Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17.martabak telur
Keesokan paginya, suasana di dalam kamar utama terasa berbeda sejak matahari terbit. Suara gemericik air dari kamar mandi baru saja berhenti, menyisakan uap hangat yang tipis merayap keluar lewat celah pintu yang terbuka sedikit.
Damar melangkah keluar dengan handuk kecil yang tersangkut di lehernya. Pria itu sudah mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih yang belum dikancingkan sepenuhnya, memperlihatkan sedikit dada tegapnya. Rambut hitamnya yang masih basah diusapnya pelan dengan handuk.
Di atas kasur king-size, Naya masih meringkuk nyaman di balik selimut tebal. Hanya kepalanya yang kelihatan dengan rambut terurai berantakan di atas bantal.
Damar berjalan mendekati meja rias, mengambil botol parfum mewahnya, lalu menyemprotkannya dua kali di area leher dan pergelangan tangan. Namun, matanya melalui cermin raksasa terus-menerus melirik ke arah kasur. Naya sama sekali belum bergerak atau menunjukkan tanda-tanda bangun.
Damar berdeham keras. "Ehem!"
Tidak ada respons dari Naya. Hanya dengusan napas halus yang terdengar teratur.
Damar memutar tubuhnya, menatap guling pembatas yang masih membentang di tengah kasur. Pria itu mengelus dagunya, mencari alasan paling berwibawa untuk membangunkan istrinya tanpa kelihatan kalau ia sengaja ingin disapa.
"Naya," panggil Damar dengan suara berat dan dalam.
Naya hanya menggeliat kecil, menarik selimut hingga menutupi dagunya. "Eunggh... Lima menit lagi, Mas Kulkas... Saya lagi mimpi makan durian gratis..."
Damar melangkah mendekati tepi kasur. Pria itu mengepalkan tangannya di samping tubuh, menahan senyuman yang hampir meledak melihat tingkah menggemaskan istrinya saat bangun tidur. Namun, demi menjaga harkat dan martabat seorang CEO Diksara Group, raut wajahnya kembali disetrum menjadi kaku dan dingin.
"Ini sudah jam tujuh pagi," bentak Damar pelan, sengaja memajukan tubuhnya sedikit ke atas kasur. "Kamu tidak ingat kesepakatan rumah tangga? Istri harus menyiapkan pakaian suaminya."
Mata Naya mendadak terbuka lebar. Cewek itu langsung mendudukkan tubuhnya seraya mengucek mata dengan wajah polos. "Hah? Kesepakatan yang mana, Mas? Sejak kapan ada klausul saya harus nyiapin kemeja Mas Damar? Kan biasanya Mas milih kemeja sendiri dari lemari?!"
Damar mendadak membeku. Lidahnya kaku seketika. Maksud hati ingin mencari perhatian agar diajak bicara sejak pagi, malah skakmat gara-gara ingatan Naya yang terlalu tajam.
"Itu... aturan baru yang baru saja saya buat," kilih Damar dengan wajah kaku luar biasa, memalingkan pandangannya ke arah jendela kamar demi menutupi telinganya yang mulai berubah warna menjadi merah muda. "Sebagai bentuk profesionalisme kamu tinggal di rumah ini."
Naya menyandarkan punggungnya di kepala kasur, menyilangkan tangan di dada sambil menatap suaminya dengan pandangan jenaka yang mematikan.
"Aduh, Mas Damar Diksara..." goda Naya dengan cengiran khasnya. "Bilang aja Mas Kulkas ini mau dimanja sama istri kan? Pake bikin aturan baru segala! Alasan banget!"
"T-tidak ada yang minta dimanja!" bantah Damar cepat dengan suara menajam, merapikan kancing kemejanya yang sebenarnya sudah rapi dengan gerakan serba salah. "Saya cuma ingin efisiensi waktu!"
"Yaudah mana kemejanya? Mas kan udah pake kemeja putih tuh. Mau diganti kemeja warna merah cabai biar matching sama gengsi Mas?" tawa Naya pecah seraya melompat keluar dari kasur.
