NovelToon NovelToon
Teman Kecilmu Datang, Neng Pergi Ya!

Teman Kecilmu Datang, Neng Pergi Ya!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"

Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.

Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.

Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.

Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketakutan Awal Naya 05.

Bunyi derit sepatu karet yang bergesekan dengan lantai lapangan indoor terdengar berkali-kali lipat lebih nyaring setelah bel pulang sekolah berbunyi. Udara sore itu terasa gerah dan pengap, khas aula olahraga yang minim ventilasi silang.

Di tengah lapangan, Timy bergerak lincah, memantulkan bola oranye dengan ritme yang konstan sebelum melakukan lay-up mulus yang berakhir dengan dentang ring besi.

Sebagai kapten tim basket, Timy punya aura yang berbeda. Kecerobohan dan tawa lepasnya saat makan soto siang tadi lenyap, digantikan oleh tatapan fokus yang tajam dan rahang yang mengeras setiap kali mengoreksi posisi bertahan anggota timnya.

Di sisi lain lapangan, dipisahkan oleh garis pembatas imajiner, tim cheerleaders juga sedang melakukan pemanasan.

Di depan barisan, Nawang berdiri tegak. Sebagai kapten, ia memancarkan disiplin yang anggun. Gerakan tangannya tegas saat memberikan hitungan, "Lima, enam, tujuh, delapan..." Suaranya yang lembut siang tadi kini terdengar lantang, memimpin formasi dengan presisi yang mutlak.

Namun, di sudut tribun yang agak remang, ada satu elemen yang tidak biasa sore itu.

Kanaya duduk di sana. Tas ranselnya diletakkan sembarangan di samping lutut. Ia menepati ucapannya siang tadi untuk melihat "Timy mode serius". Tangannya memegang botol air mineral yang sudah berembun, sementara matanya bergerak statis, mengikuti ke mana pun bola basket bergulir.

Timy menyadari kehadiran Kanaya sejak awal latihan. Sialnya, kesadaran itu pelan-pelan berubah menjadi gangguan visual.

Setiap kali Timy melakukan transisi dari menyerang ke bertahan, matanya tanpa sengaja menangkap sosok Kanaya di tribun.

Kanaya tidak bersorak, tidak juga bermain ponsel. Gadis itu hanya duduk kaku dengan tatapan yang lambat laun terlihat... kosong.

Priiieeett!!

Peluit perak milik Pak Danu, pelatih basket, berbunyi luar biasa nyaring, menggema di seluruh sudut langit-langit aula yang tinggi.

Bunyinya begitu melengking, memotong udara sore dengan kasar.

Di tengah lapangan, Timy mendadak menghentikan dribelnya. Bukan karena instruksi Pak Danu, melainkan karena pandangannya sedang terkunci ke tribun pada detik yang sama.

Kanaya tersentak hebat. Bahunya naik seketika, dan botol air mineral di genggamannya terlepas, jatuh membentur lantai tribun semen dengan suara bug yang berat.

Airnya tumpah, membasahi sepatunya, namun Kanaya tidak peduli. Kedua tangannya bergerak cepat menutupi telinganya sendiri.

Matanya terpejam rapat, menyipit menahan sesuatu yang tampak seperti rasa sakit fisik. Wajah nya yang biasanya ceria dan penuh seloroh, mendadak kehilangan seluruh rona darah. Ia tampak gemetar, napasnya memburu pendek-pendek seolah oksigen di aula itu mendadak habis.

Itu bukan sekadar ekspresi kaget. Itu adalah ketakutan yang murni. Ketakutan yang berakar pada sesuatu yang dalam dan merusak.

"Timy! Fokus! Bola mu lepas!" tegur Pak Danu keras.

Timy tidak mendengar. Langkah kakinya sudah bergerak dua langkah menuju arah tribun sebelum akalnya memprotes,

Lu lagi tanding internal, Tim. Lu kapten.

Dari seberang lapangan, Nawang juga menghentikan hitungannya. Ia melihat botol air yang menggelinding jatuh dari tribun. Ia melihat bagaimana Kanaya meringkuk kecil di bangkunya, dan yang paling krusial—Nawang melihat bagaimana tubuh Timy secara otomatis berputar menghadap Kanaya, mengabaikan bola yang menggelinding menjauh ke luar garis lapangan.

