NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Cegil

Batas Obsesi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Teen School/College / Romantis
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.

Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.

Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.

Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenangan Masa Kecil 30.

Udara sore di Taman Ria Remaja terasa lembap setelah diguyur hujan siang tadi. Tempat ini tidak banyak berubah. Komidi putar dengan cat yang mulai mengelupas, aroma brondong jagung manis yang terbakar, dan derit tiang ayunan besi yang berkarat masih sama seperti sepuluh tahun lalu.

Livy berjalan di samping Rayhan, sesekali melompat kecil untuk menghindari genangan air di paving blok.

Di tangan kanannya, sebuah kembang gula merah muda berukuran besar mulai mengempis terkena angin.

"Kamu sengaja ya mengajakku ke sini supaya saya terlihat seperti anak TK lagi?" Livy mencibir, namun matanya tidak bisa menyembunyikan binar antusias.

Rayhan terkekeh, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket denimnya. "Kalau mau jadi anak TK, harusnya kamu nangis dulu minta dibelikan balon gas. Tadi kan tidak."

Livy mendengus, tetapi sudut bibirnya terangkat.

Hari ini terasa... aneh bagi Livy.

Selama hampir dua tahun terakhir, akhir pekan nya selalu diisi dengan skenario tunggal, memata-matai jadwal latihan basket Galang, nongkrong di kafe seberang tempat les Galang hingga lumutan, atau menggulir tiada henti feeds Instagram teman-teman Galang demi mencari tahu cowok itu sedang ada di mana. Hidup Livy berputar pada poros yang melelahkan.

Namun hari ini, untuk pertama kalinya, ponsel Livy tersimpan rapat di dasar tas. Tidak ada notifikasi tentang Galang. Dan anehnya, dadanya tidak merasa sesak seperti biasanya.

"Livy, lihat," Rayhan menunjuk sebuah bangku kayu di bawah pohon beringin besar. "Bangku tempat kamu menangis waktu kelas tiga SD karena es krimmu jatuh, lalu menuduhku yang menyenggolnya."

"Kan memang kamu yang menyenggolnya!" seru Livy membela diri.

"Saya cuma lewat membawa sepeda, Liv. Kamu sendiri yang melamun melihat tukang mainan," Rayhan menggeleng-gelengkan kepala, senyum jahil terukir di wajahnya. Namun, tatapannya perlahan melembut. "Tapi hari itu, saya akhirnya memberikan jatah es krimku untukmu, kan?"

Livy tertegun. Memori itu berputar kembali di kepalanya. Dia ingat bagaimana Rayhan kecil, dengan lutut yang kotor karena bekas jatuh dari sepeda, menyodorkan es krim cokelatnya yang mulai meleleh dengan wajah cemberut namun tulus.

Rayhan selalu ada di sana. Di setiap sudut masa kecilnya, di setiap transisi hidupnya. Mengapa selama ini dia bisa menutup mata dari kehadiran cowok ini?

"Kenapa melamun?" tanya Rayhan, memutus lamunan Livy. Cowok itu kini berdiri tepat di depannya, menatapnya dengan sepasang mata teduh yang selalu memancarkan rasa aman.

"Tidak apa-apa," Livy berdeham, mendadak merasa gugup—perasaan yang jarang ia rasakan jika berada di dekat Rayhan. "Saya cuma berpikir.. kamu tidak bosan ya, berteman dengan saya?"

Rayhan menaikkan sebelah alisnya. "Bosan? Kadang-kadang sih, kalau kamu kumat membicarakan—" Rayhan sengaja menggantung kalimatnya, menjaga perasaan Livy agar tidak menyebut nama Galang. "—tapi tidak, saya tidak pernah bosan."

Mereka berjalan menuju area komidi putar. Karena ini hari menjelang malam di akhir pekan yang basah, pengunjung tidak terlalu ramai. Rayhan membeli dua tiket, lalu menuntun Livy menaiki salah satu replika kuda poni kayu berwarna putih.

"Saya bukan anak kecil, Ray! Saya bisa naik sendiri," protes Livy saat tangan Rayhan sempat menahan pinggangnya untuk membantu naik.