Damar mengepalkan jemarinya, merutuki bibirnya sendiri yang selalu kalah telak setiap kali berhadapan dengan ceplas-ceplos Naya. Namun di dalam hatinya yang paling dalam, melihat tawa riang Naya sejak pagi seperti ini sudah cukup untuk membuat suasana hatinya terang benderang sepanjang hari.
Siang harinya, pukul satu siang di Diksara Tower.
Andre melangkah masuk ke dalam ruang kerja megah sang CEO dengan membawa map dokumen penting. Namun, begitu melangkah di atas karpet tebal ruangan tersebut, Andre menyadari ada hal yang tidak biasa dari bos besarnya.
Damar sedang duduk di balik meja kerjanya yang luas. Di tangannya, pria itu memegang sebuah katalog cincin berlian eksklusif terbitan terbaru dari Paris. Bukannya memeriksa laporan analisis saham atau proyek pembangunan dermaga baru, mata tajam Damar justru fokus menatapi deretan gambar perhiasan mewah itu.
Andre menyunggingkan senyum bermakna, berdeham pelan seraya meletakkan map di meja. "Ekhem. Pak Damar, laporan kuartal keempat sudah siap ditandatangani."
Damar tersentak pelan, buru-buru menutup katalog tersebut dengan gerakan cepat yang dibuat-buat seolah-olah sedang membaca dokumen rahasia negara.
"Letakkan di sana," ujar Damar dingin, pura-pura menyambar penanya.
"Bapak mau beliin hadiah perhiasan lagi buat Bu Naya?" goda Andre tanpa rasa takut. "Padahal kemarin lusa rekap transaksi Black Card buat bros mutiara dan pakaian mewah Bu Naya udah lumayan tebal, Pak."
Damar menatap sekretaris pribadinya itu dengan mata menyipit tajam. "Siapa yang mau membelikan perhiasan untuk dia? Saya cuma memeriksa katalog mitra bisnis Diksara Group."
Andre tertawa kecil dalam hati. Alasan klasik Pak Damar! Dari dulu kalau lagi gengsi pasti bawa-bawa nama 'mitra bisnis'!
"Oh, begitu ya Pak? Padahal tadi pagi Bu Naya sempat telepon ke kantor lewat resepsionis," ucap Andre sengaja memasang umpan.
Seketika itu juga, gerakan pena Damar berhenti di udara. Pria itu mendongak cepat, matanya berbinar menatap Andre dengan rasa ingin tahu yang meluap-luap. Namun, dalam hitungan detik, Damar berusaha menekan antusiasmenya kembali ke tingkat nol.
"Untuk apa dia menelpon ke kantor?" tanya Damar dengan nada pura-pura tidak peduli, walau tangannya memegang pena dengan sangat erat.
"Katanya cuma mau menanyakan... Bapak nanti malam pulang jam berapa. Bu Naya bilang dia mau minta diantar beli martabak telur di pinggir jalan yang kemarin sempat tertunda gara-gara urusan Bagas," terang Andre lancar.
Dada Damar mendadak bergemuruh hangat. Sebuah sunggingan senyum tipis yang sangat tampan hampir saja mengembang di bibirnya. Naya menelponnya hanya untuk mengajak makan di pinggir jalan lagi!
Namun, tentu saja sang CEO tidak boleh terlihat gampang luluh.
Damar membetulkan letak dasinya, merapikan posisi duduknya agar terlihat sangat berwibawa. "Beritahu dia, jadwal saya sangat padat malam ini. Saya tidak ada waktu untuk urusan makanan pinggir jalan seperti itu."
Andre menaikkan sebelah alisnya, heran dengan jawaban bosnya yang bertolak belakang dengan raut wajahnya yang berbinar. "Beneran Pak? Nanti kalau Bu Naya ngambek atau pergi sendiri gimana?"
Damar membeku sejenak. Pikiran tentang Naya yang nekat keluar malam sendirian tanpa pengawasannya langsung membuat naluri protektifnya menyala hebat.
"Tapi..." Damar berdeham keras, mengalihkan pandangannya ke luar jendela kaca besar. "...karena keselamatan dia adalah tanggung jawab saya selama masa kontrak ini, batalkan rapat malam dengan jajaran direksi. Saya akan pulang pukul lima sore."
