Seorang pemuda bernama Devan dia adalah seorang kurir paket yang hidup sederhana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah menemukan sebuah gelang giok misterius.
Sejak saat itu, keberuntungan mulai menghampirinya dan satu per satu wanita cantik memasuki kehidupannya.
Namun, siapa sebenarnya mereka dan mengapa semuanya terhubung dengan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Not men, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 : Saat Takdir Memilihku
"Van jangan bercanda, aku janji bakal cicil hutang ku, kamu udah bantu banyak, 300 juta itu uang yang banyak Van, kenapa kamu mau bantuin aku, itu kan hutang ibu ku, biar aku saja yang membayar nya" ucap Vivi saat mengetahui hutang nya lunas dari Bagas.
Namun Devan hanya mengulum senyum nya, dia menatap ke arah Vivi lantas menjawab "Sudah lah jangan terlalu di pikirkan, uang bukan lah apa-apa tapi ketenangan itu sangat mahal, jadi kau nikmatilah pekerjaan mu disini, gunakan uang gaji mu untuk hal yang lebih penting saja" jawab Devan.
Singkat cerita Devan berada di sebuah hutan bersama Malea serta Syafir dan Yunsi. Mereka menuju sebuah bukit, karena Devan mendapatkan sebuah petunjuk saat di alam spiritual nya.
"Di tempat itu!" ucap Devan seraya menunjuk ke arah satu tempat.
Devan serta Malea dan lain nya menuju ke sebuah batu besar, dimana Devan merasakan aura sesuatu di bawah batu tersebut, sesuai petunjuk dari Ki Amar, Devan pun lantas memecah batu besar itu dengan ilmu tenaga dalam nya.
Bugh!! Blaaarrrrr!!
Batu itu retak lalu pecah berserakan. Benar saja disana terdapat sebuah kotak yang terbungkus kain putih, yang sudah lapuk dan usang, serta kotor oleh tanah.
"Aura energi nya sangat kuat!" ucap Malea.
"Apa ini?" ucap Devan
Devan perlahan membuka bungkusan kain itu perlahan, terlihat jelas kini sebuah kotak hitam seukuran empat telapak tangan orang dewasa. Devan membuka kotak itu, aura magis begitu terasa kental di dalam nya. Devan memandangi sebuah keris memiliki tujuh lekukan di bilah nya.
"Sangat hebat! Aura ini begitu kuat" ucap Devan saat dia memegangi keris tersebut.
"Itu sebuah keris yang sengaja di tinggalkan oleh ki Amar untuk mu tuan!" timpal Malea.
"Sebaik nya kita kembali terlebih dulu!" sambung Devan
Namun saat mereka hendak kembali, beberapa siluman datang begitu saja ke hadapan mereka.
"Siluman ular!" ucap Malea.
Devan bersiaga, seraya tangan nya menggenggam erat keris itu, begitu pun yang lain nya mereka memasang kuda-kuda, bersiap jika ada serangan yang mendadak dari beberapa siluman ular itu.
"Mau apa kalian!?" tanya Devan
Seorang siluman ular itu maju selangkah, dan menjawab. "Kalian sudah mengganggu ketenangan kami selama ini, terlebih kalian berani mengambil keris yang sudah ratusan tahun kami jaga" jawab sang siluman.
"Apa maksud kalian, ini adalah barang milik ki Amar, dan dia sendiri yang menyuruh ku untuk membawa benda ini" jawab Devan
Tanpa berbasa-basi siluman ular itu melesatkan sebuah bilah tajam seperti pisau, ke arah Devan
Swingg!!
Devan menghindar, dan di saat itu lah pertarungan pecah, Devan melawan siluman ular itu, sementara Malea, Syafir dan Yunsi melawan sisa nya.
Wushhh!! Wushhh!! Blarrrr!!
Pertarungan tenaga dalam itu, memporak porandakan area sekitar, Keadaan sama seperti saat bertarung dengan eyang Suro, awan berubah mendung serta guntur saling bersahutan. Di sertai angin yang bertiup kencang, dan hujan deras yang membasahi area itu, sehingga desa pun kembali terkena imbas nya.
