NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Aroma pesing, udara yang pekat, dan bau karat besi menusuk indra penciuman dengan begitu tajam. Baunya yang menghinakan itu mengubur habis sisa-sisa aroma parfum mewah custom-made yang dulu selalu melekat pada tubuh tegap Dikta Dirgantara. Malam telah larut di dalam rutan, waktu seolah-olah telah berhenti bergulir sejak borgol besi melingkari pergelangan tangannya. Pria yang dulunya dipuja sebagai raja bisnis tak terkalahkan itu kini meringkuk tanpa daya di atas lantai semen yang dingin, lembap, dan kotor.

Gebyur

Satu ember air kotor bercampur lumpur kembali menyiram wajahnya tanpa ampun. Dikta terbatuk hebat. Tubuhnya tersentak kaget. Ia memuntahkan air keruh yang masuk ke hidung serta tenggorokannya yang kering.

"Bangun, Tuan Mantan CEO! Jam tidur mewahmu sudah habis," cibir sipir bayaran yang malam tadi memimpin penyiksaan fisiknya.

Kali ini, sipir itu tidak datang sendirian. Dua sipir berbadan kekar lainnya berdiri di kanan dan kiri ambang pintu sel isolasi. Di tangan mereka, sebilah tongkat pemukul dari karet keras siap diayunkan kapan saja.

Dikta berusaha sekuat tenaga untuk menegakkan tubuhnya. Ia bertumpu pada dinding beton sel yang basah dan ditumbuhi lumut. Gerakannya sangat pelan menahan rasa sakit yang mengguyur tubuhnya. Sudut bibirnya yang pecah mengeluarkan darah segar.

"Kau tahu berita utama pagi ini, Dirgantara?" Sipir bayaran itu melangkah maju lalu berjongkok. Tangannya yang kasar menjambak rambut Dikta dengan sentakan kasar, memaksa kepala sang mantan konglomerat itu mendongak secara paksa. "Saham Dirgantara Group anjlok drastis hingga tujuh puluh persen dalam dua jam pertama perdagangan! Dan satu jam yang lalu, bursa efek resmi menyatakan perusahaanmu ditangguhkan. Kau bukan lagi seorang konglomerat, Dikta. Kau hanya sampah yang membusuk di dalam sel ini."

Dikta menatap sipir itu dengan mata elangnya yang kini tampak sayu, bengkak, dan memerah. Ia membuka mulutnya, mencoba membalas dengan kata-kata, namun tak bisa lepas. Hanya suara parau yang keluar dari celah bibirnya yang terluka.

"Kenapa? Kau mau mengancamku dengan uangmu?" Sipir bayaran itu menyeringai, lalu melepaskan jambakannya hingga kepala Dikta terbentur dinding.

Bugh

Satu hantaman lagi mendarat tepat di tulang rusuk kiri Dikta yang memang sudah retak sejak penyiksaan semalam. Dikta mengerang kesakitan. Napasnya langsung tercekat di dada. Tubuhnya yang lemas kembali tersungkur, menempel pada lantai semen yang dingin dan licin karena air kotor.

"Bisnis apa lagi yang mau kau tawarkan kepada kami, Dirgantara? Uangmu? Kekuasaanmu? Pengaruhmu?" Sipir bayaran yang itu tertawa terbahak-bahak, merasa sangat puas melihat pria yang paling ditakuti di dunia bisnis kini merangkak kesakitan di bawah ujung sepatunya. "Biar kuberi tahu satu rahasia lagi. Seluruh rekening pribadimu, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, resmi dibekukan atas perintah pengadilan. Kau miskin sekarang, Dikta! Kau tidak punya uang sepeser pun bahkan hanya untuk membeli sebotol air bersih di penjara ini!"

Di tengah tawa para sipir itu, derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menggema dari arah koridor luar. Pintu besi jeruji luar diketuk dengan panik. Sesosok pria paruh baya dengan pakaian jas hitam yang tampak berantakan muncul di balik jeruji. Itu adalah Pak Baskara, pengacara utama sekaligus orang kepercayaan keluarga Dirgantara selama puluhan tahun.

Wajah Baskara pucat. Matanya berkaca-kaca menatap kondisi bosnya yang begitu mengenaskan di dalam sel isolasi. "Pak Dikta..." suara Baskara bergetar hebat menahan kesedihan menatap kondisi Dikta sekarang.

