NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua Ivy

Kehidupan Kedua Ivy

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nitaastri

Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.

Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.

Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.

Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Membuat Kue Bersama Granma Veronica

Keesokan paginya, Ivy terbangun lebih awal dari biasanya. Untuk beberapa saat, dia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar.

Malam sebelumnya masih terbayang jelas di pikirannya, kehangatan yang diberikan kakek James dan nenek Veronica terasa begitu asing, tetapi sekaligus membuat hatinya nyaman.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ivy merasa diterima tanpa syarat, tidak ada tatapan penuh kebencian, tidak ada hinaan, tidak ada seseorang yang mengingatkannya pada kesalahan masa lalunya, yang ada hanya dua orang tua yang dengan tulus menganggapnya sebagai keluarga.

Ivy tersenyum kecil.

Kemudian terdengar ketukan di pintu.

Tok... tok...

"Ivy?"

Suara nenek Veronica terdengar dari luar, Ivy segera bangkit.

"Ya, Granma?"

"Pagi! Kau sudah bangun?" Tanya nenek Veronica lembut, tatapannya penuh kasih sayang.

"Sudah." Jawab Ivy sambil mengangguk.

"Ganti pakaianmu dengan pakaian yang lebih nyaman, setelah itu kita akan membuat kue!" Kata nenek Veronica sambil tersenyum.

Ivy tertawa kecil, lalu akhirnya mengangguk.

"Baik, Granma." jawab Ivy, ya Ivy semalam menginap di rumah nenek Veronica dan kakek James. Awalnya Ivy ingin pulang, tapi nenek Veronica melarangnya dan memintanya untuk menginap saja.

Tidak lama kemudian Ivy turun ke lantai bawah.

Begitu sampai di dapur, dia melihat nenek Veronica sudah mengenakan celemek. Di atas meja sudah tersedia tepung, telur, mentega, gula, susu, dan berbagai bahan lainnya.

Nenek Veronica terlihat sangat bersemangat.

"Ah! Kau sudah datang!" sapa nenek Veronica dengan ramah.

Ivy tersenyum hangat, lalu menganggukkan kepalanya sopan.

"Selamat pagi, Granma." sapa Ivy dengan suara lembut.

Mendengar sapaan Ivy, senyum nenek Veronica semakin mengembang, tatapannya tampak hangat dan penuh kasih saat memandang Ivy.

"Selamat pagi, sayang." Sapanya lembut.

Nenek Veronica langsung menghampiri Ivy dan memasangkan celemek kepadanya.

"Hari ini kita akan membuat kue cokelat." Kata nenek Veronica dengan nada ceria dan antusias, dia menatap Ivy dengan tatapan yang penuh semangat. Akhirnya keinginannya untuk memiliki cucu perempuan terwujud juga, karena menurut nenek Veronica Edgar terlalu kaku untuk di ajak berbicara.

Mata Ivy langsung berbinar mendengar ucapan nenek Veronica, senyum kecil terukir di wajahnya, menunjukkan berapa antusiasnya dia.

"Baik granma." Ucap Ivy dengan penuh semangat, dia sudah membayangkan betapa enaknya kue buatan sang nenek nantinya.

Namun sebelum mereka mulai, terdengar suara langkah kaki dari belakang.

Edgar muncul dengan rambut sedikit berantakan.

"Selamat pagi." Sapa Edgar sambil menguap, pria itu sebenarnya masih mengantuk tapi dia ingat jika hari ini kekasihnya akan membuat kue bersama sang nenek.

Nenek Veronica menoleh.

"Oh, kau."

Edgar mengerutkan keningnya, heran dengan reaksi sang nenek yang seperti tidak menyukai kehadirannya.

"Oh, aku?"

"Kenapa kau bangun pagi-pagi?" Tanya nenek Veronica dengan sedikit ketus.

"Aku memang biasanya bangun pagi." Ujar Edgar seadanya, lagipula apakah salah jika dia bangun pagi.

Nenek Veronica melambaikan tangannya, seolah mengusir Edgar dengan wajah sedikit kesal.

"Kalau begitu pergilah." Usir nenek Veronica.

Lalu nenek Veronica kembali sibuk menimbang tepungnya.

Edgar terdiam sesaat, menatap sang nenek dengan wajah sedikit kebingungan.

"Pergi?" Tanya Edgar polos.

"Kami sedang membuat kue." Kata nenek Veronica ketus.

"Aku bisa membantu." Ujar Edgar lalu menghampiri Ivy.

