Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
If It Is You
Day 10
"Ara, memangnya pacar kamu yang namanya Bara itu sedang sakit?"
Ara menghentikan aktivitasnya memasukkan makanan ke dalam kotak bekal untuk Bara. Ia menoleh kepada mamanya dengan tatapan heran.
"Mama tahu dari mana?"
"Mama juga pakai Instagram, sayang. Apa kamu kira mamamu ini gaptek, hmm?" Mama terkekeh kecil. "Mama cuma nggak sengaja lihat di Instagram kamu."
"Hmm, iya, Mah. Bara lagi sakit. Jadi, setiap hari aku bawain makanan biar dia cepat sembuh."
"Kalau boleh tahu, dia sakit apa, Ara?"
Ara menelan ludah.
"Tifus, Mah."
Ia buru-buru menutup kotak bekalnya setelah mengatakan kebohongan itu. Sebenarnya Ara tidak ingin berbohong kepada orang tuanya. Namun, ia takut jika Papanya mengetahui penyakit Bara yang sebenarnya, ia akan melarang Ara menemui Bara lagi.
Untuk sementara, berbohong adalah pilihan yang menurutnya paling aman.
Mamanya sebenarnya bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh anak bungsunya itu. Namun, ia memilih diam dan mempercayai ucapan Ara.
Setidaknya, jika nanti Papanya kembali memaksa Ara untuk meninggalkan Bara, Mamanya akan menjadi orang pertama yang membela putrinya.
"Ya sudah, Mah. Aku berangkat dulu, ya? Kasihan Bang Biru sudah nunggu di luar. Sepertinya nanti malam aku mau menginap sama teman-teman."
"Ya sudah. Hati-hati, ya, sayang. Semoga Bara cepat sembuh."
Ara mengangguk, lalu mencium pipi mamanya.
"Aamiin."
Setelah itu, Ara segera berangkat ke rumah sakit dengan dibonceng Biru. Biru membawa motornya sedikit lebih cepat dari biasanya karena pagi ini ia harus melakukan presentasi di kampus.
...---...
"Pagi, Bara kesayangan Ara!"
Ara masuk ke kamar rawat Bara dengan senyum lebar. Namun, lagi-lagi ia tidak menemukan Bara di atas ranjang. Yang ia lihat justru dua orang teman lelakinya sedang bermain kartu di lantai yang sudah dialasi tikar.
Ara mengernyitkan kening.
"Kalian pada ngapain, coba? Udah kayak gembel aja."
"Ra? Lo nggak tahu, apa? Kos-kosan kita udah pindah ke sini sejak kemarin."
Yohan meletakkan kartu di tangannya.
"Karena permintaan Yuvin dan cowok lo, gue jadi disuruh nginep juga di sini. Lumayan, ada AC gratis. Daripada di kos cuma ada kipas angin doang."
Ara terkekeh.
"Tapi lo nggak kepaksa, kan, buat nemenin Bara di sini, Han?"
"Tenang. Gue malah lebih suka di sini. Adem. Nggak perlu shirtless kalau malam."
Ara hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban Yohan. Ia kemudian meletakkan kotak bekalnya di atas nakas.
"Vin, Bara ke mana?"
"Lagi pemeriksaan."
Yuvin menurunkan kartu yang sedang dipegangnya.
"Semalam dia mimisan. Terus waktu tidur, keringatnya berlebihan. Gue juga dengar dari dokter kalau kondisinya udah masuk stadium akhir, Ra."
Seketika tubuh Ara terasa lemas. Yuvin melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
"Semalam dia juga susah tidur karena katanya seluruh badannya sakit."
Ara langsung duduk di tepi ranjang Bara. Pikirannya mendadak kosong. Ia benar-benar tidak ingin mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
Harusnya semalam aku nginep dan bantu ngurusin dia di sini. Padahal aku udah janji mau nemenin Bara.
Ara menunduk.
Kalau bukan karena diancam Papa, aku pasti nggak bakal pulang semalam. Tapi sekarang kayaknya aku harus membangkang dulu. Lagian, tadi aku juga sudah izin sama Mama. Jadi malam ini aku nggak akan pulang.
