NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Peti di Gudang yang Terkunci

Gudang lama itu berdiri di pinggir kompleks pelabuhan. Temboknya sudah ditumbuhi lumut hijau tua, dan gemboknya berkarat separuh. Tapi kunci yang dibawa Damar cocok tanpa perlu dipaksa, seolah seseorang masih rutin datang untuk memastikan tempat itu tetap terkunci rapat selama bertahun-tahun. Angin laut yang berhembus dari arah dermaga membawa bau karat dan air payau. Di sela dinding sengnya yang mulai bolong, cahaya pagi menembus dalam garis-garis tipis yang jatuh ke lantai berdebu.

"Nggak ada yang tau tempat ini selain aku dan dua orang kepercayaan Pak Baskara dulu," Damar menjelaskan, mendorong pintu besi yang berderit panjang. "Aku baru cari tau soal peti-peti ini setelah kejadian kemarin. Salah satu orang lama itu masih hidup, tinggal di pinggir kota. Namanya Pak Warno, dulu sopir pribadi Pak Baskara."

"Kenapa gudang ini masih dijaga rapi, kalau isinya cuma barang lama?" Alya bertanya, memperhatikan jejak sapu di lantai debu, tanda seseorang masih membersihkannya sesekali.

"Itu yang bikin saya curiga sejak awal, Suster," Damar menjawab. "Orang biasa nggak repot-repot bayar penjaga buat gudang kosong."

Di dalam, debu mengambang di bawah cahaya yang menyusup dari celah atap seng, dan di tengah ruangan, tiga peti kayu jati berukuran sedang berdiri berjajar. Masing-masing dengan gembok kuningan yang sudah menghitam oleh waktu.

Rani berjalan lebih dulu, tangannya menyentuh permukaan peti pertama. Matanya menyipit membaca ukiran inisial di tutupnya. "B.A.," gumamnya. "Sama kayak di kertas kemarin."

Kunci-kunci lama itu masih tersimpan di brankas rumah Raze. Warisan yang tidak pernah dia pikir akan berguna, dan begitu peti pertama terbuka, yang muncul hanyalah tumpukan dokumen bisnis biasa. Kontrak lama, sertifikat tanah, surat izin usaha yang sudah kadaluarsa. Peti kedua berisi barang pribadi yang lebih personal. Jam tangan tua, beberapa foto keluarga yang tidak dikenali siapa pun di ruangan itu, dan sepucuk surat yang tidak pernah dikirim, ditujukan kepada seseorang bernama "adikku" yang tidak pernah disebutkan namanya.

Peti ketiga terkunci lebih rapat dari yang lain, dan begitu akhirnya terbuka, isinya membuat semua orang di ruangan itu menahan nafas. Sebuah buku catatan tebal, mirip dengan yang biasa Raze tulis sendiri. Di bawahnya, sebuah amplop coklat besar berisi foto-foto lama, salah satunya menunjukkan seorang bayi perempuan digendong seorang suster di depan bangunan bertuliskan "Panti Asuhan Kasih Bunda", tanggal di sudut foto itu hanya berselisih empat hari dari tanggal kecelakaan.

"Itu aku," Rani berbisik, tangannya gemetar mengambil foto itu. "Itu pasti aku."

Alya duduk di sampingnya, menatap foto itu dari balik bahunya. Untuk sesaat, kedua wanita itu hanya diam, menatap wajah bayi yang identik dengan wajah bayi lain yang sering muncul di album keluarga Alya di kampung. "Kamu pake gelang yang sama kayak aku dulu," Alya berbisik, menunjuk pergelangan tangan mungil di foto itu. "Aku pernah liat foto aku pake gelang itu juga."

"Berarti kita emang dipisah sengaja," Rani berkata, suaranya bergetar. "Bukan salah paham rumah sakit."

Raze duduk di lantai berdebu itu, tidak peduli pada jasnya yang mahal, membuka buku catatan tebal itu dengan hati-hati, seolah setiap halamannya bisa hancur kapan saja.

