NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Kota mati

Langkah kakinya menapak tanpa suara di atas lantai batu gerbang utama. Debu ratusan tahun beterbangan tipis, menempel pada ujung jubahnya yang koyak.

Ye Chan tidak gegabah melangkah lurus menuju bangunan termegah di kejauhan. Matanya menyapu permukaan jalan, mewaspadai ubin yang amblas atau sisa-sisa formasi penahan penyusup yang mungkin masih menyala.

Ia berbelok ke deretan bangunan terdekat di tepi jalan utama. Polanya seragam dan sangat kaku.

Setiap unit selalu terdiri atas tiga bagian utama: ruang tinggal di bagian depan, bilik latihan kecil di tengah, dan ruang penyimpanan tertutup di belakang.

'Bahkan warga biasa di sini memiliki tempat pemurnian Qi pribadi,' batin Ye Chan sembari mengusap salah satu ambang pintu batu.

Kota ini tidak dirancang untuk masyarakat fana biasa. Seluruh denyut kehidupannya ditopang sepenuhnya oleh kultivasi.

Jalan berbatu membawanya ke sebuah lapangan terbuka yang luas di sektor barat. Puluhan pilar batu hitam berdiri berjajar, sebagian besar retak dan compang-camping akibat bekas hantaman tinju serta tebasan senjata tajam dari masa lampau.

Sisa-sisa pedang perunggu yang telah berkarat berserakan di celah lantai, kehilangan seluruh aura spiritualnya.

Pada dinding tebing buatan yang membatasi lapangan, beberapa baris teknik pernapasan terpahat kasar.

Sebagian besar hurufnya telah terkelupas, menyisakan diagram sirkulasi energi yang buntung.

Namun, sebuah ukiran prasasti kecil di sudut pilar masih terbaca utuh. Tulisan itu menegaskan bahwa hak menyerap energi langit dan bumi dijamin setara bagi siapa pun yang mendiami kota, tanpa memandang garis keturunan bangsawan maupun klan tertentu.

Ye Chan menggeleng pelan. Menjadikan kultivasi sebagai hak terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat adalah sebuah gagasan yang hampir mustahil di zamannya sekarang.

Di dunia luar, sekte-sekte besar akan memburu siapa pun yang berani membocorkan teknik dasar kepada rakyat jelata tanpa sumpah darah.

Rasa penasarannya kian terusik. Ia bergeser menyusuri lorong-lorong sempit di kawasan permukiman.

Pintu-pintu kayu telah lapuk dan tergantung miring pada engselnya, sebagian besar tampak didobrak paksa dari luar.

Ye Chan melangkah masuk ke salah satu rumah. Di dalam, kekacauan membeku bersama waktu. Mangkuk tanah liat pecah di dekat tungku dingin, botol-botol salep berserakan di lantai, dan pakaian kasar teronggok di sudut ranjang. Tidak ada tanda-tanda persiapan mengungsi yang teratur.

Di bawah tumpukan meja yang patah, dua kerangka manusia terbaring kaku dengan posisi meringkuk saling memeluk. Tulang-tulang mereka tidak hancur oleh senjata tajam, melainkan tampak menghitam dan rapuh dari dalam.

'Mereka tidak sempat melarikan diri,' pikir Ye Chan seraya memeriksa dinding rumah yang dipenuhi bekas cakar kuku manusia. 'Mereka mati dalam kepanikan, tanpa kemampuan untuk bertahan.'

Ia meninggalkan rumah itu dan melangkah menuju sebuah bangunan bertingkat dua yang tampak seperti balai administrasi distrik. Di ruangan arsip yang terlindung dari kelembapan, beberapa lemari batu masih berdiri kokoh. Ye Chan memeriksa tumpukan gulungan perkamen yang sebagian besar langsung hancur menjadi serpihan abu begitu tersentuh ujung jarinya.