"Ra, please, tenangin diri lo."
Yuvin meremas pelan pundak Ara.
"Lo nggak boleh kelihatan sedih di depan Bara. Kita semua juga berusaha nemenin dia terus semampu kita. Jadi, lo nggak usah khawatir."
Ara terdiam beberapa saat. Ia mengusap wajahnya, kemudian menarik napas panjang sebelum mengangkat kepalanya dan menatap Yuvin.
"Gue kuat."
Ara mengangguk berkali-kali, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.
"Gue kuat, kok."
"Ra, cowok lo balik, tuh."
Ara langsung menoleh.
Pintu kamar terbuka, dan Bara masuk dengan kursi roda yang didorong oleh seorang suster. Senyum Ara langsung mengembang.
"Sayangku ternyata udah balik."
Ara menghampiri Bara.
"Aduh, gantengnya kesayangan aku."
Bara hanya bisa terkekeh melihat tingkah kekasihnya. Yohan memasang wajah jijik, sedangkan Yuvin hanya menggaruk kepalanya sambil mempersilakan suster yang mengantar Bara untuk memaklumi tingkah Ara.
"Ngapain sih lo natap gue kayak gitu? Sirik lo sama gue?"
Ara melotot ke arah Yohan.
"Sialan lo."
Yohan langsung memalingkan wajah.
Setelah suster keluar dari kamar, Ara mendorong kursi roda Bara mendekati ranjang. Ia kemudian membantu Bara naik ke atas ranjang dengan bantuan Yuvin. Bagaimanapun juga, Ara tidak mungkin menggotong Bara sendirian.
Ara kemudian memasangkan infus pada tempatnya dan menarik meja yang terpasang di samping ranjang agar Bara lebih mudah makan.
Ia meletakkan makanan rumah sakit di atas meja, lalu mengeluarkan bekal yang dibawanya dari rumah.
"Makan dulu, ya, sayang."
Ara membuka wadah makanannya.
"Ini aku bawa sop dari rumah. Rasanya aku jamin enak. Mau aku suapin?"
"Aku makan sendiri aja."
Bara tersenyum tipis.
"Aku ngerasa nggak enak kalau harus bersikap manja terus sama kamu."
"Padahal aku nggak pernah mempermasalahkan hal itu."
Ara mencubit gemas pipi Bara.
"Aku malah suka."
Bara terkekeh.
Ara akhirnya membiarkan Bara makan sendiri. Ia merogoh tas untuk mengambil ponselnya, lalu kembali memotret Bara yang sedang makan.
"Bara?"
Bara menoleh dengan sendok yang sudah siap masuk ke mulutnya.
Ia hanya tersenyum ketika menyadari Ara kembali memotret dirinya.
"Kamu mau unggah lagi?"
Ara mengangguk.
"Tentu."
Beberapa saat kemudian, unggahan Ara muncul di Instagram.
aramoana_:
Gak pernah capek buat selalu bilang: makan yang banyak ya, sayangku 😘❤️ @barasamudera
Comments:
barasamudera:
Iya, sayang❤️
yohan.dewa:
Iya, sayang ❤
yuvindipt:
Iya, sayang ❤
biru_namaku:
Iya, sayang ❤
sorazura_:
Iya, sayang ❤
Ara langsung tertawa geli membaca komentar teman-temannya yang sengaja mengikuti ucapan Bara. Bara pun ikut tertawa sambil melanjutkan makannya.
Sementara itu, Yohan dan Yuvin hanya pura-pura tidak tahu dan kembali fokus pada permainan kartu mereka.
Hampir satu jam kemudian, Bara akhirnya menyelesaikan makanannya. Ara mengambil tisu dan menyeka sudut bibir Bara yang masih sedikit belepotan.
Bara hanya menatapnya. Tatapannya begitu dalam sampai Ara merasa ada sesuatu yang berbeda.
"Ra, gue sama Yohan balik dulu, ya?"
Yuvin berdiri sambil merapikan barang-barangnya.
