Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di belahan kota yang lain, di dalam sebuah Apartemen mewah yang pengap oleh emisi energi negatif, suasananya berbanding terbalik.
Galang, mantan tunangan Langit, duduk di sofa kulitnya dengan tubuh gemetar. Wajahnya merah padam, menahan amarah yang membakar dada.
Matanya menatap tajam layar ponsel pintar di tangannya. Layar itu menampilkan foto Bumi yang sedang membenarkan kerah gaun Langit dengan tatapan mata yang begitu memuja.
Galang adalah pria yang mendepak Langit demi egonya, berselingkuh tepat di belakang wanita itu dengan keyakinan bahwa Langit tidak akan pernah bisa menemukan pria yang lebih baik darinya.
Namun, kenyataan di layar ponselnya menghantam telak harga dirinya.
Di sampingnya, Sarah duduk dengan gelisah.
Mantan sekretaris pribadi Langit yang kini menjadi selingkuhan sekaligus kekasih baru Galang itu menggigit bibirnya dengan geram.
Jari-jarinya mencengkeram bantal sofa hingga kukunya memutih. Matanya yang dipenuhi rasa iri menatap lekat-lekat sosok Bumi di dalam foto.
"Sialan! Bagaimana mungkin wanita tua bangka itu bisa mendapatkan pria setampan ini?!" umpat Sarah, suaranya melengking frustrasi.
Sarah merasakan gelombang cemburu yang membakar hatinya.
Ketampanan Bumi di foto itu adalah ketampanan yang mutlak—rahang yang tegas, mata yang tajam namun teduh, dan postur tubuh yang membuat pria manapun terlihat inferior di sampingnya.
Sarah melirik Galang, dan untuk pertama kalinya, dia merasa pria di sampingnya ini tampak sangat biasa saja, bahkan cenderung membosankan jika dibandingkan dengan Bumi.
Rasa bersalah karena cemburu pada milik Langit membuat kemarahannya semakin berlipat ganda.
"Ini tidak mungkin! Ini pasti palsu!" Galang tiba-tiba berteriak, melemparkan ponselnya ke atas meja kaca hingga menimbulkan denting keras.
Dia berdiri dan berjalan mondar-mandir seperti singa yang terkurung.
"Semua yang dilakukan Langit hanya rekayasa! Dia sengaja membayar pria muda itu untuk membuatku cemburu! Ya, pasti begitu!" teriak Galang lagi, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Egonya sebagai seorang pria terluka parah, hancur berkeping-keping tanpa sisa.
Galang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Langit berpaling begitu cepat darinya.
Dan yang paling menyakitkan baginya adalah kenyataan bahwa pria baru Langit berusia enam tahun lebih muda darinya, jauh lebih segar, dan jauh lebih tampan dalam segala aspek.
Keberadaan Bumi seperti tamparan keras yang menyatakan bahwa Galang hanyalah sebuah barang rongsokan yang dengan mudah digantikan oleh berlian bernilai tinggi.
"Dia hanya ingin membalas dendam padaku! Hubungan mereka tidak mungkin nyata!" Galang terus berteriak egois, matanya memerah menatap foto yang masih menyala di atas meja.
Menolak menerima fakta bahwa di dalam butik itu, Langit telah menemukan pelindung baru yang jauh lebih segalanya dibanding dirinya.
Rupanya beberapa waktu yang lalu_
Para pelayan butik yang biasanya bergerak dengan keanggunan profesional yang kaku, mendadak kehilangan fokus.
Pandangan mereka terpaku pada interaksi antara dua pelanggan eksklusif hari itu, Langit dan Bumi.
Langit berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun pengantin mahakarya desainer ternama.
Potongan gaun itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, mempertegas keanggunan yang matang dan berkelas.
Di sampingnya, Bumi berdiri dengan setelan tuksedo hitam yang dijahit khusus, membingkai tubuh tegapnya yang proporsional.
Perbedaan usia enam tahun di antara mereka sama sekali tidak terlihat sebagai jarak, melainkan sebuah harmoni visual yang memukau.
Bumi yang berusia dua puluh empat tahun memancarkan aura maskulin yang segar dan kuat, sementara Langit yang berusia tiga puluh dua tahun memancarkan pesona wanita dewasa yang mandiri dan memikat.
"Silakan mengambil posisi di tengah ruangan, Mbak Langit, Mas Bumi. Kami akan mengambil beberapa foto untuk dokumentasi butik," ujar sang fotografer ramah, sambil mengarahkan kameranya.
Langit bergeser sedikit, mencoba mengatur gaunnya yang menjuntai.