Nenek Veronica menatapnya sebentar, kemudian menggeleng.

"Tidak." Ucap nenek Veronica tegas.

"Kenapa?" Tanya Edgar tidak Terima.

"Karena terakhir kali kau membantu, dapur hampir terbakar." Ucap nenek Veronica, kembali mengingat saat Edgar membantunya membuat kue 2 tahun yang lalu, tapi sayangnya dapurnya hampir saja kebakaran karena ulah pria itu.

"Itu bukan salahku." Sanggah Edgar, Edgar menatap nenek Veronica tidak Terima.

"Dan adonannya juga gagal." Lanjut nenek Veronica.

"Itu juga bukan salahku." Kata Edgar sambil menghela nafas, neneknya ini bahkan masih saja mengingat hal itu padahal itu sudah lama terjadi.

"Dan kau memasukkan garam dua kali." Ucap nenek Veronica lagi.

Edgar kembali menghela napas.

"Itu kecelakaan." Ucap Edgar, berusaha membela diri.

Nenek Veronica menunjuk pintu.

"Pergi."

Ivy yang berdiri di sampingnya menutup mulut agar tidak tertawa, Edgar menatap Ivy datar.

"Kau juga tertawa?" Tanyanya Edgar, melirik Ivy dengan tatapan pura-pura kesal.

Ivy menggeleng cepat.

"Tidak." Ucap Ivy sambil menutup mulutnya.

"Kau jelas-jelas tertawa." Rengek Edgar.

Ivy akhirnya tidak bisa menahan diri dan tertawa kecil. Melihat senyum Ivy, ekspresi Edgar langsung melunak.

Tidak apa-apa.

Jika melihat Ivy sebahagia ini, dia rela diusir dari dapur.

Namun baru saja Edgar hendak pergi, kakek James datang.

"Ada apa?"

Nenek Veronica menjawab santai.

"Edgar mengganggu kita."

James menatap cucunya.

"Kalau begitu jangan ganggu mereka."

Edgar menatap kakeknya tidak percaya.

"Granpa..."

Kakek James menepuk bahu Edgar.

"Pergilah ke ruang kerja." Ujar kakek James.

"Kenapa aku yang harus pergi?" Tanya Edgar.

"Karena kami akan membuat kue." Ucap kakek James seakan menjelaskan bahwa kehadiran Edgar di sana sama sekali tidak di butuhkan.

Edgar menghela napas.

"Baiklah."

Saat dia hendak pergi, Ivy tiba-tiba memanggil.

"Edgar."

Edgar berhenti dan menatap Ivy dengan tatapan lembut.

"hmm?"

Ivy tersenyum.

"Jangan lupa sarapan." Ucap Ivy, mengingatkan.

Edgar tersenyum kecil, ini yang dia sukai dari Ivy. Perhatian-perhatian kecilnya selalu membuat jantungnya berdebar.

"Oke."

Kakek James dan nenek Veronica saling pandangx kemudian nenek Veronica berbisik kepada suaminya.

"Ivy sangat memperhatikan cucu kita ya."

Kakek James mengangguk.

"Benar."

Edgar yang mendengarnya langsung menoleh.

"Aku masih bisa mendengar kalian."

Kakek James tertawa.

"Pergilah!"

Edgar akhirnya pergi sambil menggelengkan kepala.

Beberapa jam kemudian, aroma kue memenuhi seluruh rumah. Ivy dan nenek Veronica akhirnya selesai membuat beberapa loyang kue.

Nenek Veronica terlihat sangat puas.

"Bagaimana? Menurutmu enak?"

Ivy mengambil sepotong kecil dan mencicipinya.

Matanya langsung berbinar.

"Enak sekali." Ucap Ivy.

"Benarkah?" Tanya Nenek Veronica bahagia, karena kue buatan mereka berhasil. Itulah bedanya jika membuat kue dengan cucu perempuan.

"Iya." Ujar Ivy sambil mengangguk.

Nenek Veronica tersenyum bangga.

"Kalau begitu mulai sekarang kita harus sering membuat kue bersama." Ucapnya.

Ivy mengangguk.

"Tentu." Ucap Ivy sambil tersenyum hangat.

Nenek Veronica kemudian memegang tangan Ivy.

"Kalau suatu hari nanti kau menikah dengan Edgar, kau harus sering datang ke sini." Ucap nenek Veronica tulus.

Ivy langsung tersipu.

"Granma..."

