NovelToon NovelToon
Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Pembalasan Raden Roro: Kubuat Suamiku Jadi Gembel

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Romansa pedesaan
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.

Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.

Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.

Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.

Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.

Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — Tamu di Teras (Revisi)

“Mbak Raras, saya nggak mau ada yang disembunyikan.”

Niken berdiri di teras dengan kotak lapis legit di kedua tangan. Blus krem, rambut tergerai rapi, dan senyum yang tampak sudah dilatih agar tidak terlihat mengancam. Jam di ruang tamu menunjukkan pukul sembilan lewat tiga menit.

Raras membuka pintu. Halaman kedua surat itu sudah dibacanya sebelas kali semalam. Matanya perih seperti diusap pasir, sementara bedak tipis yang ia pakai pagi itu tidak cukup untuk menyamarkan bengkaknya.

“Silakan masuk, Mbak Niken.”

Niken melangkah masuk dan meletakkan kotak itu di meja.

“Lapis legit. Kesukaan Mas Danang, jadi saya pikir...”

“Aku tahu itu kesukaannya, Mbak. Tiga tahun aku yang membelikan.”

Niken menelan ludah. “Maaf.”

“Jangan minta maaf padaku. Minta maaf pada kuenya, sudah dibawa ke rumah yang salah.” Raras memalingkan wajah sebelum suaranya patah. “Duduklah. Aku buatkan teh.”

“Ras.” Danang muncul dari ruang tengah dengan kemeja yang sama seperti semalam. “Niken itu tamu.”

“Aku tahu cara memperlakukan tamu, Mas. Yang belum kupelajari adalah cara memperlakukan perempuan yang menunggu suamiku di rumah mertuaku.”

“Jaga bicaramu.”

“Aku sedang menjaganya. Kalau tidak, kalimatku akan jauh lebih kasar dari ini.”

Di dapur, air panas dari ketel tumpah ke baki karena tangan Raras tidak mau diam. Ia meletakkan ketel, lalu menekan telapak tangannya ke meja sampai gemetarnya mereda. Ia tidak ingin kembali ke ruang tamu dengan membawa teh yang tumpah. Pagi ini, ia sudah cukup dipermalukan tanpa perlu memberi siapa pun alasan untuk mengasihaninya.

Pintu dapur berderit.

“Ras, jangan jadikan ini sidang.”

“Sidang itu kamu yang siapkan tiga hari lalu, Mas.” Raras tidak menoleh. “Keluar dari dapurku. Tempat ini yang kamu cari kalau lapar, tapi baru sekarang kamu menyuruhku berhenti.”

Danang keluar tanpa bicara.

Raras menyeka tangannya, mengatur napas, lalu kembali dengan tiga cangkir porselen di atas nampan. Ia meletakkan satu di depan Niken dan satu lagi di depan Danang. Cangkir Danang polos, tanpa gula batu, seperti yang selalu ia siapkan selama tiga tahun terakhir.

Danang menatap cangkir itu sebentar.

“Mangga, Mbak, dipun unjuk rumiyin (silakan, Mbak, diminum dulu).”

“Matur nuwun, Mbak (terima kasih).” Niken meraih cangkirnya, tetapi segera menurunkannya lagi. “Mbak, saya nggak datang untuk berantem. Tapi Mas Danang bilang, selama tiga tahun terakhir dia nggak pernah merasa pulang.”

Cangkir di tangan Raras berdenting pada tatakannya.

“Nggak pernah pulang.” Ia mengulang kata-kata itu, lalu menatap suaminya. “Tiga tahun aku bangun jam empat, Mas. Menyiapkan sarapanmu, menyetrika kemejamu, menjawab telepon Ibumu waktu beliau menyindirku. Aku melakukan semuanya tanpa mengadu. Lalu kamu bilang kamu tidak pernah merasa pulang?”

“Bukan begitu maksudku.”

“Lalu apa maksudmu?” Suaranya pecah di ujung kalimat. Ia menekan jemari ke pelipis, berusaha menahan air mata yang kembali mendesak. “Rumah ini bukan rumah, atau aku yang bukan tempat pulang?”

“Kamu selalu begini. Semua hal kamu anggap salahku.”

“Salahmu itu fakta, Mas, bukan tuduhan. Aku tidak perlu membuatnya.”

Danang menggeser duduknya, lalu menyandarkan punggung pada sofa.

“Aku butuh orang yang bisa bicara sejajar di depan Pak Hartono, Ras. Niken bisa.”

“Aku juga bisa. Kamu yang tidak pernah memberiku kursi.”

“Karena aku nggak mau kamu ikut capek, Ras.”

“Itu alasan yang bagus kalau tidak dipakai untuk membuatku merasa kecil.”

“Jangan menyerang Niken.”

“Aku belum menyerang siapa pun.” Raras tertawa pendek. Suaranya serak, dan air matanya jatuh tanpa permisi. “Dari tadi yang membela dia justru kamu. Aku bahkan belum sempat mengeluh.”

Niken menunduk. Kedua tangannya kini menggenggam cangkir yang tehnya belum disentuh.

