Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Dukungan tanpa Batas
Malam harinya, suasana di ruang makan kediaman Adrian dan Nayla terasa amat hangat. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang lembut, mempercantik tatanan meja makan yang dihiasi beragam hidangan lezat. Mulai dari sup daging aromatik, tumisan sayur segar, hingga olahan ayam bumbu spesial kesukaan Nayla tersaji rapi.
Namun, di tengah denting sendok dan garpu, Adrian menghentikan ketukan makannya. Pria tampan berjas santai itu mengamati piring sang istri dengan dahi mengerut tipis. Porsi makanan di piring Nayla malam ini tampak jauh lebih sedikit dari biasanya, bahkan sayuran dan lauknya hanya diambil seperempat porsi.
"Sayang... kenapa kamu makan sedikit sekali malam ini?" tanya Adrian lembut, nadanya menyiratkan rasa cemas yang tak bisa disembunyikan. "Bukankah semua hidangan ini kesukaanmu? Atau... rasanya kurang pas? Mau aku suruh Rio memesankan makanan dari restoran lain sekarang?"
Nayla meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap wajah suaminya dengan senyuman tipis yang agak canggung.
"Tidak perlu, Mas... Masakannya sangat lezat kok," sahut Nayla pelan. Ia menarik napas pendek sebelum melanjutkan, "Sebenarnya... aku ingin mulai program diet, Mas."
Mendengar kata diet, raut wajah Adrian seketika berubah tegang. Binar matanya meredup, berganti menjadi sorot mata protektif yang penuh kecurigaan.
"Kenapa mendadak ingin diet, Sayang?" cecar Adrian, suaranya merendah menahan emosi. "Apa ada staf di kantor atau orang luar yang berani mengejek fisikmu lagi?! Katakan padaku siapa orangnya, biar besok langsung aku..."
"Tidak ada, Mas... Sama sekali tidak ada," potong Nayla cepat, memegang jemari Adrian di atas meja untuk menenangkannya. "Ini murni keinginanku sendiri. Aku hanya ingin tubuhku lebih sehat, lebih bugar, dan... aku ingin punya rasa percaya diri yang lebih tinggi saat nanti mendampingimu ke mana pun kamu pergi."
Mendengar penuturan tulus istrinya yang begitu mengutamakan hubungan mereka, seluruh ketegangan di dada Adrian seketika meleleh. Rasa hangat yang amat pekat membuncah di dalam hatinya.
Tanpa ragu, Adrian langsung bangkit dari kursinya. Ia memindahkan posisi duduknya ke kursi persis di samping Nayla, melingkarkan satu lengannya di sandaran kursi sang istri seraya menatapnya lekat-lekat.
"Sayang... jika itu memang keputusan murni dari hatimu, aku mendukungmu seratus persen," tutur Adrian lembut, mengusap pipi lembut Nayla dengan ibu jarinya. "Tapi ingat ya, aku tidak mau kamu menjalani diet ekstrem yang menyiksa tubuh. Besok aku akan buatkan jadwal pertemuan khusus dengan dokter gizi terbaik. Semua program dietmu harus terpantau dengan baik, sesuai kadar nutrisi tubuhmu, bukan asal-asalan yang justru bisa membuatmu sakit."
Hati Nayla bergetar mengencang mendengar perhatian luar biasa dari suaminya. "Terima kasih banyak ya, Mas..."
Nayla kemudian merogoh ponselnya di atas meja, menyalakan layarnya, lalu memperlihatkan sebuah unggahan video latihan fisik kepada Adrian.
"Lihat ini, Mas... Tadi Mira merekomendasikan video olahraga kardio dan strength training ini. Katanya cepat membantu proses penurunan berat badan dan pembentukan tubuh," tunjuk Nayla bersemangat.
Adrian melirik sebentar ke layar ponsel itu, lalu tersenyum manis. "Bagus. Besok kita langsung beli semua set alat olahraganya ya, Sayang. Biar nanti dipasang di ruang kosong di lantai atas."
Nayla membelalakkan matanya kaget. "Eh? Beli alatnya langsung, Mas? Kan aku bisa ikut kelas senam atau gym di luar?"
"Tidak usah ke tempat gym umum, Sayang," potong Adrian protektif namun manis. "Aku tidak mau kamu harus berdesakan atau dilihat orang lain saat berolahraga. Kamu bisa fokus dan merasa nyaman berolahraga di rumah kita sendiri."
"Beneran, Mas?" bisik Nayla terharu, matanya berbinar-binar.
"Tentu saja, Sayang. Apa sih yang tidak untuk istriku ini?" sahut Adrian terkekeh renyah.
Nayla tak sanggup menahan rasa bahagianya. Ia merangkulkan kedua tangannya ke lengan kekar Adrian, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya dengan penuh kasih sayang.
Namun, hanya dalam hitungan detik, tatapan mata Adrian mendadak berubah. Binar kehangatan di manik matanya berganti menjadi sorotan nakal nan menggoda. Pria itu menunduk, berbisik tepat di samping telinga Nayla dengan suara berat yang serak.
"Ngomong-ngomong, Sayang... sepertinya sesi olahraga pertamamu bisa kita mulai dari sekarang deh..."
Nayla tersentak pelan, mendongak bingung. "Hah? Maksudnya... beli alat olahraganya sekarang, Mas? Ini kan sudah malam?"
Adrian terkekeh renyah, menggelengkan kepalanya perlahan seraya mendekatkan wajah mereka hingga jarak napas mereka bertautan. "Bukan beli alatnya, Sayang..."
Detik itu juga, menyadari tatapan jahil dan penuh gairah dari suaminya, pipi Nayla seketika merona merah padam bagaikan udang rebus. Ia paham betul arah pembicaraan pria di hadapannya ini!
