Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keduanya Cemburu 21.
Dafa tidak pernah tahu bahwa melihat seseorang tertawa bisa terasa sesakit ini.
Dari ambang pintu kantin yang bising oleh denting sendok dan obrolan khas jam istirahat, matanya terkunci pada satu titik.
Di meja sudut dekat jendela, Lilis sedang tertawa lepas. Bahunya terguncang kecil, dan matanya menyipit membentuk bulan sabit—sebuah pemandangan yang belum pernah Dafa lihat selama mereka terlibat dalam kesepakatan sialan bernama "pacaran fiktif" ini.
Di depan Lilis, Azril sedang memperagakan sesuatu dengan pulpennya, tampak bangga karena berhasil menjadi alasan di balik tawa itu.
Dafa mengepalkan tangan di dalam saku celana. Ada gemuruh aneh yang membakar dadanya.
Rasa cemburu itu datang tanpa permisi, mengetuk egonya dengan kasar.
Selama ini, Dafa terbiasa menjadi pusat semesta di koridor sekolah. Namun siang ini, di tengah kantin yang padat, dia merasa seperti hantu yang tidak kasat mata bagi Lilis.
"Daf, lo gak makan? Keburu bel masuk, tuh." Feli menyenggol lengannya saat berjalan melewati ambang pintu.
Dafa tersentak, memutus tatapannya dari meja sudut. "Duluan aja, Fel. Gue gak laper."
"Dih, padahal tadi pagi dapet bekal premium dari Kinar," seloroh Feli sambil berlalu, tidak menyadari atmosfer pekat yang melingkupi cowok itu.
Dafa berjalan menuju meja kosong di baris tengah, sengaja memilih posisi yang membelakangi meja Lilis, walau telinganya tetap memasang radar tajam.
Di atas meja kayu itu, paper bag cokelat pemberian Kinar tergeletak begitu saja.
Aromanya yang gurih sempat membuat beberapa anak basket melirik lapar, namun Dafa sama sekali tidak berniat membukanya.
Jangankan menyentuh, melihatnya saja membuat lambung Dafa mendadak mual.
Ada rasa bersalah yang aneh, bercampur kesal karena kebodohannya sendiri tadi pagi.
Dia hanya ingin menjaga perasaan Kinar di depan umum. Tapi taruhannya terlalu mahal— tatapan kecewa dari Lilis yang kini berubah menjadi tembok es yang tebal.
"Lagian, kenapa gue harus se-frustrasi ini?" gumam Dafa lirih pada dirinya sendiri.
Dia meraup wajahnya kasar. Bukankah dari awal hubungan mereka hanya fiktif? Tugas Lilis adalah membantunya lepas dari hukuman guru BK, dan tugas Dafa adalah memberikan Es teler untuk Lilis. Harusnya ada batas yang jelas.
Tapi kehangatan di halte semalam, saat kepala Lilis bersandar di bahunya, telah mengaburkan garis pembatas itu. Dafa sadar, dia sudah jatuh terlalu dalam.
Di sudut lain, tawa Lilis perlahan surut begitu Azril sibuk membolak-balik lembar proposal.
Begitu suasana hening, dadanya kembali terasa kosong. Lilis tahu Dafa ada di kantin.
Dia tahu cowok itu sempat berdiri kaku di pintu masuk. Tawa lepas yang dia pamerkan bersama Azril tadi tak lebih dari sekadar tameng.
Ego Lilis terlalu tinggi untuk terlihat menyedihkan setelah menyaksikan adegan romantis Dafa dan Kinar tadi pagi.
"Lis, lo fokus gak? Ini bagian anggaran jersi kok belum lo paraf?" tanya Azril, memecah lamunan Lilis.
Lilis mengerjapkan mata, buru-buru mengambil pulpen. "Ah, sorry, Zril. Pikiran gue agak kebelah. Mana yang harus diparaf?"
Azril tidak langsung menunjuk kertas. Dia justru meletakkan pulpennya, lalu menopang dagu sambil menatap Lilis lekat-lekat. "Gak usah bohong sama gue. Lo lagi mikirin si kapten basket itu, kan?"
Gerakan tangan Lilis terhenti. Dia mendongak, mencoba memasang wajah datar terbaiknya. "Gak ada hubungannya sama Dafa."
