NovelToon NovelToon
Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Suami amnesia / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Musang_Galau

Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taktik Jual Beli Takdir

Suasana di dalam ruang galeri yang tadinya adem bercampur aroma kayu manis mendadak terasa kayak dalam gua es abadi. Senyuman tipis Yueji yang dinginnya mengalahkan angin malam di puncak gunung benar-benar bikin Dandi sama Dila kaku kayak patung batu.

Dila yang biasanya lantang kalau bicara sama murid-murid di sektenya, sekarang cuma bisa nunduk dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang banget, udah kayak mau lompat keluar dari dada. Mati kita! Ini pasti Ratu Siluman Rubah Ekor Sembilan yang legendaris itu! Cuma dari tatapannya aja, energi jiwa kita bisa hancur berkeping-keping! bisik Dila dalam hatinya, sama sekali gak berani mendongak.

Dandi juga gak kalah panik. Dia berusaha sekuat tenaga nahan lututnya biar gak gemetaran hebat di atas sofa. Tapi berhubung dia memikul tugas besar dari Romo Sekte, Dandi nekat memaksakan diri buat tersenyum—meski senyumannya keliatan garing dan menyedihkan banget.

"Se... Selamat siang, Nyonya Yueji yang anggun dan tiada tandingannya..." kata Dandi dengan suara yang agak patah-patah. "Kami cuma pedagang... eh, maksudnya pembeli biasa yang kagum banget sama karya Tuan Chandra. Kami cuma mau bersilaturahmi..."

Chandra yang gak tahu-menahu soal perang batin di depannya malah makin bingung. Dia menoleh ke Yueji, terus ngerangkul pinggang istrinya itu santai banget.

"Tuh kan, Sayang, mereka ini ramah banget! Padahal baru pertama kali ketemu, tapi mereka udah nawarin tanaman obat langka buat kamu gara-gara denger kamu sakit perut semalam," kata Chandra sambil nepuk pelan kotak kayu mahal di meja.

Mata Yueji melirik ke arah kotak kayu itu. Dengan kemampuan indranya, dia bisa ngerasain energi spiritual tingkat tinggi meluap-luap dari dalam sana. Itu bukan tanaman obat biasa, tapi Rumput Es Jiwa Murni yang umurnya udah puluhan ribu tahun! Di dunia kultivasi, benda kayak gitu bisa bikin sekte-sekte besar saling bantai cuma buat rebutan satu lembar daunnya.

Bagus juga cara main anak-anak Sekte Alam Surgawi ini, batin Yueji sambil mendengus pelan dalam hati. Tahu kalau mereka gak bakal menang lawan Chandra, mereka malah bawa sesajen berharga tinggi begini.

Aura menekan dari tubuh Yueji mendadak hilang dalam sekejap begitu Chandra mengelus punggung tangannya. Wajah galak Yueji berubah total jadi senyuman manis nan manja di depan suaminya.

"Wah, benarkah? Tuan Dandi dan Nyonya Dila ini sungguh perhatian sekali," ucap Yueji dengan nada suara halus melengking yang bikin Dandi dan Dila makin merinding. "Terima kasih banyak ya... Sungguh sebuah kehormatan buat galeri kecil kami."

"Sama-sama, Nyonya! Sama-sama! Benda kecil gak berharga ini gak ada apa-apanya dibanding kebaikan Tuan Chandra dan Nyonya!" sahut Dandi secepat kilat.

Gak berharga mata mu! jerit Dila dalam hati. Itu Rumput Es Jiwa Murni pusaka sekte mereka yang disimpannya setengah mati, tapi Ketua Dandi malah ngomong kayak gitu cuma demi menyelamatkan nyawa mereka!

Chandra yang denger pujian bertubi-tubi itu makin makin gak enak hati. Menurut dia, tanaman obat mahal begini gak bisa diterima gitu aja tanpa ngasih balasan. Sebagai pengusaha galeri yang jujur (dan butuh uang buat beliin perhiasan Yueji), dia harus profesional.

"Aduh, Tuan Dandi... Kalau Tuan ngasih hadiah semewah ini cuma-cuma, saya malah jadi beban pikiran nih," ujar Chandra sambil menggaruk tengkuknya. "Bagaimana kalau Tuan pilih salah satu lukisan di sini sebagai gantinya? Anggap aja kita tukar menukar, gimana?"

Deg!

Dandi dan Dila Sontak menengadah. Mata mereka membelalak lebar.

Tukar menukar lukisan?! Lukisan karya Pakar Agung yang mengandung Hukum Alam dan Konsep Dao Murni?!

Bagi seorang kultivator, satu garis kuas dari pelukis tingkat dewa kayak Chandra bisa bikin seseorang menerobos batas kekuatan dalam semalam! Satu lukisan di dinding galeri ini nilainya jauh melebihi ribuan tanaman obat kuno!

"T... Tuan Chandra... Apakah... Apakah Tuan serius?!" tanya Dandi dengan bibir gemetaran, gak percaya sama keberuntungan luar biasa yang tiba-tiba jatuh dari langit.

