Bagi keluarga Vardha, Arumi selalu bisa dikorbankan demi Aurelia, kakak angkatnya yang manipulatif. Puncaknya, cinta tiga tahun Arumi, Adrian, direbut Aurelia dengan restu orang tuanya sendiri. Arumi mengalah dan mengikhlaskan mereka.
Namun, mereka tak tahu siapa Arumi sebenarnya.
Saat mengenakan cadarnya di luar rumah, Arumi bertransformasi menjadi maestro biola kelas dunia, peretas jenius, sekaligus CEO rahasia dari imperium bisnis yang ia bangun sendiri.
Dunia Arumi berguncang saat Raja Zean Rothschild—penguasa dunia no 1, pemegang saham mayoritas global, dan pemilik aliansi militer tertinggi—hadir di hidupnya. Sang Raja yang dingin dan tak tersentuh mendadak bertekuk lutut, terobsesi, dan mengejarnya secara posesif setelah menemukan rahasia di balik cadarnya.
Situasi kian memanas saat Kazan, anak mafia psikopat berdarah dingin, juga mengklaim Arumi sebagai miliknya.
Adrian terbakar cemburu, Aurelia gila obsesi ingin merebut Sang Raja. Mampukah Sang Raja melindungi Arumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUJUH HARI MENJELANG TAKHTA DAN RENCANA SABOTASE
Suasana di kediaman keluarga Vardhana dalam hitungan jam berubah total menjadi benteng pertahanan militer yang teramat ketat. Keputusan mutlak Raja Zean untuk mempercepat hari pernikahan menjadi tujuh hari ke depan memicu pergerakan masif yang mengguncang seluruh penjuru kota. Bagi publik dan media massa, ini dipandang sebagai kabar pernikahan paling spektakuler dan megah abad ini. Namun di balik tembok mansion Vardhana yang tebal, persiapan ini bukanlah sekadar pesta keagungan, melainkan garis pertahanan utama dalam menghadapi ancaman mematikan dari dunia bawah.
Iring-iringan kendaraan taktis lapis baja milik pasukan Baret Hitam bersiaga penuh dua puluh empat jam di sepanjang perimeter mansion. Sirine halus dan kilatan lampu patroli membelah kegelapan malam. Felix, kepercayaan Raja Zean, memimpin langsung operasi pengamanan tingkat tinggi tersebut. Tidak ada satu pun orang—mulai dari tamu undangan terbatas, pelayan rumah, hingga tim katering khusus—yang diperbolehkan menjejakkan kaki di area dalam tanpa melewati pemindaian sidik jari, pengenalan retina mata, serta pemeriksaan biometrik yang sangat ketat.
Di dalam kamar rias pribadi yang megah di lantai dua, Arumi berdiri mematung di depan cermin berukir perak setinggi tubuh. Pantulan dirinya memancarkan keanggunan yang luar biasa. Gaun pengantin muslimah berwarna putih bersih berhiaskan sulaman benang perak berbentuk mawar elegan membalut tubuhnya dengan sempurna. Paduan cadar bernuansa senada menutup separuh wajahnya, menyisakan sepasang mata cokelat jernih yang memancarkan pendar keindahan sekaligus gejolak kecemasan.
Cklek.
Pintu kamar rias terbuka pelan. Raja Zean melangkah masuk dengan gaya tegap yang mendominasi. Pria itu mengenakan kemeja hitam bergaya kasual dengan bagian lengan yang digulung hingga memperlihatkan otot tangannya yang kokoh. Langkah sepatu kulitnya berbunyi konstan saat ia berjalan mendekati Arumi dari belakang.
Melalui pantulan cermin, mata abu-abu gelap milik Zean menatap sosok Arumi. Binar kepemilikan yang teramat pekat menyatu dengan kehangatan terselubung yang hanya ia perlihatkan pada wanita itu seorang.
"Apakah pengawalan ketat dan ketatnya barikade Baret Hitam ini membuatmu merasa terkekang, Sayang?" suara Zean mengalun rendah, bernada lembut tepat di samping telinga Arumi.
Arumi membalikkan badannya perlahan, mendongak dan menatap langsung ke dalam mata pria paling berkuasa itu dari balik cadarnya.