"Tembok pertahanan lo ketebalan, Lis," cibir Azril tipis, bukan dengan nada mengejek, melainkan prihatin. "Dari tadi mata lo emang ngeliat ke gue, tapi fokus lo ada di punggung cowok yang lagi duduk sendirian di meja tengah itu. Kalau emang pacaran kalian cuma settingan buat OSIS atau apa pun, lo gak bakal se-distrak ini."
Lilis terdiam. Kata-kata Azril tepat sasaran, menguliti gengsi yang berusaha dia pertahankan mati-matian. Dia melirik sekilas ke arah meja tengah. Di sana, Dafa duduk menyendiri, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Dan di samping tangan cowok itu, paper bag dari Kinar masih berdiri tegak, belum terbuka sedikit pun.
"Gue cuma... gak suka dibohongi," bisik Lilis akhirnya, suaranya nyaris tenggelam oleh bising kantin. "Semalam dia bilang hal-hal yang bikin gue mikir dia beda. Tapi tadi pagi? Dia ambil bekal itu seolah-olah gue gak ada di sana."
Azril menghela napas panjang, lalu bersandar pada sandaran kursi. "Cowok kayak Dafa itu punya penyakit akut bernama 'gak enakan'. Dia terlalu biasa dipuja, jadi begitu ada cewek sebaik Kinar ngasih sesuatu di depan umum, otaknya langsung macet. Dia milih nyelametin muka Kinar tanpa mikir efek domino ke lo." Azril mengetuk meja. "Tapi lihat tuh. Bekalnya bahkan gak disentuh sama sekali. Berarti otaknya udah mulai jalan sekarang."
Lilis memandangi kantong kertas cokelat itu lagi. Benar. Dafa bahkan tidak melirik makanan di dalamnya.
Bel tanda jam istirahat berakhir berdentang nyaring, memotong percakapan mereka. Anak-anak mulai berhamburan bangkit dari kursi, menyisakan ruang kantin yang berangsur sepi. Azril berdiri lebih dulu, merapikan proposalnya. "Yuk balik ke kelas. Tapi inget, Lis, dalam hubungan—mau fiktif atau beneran—gengsi itu cuma bakal bikin lo jalan di tempat. Selesaiin sebelum makin rumit."
Lilis ikut bangkit, mengangguk pelan. Dia berjalan mengekor di belakang Azril. Namun saat melewati meja Dafa, langkahnya melambat secara otomatis.
Dafa menyadari kehadiran Lilis. Cowok itu langsung berdiri, membuat kursinya berderit keras di atas lantai keramik. Tatapan mereka bertemu di udara. Ada ketegangan yang pekat, seolah semua kata-kata yang tertahan di tenggorokan mereka saling berbenturan.
Dafa melirik Azril yang berjalan beberapa langkah di depan Lilis, lalu kembali menatap mata perempuan di hadapannya. "Lis..." panggilnya rendah, ada nada memohon yang samar dalam suaranya.
Lilis berhenti tepat di samping meja Dafa. Matanya turun melihat ke arah paper bag Kinar yang masih rapi, lalu kembali menatap Dafa.
Rasa perih tadi pagi masih ada, tapi melihat wajah frustrasi Dafa, benteng es di hatinya sedikit retak.
"Gue gak butuh testimoni sandwich-nya, Daf," kata Lilis tenang, suaranya tidak lagi ketus seperti tadi pagi, melainkan datar dan melelahkan. "Tapi kalau lo emang mau ngejalanin kesepakatan kita dengan bener, minimal hargain keberadaan gue kalau lagi di depan anak-anak. Gue gak mau kelihatan kayak orang bodoh."
Sebelum Dafa sempat membalas, Lilis sudah berbalik dan melangkah cepat menyusul Azril yang menunggu di dekat pintu keluar.
Dafa terpaku di tempatnya berdiri. Dia tidak mengejar. Dia tahu, memberi ruang untuk Lilis mereda adalah pilihan paling logis saat ini.
Namun, ada satu hal yang dia sadari dengan pasti. Rasa lega yang luar biasa menyergapnya hanya karena Lilis mau berbicara padanya lagi, sekaku apa pun itu.
Dafa menatap paper bag di atas meja dengan pandangan dingin.
Tanpa ragu lagi, dia meraih kantong kertas itu, lalu berjalan menuju tempat sampah besar di sudut kantin dan menjatuhkannya ke dalam sana tanpa pernah membuka isinya sama sekali. Hubungannya dengan Kinar mungkin akan canggung setelah ini, tapi Dafa tidak peduli. Skala prioritasnya di sekolah ini sudah berubah total sejak semalam.
......................
...****************...
Tbc,