"Mau mandi sama ganti baju. Nanti malam kita ke sini lagi."
Ia menoleh kepada Bara.
"Bara, kita balik dulu."
Bara dan Ara sama-sama mengangguk.
Setelah Yuvin dan Yohan keluar, suasana kamar mendadak jauh lebih tenang. Namun, Bara masih menatap Ara. Ara yang sejak tadi merasa bingung akhirnya bertanya.
"Kamu kenapa, sayang?"
Bara tidak menjawab.
"Ada yang aneh di wajah aku?"
Bara menggeleng pelan.
Kemudian, tanpa mengatakan apa-apa, ia menarik Ara ke dalam pelukannya.
Beberapa detik berlalu. Lalu terdengar suara isak tangis. Tubuh Bara mulai bergetar di dalam pelukan Ara.
Ara seketika mengerti. Ia membalas pelukan Bara dengan erat sambil mengusap-usap punggungnya.
"Nggak perlu ditahan, sayang."
Ara menahan air matanya sendiri.
"Kalau kamu mau nangis, ya nangis aja. Nggak perlu merasa malu di depanku."
"Kondisiku mulai memburuk."
Suara Bara bergetar.
"Aku takut ninggalin kamu. Aku juga takut nggak akan bisa melihat kamu lagi."
Ara memejamkan mata.
Tahan. Aku nggak boleh ikut menangis. Aku sudah janji bakal kuat. Aku harus kuat demi Bara.
Ara perlahan melepaskan pelukannya. Tangannya kemudian mengusap air mata yang masih mengalir di pipi Bara.
"Kamu bicara apa sih, Bara?"
Ara tersenyum meskipun matanya mulai berkaca-kaca.
"Siapa yang bakal pergi, hmm? Kamu? Kata siapa?"
Ara menggeleng kuat.
"Nggak ada yang boleh ngambil kamu dari aku. Aku janji bakal melindungi kamu. Jadi, kamu tenang aja, oke?"
Bara tersenyum getir.
"Sayang, emangnya kamu itu Tuhan, hmm? Emangnya kamu bisa menahan aku supaya nggak pergi?"
Ara terdiam. Ia tahu Bara sedang membicarakan kematian. Namun, Ara juga tahu bahwa ia tidak boleh menyerah.
"Kamu ingat nggak kalau aku bakal ngasih kamu hadiah?"
Bara menatapnya bingung.
"Aku nggak bisa mengatakan semuanya sekarang. Intinya, aku di sini demi kamu. Karena kamu. Dan cuma untuk memperjuangkan kamu."
Ara menggenggam tangan Bara.
"Semoga Tuhan mendengarkan doaku dan membiarkan kita terus bersama."
"Maksud kamu apa? Aku nggak paham."
"Susah ngejelasinnya, Bara."
Ara tersenyum kecil.
"Intinya, kamu harus percaya sama yang namanya keajaiban."
Bara terdiam.
"Kamu percaya sama aku, kan?"
Ara menatap mata Bara lekat-lekat.
"Aku nggak akan membiarkan kamu pergi."
Bara tersenyum sambil mengangguk. Kemudian, ia kembali memeluk Ara dengan erat.
Baru kali ini ia benar-benar merasakan bagaimana rasanya dicintai sebesar itu. Dan untuk pertama kalinya pula, Bara merasa memiliki alasan untuk bertahan.
Ia ingin terus hidup. Bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tapi juga untuk Ara.
"Mulai nanti malam, aku mau nemenin kamu di sini."
Ara masih berada dalam pelukannya.
"Supaya kamu bisa tidur dengan nyenyak. Oke, Kapten?"
Bara tertawa kecil.
"Memangnya orang tuamu ngizinin?"
"Aku udah izin sama Mama."
Ara mengangkat kepalanya.
"Gimana? Boleh, kan, Kapten?"
Bara mengangkat tangannya seolah memberi hormat.
"Siap, Kapten."
Ara terkekeh.
"Aku sayang banget sama kamu, Bara Samudera."
Bara menatapnya penuh kasih.
"Aku juga sayang banget sama kamu, Ara Moana."