Ckit!
Nayla mencubit pelan lengan atas Adrian dengan raut wajah malu-malu kucing. "Mas Adrian! Pikiranmu ya...!"
"Aww!" ringis Adrian berpura-pura sakit, namun senyum kemenangan terukir lebar di bibir tampannya. "Kan benar, Sayang... Ini juga termasuk olahraga bakar kalori yang sangat efektif! Bedanya... yang ini dieksekusi dengan penuh bumbu cinta."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Nayla untuk menyanggah lagi, Adrian merengkuh tubuh istrinya ke dalam gendongan bridal style yang mantap. Nayla refleks melingkarkan tangannya di leher Adrian seraya menyembunyikan wajahnya yang merona di dada bidang suaminya.
Dengan langkah tegap dan senyum penuh kebahagiaan, Adrian menuntun Nyonya Muda Dewangga naik ke lantai atas menuju kamar utama mereka, memulai apa yang disebut sang CEO sebagai sesi olahraga penuh cinta hingga larut malam.
***
Keesokan harinya, di gedung Dewangga Group...
Suasana saat jam makan siang di area kafetaria utama kantor mendadak terasa begitu riuh dan meriah. Berbeda dari hari-hari biasanya, terdapat sebuah kerumunan besar karyawan yang mengantre di salah satu sudut stand baru yang didekorasi begitu estetik dan bersih.
Nayla yang baru saja turun dari lantai eksekutif bersama Mira melangkah memasuki kafetaria. Melihat keramaian yang tidak biasa itu, dahi Nayla mengerut penasaran.
"Ada apa ya itu, Mir? Kok ramai sekali di sebelah sana?" tanya Nayla seraya menunjuk ke arah kerumunan.
Mira mengedipkan matanya bingung. "Nggak tahu deh, Nay... Ayo kita lihat ke sana!"
Keduanya berjalan mendekat. Begitu menembus kerumunan, mata Nayla dan Mira seketika membelalak lebar. Di sudut kafetaria itu, berdiri sebuah jajaran prasmanan mewah yang menyajikan beragam hidangan sehat bernutrisi tinggi, mulai dari salad segar dengan dressing khusus, olahan dada ayam panggang herbal, salmon panggang, hingga jus buah dan sayur organik tanpa gula.
Di belakang meja prasmanan tersebut, berdiri dua orang koki profesional berbusana putih bersih yang disewa langsung dari restoran bintang lima.
Mira menepuk bahu Nayla dengan heboh, matanya berbinar-binar. "Ya ampun, Nay! Ini sih fix ulah Pak Adrian! Kamu kan semalam baru bilang mau mulai diet, dan hari ini Pak Bos langsung menyediakan kafetaria khusus menu sehat buat kamu di kantor! Romantis banget, demi apa?!"
Para karyawan yang menyadari kehadiran Nayla seketika memberikan jalan dengan penuh rasa hormat.
"Ayo, Nay! Kamu harus jadi orang pertama yang mencicipi makanan di stand khusus ini!" seru Mira mendorong pelan tubuh sahabatnya.
Nayla melangkah maju dengan dada berdebar haru. Koki utama di balik meja segera membungkuk hormat dengan senyum sangat ramah.
"Selamat siang, Nyonya Nayla," sapa koki itu penuh krama. "Silakan... Semua hidangan di meja ini telah kami racik dan hitung kadar kalorinya secara presisi sesuai dengan petunjuk dan arahan dari dokter gizi Anda, serta berdasarkan perintah langsung dari Tuan Adrian Dewangga."
Koki itu menyodorkan sebuah piring berisi tatanan menu sehat yang tampak amat menggugah selera. "Tuan Adrian berpesan agar Nyonya tetap bisa menikmati makanan lezat tanpa harus merasa tersiksa selama menjalankan program kebugaran."
Nayla menerima piring itu dengan jemari yang sedikit bergetar. Pelupuk matanya mendadak hangat digenangi air mata haru. Perlakuan istimewa dan perhatian yang begitu detail dari Adrian benar-benar meratukan dirinya hingga ke tingkat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Nayla memutar tubuhnya, menatap puluhan karyawan yang sedang memperhatikannya. Dengan senyuman manis nan hangat, Nayla berkata, "Ayo semuanya... mari, untuk teman-teman yang mungkin sedang menjalankan program diet atau butuh makanan sehat bernutrisi, silakan diambil makanannya ya. Jangan malu-malu, semua ini disediakan untuk kita bersama."
"Wah, terima kasih banyak, Bu Nayla! Terima kasih Pak Adrian!" seru para karyawan bersemangat dan gembira.
Di sudut lorong kaca lantai dua yang mengarah langsung ke kafetaria, sosok Adrian Dewangga berdiri tegap seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Pria tampan itu menatap ke arah Nayla di bawah sana dengan ukiran senyum teduh penuh kebanggaan dan cinta yang amat pekat.
Nayla tak sengaja mendongak dan menangkap keberadaan suaminya di lantai atas. Mata mereka bertabrakan di udara. Nayla memberikan anggukan pelan dan senyuman paling manis yang ia miliki sebagai bentuk rasa terima kasihnya.
Sambil memegang piring makanan sehatnya, sebuah tekad membara bertunas makin kuat di dalam sanubari Nayla.
'Mas Adrian sudah memberikan dukungan begitu luar biasa tanpa batas untukku... Aku berjanji akan berjuang penuh semangat! Aku pasti bisa mencapai tubuh yang ideal, sehat, dan bugar agar bisa berdiri dengan bangga di samping suamiku!' batin Nayla mantap.
best suka ama ceritanya
❤❤