NovelToon NovelToon
The Ustaz'S Dark Secret

The Ustaz'S Dark Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

​Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Laila melangkah mantap menelusuri koridor lantai atas menuju ruang rapat utama.

Pagi itu, setelah tiba di rumah sakit, sebuah panggilan resmi diterimanya dari pihak manajemen tertinggi.

​Di dalam ruangan berinterior elegan tersebut, telah duduk Direktur Utama Rumah Sakit bersama Dewan Komite Etik dan Hukum.

Suasana terasa cukup formal dan hening. Di atas meja, terhampar berkas laporan kepolisian terkait insiden penembakan yang melumpuhkan Narendra—salah satu sekutu kepercayaan Zafar—sebelum pria itu akhirnya diringkus oleh pihak berwajib.

​"Dokter Laila, silakan duduk," sapa Direktur Utama dengan raut wajah serius namun tenang.

"Kami memanggil Anda untuk mengklarifikasi insiden beberapa waktu lalu. Laporan menyebutkan bahwa Anda terpaksa melepaskan tembakan yang melumpuhkan Narendra di lokasi kejadian. Sebagai seorang dokter, kami perlu mendengarkan penjelasan langsung dari Anda mengenai aspek legalitas, etika profesi, serta kronologi dari tindakan bertaruh nyawa tersebut."

​Laila duduk dengan tegak, menyatukan kedua tangannya di atas meja.

Pandangannya tenang, tajam, dan sama sekali tidak menunjukkan keraguan.

​"Terima kasih atas kesempatan yang diberikan, Dokter," buka Laila dengan suara mantap dan berwibawa.

​"Saya mengerti sepenuhnya kekhawatiran pihak rumah sakit mengenai etika dan sumpah profesi kita untuk menyembuhkan, bukan melukai. Namun, pada situasi kritis hari itu, tindakan yang saya ambil adalah bentuk self-defense—pembelaan diri terukur demi menyelamatkan nyawa."

​Laila menjelaskan kronologi kejadian secara rinci, jujur, dan sistematis.

​"Saat itu, Narendra hadir sebagai ancaman nyata yang mematikan, tidak hanya bagi keselamatan saya pribadi, tetapi juga bagi staf medis lain dan para pasien di sekitar lokasi. Pria itu bersenjata dan berada dalam kondisi emosional yang sangat tidak terkontrol," lanjut Laila.

​"Saya membuat keputusan medis dan taktis dalam hitungan detik. Tembakan yang saya lepaskan diarahkan secara presisi ke bagian ekstremitas bawah—yaitu kaki—semata-mata untuk melumpuhkan pergerakannya (incapacitate), bukan untuk membunuh atau mengakhiri nyawanya. Tindakan terukur itu berhasil menghentikan aksi kriminal Narendra secara instan, mencegah jatuhnya korban jiwa di tempat, hingga akhirnya pihak kepolisian tiba di lokasi untuk mengamankan situasi."

​Mendengar penjelasan yang begitu lugas, logis, dan penuh ketegasan dari Laila, Direktur Utama dan para anggota Komite Etik saling berpandangan.

Mereka mengangguk-angguk perlahan, terkesan dengan ketenangan dan profesionalisme Laila di bawah tekanan yang luar biasa.

​Direktur Utama akhirnya menghela napas lega dan mengulas senyum tipis.

​"Penjelasan yang sangat jernih dan bertanggung jawab, Dokter Laila," ujar Direktur Utama tegas.

"Tindakan Anda terbukti masuk dalam kategori pembelaan diri yang sah secara hukum dan tidak melanggar etika dasar kemanusiaan. Justru keberanian dan ketepatan tindakan Anda telah mencegah tragedi yang lebih besar."

​Pimpinan rumah sakit secara resmi menyatakan bahwa klarifikasi tersebut diterima sepenuhnya.

Catatan internal rumah sakit dibersihkan dari segala tuduhan atau kecurigaan, sekaligus memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas keberanian Laila dalam melindungi keselamatan banyak orang.

Laila bernapas lega saat melangkah keluar dari ruang rapat utama.

Beban di pundaknya kini benar-benar terangkat setelah pihak pimpinan rumah sakit memberikan pembersihan nama secara resmi dan apresiasi atas keberaniannya.

Ia pun kembali ke ruangan praktiknya dengan hati yang mantap dan tenang, siap mendedikasikan seluruh tenaganya untuk melayani para pasien hingga jam tugasnya usai.