"Hati-hati, besinya licin habis hujan," kata Rayhan tenang. Dia sendiri memilih berdiri di samping kuda Livy, memegangi tiang besi penopang, alih-alih naik ke kuda lain.

Saat mesin mulai berputar lambat dan lagu instrumental anak-anak menggema dari pengeras suara yang cempreng, lampu-lampu kuning temaram di atas mereka mulai menyala. Angin sore menerpa wajah Livy, menerbangkan beberapa helai rambutnya.

Livy menunduk, memandangi Rayhan yang berdiri di dekatnya. Dari jarak sedekat ini, Livy baru menyadari betapa bahu Rayhan sudah tumbuh menjadi lebih lebar. Garis rahang cowok itu tampak tegas diterpa cahaya lampu kekuningan. Tidak ada lagi Rayhan kecil yang kurus dan cengeng. Di hadapannya kini adalah seorang cowok yang secara konsisten menjadi jangkar di tengah badai obsesi gilanya selama ini.

‘Kenapa saya harus mengejar seseorang yang berlari menjauh, sementara ada orang yang rela berjalan pelan di samping saya agar tidak tertinggal?’ Pertanyaan itu tiba-tiba melintas di benak Livy, menyentil pikirannya dengan keras.

Rasa nyaman yang merayap di dadanya terasa begitu nyata. Ini bukan rasa berdebar-debar penuh kecemasan yang biasa ia rasakan saat menunggu balasan pesan dari Galang.

Ini adalah rasa hangat, aman, dan damai. Rasa yang membuat Livy merasa bahwa dirinya berharga.

"Rayhan," panggil Livy lirih di antara derit komidi putar.

Rayhan menoleh, menatap ke atas, tepat ke dalam netra Livy. "Ya?"

Livy menelan ludah. Jantungnya tiba-tiba berdegup dengan ritme yang berbeda. Bukan karena terobsesi, melainkan karena sebuah kesadaran baru yang perlahan mekar. Untuk pertama kalinya, Livy melihat Rayhan bukan lagi sekadar sebagai 'sahabat masa kecil tempat pelarian', melainkan sebagai seorang cowok. Seorang pria yang punya ruang tersendiri di hatinya.

"Terima kasih untuk hari ini," ucap Livy. Senyum yang tersungging di bibirnya kali ini terasa lepas, tanpa beban, dan sepenuhnya tulus.

Rayhan sempat tertegun melihat senyuman itu—senyuman yang sudah lama tidak ia lihat dari Livy sejak cewek itu terjebak dalam pusaran rasa sukanya pada Galang. Perlahan, senyum di wajah Rayhan merekah lebar, memperlihatkan lesung pipit tipisnya.

"Sama-sama, Liv. Kapan pun kamu butuh liburan dari dunia, saya selalu ada disini."

Di bawah pendar lampu komidi putar yang berputar pelan, Livy merasakan sesuatu dalam dirinya bergeser. Tembok tinggi yang selama ini ia bangun untuk menutup hati dari orang lain selain Galang, perlahan-lahan mulai retak, runtuh, dan membiarkan kehangatan seorang Rayhan masuk ke dalamnya.

Livy tidak tahu bahwa di saat yang sama, di sebuah kafe di pusat kota, Galang sedang duduk termenung bersama teman-temannya.

......................

...****************...

Tbc,

1
Friska Zega
👌
penggemar_Uangkecil?!
👍
aku
kapol
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Akai
semangat kak membuat novel /Smile/👍
kucing kawai
lebih baik dengan kata "aku kamu kalo gk pakai lo gue" aja lebih keren thor
kucing kawai: siap thor, semangat terus ya thor 🫶
total 3 replies
kucing kawai
sedikit saran ya thor jangan pakai bahasa saya terlalu formal thor, baguss karya mu thor
kucing kawai: semangat ya author 🫶
total 2 replies
Queen Aisyah
astaga galang..🤣
Queen Aisyah
good
aku
diskon brp jd nya Lang?? 🤣🤣
Hesty
semnget💪💪💪
Hesty
bgus
Hesty
semanget💪
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!