"Sialan siapa kalian!?" ucap Devan
"Kami penunggu keris keramat itu, itu memang milik ki Amar, namun kami harus memastikan, bahwa kau memanglah orang yang terpilih itu!" ucap siluman ular itu.
Siluman ular dengan pakaian ala kerajaan jaman dulu, berwarna hijau senada dengan selendang dan bawahan nya. empat siluman ular penjaga keris keramat, yang di tugaskan oleh ki Amar langsung.
Swingg!! Swingg!! Blarrr!!
Suara ledakan dari bola api, yang di lemparkan oleh siluman ular itu hampir saja mengenai Devan, Untung saja Devan gesit dan menghindar, kemudian Devan menerjang ke arah Siluman ular itu dengan cepat, sehingga Devan mencekik nya, dan memiting nya dari belakang.
Namun tak sengaja Devan mencengkram gundukan empuk, milik siluman ular itu. Sehingga membuat wajah siluman ular itu memerah, namun sesaat kemudian dirinya naik pitam karena Devan tak sengaja menyentuh bagian sensitive tubuh nya.
"Dasar mesum!" ucap siluman ular itu membalikan badan nya.
Namun bukan nya menjauh Devan malah terpeleset, sehingga membuat nya terhuyung ke belakang, dan membuat siluman ular itu ikut jatuh bersama nya.
Brugggh!!
Tak sengaja tubuh siluman ular itu, menimpa tubuh Devan dan Tepat wajah nya berhadapan dengan wajah Devan sehingga, mereka berdua tak sengaja saling berciuman. Hingga beberapa lama, mereka berdua sadar, siluman ular itu segera menyingkir dan berguling ke belakang.
"Sial! Dasar mesum, kau sengaja bukan!!" ucap siluman ular itu dengan kesal.
"Astaga!! Kau yang sengaja, kenapa menyalahkan ku!!" jawab Devan
Hal itu tak terlihat oleh yang lain nya, karena kabut tebal Ghoib yang sengaja siluman ular itu munculkan. Untuk mengelabui lawan nya. Namun itu tak berpengaruh sama sekali, bagi Devan serta yang lain nya. Pertarungan kembali terjadi, hingga tiba dimana siluman itu kelelahan karena Devan, tak kunjung bisa dia lukai.
"Siapa kau sebenar nya!" tanya siluman ular itu.
"Astaga kau itu bodoh atau lupa, sudah ku bilang aku ini di perintahkan langsung oleh ki Amar!" jawab Devan.
Wajah siluman ular itu memerah memalingkan wajah, meskipun tertutupi kabut, namun itu tetap saja membuat nya malu. Betapa bodoh nya dia bertanya hal itu, sudah sejak dari awal, Devan katakan bahwa dirinya di perintah oleh ki Amar, dirinya dengan polos nya kembali bertanya siapa Devan.
"Baiklah, aku mengakui kekalahan ku namaku nyai Wangsih, dan tiga teman ku nyai Nawang, nyai Awung dan nyai Arsih, kami di tugaskan khusus untuk menjaga keris tersebut oleh ki Amar" jelas siluman bernama Wangsih itu.
Nyai Wangsih memanggil teman-teman nya dan memberitahukan, bahwa benar Devan adalah orang suruhan serta murid dari ki Amar. pertarungan yang sangat menguras energi, namun kejadian tadi masih menghantui pikiran Wangsih serta Devan. Setiap diri nya mengingat itu membuat wajah nya memerah.
"Sial bisa-bisa nya tadi itu!" batin Wangsih.
Hujan kini sudah mereda badai pun berlalu, cuaca kembali cerah. Namun menyisakan bekas dan jejak pertarungan yang memporak-porandakan hutan itu, warga hanya akan mengira bahwa itu hanya akibat badai saja. Namun kenyataan nya tempat itu di akibatkan oleh ulah Devan serta Malea, Syafir dan Yunsi serta para siluman.
"Karena kami telah kalah, kami akan mengabdikan diri kepadamu tuan!" ucap Wangsih selaku pemimpin siluman ular itu. Devan terkejut saat mendengar itu, hal ini di luar prediksi nya.