"Ya serius lah, Tuan Dandi! Masa saya bohong?" Chandra terkekeh santai. "Pilih aja lukisan mana yang Tuan suka. Yang di dinding kiri itu lukisan pemandangan air terjun, kalau yang di depan Tuan itu lukisan Gunung Merapi. Silakan pilih, bebas kok!"

Dandi dan Dila langsung saling pandang. Tatapan mata mereka penuh dengan keharuan dan rasa tidak percaya. Ini bukan cuma transaksi jual beli biasa, ini adalah restu dari seorang Tokoh Tersembunyi! Pakar Agung ini sedang memberi mereka petunjuk Dao!

Dandi dengan gemetar berdiri dari sofa, menundukkan tubuhnya sembilan puluh derajat ke arah Chandra dengan penuh hormat.

"Jika Tuan Chandra berkenan... Boleh kah saya memilih lukisan Gunung di depan kami ini?" tanya Dandi ragu-ragu.

Chandra menoleh ke arah lukisan gunung yang dimaksud. Lukisan itu sebenarnya cuma corat-coret iseng yang dia buat dua hari lalu waktu mati listrik. Dia cuma pakai cat minyak murah warna cokelat dan hijau tua. Menurut Chandra, lukisannya agak terlalu gelap dan kurang estetik.

"Lah? Yakin mau yang itu, Tuan Dandi?" tanya Chandra agak terkejut. "Lukisan gunung yang itu agak suram loh. Warna catnya juga sedikit agak ketebalan di bagian puncaknya."

Tapi di mata Dandi dan Dila, penjelasan Chandra barusan adalah sebuah pengajaran spiritual tingkat tinggi!

Warna cat ketebalan di bagian puncak?! batin Dandi panik sekaligus kagum. Itu bukan cat tebal! Itu adalah Niat Pedang Gunung yang sangat padat! Tuan Chandra sengaja menumpuk energi Hukum Bumu di puncak gunung itu buat menguji tingkat pemahaman kita! Luar biasa! Sungguh petunjuk yang sangat dalam!

"Tidak apa-apa, Tuan Chandra! Justru kelancangan dan 'ketebalan' di puncak gunung itulah yang membuat kami sangat terpesona!" jawab Dandi dengan nada suara penuh keyakinan dan rasa pengabdian yang tinggi.

Chandra menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hatinya dia mikir: Dasar orang kaya kota luar, seleranya aneh-aneh banget. Lukisan gagal gitu malah dibilang pesona. Tapi ya sudahlah, yang penting mereka senang dan gak minta balik kotak obatnya.

"Ya sudah kalau Tuan Dandi memang suka yang itu," kata Chandra sambil tersenyum puas. "Nanti saya bungkuskan rapi pakai bubble wrap biar catnya gak terkelupas di jalan."

"Terima kasih banyak, Maestro Chandra! Kebaikan Tuan tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup kami!" seru Dandi sampai mau meneteskan air mata.

Yueji yang berdiri di samping Chandra cuma bisa senyum-senyum misterius melihat tingkah dua kultivator malang itu. Dia tahu betul kalau lukisan gunung itu mengandung Hukum Berat Bumi yang sangat dahsyat. Kalau Sekte Alam Surgawi membawanya pulang dan mempelajarinya, kekuatan sekte mereka dipastikan bakal naik drastis dalam beberapa tahun ke depan.

"Nah, Tuan Dandi... Berhubung transaksinya sudah cocok, boleh saya tanya sesuatu?" ujar Yueji tiba-tiba dengan suara manisnya yang menyimpan ancaman terselubung.

Dandi langsung menegakkan posisinya, tubuhnya kembali tegang. "S... Silakan, Nyonya Yueji! Apa pun yang Nyonya tanyakan, akan saya jawab dengan jujur!"

Yueji melirik kotak obat kayu berukir emas di atas meja, lalu kembali menatap Dandi dengan matanya yang agak menyipit.

"Kira-kira... Siapa yang memberitahu Tuan kalau galeri kami ini menerima hadiah berupa tanaman obat? Dan... Dari mana Tuan tahu lokasi tempat tinggal kami yang tersembunyi ini?"

Pertanyaan sederhana itu seketika membuat suhu di dalam ruangan terasa makin merosot tajam. Dandi dan Dila tahu betul, jika jawaban mereka salah sedikit saja atau membawa-bawa niat jahat, lukisan yang baru saja mereka dapatkan tidak akan pernah sempat dibawa keluar dari pintu depan galeri ini.

1
Lagu Teu Baleg
semangat Thor ya
Alinsyah 70: oke siap 👍
total 1 replies
Ruang Senddu
lumayan seru
Waaaaaa_
Hallo aku mampir
Alinsyah 70: Makasih loh udah mampir, maaf loh kalau ceritanya kurang bagus
total 1 replies
Ruang Senddu
seru, mari saling dukung
Doodle Music
semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!