NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PhepipoOrevi

"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Kopi Pagi di Kedai Seberang Apartemen

Evelyn berdiri cukup lama di depan cermin, untuk memastikan kalau kulit di leher dan pundaknya tidak ada bekas lubang peluru atau jahitan. Kemeja putih longgar yang dipakainya terasa bersih, nggak ada bau darah atau tanah sama sekali.

Dia mengambil tas kainnya, memasukkan dompet dan ponsel, lalu melangkah keluar dari apartemen.

Begitu pintu lobby terbuka, angin pagi langsung menyapu wajahnya. Evelyn berhenti sebentar di trotoar, menarik napas panjang-panjang. Nggak ada bau getah pinus yang bikin mual. Nggak ada aroma amis darah yang menusuk hidung.

Jalanan di depannya ramai seperti biasa. Mobil lalu lalang, ibu-ibu belanja sayur di pojokan, dan suara klakson yang sesekali sahut-sahutan. Semuanya terasa begitu normal—kontras banget sama ingatan mengerikan yang baru semalam menghancurkan dirinya.

Evelyn menyeberang jalan menuju kedai kopi langganannya. Kedai kayu kecil itu terletak di sudut jalan. Ada beberapa pot bunga mawar di depan pagar dan beberapa pohon kecil yang membuat kedai ini terasa cozy. Setiap kali pikirannya penat, dia pasti kesini entah cuman menyapa pemilik kedai atau nongkrong lama.

Kring.

Suara lonceng pintu berdenting pelan pas Evelyn masuk. Bau biji kopi sangrai dan vanila langsung tercium, bikin hatinya sedikit lebih tenang.

"Pagi, Mbak Evelyn! Americano dingin kayak biasa?" sapa mas-mas barista dari balik meja kasir sambil tersenyum.

Evelyn tersenyum tipis. "Pagi, Mas. Iya, tapi hari ini mau yang hangat aja deh. Minum di sini ya."

Sambil menunggu kopinya jadi, Evelyn memilih duduk di kursi sudut dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya. Dia menopang dagu, memandangi lalu lintas di luar.

Urusan memutus komunikasi sama Cedric tadi pagi baru langkah kecil. Evelyn tahu betul sifat Cedric yang gila kontrol dan nggak suka diputusin gitu aja. Tapi Evelyn malas memikirkannya dulu. Yang penting dia sudah tegas memberi batasan.

"Ini kopinya, Mbak. Selamat menikmati."

"Makasih ya, Mas."

Evelyn memegang cangkir keramik itu dengan kedua tangannya, menghirup uap tipis yang membumbung pelan. Pas seruputan pertama masuk ke tenggorokan, rasa pahitnya langsung membakar lidah. Nyata. Dia beneran hidup lagi.

Pas Evelyn mau menaruh cangkirnya kembali, sebuah mobil sedan hitam mulus berhenti tepat di depan kedai kopi.

Pintu belakang terbuka, lalu seorang pria turun. Dia cuma pakai kemeja hitam yang dilipat sampai siku dan celana kain gelap. Rambut hitamnya sedikit berantakan kena angin pagi, tapi rahangnya yang tegas bikin penampilannya kelihatan amat tampan.

Tangannya yang lagi memegang cangkir mendadak gemetar pelan.

Matthew Pendragon.

Pria itu melangkah masuk ke kedai kopi. Lonceng pintu kembali berdenting, tapi di telinga Evelyn, suara di sekitarnya mendadak hilang begitu saja.

Napas Evelyn tertahan. Bayangan malam mengerikan itu langsung berputar lagi di kepalanya—muka Matthew yang panik setengah mati, tangannya yang gemetar memangku kepala Evelyn, sama mata keemasannya yang basah oleh air mata di tengah hutan pinus.

Sekarang, pria itu berdiri cuma beberapa meter dari mejanya. Kelihatan dingin, cuek, dan berjarak—tipikal anak kedokteran dari keluarga bangsawan yang nggak tersentuh sama sekali.

Matthew berjalan santai menuju kasir. Tapi pas mau memesan, langkah pria itu mendadak terhenti.

Kayak ada yang memanggil, Matthew pelan-pelan memutar kepalanya, menatap lurus ke sudut jendela tempat Evelyn duduk.

Pandangan mereka berdua ketemu.

Evelyn membeku. Sepasang mata keemasan yang tajam itu menatapnya pas di mata. Ada raut heran yang tipis banget di dahi Matthew, seolah pria itu baru aja melihat sesuatu yang bikin dia bingung.

Evelyn cepat-cepat membuang muka. Dia menunduk, pura-pura sibuk memegang cangkir kopinya yang mulai dingin, padahal dadanya sudah berdegup kencang nggak karuan.

Kenapa dia ngelihatin aku kayak gitu? Nggak mungkin kan... dia juga ingat?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!