Andre hampir saja menumpahkan tawanya di depan meja kerja bosnya. Gila! Demi nemenin istri beli martabak di pinggir jalan, rapat penting direksi langsung dibatalkan! Tapi bilangnya demi 'tanggung jawab kontrak'! Dasar Pak Damar, gengsi kok dipelihara sampai ke akar-akarnya!
"Siap, Pak Boss! Rapat jam tujuh malam akan saya jadwalkan ulang minggu depan," jawab Andre seraya membungkuk hormat dan berjalan keluar dari ruangan dengan senyum-senyum sendiri.
Pukul lima sore lebih sedikit, mobil sport hitam milik Damar sudah menderu memasuki halaman mansion Diksara. Pria itu turun dari mobil dengan langkah cepat, merapikan jasnya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Di ruang tengah, Naya sedang asyik rebahan di atas sofa sambil menonton acara kuis di televisi dengan semangkuk kripik di pangkuannya.
Damar berjalan mendekat, menghentikan langkahnya tepat di belakang sofa tempat Naya berbaring. Pria itu sengaja merapikan jam tangannya hingga berbunyi klak-klik pelan demi memancing perhatian istrinya.
Naya menoleh ke belakang. Matanya membelalak kaget. "Loh? Mas Kulkas? Kok jam segini udah pulang? Perusahaan Mas enggak lagi bangkrut kan?"
Damar mendengkus pelan, menatap Naya dari atas sampai bawah. "Andre bilang kamu menelpon ke kantor."
Naya mengedipkan matanya polos. "Iya, tadi siang saya telepon. Mau nanya Mas pulang jam berapa. Soalnya saya ngidam martabak telur yang ada kuah cuka dan acar bawangnya itu loh, Mas!"
Damar menarik napas dalam-dalam, berpura-pura memasang raut wajah lelah dan terpaksa. Ia merenggangkan dasinya sedikit demi memberikan kesan bahwa ia baru saja mengorbankan waktu berharganya.
"Saya sebenarnya sangat sibuk malam ini," ujar Damar dengan suara beratnya yang sok dingin. "Ada tiga rapat penting yang terpaksa saya geser hanya karena tidak mau kamu keluyuran sendiri malam-malam."
Naya mendudukkan tubuhnya di sofa, menatap Damar dengan binar mata yang makin jenaka. Cewek itu sangat tahu dari Andre tadi siang bahwa jadwal Damar sebenarnya sudah selesai sejak sore, tapi suaminya ini selalu saja dramatis membawa alasan 'pengorbanan demi keselamatan'.
"Ooh... jadi Mas Damar rela ngebatalin rapat demi nganterin saya beli martabak nih?" goda Naya seraya memajukan wajahnya sedikit, memancing reaksi sang suami.
Wajah Damar seketika menegang. Telinganya mulai memancarkan warna merah khas setiap kali rasa gengsinya terancam.
"Saya melakukan ini demi menjaga ketertiban rumah tangga dan reputasi saya," kilih Damar tegas namun suaranya agak bergetar tipis. "Cepat ganti pakaian kamu. Saya tunggu di mobil lima menit."
Damar langsung berbalik badan, melangkah tegap menuju keluar rumah tanpa berani menatap mata Naya lagi.
Naya yang memperhatikan punggung tegap suaminya yang berjalan kaku langsung menepuk-nepuk busa sofa sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Bwahahaha! Aduh Mas Kulkas... Mas Kulkas! Mau PDKT aja muternya sejauh Benua Eropa dulu pakenya alasan rapat direksi segala!" jerit Naya tertawa puas seraya bergegas berlari ke kamar untuk berganti pakaian.
Di luar rumah, Damar menyandarkan tubuhnya di pintu mobil sport-nya, menatap langit sore Kota Medan dengan napas terengah pelan. Tangan tegapnya memegang dadanya sendiri yang berdetak jauh lebih kencang dari biasanya.
Pria yang biasanya mengendalikan transaksi bisnis bernilai triliunan rupiah itu kini hanya bisa pasrah menggelengkan kepalanya. Dinding gengsi tinggi yang ia bangun selama bertahun-tahun kini benar-benar retak parah, runtuh berkeping-keping hanya di depan seorang gadis yang berhasil mengacaukan seluruh dunianya.
_Bersambung