“Mbak, saya cuma mau Mbak tahu, saya akan menjaga Mas Danang.”

“Menjaga?”

“Iya, Mbak. Kalau Mbak sungguh mencintai dia, Mbak akan melepasnya.”

Raras menatap Niken lama. Tangannya mengepal di pangkuan sampai kukunya menancap ke telapak.

“Jangan ajari aku soal mencintai, Mbak. Kamu belum pernah menunggu seseorang sampai tengah malam dengan sepiring nasi goreng yang sudah dingin.” Suaranya turun, lebih tajam daripada bentakan. “Dia bukan barang titipan, Mbak.”

Raras menyeka pipinya dengan punggung tangan, tetapi air matanya terus jatuh.

“Kalau dia memang perlu dijaga, kenapa dia tidak berani bicara di depanku sebelum menandatangani surat itu?”

“Itu bahasa hukum, Ras,” sela Danang. “Pengacara yang menulisnya.”

“Ada satu kalimat di halaman dua yang tidak akan kutandatangani.”

“Itu cuma rumusan.”

“Itu penghinaan, Mas. Kalimat itu membuatku seolah-olah aku yang gagal.” Raras mengangkat wajah. Matanya merah, tetapi tatapannya tidak lagi goyah. “Selama tiga tahun aku berdiri di belakangmu supaya kamu tidak jatuh. Sekarang kamu mau aku menandatangani surat yang menyatakan akulah penyebabnya?”

Danang mengatupkan rahang. Ia tidak membantah, tetapi juga tidak mengiyakan. Tatapannya beralih ke map yang tergeletak di dekat kakinya.

“Mbak,” bisik Niken, “Ibu bilang Mbak itu perempuan baik. Ibu nggak mau Mbak sakit hati.”

“Ibu?”

Niken tersentak. “Maaf. Maksud saya, Bu Marlina.”

“Tidak apa-apa.” Raras berdiri. Lututnya terasa lemas, tetapi ia tidak berpegangan pada apa pun. “Tiga tahun aku memanggil beliau Ibu. Baru pagi ini aku tahu ada orang lain yang boleh.”

“Ras, jangan dibesar-besarkan.”

“Aku tidak membesar-besarkan, Mas. Aku sedang menghitung.” Ia menoleh kepada Niken. “Berapa kali Mbak bertemu Ibu?”

“Beberapa kali.”

“Di rumah beliau?”

“Iya.”

“Dan Mas tahu?”

Danang menatap lantai. “Tahu.”

Raras mengangguk pelan. “Jadi, Ibu ingin aku tahu dari siapa? Dari mulut Mbak Niken?”

“Ibu cuma ingin semuanya jujur.”

“Jujur kepada siapa, Mas? Aku orang terakhir yang tahu.”

Raras kembali mengangguk. Dadanya terasa seperti diinjak, tetapi anehnya, jawaban itu justru membuat napasnya sedikit lega. Setidaknya, ia tidak perlu lagi menghabiskan waktu untuk menebak-nebak apakah dirinya sedang berprasangka buruk.

“Ras, duduk dulu. Tanganmu gemetar.”

“Tanganku gemetar karena tiga tahun, Mas. Bukan karena teh.”

“Mbak, saya benar-benar nggak merencanakan semua ini,” kata Niken lirih.

“Kalau begitu, hidup punya selera humor yang kejam.” Raras memejamkan mata sejenak. “Gusti, kula nyuwun sabar (Tuhan, saya mohon kesabaran).”

Ia mengangkat nampan untuk membereskan cangkir, tetapi tangannya bergetar lebih keras dari yang ia kira. Teh panas tumpah dan menyiram punggung tangannya.

“Mbak!” Niken langsung berdiri.

Raras menahan desis. Kulitnya memerah, rasa perih menjalar sampai ke pergelangan. Ia menatap Danang. Lelaki itu setengah bangkit dari sofa. Matanya tertuju pada tangan istrinya, lalu beralih kepada Niken. Setelah itu, ia tidak bergerak lagi.

Niken yang akhirnya meraih serbet dan menyodorkannya.

“Mbak, ke dapur. Saya antar. Pakai air dingin.”

“Aku bisa sendiri.”

“Kulit Mbak sudah melepuh,” kata Niken. Serbet itu masih terulur di tangannya.

Raras tidak mengambilnya. Ia membiarkan tangannya yang perih tergantung di sisi tubuh.

“Dapur ini sudah sering mengajariku, Mbak. Besok juga sembuh.”

“Kamu nggak apa-apa, Ras?” tanya Danang akhirnya.

“Terlambat, Mas.” Raras mengambil serbet dari tangan Niken dan menyeka kulitnya dengan hati-hati. Matanya panas, dan kali ini ia tidak berusaha menahan air mata. “Tiga hari surat itu kamu simpan di tas, dan tiga detik pun kamu tidak sanggup bangun dari sofa. Aku tidak minta dipeluk. Aku cuma minta dilihat.”

“Aku refleks, Ras.”

“Refleksmu menjelaskan banyak hal.”

