Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2
Kesadaran kembali secara perlahan, ditarik dari kedalaman tidur yang lelah oleh bisikan angin pagi yang menerobos celah tirai sutra.
Hazel Rosemary Brooks membuka matanya.
Sepasang manik matanya yang jernih kini menatap kosong pada langit-langit kamar penthouse mewah bernuansa krem dan emas yang megah.
Cahaya fajar kota Los Angeles merayap tipis, membiaskan garis-garis lembut di atas seprai putih yang kini kusut dan berantakan.
Sejenak, dunia terasa berhenti berputar.
Udara di dalam ruangan itu masih pekat dengan jejak malam tadi—aroma kayu cedar, alkohol mahal, dan pendar kehangatan dari dua tubuh yang beradu dalam amarah serta keputusasaan.
Hazel memiringkan kepalanya sedikit, menatap deretan tiang tinggi gedung-gedung bertingkat di balik jendela kaca raksasa. Pandangannya menerobos jauh, melintasi ribuan mil samudra, menuju sebuah negeri yang jauh di seberang benua.
Ke sebuah gereja tua berarsitektur Gotik di sudut kota London, tempat di mana jam dinding pasti baru saja menandai berakhirnya sebuah pesta pernikahan yang megah.
Bibir tipis Hazel yang sedikit bengkak bergetar tipis.
Dengan suara yang teramat lirih, hampir tenggelam oleh desir pendingin udara, ia berbisik lembut pada angin pagi, "Selamat atas pernikahan dan malam pertamamu bersama istrimu..."
Kalimat itu terucap bagai duri yang menghujam dadanya sendiri.
Pria yang selama Bertahun-tahun mengisi seluruh rongga hatinya, pria yang ia percayai dengan seluruh masa depannya, Baru saja mengucapkan janji suci di hadapan altar—bersama wanita lain.
Hari kemarin seharusnya menjadi hari di mana ia meratapi kehancuran hatinya.
Namun, rasa sakit yang membakar itu justru mendorongnya melakukan tindakan paling nekat sepanjang 22 tahun hidupnya.
Di usianya yang baru menginjak dua puluh dua tahun, di malam yang sama ketika cinta pertamanya bersanding dengan wanita pilihannya, Hazel menyerahkan kehormatannya—kesucian yang selalu ia jaga ketat dari semua pria—kepada seorang pria asing yang bahkan tidak ia ketahui nama lengkapnya.
Pria yang ia temui secara tidak sengaja di sebuah bar remang-remang, yang kebetulan memiliki luka dan amarah yang sama besarnya di balik mata tajam itu.
Apakah aku menyesal? tanyanya pada diri sendiri.
Hazel memejamkan mata rapat-rapat.
Ada setitik rasa perih di dadanya, namun keputusasaan yang dingin dengan cepat menguasai seluruh akal sehatnya.
Tidak. Ia tidak boleh lemah.
Pernikahan Mantan Kekasihnya—tidak boleh menghancurkan dirinya, dan malam panas tadi tidak boleh menjadi rantai yang mengikat langkahnya.
Menguasai dirinya kembali, Hazel mencoba menggerakkan kakinya.
Rasa nyeri yang tajam dan menyengat mendadak menjalar dari area intimnya, membuat napasnya tertahan.
Sensasi robekan dan rasa sakit fisik itu menjadi pengingat nyata bahwa semua kejadian gila semalam bukanlah sekadar mimpi buruk.
Rasa sakit itu begitu nyata, namun Hazel mengetuk jemarinya ke kasur, memaksa matanya tetap terbuka tanpa meneteskan air mata.
Dengan perlahan dan hati-hati, Hazel menggeser tubuhnya menjauhi pusaran panas di sampingnya.
Di sana, pria asing itu masih terbaring telungkup di atas ranjang king size. Punggung tegapnya yang dipenuhi guratan otot kokoh naik turun dengan irama napas yang teratur dan dalam.
Selimut abu-abu gelap melilit sebatas pinggangnya, memamerkan bahu lebar serta lekuk tubuh seorang pria yang terbiasa dengan kedisiplinan dan kekuatan.
