NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:40.6k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.

Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sembilan

Azka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang sedikit lebih tinggi dari biasanya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Vania.

Sejak melihat puluhan panggilan tak terjawab dari kekasihnya, perasaan bersalah terus menghantui. Ia tahu Vania pasti menunggunya semalaman. Ia juga tahu perempuan itu pasti kecewa karena dirinya tidak datang seperti yang sudah dijanjikan.

“Aku benar-benar keterlaluan,” gumam Azka sambil mengusap wajahnya.

Semalam ia hanya berniat tidur sebentar sebelum pergi menemui Vania. Namun, rasa lelah membuatnya benar-benar terlelap. Dan sekarang, semuanya mungkin sudah terlambat.

Begitu sampai di depan apartemen dirinya yang ditempati Vania, Azka langsung memarkir mobil. Ia bergegas masuk tanpa membuang waktu.

Namun, baru saja pintu apartemen terbuka, langkahnya langsung terhenti. Ruang tamu terlihat sangat berantakan.

Bantal berserakan di lantai. Vas bunga terjatuh. Beberapa barang bahkan tampak pecah. Meja kecil bergeser dari tempatnya, sementara beberapa benda yang biasanya tertata rapi kini berserakan begitu saja.

Azka mengernyit. “Pasti tadi malam Vania mengamuk,” pikirnya. Rasa bersalah kembali menusuk dadanya.

“Vania ...," panggil Azka.

Tidak ada jawaban. Azka segera berjalan menuju kamar. Begitu pintu kamar dibuka, dadanya terasa sesak.

Vania duduk di lantai, memeluk kedua lututnya. Rambut panjangnya berantakan. Wajahnya sembap, sementara air mata masih mengalir di pipinya.

“Vania!” panggil Azka lagi. Azka langsung berlari menghampirinya. Ia berjongkok dan memeluk tubuh perempuan itu erat.

“Maaf, Sayang. Aku ketiduran,” ucap Azka cepat. “Aku benar-benar tidak sengaja.”

Namun, bukannya membalas pelukan itu, Vania justru mendorong tubuh Azka.

“Lepaskan aku!” ucap Vania.

Azka terkejut. “Vania …,” ucap Azka.

“Bohong!” seru Vania. Vania menangis semakin keras.

“Pasti kau menghabiskan malam pertamamu dengannya!” tuduh Vania. “Sampai-sampai kau lupa denganku!”

Azka menggeleng cepat. “Tidak, Sayang. Aku bersumpah ...."

“Kau janji tidak akan menyentuhnya!” potong Vania.

“Aku tidak menyentuhnya," ucap Azka.

“Lalu kenapa kau tidak datang?” tanya Vania.

Azka terdiam sesaat. “Aku benar-benar ketiduran," ucapnya.

Vania tertawa kecil di sela tangisnya. Tawa yang justru terdengar menyakitkan. “Ketiduran?” tanyanya.

“Iya, Sayang," jawab Azka.

“Setelah menikah dengannya, apa mungkin kau tak menyentuhnya?” tanya Vania.

Azka menghela napas panjang. “Vania, dengarkan aku. Aku bersumpah, aku tidak melakukan apa-apa dengan Raisa.”

Vania menatapnya dengan mata penuh air.

“Raisa saja tidur di sofa,” lanjut Azka. “Kami tidak tidur bersama. Aku bahkan tidak menyentuhnya.”

“Aku tidak percaya," ujar Vania.

Azka kembali mencoba memeluknya. Namun, Vania kembali mendorong tubuhnya.

“Jangan sentuh aku!” seru Vania.

“Sayang .…”

“Aku menunggumu semalaman, Azka!” ucap Vania dengan nada yang sedikit tinggi. Suaranya Vania terdengar bergetar. “Aku menunggumu sampai pagi. Aku berkali-kali meneleponmu. Tapi kau tidak datang.”

Azka menunduk. "Maaf.”

“Aku menangis semalaman menunggumu. Kau malah asyik dengan istrimu.”

“Tidak seperti itu," ucap Azka dengan suara pelan.

