Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: TIGA ATURAN GILA DAN GAUN SEHARGA MOBIL
Aku terbangun karena sinar matahari yang menyilaukan mata. Untuk sesaat aku lupa dimana aku berada.
Ranjangnya terlalu empuk, selimutnya terlalu halus, dan kamarnya terlalu besar. Ini bukan kamarku yang sempit dengan atap bocor.
Lalu semua kenangan tadi malam menghantamku seperti truk.
Ayah menjualku. Kontrak pernikahan. Arga Wijaya. Penthouse 50 miliar.
Aku langsung terduduk. Aku masih memakai baju kuliahku yang kemarin, baju kemeja putih pudar dan rok hitam panjang yang sudah lusuh.
Aku melihat jam dinding. Jam 6 pagi.
Aku memberanikan diri keluar dari kamar tamu. Penthouse itu sunyi senyap. Aku mengendap-endap ke dapur yang super mewah itu. Aku lapar sekali, sejak kemarin siang aku belum makan.
Aku membuka kulkas raksasa itu. Isinya penuh, tapi semuanya makanan impor yang aku tidak tahu namanya. Keju, daging asap, susu almond.
Saat aku sedang bingung, suara dingin itu muncul dari belakangku.
"Siapa yang menyuruhmu keluar dari kamar?"
Aku terlonjak kaget dan menjatuhkan botol susu almond itu. PRANG! Botol kaca itu pecah berantakan di lantai marmer.
Arga Wijaya sudah berdiri di sana. Dia baru selesai mandi, rambutnya masih basah, hanya memakai handuk putih yang melilit di pinggang bawahnya. Tubuhnya... ya Tuhan, tubuhnya seperti patung dewa. Dada bidang, perut kotak-kotak.
Aku langsung memalingkan wajahku, wajahku merah padam.
"Maaf... maaf saya lapar..."
Arga menatap pecahan kaca itu dengan tatapan jijik. "Dasar ceroboh. Sama seperti ayahmu."
Dia menekan sebuah tombol interkom di dinding. "Bibi Sari, bersihkan dapur. Dan buatkan sarapan. Dua porsi."
Tidak sampai dua menit, seorang wanita paruh baya yang ramah muncul dan langsung membersihkan pecahan kaca itu.
"Sinta, ini Bibi Sari, kepala pelayan di sini. Dia akan mengurusmu. Tapi ingat, dia hanya tahu kamu adalah istri saya. Dia tidak tahu tentang kontrak. Jadi jaga mulutmu."
Aku mengangguk.
Bibi Sari tersenyum padaku. "Selamat pagi Nyonya muda. Cantik sekali Nyonya."
Aku dipersilakan duduk di meja makan yang panjangnya mungkin 5 meter. Arga sudah berganti pakaian, memakai kemeja putih dan celana hitam, terlihat sangat tampan dan berkuasa. Dia duduk di ujung meja yang jauh dariku, seolah jarak itu sengaja dia buat.
Bibi Sari menyajikan steak, telur, dan roti panggang.
Aku makan dengan canggung. Aku tidak terbiasa memakai pisau dan garpu untuk steak.
Arga memperhatikan caraku makan dengan tatapan menghakimi.
"Setelah ini, kamu tidak bisa pergi kuliah dengan baju seperti itu lagi," kata Arga tiba-tiba.
Aku berhenti makan. "Maksud Bapak?"
"Mulai hari ini, kamu adalah Nyonya Arga Wijaya. Istri CEO Wijaya Group. Penampilanmu yang seperti gembel itu akan mempermalukan saya di depan media. Jam 9 pagi, saya sudah panggil desainer pribadi dan tim makeover ke sini. Kamu akan diganti dari ujung rambut sampai ujung kaki."
"Tapi... saya ada jadwal skripsi jam 10 di kampus..."