“Kamu mulai bikin ini jadi drama.”

“Drama?” Raras mengangkat tangannya yang memerah. “Ini yang Mas sebut drama?”

“Kemarin kamu datar. Hari ini kamu menangis di depan tamu. Aku nggak ngerti kamu maunya apa.”

Raras menatapnya, mencoba memahami bagaimana lelaki yang tinggal bersamanya selama tiga tahun bisa mengucapkan kalimat itu tanpa melihat apa yang baru saja terjadi.

“Aku maunya jadi manusia, Mas. Kemarin aku menahan diri supaya Mas tidak merasa bersalah. Hari ini aku sudah tidak mau menahan apa-apa lagi.”

Danang membuka mulut, tetapi tidak jadi bicara.

“Aku minta dua hal.” Raras menegakkan punggung. “Pertama, selama aku belum selesai membaca surat itu, jangan bawa Niken ke rumah ini lagi. Kedua, jangan sebut aku datar di hadapanku.”

“Ini rumahku juga.”

“Kalau begitu, hormati penghuninya yang lain.”

Niken menatap Raras dengan mata berkaca-kaca.

“Saya mengagumi Mbak, jujur. Saya nggak yakin bisa sekuat itu.”

“Tidak perlu sekuat aku, Mbak. Semoga Mbak tidak pernah perlu belajar caranya.”

Niken tersentak. Danang menoleh cepat kepada Raras, seakan baru mendengar nada yang tidak pernah ia kenal dari istrinya.

“Mbak Niken.” Suara Raras kembali tenang, meski ketenangan itu terdengar rapuh. “Terima kasih sudah berani datang dan jujur. Sekarang pulanglah. Yang belum selesai akan kuselesaikan dengan suamiku, bukan dengan tamunya.”

“Saya nggak bermaksud....”

“Aku tahu. Karena itu aku mengatakannya baik-baik.”

Niken meraih tasnya. Ponselnya berdering sebelum ia sampai ke pintu. Layarnya menyala, menampilkan satu kata: Ibu.

Danang menegang di sofa.

“Itu Ibu?” tanyanya.

“Biasanya Ibu menelepon Mas kalau ada urusan,” kata Raras. “Kenapa pagi ini yang dicari Mbak Niken?”

“Aku nggak tahu.”

“Mas tidak tahu, atau tidak mau tahu?”

Raras menoleh kepada Niken. “Angkat saja, Mbak. Silakan.”

Niken ragu sesaat, lalu menekan tombol hijau. Karena terburu-buru, pengeras suara ikut tersentuh.

“Nggih, Bu (iya, Bu).”

Suara perempuan paruh baya terdengar jelas di seluruh ruang tamu. Suara yang Raras kenal sampai ke tarikan napasnya.

“Nduk, sudah ketemu Raras? Jangan mau dibikin kecil hati, ya, Nduk. Ibu di belakangmu.”

Serbet di tangan Raras berhenti tepat di atas kulitnya yang memerah.

Tiga tahun, dan sekali pun Marlina tidak pernah memanggilnya Nduk.

1
Muft Smoker
lanjuuut kak
Nurlaila Hidayah
Dia lah yg telah membersihkan jalan untuk ku mempermudah usahaku tnpa adanya hambatan, tapi dengan tidak tahu malu dan tidak tahu diri nya, diri ini berani untuk menduakan dan menceraikan demi wanita lain. padahal dia yg telah membantu usahaku
Sri Widiyarti
lanjut thor semangat up-nya
Erchapram: Mohon sabar menunggu ya Kak, karena aku sedang revisi mulai bab 1. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Sri Widiyarti
Danang kesuksesanmu ternyata bantuan istri yang kau ceraikan demi perempuan lain..
Erchapram
Yang sudah baca sampai bab ini, boleh gak sih aku minta bintang limanya 🙏 Makasih banyak sebelumnya.
Sri Widiyarti
lanjut thor jangan lama2 🙏
Erchapram: Iya, Kak. Terima kasih supportnya 🙏
total 1 replies
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
Raras udh mulai bergerak ,,
Baek chanhun
next thort 💪💪
Muft Smoker
baruuu ini ad cerita byk pake bahasa daerah ,, cerita ny bagus kak ,,
lanjuut
Muft Smoker
hai kak ,, mampir aq ,,
Baek chanhun
thank, saran nya di terimah, yg bab tarakhir itu flasback ya.
🙏💪
Erchapram: Terima kasih kembali Kak dan iya, itu flashback.
total 1 replies
Baek chanhun
senang banget ada bahasa daerah, tapi, kalo ada artinya lebih bagus lagi, gua orang luar jawa ng ngerti apa.yg.di omongin, 🙏🙏
Erchapram: Sudah aku revisi Kak, bisa dibaca ulang. Terima kasih.😍
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Soraya
hadir thor lanjut
Baek chanhun
lanjutkan thort. 💪💪
Erchapram: Baik... terima kasih supportnya.
total 1 replies
Ma Em
mampir Thor , buat Danang menyesal karena sdh menduakan Raras .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!