Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
.
Sejak hari itu, Raka semakin jarang pulang ke rumah Aisyah. Nabila yang mengatakan bahwa dirinya sedang hamil, membuatnya bisa membuat Raka melewatkan jadwal untuk datang ke rumah Aisyah. Setiap hari ada saja alasan yang diberikan oleh Nabila yang membuat Raka memilih tinggal di sana. Dan pria itu tanpa keberatan sedikitpun selalu menuruti apa yang diminta oleh Nabila. Awalnya hanya hal-hal sepele.
“Mas, aku ingin mangga muda,” pinta Nabila sambil memeluk lengannya.
“Nanti aku belikan kalau pulang dari toko ya,” jawab Raka lembut.
“Mas, aku pengen makan bubur ayam yang di jalan Mawar Melati semuanya indah.”
“Kalau begitu kita pergi sekarang,” ajak Raka tanpa keberatan.
“Mas… “
“Mas…”
“Mas…”
Dan apapun yang diminta oleh Nabila Raka selalu berusaha untuk mengabulkan. Karena Nabila selalu menggunakan kehamilannya sebagai senjata.
“Aku ini kenapa sih ingin ini itu tiap hari?” wanita itu dengan liciknya memasang wajah sedih. “Apa jangan-jangan aku lagi ngidam ya? Ini pasti keinginan anak dalam perut aku.”
“Tidak apa-apa, Ayahnya kan punya uang, pasti selalu bisa menuruti keinginannya.” Dengan jumawanya Raka menepuk dada.
Hingga hari itu, Nabila yang sedang bermain ponsel menunjuk sebuah postingan. “Mas, beliin aku gaun model gini dong.”
“Pesan saja,” ucap Raka.
*
Di saat Nabila semakin terbuai, dan Raka yang semakin tenggelam…
Berbeda dengan Aisyah. Semakin sering Raka tidak datang, semakin wanita itu berhenti bertanya. Tidak pernah berharap kapan Raka akan pulang. Juga tidak pernah mengeluh setiap kali Raka membatalkan jadwal. Ketidakhadiran suaminya malah membuat wanita itu merasa semakin bebas bergerak.
Aisyah merasa lebih leluasa menjalankan rencananya. Setiap pagi setelah mengantar Rangga dan Fatimah ke sekolah, ia langsung menuju ruko yang telah disewanya. Sama sekali tidak khawatir akan tiba-tiba datang ke rumah lalu bertanya dia pergi ke mana. Juga tidak khawatir jika Raka akan mencurigai dirinya.
Ruko yang semula kosong perlahan berubah. Aisyah menyapu dan mengepel lantai, mengelap etalase, menata rak, mempertahankan perabot yang masih layak agar pengeluaran tetap hemat. Hari pertama masih berantakan. Hari kedua, berbekal sisa tabungan, rak mulai terisi. Hari ketiga etalase sudah rapi. Dan beberapa hari kemudian, tempat itu sudah tampak hidup.
Hari itu entah ada angin apa tiba-tiba Akbar datang dan membantu Aisyah memperkenalkannya pada beberapa pemasok.
“Bu Aisyah, saya punya kenalan penjual sembako dan kebutuhan rumah tangga,” ucapnya sambil menyerahkan daftar harga. “Jika Bu Aisyah mau saya bisa menghubungi supaya mereka langsung ke sini.”
Aisyah menatap kertas itu dengan lega. “Bagus sekali. Terima kasih banyak, Pak Akbar. Saya memang belum terlalu paham soal ini.”
“Jangan panggil Pak, dong, Bu. Umur kita tak jauh beda,” jawab Akbar sambil tersenyum canggung.
Aisyah tertawa kecil. “Kayaknya kurang sopan, Pak.”
Akbar mendesah pasrah. “Ya sudah lah terserah Ibu saja.”
Tak lama, para pemasok mulai datang satu per satu.
“Kok cepat sekali mereka datang?” pikir Aisyah. Tapi ia sama sekali tidak bertanya. Dengan penuh semangat wanita itu bergerak. Tak hanya menerima tawaran. Tapi juga mencatat harga, menghitung keuntungan, membandingkan, lalu memilih barang yang paling laku di lingkungan sekitar.
“Order sedikit dulu juga boleh, kok, Bu,” kata salah satu pemasok. “Nanti kalau misalnya sudah laku, baru Ibu minta tambah lagi.”
“Kalau ambil banyak sekaligus ada harga khusus gak?” tanya Aisyah sambil mencatat.
“Tentu saja ada, Bu.” pemasok itu menjelaskan selisih antara beli eceran dengan beli grosir.
“Ya sudah kalau gitu, saya ambil yang ukuran sedang dulu.”
Akbar memperhatikannya sambil tersenyum kagum. “Ibu sudah pernah berdagang sebelumnya?” tanya pria itu.