"Tidak, Raja Zean," jawab Arumi dengan suara lembut namun mantap. "Saya tidak merasa terkekang sedikit pun. Saya tahu... Anda sedang membangun benteng terkukuh untuk melindungi saya, keluarga saya, serta seluruh orang di rumah ini dari ancaman teror Kazan Vance."
Zean menyunggingkan senyum tipis—sebuah ukiran senyum yang sangat langka yang mampu membuat siapa pun terpesona. Ia merendahkan sedikit tubuhnya, menyelaraskan tingginya untuk menatap dalam-dalam iris mata Arumi. Tangannya yang tegap terangkat perlahan, mengusap dengan kelembutan luar biasa di tepi kain cadar Arumi.
"Tujuh hari dari sekarang, Arumi... kamu akan resmi menjadi Ratuku," bisik Zean penuh penekanan yang bergaung di dada Arumi. "Tidak akan ada lagi masa lalu yang mengejarmu, tidak ada lagi pengkhianatan yang melukaimu, dan tidak akan ada iblis dari jaringan Marco Vance yang mampu menyentuhmu. Aku sendiri yang akan mematahkan tangan siapa pun yang berani mengganggu atau menodai hari bahagia kita."
Dada Arumi berdesir hangat. Di balik aura dark, dominasi mutlak, serta reputasinya yang dikenal kejam di mata dunia, ada rasa aman luar biasa yang melingkupi jiwa Arumi. Seluruh rasa takut atas bayang-bayang ancaman masa lalu seolah menguap begitu saja saat berdiri di dekat pria ini.
Sementara itu, di sudut ruangan sepi yang terisolasi di lantai bawah...
Aurelia berdiri terhimpit di balik tirai bludru tebal. Wajah cantiknya kini memerah padam dipenuhi rasa dengki, dan napasnya memburu cepat. Matanya yang berkilat racun mengintip ke arah aula tengah, menyaksikan lalu lalang pelayan yang mengangkut kotak-kotak perhiasan berlian, tumpukan kain sutra mahal, serta penghormatan agung yang ditujukan khusus untuk Arumi.
Melihat Arumi yang dulu ditindas kini diagungkan bagaikan seorang Ratu oleh Penguasa Dunia seperti Raja Zean, membuat hati Aurelia bagaikan teriris-iris oleh belati kecemburuan.
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel rahasia di dalam saku gaunnya kembali bergetar hebat. Aurelia menyapu layar ponselnya dengan gerakan terburu-buru lalu menempelkannya erat ke telinganya.
"Halo, Pa! Mama!" bisik Aurelia panik dengan nada suara sarat akan kekesalan dan ketakutan. "Semuanya makin parah dan di luar kendali! Pernikahan Arumi sama Raja Zean dimajukan jadi tujuh hari lagi! Pengawalan Baret Hitam ketat banget... Aurel bahkan gak bisa menyusup atau mendekat ke kamar rias Arumi!"
Dari seberang saluran telepon, suara berat milik Baron—pria yang dulu berpura-pura tewas di tebing dan sebenarnya merupakan kaki tangan mafia kepercayaan kelompok Vance—terdengar terkekeh pelan dengan nada dingin dan penuh intrik.
"Tenanglah, Aurelia. Jangan biarkan amarah kekanak-kanakanmu merusak rancangan besar yang sudah kita susun," jawab Baron tenang. "Pernikahan kilat yang dipaksakan berarti persiapan yang terburu-buru. Dan di dalam situasi yang terburu-buru, setinggi apa pun benteng Raja Zean, selalu ada celah keamanan yang bisa kita masuki."
"Tapi Pa, Zean itu gila! Dia memeriksa semua barang, pakaian, bahkan bahan makanan yang masuk ke rumah ini lewat pemindai biometrik!" potong Aurelia frustrasi.
"Kita tidak akan foolish dengan menyerang Arumi di dalam kediaman Vardhana," sahut Melissa—ibu kandung Aurelia yang ikut mendengarkan di saluran yang sama. "Kami sudah berkoordinasi secara langsung dengan Tuan Kazan Vance. Anak dari Marco Vance itu telah menyiapkan armada tempur siber tingkat tinggi serta puluhan pasukan bayangan elit. Mereka akan melakukan sabotase besar-besaran saat rombongan pengantin bergerak menuju lokasi akad nikah."
Mata Aurelia yang tadinya redup mendadak berbinar oleh ketamakan jahat yang membakar jiwanya. "Maksud Papa dan Mama... kita bakal bikin skenario kecelakaan mematikan seperti belasan tahun lalu?"