Hazel menatap pria itu sejenak.
Dalam remang fajar, ketampanan pria itu begitu tajam dan intimidatif—rahang tegas yang tertutup bayangan brewok tipis, hidung tinggi sempurna, dan tekstur wajah yang seolah dipahat oleh seniman ternama.
Namun, Hazel tidak peduli.
Siapa pria ini?
Siapa namanya?
Berapa usianya?
Apakah dia seorang pengusaha, anak konglomerat, atau hanya seorang pria sombong yang kebetulan berwajah tampan?
Semua itu sama sekali tidak penting baginya.
Mereka berdua hanyalah dua jiwa asing yang saling memanfaatkan untuk membakar kebohongan dunia di malam yang dingin.
Tidak ada ikatan, tidak ada janji, dan tidak boleh ada kelanjutan.
Menahan rasa sakit yang menusuk di setiap pijakan kakinya, Hazel turun dari ranjang. Kakinya sedikit gemetar saat menyentuh lantai marmer yang dingin.
Ia membungkuk, mengumpulkan pakaian-pakaian mewahnya yang berhamburan di atas karpet tebal—blazer gelap, mantel yang basah oleh gerimis semalam, dan pakaian dalamnya.
Setiap kali bergerak, rasa perih di antara kedua paha membuatnya menahan napas. Namun Hazel tetap menegakkan punggungnya. Ia memakai kembali pakaiannya satu per satu dengan gerakan yang anggun dan tegas.
Setelah selesai merapikan penampilannya, ia melangkah mendekati meja rias di sudut kamar.
Dari dalam tas tangannya, Hazel mengeluarkan dompet kulit miliknya.
Ia mengambil segepok uang tunai pecahan seratus dolar—jumlah yang sangat banyak, cukup untuk membayar kamar suite mewah ini selama seminggu penuh—dan meletakkannya di atas meja kaca.
Di samping tumpukan uang itu, ia mengambil selembar kertas catatan kecil dan pena dari tasnya.
Jemarinya menari cepat di atas kertas, menuliskan beberapa patah kata dengan tulisan tangan yang rapi namun dingin:
"Aku bukan wanita murahan yang meminta ganti rugi, tapi aku juga tidak suka berutang pada pria asing. Anggap saja ini bayaran atas malam tadi dan ganti rugi kamar ini. Jangan cari aku. Aku akan bertanggung jawab atas diriku sendiri."
Hazel menindih kertas itu dengan segepok uang tunai agar tidak tertiup angin.
Ia melirik sekali lagi ke arah ranjang. Pria itu masih tertidur lelap, sama sekali tidak menyadari bahwa wanita asing yang menikmati kehangatan dengannya sepanjang malam kini sudah siap melangkah pergi.
Hazel memperbaiki posisi mantelnya, menutup tato kupu-kupu di lehernya, lalu berbalik tanpa ragu.
Dengan langkah pelan yang dipaksakan agar tidak tampak gemetar, ia membuka pintu penthouse dan menghilang di balik lorong dingin hotel bintang lima tersebut, meninggalkan malam gilanya di belakang.
Dua jam kemudian.
Sinar matahari pagi Los Angeles menembus sepenuhnya jendela kaca raksasa, menyiramkan pendar emas yang hangat ke atas ranjang king size.
Jameson Baxter Ashford menggeliat pelan. Suara lenguhan rendah keluar dari tenggorokannya yang terasa kering.
Kepala pria itu berdenyut hebat—sisa dari alkohol pekat yang ia teguk semalam berpadu dengan kelelahan fisik akibat luapan gairah yang tak terkendali.
Secara refleks, tangan kekarnya bergerak menyapu sisi ranjang di sebelahnya, mencari kehangatan tubuh lembut yang semalam melingkar kencang di pinggangnya.
Nihil.
Tempat itu kosong dan dingin.
Mata tajam Jameson terbuka seketika.
Manik mata berwarna hazel pekatnya menyapu seluruh sudut kamar mewah tersebut.
Seprai di sisinya sudah berantakan, dan aroma wewangian samar beraroma bunga mawar dan kayu cedar masih tertinggal di udara, namun pemiliknya telah lenyap.
