas Rian dengan suara tenang karena tidak ingin juga menyakiti hati ibunya. "Nadia adalah istri ku. Kalau aku harus merendahkan egoku sampai ke tanah demi mempertahankan rumah tangga ini, akan aku lakukan. Aku yang bersalah di sini, bukan Nadia. Aku minta Ibu tolong hargai keputusan ku."

​"Kamu sudah gila ya? Otakmu sudah dicuci sama dia!" Bu Ratna menuding Nadia dengan tatapan sengit, lalu menghentakkan kakinya dan berjalan masuk ke kamarnya seraya membanting pintu dengan keras.

​Rian tidak mengejar ibunya. Bagi Rian saat ini, fokus utamanya hanyalah Nadia. Pria itu kembali menatap istrinya, lalu menggenggam kedua tangan Nadia dengan erat.

​"Biarkan Ibu tenang dulu. Yang penting sekarang adalah kita," kata Rian serius. "Aku akan buktikan bahwa ucapanku bukan sekadar janji manis."

​Pagi itu juga, di hadapan Nadia, Rian mengambil ponselnya. Tanpa ragu, ia menghubungi sekretarisnya dan wakil direktur di perusahaannya. Rian memberitahukan bahwa ia akan mengambil cuti selama dua minggu ke depan dan menyerahkan seluruh kendali proyek, termasuk proyek yang melibatkan Maya, kepada timnya. Ia bahkan secara khusus meminta agar seluruh komunikasi terkait pekerjaan disaring melalui sekretaris dan tidak dihubungkan langsung ke ponsel pribadinya selama masa cuti.

​Nadia memperhatikan setiap tindakan Rian. Keraguan di hatinya perlahan mengikis, tergantikan oleh sedikit rasa hangat melihat kesungguhan pria itu.

​"Aku sudah memesan tiket dan resor di Bali untuk dua minggu ke depan," ujar Rian setelah menutup teleponnya, menatap Nadia dengan senyum tipis yang tulus. "Hanya kita berdua, Nad. Tidak ada pekerjaan, tidak ada masalah kantor, dan tidak ada gangguan dari siapa pun. Kita butuh waktu untuk bicara dari hati ke hati, menyembuhkan luka kita, dan memulai semuanya dari awal. Aku juga akan meminta sekertaris ku mencarikan asisten rumah tangga, agar kamu tidak terlalu capek. Maaf, karena aku terlalu mendengarkan ibu selama ini. "

​Nadia menatap koper di dekat pintu yang tadi hampir dibawanya pergi. Koper itu kini tak jadi melangkah keluar, melainkan akan menjadi saksi perjalanan baru mereka. Nadia mengangguk pelan, memberikan senyuman tipis yang sudah sangat lama tak Rian lihat dari wajah istrinya.

​"Baiklah, Mas. Mari kita coba memperbaiki pernikahan kita," bisik Nadia.

1
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
ditambah dong ka up nya
Ariany Sudjana
betul sekali, dasar pelacur murahan kamu Sarah, sudah pengangguran, eh pelacur murahan juga, sama seperti Maya
Ariany Sudjana
hahaha Rian Rian kamu bodoh, mau saja disetir sama Mak Lampir dan juga pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Heni Setiyaningsih
ternyata suami dan mertua bersekongkol mengincar hartanya Nadia ciih menjijikan
Heni Setiyaningsih
gk sabar pengen lihat pembalasan Nadia
falea sezi
🤣🤣 trik laki. yg uda ketauan selingkuh ya begitu
Eys Resa: yah, begitulah🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
datang lagi hama...hilang maya datanglah sarah...mungkinkah ini yg akan memicu perginya nadia??ditunggu..
Mefiani: siiip lah...👍
total 2 replies
Mefiani
mungkinkah perubahan itu bisa selamanya ato sesaat??ditunggu kelanjutane
Eys Resa: siap bos
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
kurang Thor besok update nya double ya 😄💪
Eys Resa: hehehe, kalo sempet ya kak. othor lagi ngerjain 4 novel soalnya😁🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
pergi sono nadia dan kembalilah kekehidupanmu sebelum kamu menikah...raihlah kebebadanmu..💪
Eys Resa: hooh kk
total 3 replies
falea sezi
mertua kayak lampir lanjut thor laki bego gini di cerai aja🤣
Eys Resa: 🙈🙈🙈🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending q kirim bunga dehh🤭
Eys Resa: makasih kak. semoga ya, lagi mikir alurnya kak, semoga nanti suka😁
total 1 replies
Mefiani
akhirnya buat cerita baru lagi kak resa sayank..q dah meluncur nich..😘💪
Eys Resa: makasih kak Mefi, yang pertama nih. bentar lagi juga ngisi di sebelah kak. 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!