"Lebih mengerikan dari sekadar kecelakaan tebing," jawab Baron dengan nada bicara dingin tanpa kemanusiaan. "Tugasmu dari dalam mansion sangat sederhana: manfaatkan kelalaian kecil untuk menukar sampel obat herbal harian Arumi dengan zat pelemah syaraf, atau lumpuhkan sistem pemancar navigasi di dalam mobil utama yang akan dikendarai Arumi pada hari H. Biarkan pasukan Kazan menculik Arumi di tengah kekacauan, dan saat kediaman Vardhana hancur berantakan... kita akan bergerak menguras seluruh aset dan sertifikat kekayaan keluarga ini!"
Aurelia mengumbar senyuman culas yang sangat licik. Rasa iri yang menguasai pikirannya telah menutup rapat hati nuraninya.
"Aurel paham, Pa. Kali ini... Aurel gak akan biarkan Arumi lolos atau menikmati takhtanya!"
Aurelia mematikan sambungan telepon dengan napas lega dan perasaan puas. Ia membayangkan bagaimana hancurnya masa depan Arumi saat gaun pengantin mewahnya ternoda oleh darah dan penculikan di hari pernikahannya.
Namun, Aurelia yang buta oleh kesombongan sama sekali tidak menyadari satu hal yang teramat fatal...
Di lantai atas, di dalam ruang kerja pribadi yang senyap, Abi Vardhana berdiri kaku di balik meja kayunya. Di telinga ulama tua itu, terpasang sebuah earpiece nirkabel kecil bertransmisi khusus.
Melalui perangkat penyadapan sinyal mikro yang sebelumnya dipasang oleh Felix di sekeliling dinding mansion untuk memantau frekuensi asing, Abi Vardhana telah mendengarkan dan merekam seluruh percakapan rahasia antara Aurelia, Baron, dan Melissa tanpa terlewat satu kata pun.
Tangan Abi Vardhana yang memegang erat tongkat kayunya bergetar hebat. Bukan karena rasa takut, melainkan akibat kombinasi rasa sakit hati yang teramat dalam serta kekecewaan atas pengkhianatan anak angkat yang telah dibesarkannya dengan penuh kasih sayang.
Cklek.
Pintu ruang kerja terbuka pelan. Felix melangkah masuk, menyilangkan tangan di dada lalu membungkuk hormat ke arah Abi Vardhana.
"Kyai Vardhana," ujar Felix dengan suara tegas dan dingin. "Rekaman frekuensi percakapan rahasia tadi sudah tersimpan otomatis di dalam peladen enkripsi utama Baret Hitam. Raja Zean telah menerima salinannya."
Abi Vardhana menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan sembari memejamkan mata. Ketika matanya kembali terbuka, keteduhan yang biasanya ada di sana kini telah berganti menjadi tatapan dingin, tajam, dan penuh ketegasan bak seorang jenderal perang.
"Terima kasih, Nak Felix," ucap Abi Vardhana dengan suara rendah namun sangat berwibawa. "Selama belasan tahun ini, saya dan istri saya dibodohi oleh rasa bersalah palsu dan topeng kelakuan manis mereka. Kami mengabaikan putri kandung kami sendiri demi memanjakan anak dari pengkhianat."
Abi Vardhana menegakkan posisinya, menancapkan ujung tongkat kayunya ke lantai dengan mantap.
"Sampaikan pada Raja Zean... jangan ubah jadwal atau rute pengawalan hari H sedikit pun. Biarkan Aurelia merasa rencananya berjalan sempurna dari dalam. Biarkan Kazan Vance dan kedua orang tua busuk itu keluar dari sarangnya," perintah Abi Vardhana dengan mata berkilat tegas. "Perangkap untuk membongkar seluruh kebohongan mereka dan menyeret mereka ke dalam kehancuran... telah kita pasang!"
Felix tersenyum tipis, mengangguk penuh penghormatan atas keberanian ulama tua tersebut. Hari pernikahan kilat yang dijadwalkan tujuh hari lagi bukan lagi sekadar acara sakral penyatuan dua insan, melainkan panggung eksekusi terakhir untuk memusnahkan seluruh musuh yang berani mengusik kehidupan Arumi Vardhana.
kaburrrr...takut ad gempa lokal...
bikin pinisirin /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/