"Pergi?" gumam Jameson dengan suara serak khas bangun tidur.
Alis tebalnya menyatu kaku.
Rasa bingung mendadak merayap di dadanya.
Seingatnya, wanita itu semalam begitu pasrah, begitu liar, dan yang paling mengejutkan... wanita itu masih perawan saat ia menyentuhnya.
Bayangan momen ketika ia menyadari kesucian wanita bertato kupu-kupu itu membuat rahang Jameson mengetat. Ia ingat betapa hati-hatinya ia memanjakan wanita itu setelah rasa terkejutnya reda, betapa ia berusaha meredam rasa sakit wanita itu dengan ciuman lembut yang bertahan hingga pagi.
Jameson bangkit dari ranjang, menyingkap selimut abu-abu yang melilit tubuh polosnya.
Ia melangkah menuju meja rias untuk mengambil segelas air mineral. Namun, langkah kakinya terhenti seketika saat matanya menangkap sesuatu di atas meja kaca.
Di sana, tertata rapi segepok uang tunai dolar yang tebal, dan di bawahnya terdapat selembar kertas kecil.
Jameson menyipitkan mata. Ia meraih kertas itu dan membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di sana.
Deg.
Darah di dalam tubuh Jameson seolah berhenti mengalir sebelum akhirnya meledak menjadi gelombang amarah yang panas dan membakar.
Jemarinya meremas kertas itu hingga hancur berkeping-keping di dalam genggamannya. Matanya berkilat menakutkan saat menatap tumpukan uang tunai di atas meja.
"Sialan..." maki Jameson dengan suara rendah yang bergetar penuh kemurkaan.
Uang? Dia meninggalkan segepok uang untuknya?
Seorang Jameson Baxter Ashford—putra kesayangan dari keluarga Ashford paling berpengaruh, berbahaya, dan berkuasa di seluruh wilayah California—diperlakukan bagai seorang pria bayaran oleh seorang wanita asing?
Harga diri dan kesombongannya sebagai seorang pria Ashford hancur berkeping-keping dalam satu detik.
Selama hidupnya, tidak pernah ada wanita yang berani meremehkannya.
Mereka berlomba-lomba mendapatkan perhatiannya, memuja ketampanannya, dan merayunya demi mendapatkan nama besarnya.
Namun wanita ini... setelah menyerahkan kesuciannya, setelah menangis di bawah tubuhnya, wanita itu justru pergi begitu saja dan melemparkan segepok uang seolah-olah Jameson adalah pemuas gairah semalam yang bisa dibayar!
"Bukankah lebih terhormat jika kau mengucapkan perpisahan secara baik-baik daripada menyiramku dengan uang bajingan seperti ini?!" bentak Jameson pada ruangan yang kosong.
Suaranya bergema menakutkan, memantul di dinding-dinding penthouse.
Amarahnya kian membara karena ia merasa benar-benar dimainkan. Ia bahkan belum sempat mengetahui nama wanita itu!
Yang ia ingat hanyalah tatapan mata tajam tanpa rasa takut, lipstik merah padam, dan tattoo kupu-kupu hitam yang terukir di leher jenjangnya.
Tanpa membuang waktu, Jameson meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur. Ia mendial sebuah nomor dengan gerakan kasar.
"Louis!" tegas Jameson tanpa menyapa begitu sambungan telepon terhubung.
Di seberang sana, Louis yang baru saja terbangun terdengar menguap.
"Ada apa, Jameson? Suaramu seperti orang yang siap membantai satu batalyon tentara di pagi hari."
"Lacak seluruh rekaman CCTV hotel tempatku menginap semalam. Penthouse Suite," perintah Jameson dingin, suaranya mengandung ancaman mendalam yang tak bisa dibantah.
"Temukan identitas wanita yang keluar dari kamarku pagi ini. Sekarang juga!"
Louis tersedak ludahnya sendiri di ujung telepon.
"Tunggu... apa? Wanita? Kau menghabiskan malam dengan seorang wanita? Bukankah semalam kau bilang ingin minum sendirian karena dikhianati si aktris itu?"