Setiap denyut kehidupan dan langkah yang ia ambil terasa jauh lebih ringan, membayangkan sore nanti Musa—suami tercintanya—akan datang menjemput dan bersama-sama merintis mimpi mereka mendirikan klinik gratis.

Namun, kedamaian yang tengah diresapi Laila sangat berbanding terbalik dengan badai yang berkecamuk di tempat lain.

Di dalam kamarnya yang gelap dan tertutup rapat, Musdalifah berdiri mematung di depan cermin.

Suasana hatinya hancur berkeping-keping. Dikuasai rasa benci setelah dimarahi oleh Kyai Adi—ayahnya sendiri yang justru membela Musa dan Laila—serta terus dibayangi ketakutan trauma mendalam, akal sehat Musdalifah telah lenyap sepenuhnya.

Tangan Musdalifah bergetar hebat saat ia meraba perutnya yang masih rata.

Rasa cemas dan horor yang luar biasa mencengkeram dadanya.

Bagaimana kalau aku hamil? batinnya histeris.

Musdalifah sangat mengkhawatirkan kemungkinan dirinya hamil akibat pemerkosaan yang dilakukan oleh Zafar pada malam kelam itu.

Bayangan membesarkan benih dari iblis yang telah merenggut kehormatannya membuat Musdalifah hampir gila.

"Tidak. Aku tidak boleh hamil anak bangsat itu!" desis Musdalifah dengan suara parau dan pandangan mata yang liar.

"Tapi jika memang ada janin di dalam sini, aku tidak akan membiarkan diriku menanggung malu sendirian!"

Musdalifah bertekad tidak akan membiarkan dirinya ditunjuk sebagai wanita bernoda atau membesarkan anak Zafar seorang diri.

Rasa sakit hati, kehancuran jiwa, dan kejengkelannya melihat Laila hidup bahagia bersama Musa menyatu menjadi racun yang sangat pekat.

Sambil memoles sedikit riasan tipis untuk menutupi wajah pucatnya, sebuah niat dan rencana jahat yang teramat licik mulai tersusun rapi di kepalanya.

"Kalau aku harus hancur, Laila tidak boleh tertawa bahagia." bisik Musdalifah dingin, mengulas senyum miring yang mengerikan.

Ia mulai merancang skenario jebakan yang sempurna.

Ia akan memanfaatkan posisi Musa yang penuh rasa bersalah atas konflik masa lalu, lalu menjebak Musa dalam situasi kompromistis yang sarat fitnah.

Dengan skenario itu, Musdalifah akan membuat Musa terdesak di hadapan keluarga dan publik, hingga pria itu tidak memiliki pilihan lain selain terpaksa bertanggung jawab untuk menikahi dirinya.

Bagi Musdalifah, ini adalah jalan keluar serbaguna: membuang status anak Zafar di bawah nama besar Musa, merebut Musa dari genggaman Laila, sekaligus menghancurkan rumah tangga indah yang baru saja dirajut oleh pasangan itu.

Sore hari tiba dengan semburat jingga yang menghiasi langit kota.

Sesuai dengan janjinya, tepat pada jam pulang kerja, mobil sedan hitam yang dikemudikan Yusuf telah terparkir rapi di halaman depan rumah sakit tempat Laila bertugas.

Musa yang baru saja merampungkan jadwal mengajarnya di pesantren tampak duduk di kursi penumpang depan.

Begitu melihat sosok Laila melangkah keluar dari pintu lobi rumah sakit dengan anggun, pintu mobil langsung terbuka.

Laila melangkah masuk dan duduk di samping Musa di kursi belakang.

Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah menjadi hangat dan penuh kerinduan.

Musa langsung merengkuh tubuh istrinya, membawa Laila kedalam dekapan eratnya.

"Bagaimana harimu, Bidadariku? Apakah semuanya berjalan lancar?" bisik Musa lembut, mengecup puncak kepala Laila yang masih mengenakan cadar.

Laila tersenyum manis, membalas pelukan suaminya dengan rasa lega yang membuncah.

Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Musa. "Alhamdulillah, semuanya lancar, Musa. Tadi aku dipanggil pihak manajemen rumah sakit terkait insiden Narendra,

tapi syukur, setelah aku menjelaskan semuanya secara jujur dan rinci, pihak pimpinan bisa memahami bahwa itu adalah tindakan self-defense yang terukur. Namaku sudah dibersihkan sepenuhnya."

