Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Bidadari Saling Menguatkan
Jam 9 malam. RSUD Jombang kota dinginnya beda, Meyy. Dingin AC campur bau obat.
Ning Ummah baru dipindah dari ruang pemulihan ke kamar rawat inap kelas VIP yang Gus Azam pesan. Lampunya remang.
Aku, Gus Azam, sama Ning Latifah masih pakai baju yang sama dari sore. Belum ganti. Mata sembab semua.
Dokter bilang, "Nanti kalau sadar pertama, biasanya nyeri sekali di bekas operasi. Jangan panik ya."
Jam 21.07, jari tangan Ning Ummah gerak.
Gus Azam yang pertama lihat. Dia langsung berdiri dari kursi, pegang tangan Ning Ummah.
"Ummah... Ummah... Gus di sini..."
Ning Ummah buka mata pelan. Kosong. Pandangannya kabur karena obat bius.
Terus... hal pertama yang dia lakukan bukan cari Gus Azam, Meyy.
Tangannya yang masih diinfus, gemetar, meraba-raba ke kanan. Ke arah aku duduk.
"Piah... Piah mana..."
Aku langsung maju, jongkok di pinggir ranjang, biar perutku yang masih rata itu sejajar sama tangan Ning Ummah.
"Ummah, Piah di sini Ning... Piah di sini..."
Ning Ummah elus perutku. Elus pelan sekali. Air matanya ngalir dari ujung mata.
"Anak Piah... masih ada kan Piah? Tadi Ummah mimpi... mimpi Piah pendarahan juga..."
Aku nangis pecah di situ, Meyy. Aku yang hamil 6 minggu, yang dari sore nahan mual, langsung tempelin tangan Ning Ummah ke perutku lebih dalam.
"Masih ada Ning... masih ada... calon santri Piah masih ada... dia kuat kayak Ning Ummah..."
Ning Latifah di sebelah, langsung ambil tisu, ngelap air mata Ning Ummah sambil cium tangan Ning Ummah.
"Ummah... Latifah di sini juga Ummah..."
Ning Ummah lihat kami bertiga gantian, terus lihat Gus Azam.
"Gus... rahim Ummah... sudah tidak ada ya?"
Gus Azam nggak bisa jawab. Dia cuma mengangguk sambil nangis, cium kening Ning Ummah lama.
"Ummah tetap sempurna di mata Gus... Ummah tetap Ning Ummah-nya Darunnajah..."
Ning Ummah senyum. Kali ini senyum lega, bukan pucat kayak di Innova tadi sore.
"Kalau gitu... mulai besok... giliran Piah sama Latifah yang kasih Gus anak ya... Ummah sudah selesai... sekarang tugas Ummah gendongin anak-anak Piah sama Latifah aja..."
Kami bertiga langsung peluk Ning Ummah pelan-pelan, takut kena selang.
Di luar kamar, suster yang lewat lihat kami, dia senyum.
Malam pertama setelah kehilangan rahim, Ning Ummah tidak mencari rahimnya sendiri. Yang dia cari pertama kali adalah perut istri keduanya.
Jam 10 malam.
Suster masuk cek tensi dan infus. Ning Ummah mulai menggigil.
AC kamar ini memang terlalu dingin untuk orang yang baru selesai operasi besar.
"Gus... dingin Gus..." suaranya lirih.
Gus Azam langsung panik mau kecilkan AC. Tapi Ning Ummah tahan tangan Gus.
"Bukan AC-nya... di dalam... dingin di dalam perut Ummah... kosong..."
Aku paham maksudnya. Perempuan pasti paham. Rasa kosong setelah rahim diangkat itu bukan cuma fisik.
Tanpa disuruh, aku naik ke atas ranjang, pelan-pelan. Aku baring di sebelah kanan Ning Ummah, di sisi yang tidak ada selang infus.
"Piah angetin ya Ning..."
Aku tempelkan punggungku ke lengan Ning Ummah. Perutku yang 6 minggu itu aku dekatkan ke pinggang Ning Ummah. Biar angetku pindah.
Ning Latifah lihat itu, dia juga naik ke sebelah kiri. Dia peluk kaki Ning Ummah dari luar selimut.