"Jangan banyak tanya, Louis!" geram Jameson, mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Temukan dia. Siapa pun wanita bertato kupu-kupu itu, aku ingin tahu namanya, alamatnya, dan seluruh riwayat hidupnya sebelum matahari terbenam hari ini!"
"B-baik, Brother! Aku panggil tim peretas sekarang. Tenanglah sedikit," jawab Louis cepat, menyadari bahwa sahabatnya sedang berada di puncak amarah yang mematikan.
Jameson mematikan telepon secara sepihak. Ia membuang ponselnya ke atas ranjang lalu menatap pantulan dirinya di cermin besar.
Matanya merah, rahangnya mengeras keras.
Di luar reputasi keluarganya yang ditakuti di kalangan atas California, Jameson bukanlah sekadar pria kaya yang menyombongkan harta orang tuanya. Ia adalah pria dengan kecerdasan luar biasa.
Di usianya yang masih sangat muda, ia telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya dan kini menjabat sebagai dosen muda berprestasi di universitas paling bergengsi dan ternama di kota Los Angeles.
Di kampus itu, Jameson dikenal sebagai dosen yang dingin, tegas, berwibawa, dan hampir tak tersentuh.
Mahasiswa dan mahasiswi menghormatinya bukan hanya karena ketampanannya yang memikat, melainkan karena prestasinya yang diakui secara internasional dalam bidang akademis.
Namun, yang membuat nama Jameson benar-benar meledak dan dikenal hampir di seluruh penjuru kota California bukan sekadar gelar akademis atau status sosialnya.
Satu tahun lalu, sebuah insiden berdarah terjadi di Rumah Sakit Pusat Los Angeles.
Sebuah kelompok teroris menanam bom waktu berkekuatan tinggi di dalam gedung tempat ratusan pasien dirawat—termasuk putri pejabat tinggi bernama Cassandra.
Saat polisi dan tim penjinak bom terjebak dalam krisis dan kekacauan, Jameson—yang saat itu kebetulan berada di lokasi—secara nekat menerobos masuk ke area bahaya.
Berbekal ilmu taktis, keberanian murni, dan pelatihan militer khusus yang diajarkan oleh kakeknya (Grandpa Ashford)—Jameson berhasil menjinakkan bom rumit tersebut hanya dalam hitungan detik sebelum ledakan terjadi.
Ia menyelamatkan Cassandra dan ratusan nyawa manusia hari itu.
Aksi heroic itu terpampang di seluruh surat kabar nasional.
Foto Jameson yang keluar dari rumah sakit dengan baju bernoda debu sambil menggendong Cassandra yang terselamatkan menjadi sejarah yang membuat namanya dipuja sebagai pahlawan kota.
Ia adalah kombinasi sempurna antara otak jenius, keberanian tanpa rasa takut, dan garis keturunan bangsawan yang kuat.
Dan hari ini... seorang pahlawan kota, seorang dosen muda terpandang, seorang calon penerus Ashford, diinjak-injak harga dirinya oleh seorang wanita asing yang meninggalkan segepok uang dolar diatas meja.
"Ganti rugi? Bertanggung jawab?" Jameson terkekeh sinis, tawa dingin yang membuat merinding siapa saja yang mendengarnya.
Ia meraih segepok uang tunai milik Hazel, menyapu jemarinya di atas lembaran kertas beraroma lembut tersebut.
"Kau melukai harga diriku sebagai seorang lelaki, Butterfly," bisik Jameson pelan, matanya berkilat penuh obsesi dan amarah yang pekat.
"Kau pikir kau bisa memberikan kesucianmu, melempar uang ke wajahku, lalu menghilang begitu saja? Jangan harap."
Jameson meremas tumpukan uang itu, menyunggingkan senyum miring yang berbahaya.
"Di mana pun kau bersembunyi di kota Los Angeles ini... aku akan menemukanmu. Dan saat aku menemukanmu, aku akan memastikan kau membayar harga diri yang telah kau hancurkan pagi ini."
...----------------...
Happy reading 🦋
up up up 🤣