Dada Nawang berdesir. Rasa terasing yang ia rasakan di kantin siang tadi kembali mengetuk pintu kesadarannya, kali ini dengan volume yang lebih keras.

Ada sebuah insting di dalam diri Timy yang tidak bisa dikontrol oleh cowok itu sendiri jika menyangkut Kanaya.

Nawang menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya lewat mulut demi menjaga ritme jantungnya agar tetap stabil. Ia tidak boleh terlihat goyah di depan anggotanya.

Nawang berjalan mendekati bangku cadangan tim cheering, mengambil handuk kecil, lalu berjalan menghampiri Timy yang masih berdiri kaku memandangi tribun.

"Aa," panggil Nawang pelan, cukup dekat agar suaranya tidak didengar anak-anak lain.

Timy menoleh cepat, matanya agak melebar seperti orang yang tertangkap basah melakukan kesalahan. "Eh? Iya, Neng?"

"Fokus dulu. Tuh, dipanggil Pak Danu," ucap Nawang lembut. Ia mengulurkan handuk kecil ke dada Timy. Senyumnya tipis, jenis senyum yang menahan banyak pertanyaan namun memilih untuk meletakkan logika di depan emosi. "Kanaya kayaknya kaget sama suara peluit. Biar neng yang samperin ke atas."

Timy memandang Nawang dengan tatapan campur aduk—antara rasa bersalah, panik, dan rasa terima kasih yang teramat sangat. "Neng... maaf. Aa gak—"

"Nanti aja bahasnya. Selesaiin latihan Aa," potong Nawang datar, namun tidak dingin. Ia menepuk lengan Timy sekali, lalu berbalik dan berjalan menuju tangga tribun.

Setiap anak tangga yang dipijak Nawang terasa lebih berat. Di atas sana, Kanaya sudah mulai menurunkan tangannya dari telinga, namun tubuhnya masih menyisakan getaran halus.

Gadis itu sedang berusaha keras mengatur napasnya yang patah-patah, meremas ujung rok abu-abunya hingga kusut.

Nawang duduk di samping Kanaya, sengaja memberikan jarak sekitar satu jengkal agar gadis itu tidak merasa terintimidasi. Ia memungut botol air Kanaya yang sudah kosong setengahnya, lalu meletakkannya di lantai dengan posisi tegak.

"Kanaya? Kamu gak apa-apa?" tanya Nawang, suaranya sengaja diturunkan ke nada yang paling menenangkan.

Kanaya mendongak. Butuh waktu dua detik bagi matanya untuk benar-benar fokus melihat siapa yang duduk di sampingnya. Begitu mengenali Nawang, Kanaya langsung memaksakan sebuah senyum. Senyum yang tampak mengerikan karena bibirnya yang pucat bergetar.

"Eh, Nawang... Sorry, kaget banget gue. Peluitnya cempreng banget, berasa nembus ke otak," ujar Kanaya, mencoba tertawa. Namun tawa itu kering, garing, dan langsung kandas di tenggorokan.

Nawang tidak membalas tawa itu. Ia menatap mata Kanaya yang masih berkaca-kaca karena syok. "Itu bukan cuma kaget biasa, Nay. Kamu ketakutan."

Kalimat Nawang yang langsung membidik sasaran membuat Kanaya bungkam. Tangan Kanaya yang meremas roknya semakin mengencang.

Logikanya bertarung hebat, haruskah ia berpura-pura konyol seperti biasa, atau menyerah pada fakta bahwa pertahanannya baru saja runtuh di depan pacar dari sahabat masa kecilnya?

Di bawah, suara pantulan bola basket kembali terdengar. Timy sudah kembali ke lapangan, namun gerakannya jelas kehilangan presisi. Beberapa kali ia salah memberikan umpan pendek.

"Mau keluar dari sini? Di luar udaranya lebih segar," tawar Nawang, memecah keheningan di antara mereka.

Kanaya menatap lapangan di bawah, melihat punggung Timy yang bergerak gelisah, lalu kembali menatap Nawang. Rasa bersalah yang besar mendadak menghimpit dada Kanaya. Ia tahu dia telah menjadi distorsi dalam hubungan orang lain.

"Gak usah, Wang. Gue... gue cuma butuh semenit lagi," bisik Kanaya, suaranya serak. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk. "Maaf ya. Gue emang agak rusak kalau dengar bunyi melengking mendadak kayak gitu. Bawaan... dari tempat lama."