Gus Azam duduk di kursi, melihat pemandangan itu. Tiga istrinya tidur seranjang di rumah sakit. Satu baru kehilangan rahim, satu sedang menjaga calon janin, satu menjaga keduanya.
"Gus sini..." panggil Ning Ummah pelan.
Gus Azam maju, dia jongkok, lalu menyandarkan kepalanya di tepi ranjang, tepat di dekat tangan Ning Ummah dan perutku.
Kami diam. Tidak ada yang bicara. Hanya suara mesin infus yang tit... tit... tit...
Ning Ummah mengelus perutku terus. Elusannya itu seperti doa.
"Piah... nanti kalau anak Piah lahir... panggil Ummah dengan sebutan apa ya?" tanya Ning Ummah tiba-tiba, suaranya sudah lebih jelas.
Aku kaget, "Ya... panggil Ummah juga Ning... kan Ummah ibu pertama di pesantren ini..."
Ning Ummah menggeleng pelan, tersenyum.
"Jangan... nanti anak Piah bingung punya dua Ummah... panggil Ummah... Eyang Ummah ya... biar Ummah jadi eyangnya... Eyang Ummah yang nanti ngasuh dia pas Piah ngajar ngaji..."
Mendengar kata Eyang Ummah itu, Gus Azam yang kepalanya di tepi ranjang langsung sesenggukan lagi.
"Ummah..."
Ning Latifah juga nangis, "Ummah... Latifah mau juga kalau nanti punya anak dipanggil Eyang Ummah..."
Ning Ummah tertawa kecil, untuk pertama kalinya setelah operasi. Tawanya masih sakit, dia pegang perut bekas operasinya.
"Sakit... tapi bahagia... Gusti Allah adil ya... Allah ambil rahim Ummah, tapi Allah titipkan rahim baru di perut Piah sama Latifah..."
Aku yang dibawah elusannya, perutku yang mual dari pagi tiba-tiba tidak mual lagi. Seperti calon santri kecilku itu paham kalau dia sedang dielus oleh Eyang Ummahnya.
Jam 11.30 malam.
Ning Ummah akhirnya tertidur lagi karena obat nyeri dari infus.
Nafasnya sudah teratur. Tangannya masih menggenggam tanganku dan tangan Ning Latifah jadi satu di atas perutku.
Gus Azam bangun, menyelimuti kami bertiga dengan selimut tebal.
Dia bisik ke aku, "Piah... kamu kuat tidur di sini? Kan kamu lagi hamil muda... kasian..."
Aku menggeleng, "Piah kuat Gus... Piah mau di sini... di dekat Ning Ummah... calon santri Piah juga mau di dekat Eyang Ummahnya malam ini..."
Gus Azam mencium kening kami bertiga satu-satu. Kening Ning Ummah yang masih anget, keningku yang berkeringat, kening Ning Latifah yang masih basah air mata. Lalu mengelus perut ku yang masih rata, "Anak Aba, sehat sehat kuat ya di rahim Umma." Tak terasa air mataku pun menetes haru.
"Lalu Gus tidur di mana?" tanya Ning Latifah ngantuk.
Gus Azam menunjuk sofa kecil di pojok kamar rawat inap itu.
"Gus di sini... Gus jagain pintu... kalau ada apa-apa Gus langsung di sini..."
Malam itu, di kamar 203 RSUD Jombang, untuk pertama kalinya kami tidur berempat dalam satu kamar dengan formasi yang tidak pernah kami bayangkan.
Tidak ada cemburu. Tidak ada rasa siapa yang lebih dicintai. Melainkan rasa saling jaga saling sayang dan saling ridho.
Yang ada hanya satu suami yang menjaga di sofa, dan tiga istri yang saling menghangatkan di atas satu ranjang rumah sakit, dengan satu tangan yang kehilangan rahimnya, memeluk satu perut yang sedang menjaga calon kehidupan baru.
Dan di luar, hujan Jombang akhirnya turun setelah mendung seharian.
Tapi jam 2 pagi, perban Ning Ummah rembes darah...
---Bersambung---