Namun, gerakan itu membuat beberapa helai rambutnya bergeser, dan matanya menangkap sesuatu di cermin.
Sebelum Langit sempat meraih tisu, Bumi sudah melangkah lebih dekat.
Tanpa canggung, Bumi mengikis jarak di antara mereka.
Tangan kirinya terangkat, dan dengan sangat alami, ibu jari kasarnya mengusap lembut sudut pipi Langit, membersihkan sisa bedak yang sedikit berlebih di sana.
Sentuhan itu begitu personal dan intim.
Langit sempat menahan napas, matanya terkunci pada manik mata Bumi yang menatapnya dengan fokus penuh.
Tidak berhenti di situ, tangan Bumi turun ke pundak Langit. Dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh perhatian, jemarinya membenarkan kerah gaun Langit yang sedikit terlipat.
Setiap sentuhan Bumi terkesan begitu protektif, seolah-olah wanita di hadapannya adalah permata paling berharga yang harus dijaga dengan seluruh jiwanya.
Di sudut ruangan, para pelayan butik saling menyenggol lengan satu sama lain.
Wajah mereka tersipu malu, menahan senyum gemas melihat perlakuan manis pria muda itu.
Bisikan-bisikan kagum tertahan di balik telapak tangan mereka.
Mereka yang setiap hari melihat pasangan calon pengantin, jarang sekali menyaksikan ketulusan gestur yang begitu alami seperti yang ditunjukkan Bumi.
"Tersenyum, langit. Kamera sudah siap," bisik Bumi. Suaranya rendah, namun penuh dengan nada jenaka yang hanya bisa didengar oleh Langit.
Bumi sedikit menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Langit, "Kalau kamu tegang begitu, fotografernya akan mengira aku sedang menculik seorang ratu, bukan menikahi tunanganku."
Napas hangat Bumi yang menggelitik telinganya, ditambah dengan panggilan 'aku-kamu' yang kini terasa begitu erat dan natural di antara mereka, membuat pertahanan Langit runtuh.
Tawa renyah lolos dari bibir Langit. Wajahnya yang semula agak kaku karena formalitas langsung mencair, digantikan oleh senyuman lebar yang sangat tulus dan binar mata yang hidup.
Klik! Klik! Klik!
Fotografer butik tidak menyia-nyiakan momen emas tersebut. Lensa kameranya dengan cepat mengabadikan setiap detik kemesraan tak disengaja itu.
Detik ketika Bumi mengusap pipi Langit, detik saat jemarinya merapikan kerah gaun, hingga momen ketika Langit tertawa lepas karena bisikan Bumi.
Semua terekam sempurna. Foto-foto itu tidak tampak seperti dokumentasi butik biasa, melainkan potret sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.
Setelah sesi fitting selesai, Langit dan Bumi duduk di area lounge privat butik sambil menikmati teh hangat. Fotografer menunjukkan hasil jepretannya pada tablet digital.
"Bagaimana? Foto-foto ini sangat luar biasa. Aura kalian berdua begitu kuat," puji sang fotografer tulus.
Langit menatap layar tablet, lalu melirik Bumi yang duduk di sampingnya.
Di dalam hati, Langit harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa semua ini, pernikahan yang sedang mereka persiapkan, hanyalah sebuah pernikahan kontrak.
Sebuah strategi bisnis dan perlindungan diri setelah pengkhianatan menyakitkan yang dialaminya.
Namun melihat foto-foto itu, kebohongan di antara mereka terasa begitu abu-abu.
"Bagaimana kalau kita unggah beberapa foto ini ke akun media sosial kita?" usul Bumi memecah keheningan.
"Ini akan menjadi bagian dari strategi publikasi pernikahan kita. Publik perlu melihat bahwa hubungan kita nyata dan kuat, agar tidak ada celah bagi rumor negatif."
Langit menimbang sejenak, lalu mengangguk setuju. "Kamu benar. Publikasi yang masif akan memperkuat posisi kita. Mari kita lakukan."
Sore itu juga, beberapa foto pilihan diunggah secara bersamaan di akun media sosial Langit dan Bumi.
Efeknya instan. Unggahan foto-foto tersebut seketika menjadi viral dan mengguncang jagat maya. Netizen heboh.
Tagar nama mereka langsung memuncaki tangga tren. Kolom komentar dibanjiri oleh ratusan ribu tanggapan yang memuji keserasian mereka,
Ketampanan Bumi yang dinilai seperti pangeran negeri dongeng, dan kebahagiaan Langit yang terpancar nyata.