NovelToon NovelToon
Sistem Penguasa Sekolah

Sistem Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

"Woy sampah rendahan."

"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."

Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.

Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.

Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.

Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.

"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Mobil hitam itu melaju pelan menyusuri jalan tol yang mulai sepi. Di luar jendela, lampu-lampu kota berganti menjadi hamparan gelap yang hanya dipecah oleh tiang-tiang penerangan jalan. Juna menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca, lalu menoleh ke depan ketika suara sopir memecah keheningan.

"Kamu yakin siap, Dek?" tanya sopir itu sambil sesekali melirik kaca spion. "Arcapolis itu bukan sekolah biasa. Yang sekolah di sana anak-anak orang kaya semua, pejabat, pengusaha... boleh dibilang isinya monster-monster kecil yang dimanja sejak lahir."

Juna hanya mengangguk pelan. "Saya tahu, Pak. Saya masuk lewat jalur beasiswa."

"Justru itu yang saya khawatirkan," sopir itu menghela napas. "Anak beasiswa di sana biasanya jadi sasaran empuk. Hati-hati, ya. Jangan sampai kamu jadi bahan tertawaan mereka."

"Saya akan hati-hati, Pak," jawab Juna singkat.

Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Juna memandang keluar jendela, membiarkan pikirannya melayang entah ke mana, sampai akhirnya mobil melambat dan berhenti tepat di depan gerbang besar berukir logam yang menjulang tinggi, diterangi lampu sorot dari bawah.

"Sudah sampai," kata sopir itu sambil membuka pintu. "Hati-hati di dalam sana, Dek. Semoga beruntung."

Juna turun sambil membawa tasnya. Ia berdiri sejenak, menatap papan nama besar bertuliskan AKADEMI ARCAPOLIS, lengkap dengan ukiran motto di bawahnya yang nyaris tidak terbaca dalam gelap.

Baru dua langkah ia masuk melewati gerbang, seseorang tiba-tiba berdiri menghalangi jalannya.

"Kamu murid baru, kan?" Suara itu ramah, meski nada bicaranya terdengar sedikit menyelidik. Seorang pemuda berdiri di bawah lampu taman, mengenakan kemeja putih rapi. "Namaku Gery. Kepala Sekolah menyuruhku mengantar murid baru ke asrama malam ini. Namamu siapa?"

"Juna. Juna Adiwiyata," jawabnya sambil sedikit membungkuk.

"Ayo, ikut aku." Gery membalikkan badan dan mulai berjalan menyusuri koridor luar yang temaram. "Kamu beruntung aku yang jaga malam ini. Kalau kamu ketemu yang lain duluan, bisa runyam."

"Memangnya kenapa?" Juna mengikuti langkahnya, memperhatikan bangunan-bangunan megah yang berdiri di kanan kiri seperti kompleks perumahan mewah, bukan sekolah.

"Sekolah ini nggak seperti yang kamu bayangkan," Gery menjawab sambil menunjuk seragam-seragam yang terpajang di balik kaca etalase dekat gerbang asrama. "Ada empat faksi di sini. Faksi Akademik, blazer hijau, isinya orang-orang pintar yang suka main strategi. Faksi Konglomerat, blazer emas, itu anak-anak pengusaha, duit mereka nggak ada habisnya. Faksi Olahraga, jaket merah, andalannya tenaga sama fisik. Terakhir—" Gery menurunkan suaranya, "—Faksi Bully. Jaket hitam. Itu yang paling harus kamu hindari."

"Kenapa harus dihindari?"

"Karena mereka nggak butuh alasan buat nyakitin orang," Gery menjawab datar. "Mereka anggap itu hiburan."

Juna diam sejenak, mencerna semua informasi itu. "Terus, kamu sendiri masuk faksi mana?"

Gery tertawa kecil, tapi tawanya terdengar hambar. "Aku? Nggak ada faksi yang mau nerima aku. Aku, dan orang-orang kayak aku, disebut sampah. Nggak layak dipakai, katanya."

Juna menoleh menatapnya, tapi Gery hanya mengangkat bahu, seolah sudah terbiasa mengucapkan kalimat itu.

Mereka berjalan dalam diam beberapa saat, hingga akhirnya sampai di depan sebuah kamar berpintu kayu gelap.

"Ini kamarmu," kata Gery, menyerahkan kunci. "Istirahat yang cukup. Besok kamu bakal butuh tenaga penuh."

"Terima kasih, Gery."

"Sama-sama. Selamat datang di Arcapolis." Gery berbalik dan berjalan menjauh, langkahnya menghilang di ujung koridor yang remang.

Juna membuka pintu, melangkah masuk, lalu menjatuhkan tasnya begitu saja di lantai. Ia merebahkan diri di atas kasur yang terasa lebih empuk dari kasur di rumahnya, menatap langit-langit kamar yang asing.

'Sekolah yang penuh dengan hierarki dan kekuasaan sendiri, ya,' pikirnya. 'Menarik.'

Ia menutup mata.

"Hari pertama sekolah," gumamnya pelan sebelum akhirnya tertidur.

1
NayiRiyyy
"Alur yang mungkin Anda kenal"🤭
Notdrick: iya kak🤣
total 1 replies
Riyyyyyyy
ada lolinya gak thor?
Riyyyyyyy: asiiik😍 ingat pepatah, banyak loli banyak rezeki🤭
total 2 replies
Notdrick
Bukan novel BL yahh /Hey/
Feri
novel baru lagi,bisa tamat gak ini/Sly/
Feri: ku tunggu ya/Sly//Sly/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!