"TIDAK ADA KAMPUS!" Arga membanting garpu nya ke piring, membuatku terlonjak. "Selama kamu menjadi istri kontrak saya, prioritas utama kamu adalah saya dan peran kamu sebagai istri saya! Skripsimu bisa diatur nanti! Saya sudah beli universitasmu kalau perlu!"
Sombong. Sangat sombong.
Aku menunduk dan tidak berani membantah lagi.
Tepat jam 9 pagi, pintu penthouse terbuka dan masuklah 5 wanita cantik dengan koper-koper besar. Mereka membawa gaun-gaun indah, sepatu hak tinggi, dan kotak perhiasan.
"Nyonya Sinta! Saya Lala, stylist pribadi Tuan Arga! Kami akan membuat Nyonya menjadi wanita paling cantik di Jakarta!"
Aku ditarik ke sebuah ruangan yang ternyata adalah walk-in closet raksasa milik Arga yang kosong sebelahnya khusus untukku.
Selama 3 jam, aku seperti boneka. Rambutku yang panjang dan kusam dicatok, diwarnai sedikit coklat, wajahku di make up dengan sangat natural tapi mewah, kukuku dipoles.
Dan yang paling membuatku syok adalah gaunnya.
Mereka memakaikan ku sebuah gaun satin berwarna merah maroon yang sangat elegan. Gaun itu memeluk tubuhku dengan sempurna, bagian punggungnya sedikit terbuka, membuatku terlihat dewasa dan anggun.
"Gaun ini dari desainer Prancis, Nyonya. Harganya 150 juta rupiah," bisik Lala.
150 JUTA! Untuk sebuah gaun! Uang itu bisa untuk biaya hidup keluargaku selama 5 tahun!
Ketika aku keluar dari ruang ganti, Arga Wijaya yang sedang bekerja di laptop di ruang tamu mengangkat kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat matanya yang dingin itu sedikit terbelalak. Dia terdiam beberapa detik, menatapku dari atas sampai bawah.
Ada sesuatu yang bergejolak di matanya, sesuatu yang panas, yang membuatku gugup.
Arga berdiri dan berjalan mendekatiku. Dia sangat dekat, aku bisa mencium parfum mahalnya.
"Tidak buruk," katanya pelan, suaranya sedikit serak. "Ternyata kalau dipoles, anak pemulung seperti kamu bisa juga terlihat seperti wanita kelas atas."
Pujiannya terasa seperti hinaan.
Dia kemudian mengambil sebuah kotak beludru biru kecil dan membukanya. Di dalamnya ada sebuah kalung berlian yang sangat besar dan berkilau.
"Pakai ini. Malam ini kita harus datang ke acara ulang tahun Kakek di Bandung. Semua keluarga besar Wijaya akan ada di sana. Ingat aturan saya. Kamu harus terlihat sangat mencintai saya. Kamu harus bergelayut manja di lengan saya. Jika kamu gagal..."
Dia tidak melanjutkan, tapi dia mengalungkan kalung itu ke leherku. Jari-jarinya yang dingin menyentuh kulit leherku yang sensitif, membuatku merinding.
Kalung itu terasa berat, bukan hanya karena berliannya, tapi karena beban kebohongan yang harus aku pikul.
"Dan satu lagi," bisik Arga di telingaku. "Mulai malam ini, kamu tidak tidur di kamar tamu lagi. Kamu tidur di kamar utama, di ranjang yang sama dengan saya. Karena di rumah keluarga, kita tidak mungkin tidur terpisah. Kakek akan curiga. Jadi biasakan dirimu."
Apa? Tidur seranjang dengannya?
Jantungku berdegup sangat kencang, bukan karena berdebar, tapi karena takut.
Bagaimana aku bisa tidur seranjang dengan pria yang membenciku, yang menganggap ayahku pembunuh orang tuanya?
Malam ini, di Bandung, di hadapan keluarga besar Wijaya yang penuh intrik, sandiwara pernikahan kontrak kami yang sesungguhnya akan dimulai.
Dan aku harus siap, atau aku akan hancur.
(Bersambung...)