Musa menghela napas panjang penuh rasa syukur. Ia menggenggam jemari Laila dengan erat, mencium punggung tangan istrinya berkali-kali.

"Aku tidak pernah meragukan keberanianmu, Sayang. Kamu adalah wanita hebat."

Yusuf yang duduk di kursi pengemudi hanya bisa tersenyum simpil melihat kemesraan bosnya lewat spion tengah.

"Alhamdulillah kalau urusannya sudah beres, Umi. Bos dari tadi di pesantren mondar-mandir terus mikirin Umi," goda Yusuf ringan.

Musa melirik tajam bercanda ke arah Yusuf, membuat pengawalnya itu terkekeh pelan.

Tak lama kemudian, mobil meluncur meninggalkan halaman rumah sakit menuju titik temu yang sudah ditentukan.

Tidak jauh dari sana, di gerbang utama pondok pesantren, mobil lain yang membawa Kyai Adam telah bersiap menanti.

Kedua kendaraan itu akhirnya berdampingan melaju menuju area pinggiran kota—menuju ruko milik yayasan yang akan disulap menjadi klinik gratis impian Laila, tempat di mana mereka akan memulai lembaran baru penuh keberkahan.

1
Rahmawati Amma
akhirnya tamat juga bagus ceritanya ngak terlalu panjang babnya saya suka karna saya suka ceritanya kuberi gift nonton iklan 10× traktir kopi 🍵 plus kasih vote maaf thor cuma itu yg bisa saya beri😖😢🙏
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Muft Smoker
cerita ny bagus kak ,, aq suka ma ceritanya 😁🤗
Muft Smoker
akhirnya semua udh bertemu dengan kebahagiaan masing2 ,,

makasih buat cerita ny yx kak ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,, semangat buat cerita terbaru ny
total 2 replies
Yani Agustin
thor, katanya dua2nya keturunan kyai tapi koq ga ada shalat2 nya, trus ga ada ritual ahalat sunat dulu sebelum MP, trs kelakuan bu nyainya tdk mencerminkan bu nyai seh thor 🙏
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
alhmdulillah versi mini dr kalian telah lahir dg sehat dan selamat ,,
Muft Smoker
waah bayi ny aj janjian mau keluarnya ,, 🤭 ,, semoga ibu dan bayi ny sehat2 ,, baik Laila atau pun Musdalifah ,,,
Rahmawati Amma
kok sepi pembaca ya padahal novelnya lumayan bagus 🤔
Rahmawati Amma
bagus ceritanya
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🙏
total 1 replies
Rahmawati Amma
ya berhubung nonton iklan sisa 7kali ya aku cuma bisa ngasi segitu plus traktir kopi 🍵 😅
Rahmawati Amma
ini aneh laila lah katanya bisa bela diri lah ini kenapa lembek 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
weh thor kok nama doang yg di sebut ngak sopan itu panggil abang ke atau mas lah ini nama doang tampa embel2 😔
my name is pho: terima kasih kak. tapi nanti ada di bab ke sekian ada panggilan mas
total 1 replies
Rahmawati Amma
lah bukannya laila bercadar di sampul novelnya 🤔😅
Yati Susilawati: mungkin nnt klu sdh nikah😌
total 1 replies
Muft Smoker
akhirnya semua udh berdamai dg masa lalu ,, begitu juga dg Zafar ,, semoga stelah masa hukuman km telah selesai segera pertanggung jawabkan perbuatan mu terhadap Musdalifah ,,
Muft Smoker
alhmdulillah smua udh baik2 aj ,,
semoga ,,

lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
semoga Musdalifah bnr2 berubah ,,
hingga tinggal bahagia ny aj niih ,,
sri hastuti
semoga selanjutnya bahagia semua thor, semua rukun ,🙏
sri hastuti
bagus, musa tegas sbg pria tau batasannya, jd gak semua wanita brani goda, siippp Musa, 👍👍
sri hastuti
semoga sdh tdk ada gangguan lagi, atau pelakor,atau kejahatan ,biar mereka berdua bahagia thor 🙏
Muft Smoker
putri angkat???
bukan ny Laila ank ny kyai Adi dr almarhum istri pertama kiyai Adi yx kak ,,
apa aq yg salah baca waktu tu🤭🤭🤭😁😁😁😁
Muft Smoker: 🤭🤭🤭😁gpp kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!