NovelToon NovelToon
Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Putri asli/palsu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.

Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.

Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Gavin mendorong pintu baja itu. Pintu terbuka perlahan, menampilkan lorong koridor lantai 32 yang kini hanya diterangi oleh lampu darurat yang berkedip merah.

Mereka melangkah keluar dengan hati-hati. Dari arah lobi lift, terdengar suara benturan keras, diikuti oleh erangan kesakitan yang sangat familiar.

"Vincent!" Reyna berlari kecil menuju lobi, dengan Gavin mengcover di belakangnya.

Di tengah lobi yang mewah itu, Vincent sedang berlutut, darah segar mengalir dari luka robek di pelipisnya. Kedua tangannya ditekuk ke belakang, dijepit oleh lutut seorang pria bertubuh raksasa berbaju taktis hitam.

Dan berdiri di hadapan mereka, dengan pistol berperedam yang masih berasap ringan, adalah Maya.

Wanita yang selama ini Reyna anggap sebagai pelindungnya. Wanita yang ia percaya dengan nyawanya. Postur Maya telah berubah total. Tidak ada lagi sikap hormat seorang bawahan. Bahunya tegak, tatapannya mati, dan auranya memancarkan dinginnya seorang pembunuh bayaran kelas atas.

"Berhenti di sana, Nona Reyna," perintah Maya, moncong pistolnya kini mengarah tepat di antara kedua mata Reyna. "Serahkan amplop dan *flashdisk* itu. Sekarang."

Reyna tidak menurunkan pistolnya. Ia menatap Maya, mencari-cari sedikit saja keraguan di mata wanita yang selama ini ia anggap sebagai kakak atau mentor. Namun, yang ia temukan hanyalah kekosongan yang sama seperti yang ia lihat di cermin saat ia pertama kali bangun di masa lalu.

"Berapa lama?" tanya Reyna, suaranya tenang, mengabaikan laras pistol yang mengarah ke kepalanya. "Berapa lama kau bekerja untuk mereka? Apakah kau yang memegang stir mobil Ibu malam itu? Apakah kau yang memotong remnya?"

Maya tidak berkedip. "Aku hanya mengikuti perintah, Reyna. Elena wanita yang hebat, tapi dia berdiri di jalan orang yang salah. Tuan tidak menargetnya karena benci. Dia menargetnya karena Elena terlalu dekat dengan kebenaran."

"Siapa Tuan itu?!" desis Reyna, jarinya mengencangkan cengkeraman pada gagang pistol.

"Itu tidak penting," jawab Maya dingin. "Yang penting, kau akan menyerahkan aset itu, atau aku akan menembak pengacaramu di depanmu, lalu menembak kakimu, dan mengambilnya dari tubuhmu yang masih hidup. Pilihan di tanganmu."

Vincent mendongak, wajahnya pucat. "Nona... jangan berikan pada mereka..."

Reyna menatap Maya. Lalu, perlahan, sudut bibirnya terangkat. Sebuah senyuman. Bukan senyuman ketakutan, melainkan senyuman seorang predator yang baru saja menyadari bahwa mangsanya telah masuk ke dalam perangkap.

"Kau sangat percaya diri, Maya. Kau mengira aku datang ke Singapura sendirian, hanya membawa Vincent, tanpa persiapan?" tanya Reyna, nadanya hampir terdengar mengejek. "Kau pikir aku tidak menyadari bahwa ponselku kehilangan sinyal seluler tepat tiga detik sebelum lampu mati? Itu berarti ada jam lokal yang diaktifkan."

Alis Maya berkedut sedikit. "Perempuan bodoh. Kau pikir itu bisa menyelamatkanmu?"

"Tidak," balas Reyna. "Tapi itu memberiku konfirmasi. Konfirmasi bahwa kau memang pengkhianat. Dan sejak aku membaca nama Maya di kertas itu lima menit yang lalu, aku tidak membuang waktu untuk menangis. Aku menggunakan jaringan intranet tertutup bunker ini untuk mengirim sinyal darurat ke Markas Besar Polisi Singapura dan Interpol, lengkap dengan koordinat GPS, rekaman suara pengakuanmu di interkom, dan daftar nama operatifmu."

Wajah Maya untuk pertama kalinya kehilangan ekspresi datarnya. Matanya melebar sedikit.

"Kau... kau tidak mungkin bisa menembus firewall interkom tanpa..."

"Gavin adalah The Vault," potong Reyna. "Dia tidak butuh menembus firewall. Dia yang membangunnya."

Seolah menjawab kata-kata Reyna, suara sirine yang melengking nyaring mulai terdengar dari jalanan di bawah. Bukan satu atau dua, melainkan puluhan. Suara ban mobil yang mengerem keras terdengar di lobi gedung. Lampu merah dan biru mulai berkedip di jendela kaca raksasa lobi, memantulkan cahaya warna-warni ke wajah Maya yang kini pucat.

"Maya!" teriak salah satu anak buah Maya dari luar pintu lift. "Polisi! Mereka mengepung gedung! Kita harus.."

Maya mengutuk pelan dalam bahasa Rusia. Ia menyadari bahwa ia telah dikalahkan bukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh kecepatan berpikir Reyna.

"Permainan belum selesai, Reyna Arland," bisik Maya. Dengan gerakan secepat kilat, ia menembakkan dua peluru ke langit-langit kaca di atas kepala Reyna, menciptakan hujan pecahan kaca yang memaksa Reyna dan Gavin menunduk.

Dalam sepersekian detik itu, Maya menendang dada Vincent hingga pria itu terjatuh, lalu berlari menuju tangga darurat, menghilang ke dalam kegelapan bersama satu-satunya anak buahnya.

Reyna segera bangkit, mengabaikan pecahan kaca yang menimpa rambutnya. Ia berlari ke arah Vincent, membantu pria paruh baya itu berdiri.

"Kau... kau hebat, Bos," gumam Vincent, memegang pelipisnya yang berdarah. "Aku pikir kita tamat."

"Kita belum tamat, Vincent," ucap Reyna, menatap ke arah pintu tangga darurat yang telah tertutup. Matanya menyala dengan api yang jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.

Richard, Julian, dan Clarissa hanyalah badut-badut kecil. Dalang sebenarnya, orang yang memerintahkan kematian ibunya dan menanamkan Maya di sisinya selama bertahun-tahun, baru saja menunjukkan wajahnya.

Reyna menggenggam amplop cokelat itu erat-erat.

"Ayo kita pulang," perintah Reyna. "Aku punya perang yang jauh lebih besar untuk dimenangkan."

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Sribundanya Gifran
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!