"Apa? Bukannya kalian memang akan menikah." goda nenek Veronica.

"Edgar bahkan baru melamar ku kemarin." Ucap Ivy malu.

nenek Veronica tersenyum jahil.

"Justru karena itu, Edgar sudah melamar mu jadi kalian jangan menundanya. Lagipula aku harus memastikan cucu perempuanku tidak kabur." ucap nenek Veronica.

Ivy tertawa kecil.

Dari ambang pintu, Edgar yang baru kembali dari ruang kerja melihat mereka.

Dia berhenti.

Pemandangan itu membuat dadanya terasa hangat.

Saat ini Ivy sedang tersenyum, senyum yang setahun yang lalu jarang sekali dia lihat dan sekarang, senyum itu muncul begitu mudah ketika Ivy berada bersama kakek dan neneknya.

Edgar berjalan mendekat.

"Kelihatannya enak." Kata Edgar sambil menatap kuenya.

Nenek Veronica langsung menatap Edgar tajam.

"Jangan sentuh kuenya." ucap nenek Veronica.

Edgar berhenti.

"Aku bahkan belum mengambil." ucap Edgar.

"Tapi kau sudah menghampirinya." Kata nenek Veronica.

Edgar menatap Ivy.

"Ivy, tolong jelaskan kepada Granma bahwa aku bahkan belum mengambilnya."

Ivy tertawa.

"Maaf, Edgar. Aku rasa Granma benar, kami bahkan belum memotret kue itu." ucap Ivy.

Edgar memegang dadanya dengan dramatis.

"Pengkhianatan."

kakek James yang baru masuk ikut tertawa.

"Sudahlah, kau kalah jumlah."

Edgar akhirnya mengambil satu kue kecil dari meja, nenek Veronica langsung memukul tangannya dengan sendok kayu.

"granma membuat itu untuk Ivy." ucap nenek Veronica menatap cucunya itu dengan kesal.

Edgar menatap kue di tangannya.

"Lalu aku boleh makan yang mana? yang itu tidak boleh karena belum di foto, lalu yang ini juga tidak boleh karena untuk Ivy, lalu untukku?" Tanya Edgar dramatis.

nenek Veronica menunjuk sebuah kue yang bentuknya sedikit tidak sempurna.

"Itu untukmu."

Edgar menatap kue tersebut.

"Kenapa bentuknya aneh?" Tanya Edgar dengan alis berkerut.

nenek Veronica menjawab santai.

"Itu kue percobaan."

Edgar menghela napas pasrah.

"Baiklah."

Ivy tertawa semakin keras.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah besar itu dipenuhi suara tawa.

Bukan hanya tawa kakek James dan nenek Veronica, tetapi juga tawa Ivy.

Edgar memandang Ivy dalam diam, di dalam hatinya dia membuat satu keputusan.

Dia akan melakukan apa pun agar senyum itu tetap ada di wajah Ivy.

Karena setelah semua penderitaan yang pernah dialami wanita itu, Ivy pantas mendapatkan keluarga yang mencintainya.

Dan Edgar ingin menjadi orang yang memastikan Ivy tidak pernah merasa sendirian lagi.

Bersambung

1
Putry Chan
lvy tenangkan pikiran mu aku yakin Edgar baik baik aja
Putry Chan
jelas lah kan dia cinta kau apa lah isi pikiran laki ini 🗿
Putry Chan
semoga Edgar baik baik aja ya
Putry Chan
lvy calon suami mu ini lumayan menantang ya
Putry Chan
mungkin musuh nya
Putry Chan
siapa ya yang ikutin mereka
Itha Ast
Menarik
Mundri Astuti
good ivy
Putry Chan
aku mendukung kalian dan semoga kalian bahagia
Putry Chan
langka yang bagus untuk membagikan hubungan baik
Misa
Bagus
Mundri Astuti
aamiin ...aku dukung Edgar 🤭
Dinda Putri
semangat yo thor 🔥🔥🔥
Dinda Putri
lanjut up thor
Putry Chan
wah sepertinya lvy di terima baik
Putry Chan
bagus lah akhirnya MC kita nikah juga
Putry Chan
bagus lah semoga cepat ya ke hubungan yang lebih serius
Putry Chan
ya tapi hati mu tidak berubah
Putry Chan
untung lah ada Edgar yang mulai sekarang nemenin lvy
Putry Chan
dia teman masa kecil lvy dia juga baik lvy sepertinya dia orang yang tepat untuk mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!