“Baru satu hari kau sudah lupa denganku.” Vania mengusap air matanya kasar. “Bagaimana kalau pernikahan itu sudah berlangsung lama? Bagaimana kalau nanti kau benar-benar mencintainya?”

Azka langsung mengangkat wajah. “Tidak akan pernah," jawabnya cepat.

Vania terdiam.

“Aku mencintaimu,” kata Azka tegas. “Aku menikahinya hanya karena terpaksa.”

“Tapi sekarang dia istrimu,” ucap Vania.

“Status tidak mengubah perasaanku," balas Azka.

Vania menatapnya lama. Azka mendekat lagi.

“Vania, aku bersumpah. Aku tidak melakukan apa-apa dengan Raisa. Aku benar-benar ketiduran. Maafkan aku.” Ia lalu menggenggam kedua tangan Vania.

“Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?” tanya Azka dengan suara yang sedikit frustasi.

Vania terdiam. Air matanya masih tersisa di sudut mata. Beberapa detik kemudian, ia berkata pelan, “Aku mau kamu keluar kota denganku.”

Azka langsung terdiam. “Keluar kota?” tanyanya.

“Iya," jawab Vania singkat.

“Untuk apa?” tanya Azka.

“Aku hanya ingin kita pergi berdua," jawab Vania.

Azka mengusap wajahnya kasar. Dalam pikirannya langsung terbayang wajah Papa dan Mama. Apa yang akan ia katakan kepada mereka kalau tiba-tiba harus keluar kota setelah baru sehari menikah?

“Sayang .…”

“Kamu takut?” tanya Vania.

“Bukan begitu.”

“Lalu?” tanya Vania kembali.

Azka menghela napas. “Aku tidak bisa.”

Wajah Vania langsung berubah. “Kenapa?”

“Papa dan Mama pasti akan banyak bertanya kalau aku tiba-tiba keluar kota," jawab Azka.

Vania memalingkan wajah. “Kamu memang sudah tidak peduli padaku," ucapnya dengan suara sedikit terbata karena menahan tangis.

“Vania .…”

“Bilang saja kamu tidak bisa meninggalkan Raisa.”

Azka terdiam.

“Bilang saja sekarang kamu lebih memilih istrimu," ucap Vania selanjutnya.

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?” tanya Vania.

Azka memejamkan mata beberapa saat. Akhirnya ia menyerah dan berkata, “Baiklah.”

Vania menoleh. Ia tampak sedikit tersenyum.

“Jika kamu memang ingin begitu, kita pergi," ucap Azka akhirnya.

Mata Vania sedikit berbinar. “Benarkah?”

“Tapi .…”

Senyum Vania langsung menghilang. Karena ia yakin akan ada syarat lagi.

“Kita harus membawa Raisa.”

Vania mengerutkan dahi. “Maksud kamu… kita pergi bertiga?”

Azka menganggukndan menjawab, “Ya. Kita pergi bertiga.”

Vania menatapnya tidak percaya..“Kenapa dia harus ikut?”

“Karena kalau aku pergi sendirian denganmu, Papa dan Mama pasti curiga," jawab Azka.

Azka menggenggam tangan Vania.

“Kita menginap di hotel yang sama. Tapi kau tidak perlu khawatir.”

“Apa maksudmu?” tanya Vania.

“Kau dan aku beda hotel dengan Raisa," jawab Azka.

Vania terdiam..“Kita tidur sekamar?” tanyanya dengan mata berbinar.

Azka langsung menggeleng..“Bukan, Sayang.” Ia tersenyum lembut. “Kita menginap di hotel yang sama. Tapi bukan sekamar.”

Vania mengerutkan kening.

“Aku mencintaimu,” lanjut Azka. “Aku tidak akan merusakmu sebelum kita menikah.”

Vania terdiam. Meskipun masih kecewa, kalimat itu sedikit membuat hatinya tenang.

“Kalau begitu,” katanya akhirnya, “saat kita pergi jalan, aku mau Raisa ikut.”