Hanya satu lempengan perkamen kulit kaku berlapis perak yang masih utuh. Ye Chan mengusap permukaannya, membaca aksara kuno yang tergores dalam:

"Tahun ketujuh setelah dekrit. Langit tertutup kabut perak. Hak kami dicabut tanpa ampun. Mereka yang kemarin mampu membelah batu hari ini bahkan tak sanggup menyalakan api tungku. Dantian kami mengering, meridian pecah, dan surga berbalik menolak napas kami..."

Di baris paling bawah, hanya ada satu sebutan yang diukir dengan getaran tangan yang kentara: "Kaisar."

'Kaisar lagi.'

Ye Chan menarik napas panjang. Udara dingin di dalam ruangan itu terasa menusuk paru-parunya. Ia menoleh ke arah jendela yang menghadap ke seluruh bentangan reruntuhan kota.

Tidak ada kawah bekas letusan. Tidak ada retakan tanah akibat gempa bumi. Kerusakan bangunan hanya terkonsentrasi di aula-aula meditasi dan gudang pil.

"Sungguh metode licik nan efektif," gumam Ye Chan pada kesunyian yang mencekam. "Sangat mengenaskan."

Begitu kemampuan mengalirkan Qi ditarik paksa dari tubuh mereka, masyarakat yang bergantung penuh pada energi spiritual langsung lumpuh. Fondasi peradaban runtuh seketika, dan kota itu pun membusuk dari dalam sebelum sempat mempertahankan diri.

Keluar dari balai arsip, Ye Chan mempercepat langkahnya menuju jalan utama yang mengarah ke bagian terdalam. Di ujung tanjakan, sebuah gerbang perunggu hitam raksasa berdiri menjulang, masih utuh di tengah kehancuran bangunan sekitarnya.

Garis-garis formasi kuno terukir rumit pada permukaan logam gerbang tersebut, memancarkan denyut kebiruan yang sangat tipis.

Ye Chan berhenti tiga langkah di depan gerbang. Ia berlutut, mengamati susunan jalinan formasi itu dengan cermat. Itu bukan formasi pengunci biasa, melainkan susunan penjaga yang tampaknya dibangun untuk melindungi sesuatu yang tersembunyi di pusat kota.

Rasa ingin tahunya bergejolak. Ye Chan mengalirkan setitik kecil Qi dari ujung jari telunjuknya, menyentuhkan energi itu ke salah satu simpul formasi di engsel gerbang.

BZZT!

Logam gerbang mendengung tajam. Pola formasi merespons seketika, disusul suara roda gigi raksasa yang bergesekan berat di bawah tanah. Udara di sekitar Ye Chan mendadak menegang, sebuah riak energi berpusar, memindai keberadaan hawa kehidupan yang memicu mekanisme tersebut.

Ye Chan terkesiap. Ia segera memutus aliran Qi dan melompat mundur, menahan napasnya serapat mungkin. Formasi itu berkedip pelan sebelum akhirnya kembali redup dan sunyi.

'Formasi ini masih sanggup mendeteksi makhluk hidup,' gumam Ye Chan dalam hati sembari menyeka keringat dingin di pelipisnya.

Saat pandangannya menyapu lantai di bawah ambang gerbang raksasa itu, ia melihat sesuatu yang ganjil. Sebuah lempengan batu di dekat pondasi telah ambles ke dalam, memperlihatkan celah sempit yang mengarah miring ke bawah tanah.

Sebuah jalur tersembunyi, menembus langsung ke bagian bawah pusat kota.

Ye Chan melangkah mendekat, menatap lorong gelap yang menganga di bawah kakinya. Hawa dingin yang pekat berembus dari kedalaman, membawa aroma logam tua yang pekat.

"aneh, sekitarnya terlihat mati dan terlantar..."

Ye Chan mengambil sebuah lentera kecil dari cincin perunggunya, menyalakannya dengan pemantik batu api, lalu bersiap menuruni undakan batu yang curam.

"... Namun mengapa bagian ini masih hidup?"

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!