Dikta memaksakan matanya yang bengkak untuk terbuka. Ia menatap Baskara dengan pandangan meminta penjelasan. "Baskara... ada apa...?" bisik Dikta, suaranya terdengar parau.

Sipir bayaran itu berdiri, lalu melangkah mundur sambil melipat tangan di dada, memberikan ruang bagi pengacara itu untuk berbicara setelah menerima uang suap yang disodorkan Baskara sebelumnya. "Hanya lima menit, Pak Pengacara. Cepat selesaikan urusan orang miskin ini," cetus sipir itu dingin.

Baskara segera berlutut di luar jeruji besi, mendekatkan wajahnya pada celah besi agar suaranya tidak terdengar terlalu keras. "Maafkan saya, Pak Dikta... saya telah gagal. Protokol Hitam yang kita siapkan untuk menyelamatkan aset-aset pribadi Anda telah gagal total. Bagas... bajingan itu telah bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan kita."

Mendengar nama Bagas disebut, rahang Dikta seketika mengeras. "Apa... yang dia lakukan, Baskara?"

"Bagas bekerja sama dengan orang dalam di divisi teknologi kita. Dia berhasil meretas sistem data cadangan Dirgantara Group sebelum tim kita sempat menyerahkan bukti video asli di kamar bayi itu kepada Kepolisian. Seluruh bukti rekaman rahasia yang bisa membersihkan nama Anda... sudah dimusnahkan secara total dari server cloud," ucap Baskara dengan mata yang berkaca. "Opini publik di luar sana benar-benar tidak bisa dikendalikan. Anda telah digambarkan sebagai monster arogan yang melanggar hukum atas kasus dugaan penyekapan dan pembatasan ruang gerak secara paksa terhadap Bu Arini."

Dikta tertegun. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia hancur. "Lalu... bagaimana dengan Arini, Baskara?" tanya Dikta, dadanya naik turun dengan cepat, mengabaikan rasa sakit demi mendengar jawaban tentang wanita itu. "Katakan padaku... di mana Arini sekarang?"

Baskara menundukkan kepalanya, tidak sanggup menatap mata bosnya yang kini dipenuhi rasa cemas yang luar biasa. "Bu Arini... sudah dibawa pergi secara paksa oleh Bagas, Pak. Bagas datang bersama puluhan awak media dan pihak kepolisian, menggunakan statusnya sebagai suami sah untuk mengambil kembali Bu Arini di depan kamera."

"Bajingan..." desis Dikta. Jari-jari tangannya mencengkeram dengan kuat. "Dia menggunakan Arini untuk memperkuat sandiwaranya di depan publik..."

"Bukan hanya itu, Pak Dikta," potong Baskara dengan suara yang melemah, "Karena Anda resmi menjadi tersangka pidana berat atas kasus penyekapan dan seluruh aset pribadi Anda dibekukan pengadilan, status finansial dan lingkungan Anda dinilai tidak lagi stabil serta membahayakan pertumbuhan anak. Atas desakan pengacara Bagas, hak asuh atas putra kandung Anda sendiri, resmi dicabut sementara."

Jantung Dikta berhenti berdetak saat mendengar nama putra kandungnya disebut. "Arkan? Dia putra kandungku! Darah dagingku sendiri! Bagaimana bisa mereka merampasnya dariku?!" raung Dikta, mencoba berdiri namun tubuhnya yang demam tinggi tidak sanggup menopangnya.

"Hukum tidak peduli hubungan darah jika Anda berada di dalam sel isolasi sebagai tersangka penyekapan berat, Pak," lirih Baskara, tangisnya pecah. "Arkan... sudah diambil alih, dan dipindahkan ke panti asuhan di kawasan pesisir pagi ini. Tempat itu sangat kumuh, kotor, dan sama sekali tidak layak untuk bayi sekecil dia..."

Mendengar kenyataan bahwa sahamnya lenyap, perusahaannya hancur, dirinya jatuh miskin, Arini diambil oleh Bagas, dan putra kandungnya sendiri dilemparkan ke panti asuhan kumuh akibat statusnya sebagai tersangka. Dikta Dirgantara akhirnya runtuh. Setetes air mata mengalir dari sudut matanya yang lebam, mengalir dengan darah kering di pipinya. Ia benar-benar telah kehilangan segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!