Nawang tidak mengejar kalimat "dari tempat lama" itu. Ia tahu ada batasan yang belum boleh ia lewati. Alih-alih bertanya, Nawang meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Kanaya yang dingin. Dingin sekali, seperti es.

"Gak ada yang perlu dimaafkan, Kanaya. Kita semua punya hal-hal yang bikin kita takut," kata Nawang pelan.

Di atas sana, Nawang mencoba menenangkan Naya setiap kali ia ketakutan sama suara peluit.

Sementara di bawah sana, Timy melewatkan satu kesempatan three-point mudah karena matanya kembali melirik ke atas tribun, menyaksikan dua gadis dalam hidupnya sedang berpelukan dalam keheningan yang membingungkan.

......................

...****************...

Tbc,

1
Luna
tenang Nawang sitimy udah punya pandangan baru 😆😆😆😆,dia akan jadi tameng mu karena rasa bersalah nya,kalo ulet Naya pasti mencak mencak deh,,,,,
Luna
ternyata Rendy sama sama begonya sama timy,Bima, heran juga sih cowok lebih suka cewek yg model nya kalem tapi menenggelamkan, sebelum jauh lebih baik stop dari sekarang Nawang, kewarasan lo lebih penting, nyatanya sirendy gampang dimanipulasi Naya ,
Luna
nih cewek GK ada kapok kapoknya yh,,,🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
mangkanya,,, jangan bermuka dua jangan pura pura,yg ada lama lama kamu masuk rumah sakit jiwa beneran loh🤣🤣🤣🤣
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 Bima laki apaan banci main keroyokan .. andai ini nawang kayak jihan Badas pasti keren sayangnya nawang menye menye 🤭
Luna
mantep Rendy dan Nawang,,,, orang kek Naya seharusnya dibikin trauma nya makin parah 🤣🤣🤣🤣🤣,
falea sezi
🤣🤣🤣 jihan ini tipe cewek sok asik sok pahlawan biar apa biar di kenal kan😒😒 ayo donk thor bahas kisah nawang masak second lead trs yg di bahas
Luna
berarti mereka ada konflik sebelum nya di Jakarta, seharusnya Nawang ikutan bringas juga sebagai protagonis utama perempuan dia setelah putus belum ada panggung lagi,🤣🤣🤣🤣🤣,,,enak kali si Naya dia niat cari kedamaian sekolah dibandung" kedamaian matamu nay" lah elu udah ngerusak hubungan orang peak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
sebagai tim hore ,,,cuma bisa menyoraki timy ,,,ayo tim kamu itu tokoh protagonis pria ,,,, jangan putus asa pantang mundur lah
falea sezi
uda Nawang move on aja di timy aja kayak nya mau move on🤣 ehh dia emank cpet berpaling denggg🤭 maklum cwok plin plan
falea sezi
males deh malah bahas jihan terossssssssss😒 ini MC nya siapa nawang kan 🤣 kenapa jihan teros di bahas thor second lead gk penting
falea sezi: klo protagonis nya timy trs MC nya siapa kak bawang timy kan
total 3 replies
Luna
timy jadi obsesi😱😱😱🤣🤣🤣🤣
falea sezi
malah bahas jihan timy🤣🤣 melenceng dr judul thor😒
Luna
cie cie cie🤭🤭🤭
falea sezi
lah kenapa malah kisan jihan timy lebih bagus🤣🤣 gimana sih author apakah karena nawang menye menye.. karena pembaca suka cwek badasss
Luna
bintang 5 buat nih novel, dapat banget lah karakter para tokoh disini,ikut greget juga sih🤭🤭🤭, terus berkarya yh author ,
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣timy oh timy ayo dong bangkit dari rasa bersalah mu ,kalo aku jadi kamu sudah habis kubabat si Bima dan Naya 🤭🤭🤭🤭,balas sakit hati mu yg dipermainkan Naya, lupakan Nawang tengok si Jihan
falea sezi
🤣🤣🤣 suka bgt cwek Badas gini dripada nawang yg menye menye
Luna
enteng kali dia bilang gabut bikin onar hubungan orang, kayak nya si Naya ini belum sembuh bener sudah menjadi penyakit jiwa alias gila ,😱😠
falea sezi
🤣🤣 berharap ap lu ma nawang noleh aja ogah klo q jd nawang nasi tim
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!