Aisyah tersenyum tipis. “Belum.”
“Tapi kok saya lihat caranya sudah seperti pedagang berpengalaman.”
“Pak Akbar ini bisa saja. Saya ini kan baru mau mulai belajar,” jawabnya pelan.
Ia tak mungkin menceritakan bahwa selama bertahun-tahun ia selalu memperhatikan cara Raka mengelola toko dan mencatat laporan keuangannya. Aisyah memang tak pernah bekerja di luar rumah, tapi bukan berarti kepalanya kosong. Dan kini wanita itu benar-benar menggunakan kesempatan untuk bangkit.
Siang harinya, barang pesanan tiba. Aisyah memeriksa kardus satu per satu.
“Yang ini taruh di rak kanan,” perintahnya kepada pengantar barang. “Minuman jangan ditumpuk terlalu tinggi.”
“Siap, Bu.”
Akbar ikut mengangkat beberapa boks. “Biar saya bantu.”
“Tak usah, Pak Akbar. Bisa saya sendiri.”
“Tak apa-apa, kebetulan lewat daerah sini terus mampir.”
Aisyah menatap ke arah Akbar dengan mata menyipit. “Jangan-jangan nanti Pak Akbar minta gaji tinggi sama saya?” Ucap wanita itu bercanda.
“Kalau saya bukan minta gaji tapi minta hati bagaimana?” Akbar cepat-cepat menutup mulutnya setelah mengucapkan kalimat itu. Rasanya ingin menampar mulutnya sendiri yang begitu lancang. Pria itu lalu berdehem pelan. “Maksud saya… ah … itu, saya cuma bercanda. ”
“Tidak apa-apa,” jawab Aisyah yang sebenarnya juga sempat terkejut mendengar ucapan Akbar.
Hari berganti hari, ruko itu semakin hidup. Rak penuh, etalase rapi, warga sekitar mulai mampir. Sore itu, Aisyah duduk di belakang meja kasir untuk pertama kalinya. Ia membuka buku catatan, menghitung kembali modal dan pengeluaran. Masih aman. Bahkan masih ada sisa cadangan.
“Sepertinya, aku harus mencari seorang yang bisa menunggu toko,” gumamnya pelan. “Karena tidak mungkin aku terus-terusan sembunyi-sembunyi seperti ini. Lama-kelamaan Raka akan curiga. Akan lebih mudah kalau memiliki seorang karyawan kemudian aku tinggal memantau sesekali.”
Ia tak berniat melawan. Ia hanya menyiapkan diri. Sebab jika terjadi sesuatu di kemudian hari, ia tak ingin berdiri dengan tangan kosong.
*
Di mobil yang perlahan melaju semakin jauh meninggalkan kota itu, Akbar mengambil ponselnya yang tersimpan di saku jaket untuk menghubungi seseorang.
“Carikan aku semua informasi tentang Bu Aisyah!”
*
Sementara itu, di rumah Nabila…
Raka yang selalu menuruti keinginannya membuat Nabila semakin menjadi-jadi. Dengan alasan ngidam, dia bisa minta ini dan itu yang tak bisa ditolak oleh Raka.
“Mas…” panggilnya sambil mendekat ke arah Raka yang sedang duduk di ruang tengah.
“Ada apa?”
“Kita jalan-jalan ke mall yuk,” rengek Nabila hari itu. “Sekalian cuci mata, Mas. Rasanya suntuk banget di rumah terus. Kata dokter kan aku nggak boleh stress?”
Dan tanpa berpikir dua kali Raka pun segera mengambil kunci mobilnya.
Raka tersenyum dan bangkit berdiri. “Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang.”
Mata Nabila berbinar. “Benarkah?”
“Iya.”
Nabila segera menggandeng lengannya. “Terima kasih, Mas.”
Mereka tiba di pusat perbelanjaan tak lama kemudian. Nabila langsung menuju toko perhiasan.
“Yang ini modelnya simpel,” serunya sambil mencoba dengan mendekatkan sebuah kalung berlian di leher
“Ambil saja,” jawab Raka.
“Gelang ini juga elegan.”
“Ambil.”
Seketika itu juga Nabila menghambur memeluk Raka sambil melabuhkan kecupan di pipi pria itu. Raka tersenyum bahagia melihat sifat Nabila yang begitu manja. Dia merasa menjadi pria yang begitu sempurna.
Tibalah saatnya membayar. Raka mengeluarkan kartu berwarna kuning. Namun setelah menggesek, petugas kasir mengembalikannya dengan wajah bingung.
“Maaf, Pak. Kartunya ditolak. Apa ada kartu yang lain?”
“Apa?”
lanjuuut Mak ,,
semangat buat bab2 selanjutnya ,,
tapi kok banya typo nya