Azka langsung mengerutkan dahi. “Kenapa dia harus ikut ke mana pun kita pergi?” tanyanya..“Memangnya kamu tidak keberatan?”

Azka menghela napas. Kembali berkata, “Aku justru bingung kenapa kamu menginginkannya.”

Vania tersenyum tipis. “Tidak ada apa-apa.”

Azka masih menatapnya curiga. Namun, akhirnya ia mengangguk. “Baiklah. Kalau itu membuatmu tenang.”

Vania tersenyum. Ia kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Azka. Kali ini, ia membiarkan pria itu memeluknya.

Azka mengusap rambutnya perlahan..“Aku benar-benar minta maaf karena membuatmu menunggu," ucapnya.

Vania tidak menjawab. Matanya justru menatap lurus ke depan. Senyum kecil muncul di bibirnya.

Dalam hati, Vania berkata, Akan aku perlihatkan kepada perempuan itu siapa yang sebenarnya Azka cintai. Walaupun dia adalah istri sah Azka… akulah yang akan diprioritaskan.

Dan tanpa disadari Azka, keputusan untuk membawa Reatha dalam perjalanan itu justru akan menjadi awal dari permainan yang jauh lebih rumit.

1
Nar Sih
untung yg kmu nikahi reatha semoga kmu ngk marah bila nanti kbnran dtg
Sri Supriatin
lanjuut Thor 🙏🙏🙏
Radya Arynda
haduh pelakor2,,,mati aja.jijik kalau baca tentang vania,,,pelakor ngak tau malu
Radya Arynda
laki2 goblok,,di budak sama vania dengan dalih balas budi mau aja,,,,tolol...
ken darsihk
Vania kebakaran jenggot mengetahui kedekatan nya Azka dngn Raisa istri nya 🤣🤣🤣
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Ida Nur Hidayati
Vania....Azka dan Raisa suami istri jadi kalau mereka berdekatan itu wajib
Naufal Affiq
gak sadar juga kamu vania,rea itu istrinya,kamu hanya pelakor
Teh Euis Tea
ga mungkin gimana vania Reatha istri sah nya azka gimana sih km, tp sah ga ya pernikahan mereka kan namanya yg di ijab kabul raisa bkn reatha?
Eva Karmita
dasar benalu so berkuasa sadar diri napa kamu itu siapa cuma pelakor yg tidak tahu diri menjual kebaikan kakak mu untuk jadi tameng mu 😏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Suanti
setelah raisa/ reatha prgi baru azka merasa kehilangan bakal menyesal azka 🤭
Eva Karmita
seiring berjalannya waktu kamu akan sadar Azka ... tapi semoga saja bila waktu nya tiba kamu tidak terlambat dan menyesal , wanita yg selama ini menemanimu Tampa menuntut apapun pergi Tampa jejak
Lela Angraini
smga dgn kejadian ini kamu segera sadar dan menyadari perasaanmu sblm waktuny tiba nanti reatha pergi dri kehidupanmu
Lela Angraini
heleeehhh preeettt,,cinta duitny doank kamu itu. pgn lihat kamu di campakkan aku 🤣🤣
ken darsihk
Apa yang akan terjadi yak , setelah satu tahun terlewati
Naufal Affiq
mudah-mudahan kau paham untuk semuanya azka,kau sudah menikah,dan harus menghargai hati istrimu,biar pun dia bukan wanita yang kau cintai,kalau untuk vania itu wanita yang dititip kan kepada mu,hanya untuk di jaga,bukan untuk di nikahi
Sugiharti Rusli
dan sejatinya hati nurani si Azka masih jalan sih, dan cinta yang selama ini dia rasa buat Vania, bisa jadi bukan cinta sebenarnya yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi keberadaan Raisa/Reatha di sisi Azka selama beberapa bulan ini bisa mendekatkan mereka, meski tidak ada sentuhan fisik,,,
Sugiharti Rusli
terkadang manusia yah terlalu percaya pada dirinya sendiri sih, padahal yang menggenggam hati manusia tuh Sang Pencipta,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!