Raze membuka buku catatan itu dengan hati-hati. Halaman pertamanya bertuliskan tanggal yang sama dengan malam kecelakaan. Tulisan tangan yang kaku dan formal, sangat berbeda dari caranya sendiri menulis.

Kejadian di ruas tol malam ini akan menjadi masalah besar jika saksi mata dibiarkan bicara. S. Nireva melihat truk milik Samudra Karya lebih jelas daripada yang seharusnya. Aku sudah mengatur pertemuan besok pagi.

Damar berdiri di ambang pintu gudang, tidak masuk lebih jauh, membiarkan mereka bertiga menyerap kebenaran itu tanpa gangguan, meski matanya sesekali melirik cemas ke arah Raze yang wajahnya semakin pucat setiap baris yang dia baca keras-keras.

Halaman berikutnya, tertanggal tiga hari kemudian.

Kesepakatan tercapai. S. Nireva mencabut kesaksiannya, sebagai gantinya, biaya pengobatan penuh untuk kedua anaknya, dan tunjangan pendidikan sampai mereka dewasa, dibayarkan diam-diam lewat yayasan. Dia bersikeras kedua anaknya harus dipisahkan sementara. Dia takut, jika keduanya dibesarkan bersama dengan cerita yang sama, kebenaran akan lebih mudah terungkap suatu hari. Aku menghormati permintaan itu. Salah satu anak akan ditempatkan di panti asuhan pelabuhan di bawah pengawasanku, dengan identitas yang disamarkan.

Ada satu halaman lagi setelahnya, tanggalnya beberapa bulan kemudian. Tulisannya lebih rapat, seperti ditulis terburu-buru.

S. Nireva datang lagi hari ini, memohon agar anak yang dipisahkan dikembalikan. Katanya istrinya tidak bisa tidur, terus memanggil nama Alia di tengah malam.

Aku menjelaskan bahwa mengembalikannya sekarang akan membangkitkan pertanyaan yang sama yang ingin kami hindari. Bagaimana seorang bayi yang "meninggal" bisa muncul kembali? Dia pulang dengan mata merah. Aku tidak pernah melihatnya lagi setelah itu.

Alya membaca kalimat itu berulang kali, tidak percaya pada apa yang baru saja dia pahami. "Bapak yang minta kami dipisah?" bisiknya. "Bukan Paman Baskara?"

"Kelihatannya begitu," Raze berkata, suaranya berat. "Ayahmu membuat kesepakatan untuk melindungi kalian berdua, dengan caranya sendiri yang menyakitkan. Tapi dia juga mencoba menariknya kembali, Alya. Dia tidak semudah itu merelakan kalian."

"Kenapa dia nggak coba lagi?" Alya bertanya, suaranya pecah.

"Mungkin karena Paman Baskara membuatnya cukup takut untuk berhenti mencoba," Raze menjawab, jujur, meski kejujuran itu terasa seperti pisau.

Rani duduk di lantai gudang berdebu itu, foto bayi di pangkuannya, air mata jatuh tanpa suara. "Jadi Bapak yang milih aku dibuang," katanya, pahit. "Demi ngelindungin diri dia sendiri, atau ngelindungin kita?"

"Mungkin keduanya," Alya berkata, duduk di sampingnya, merangkulnya erat. "Mungkin dia nggak tau cara lain buat ngelindungin kita selain misahin kita, Mbak. Orang yang ketakutan kadang bikin keputusan yang keliatannya kejam, padahal niatnya beda."

"Itu tetep aja bikin aku kehilangan dua puluh tahun sama keluarga sendiri," Rani berbisik.

"Aku tau, dan aku nggak akan pernah bisa gantiin dua puluh tahun itu. Tapi aku janji, sisa waktu kita, aku nggak akan pernah biarin kamu sendirian lagi."

Rani menyandarkan kepalanya ke bahu Alya. Sesaat keduanya duduk dalam diam. Dua tubuh yang identik menyatu dalam satu pelukan panjang, seolah mencoba menebus setiap tahun yang terlewat tanpa pelukan yang seharusnya mereka bagi sejak bayi.

Raze berlutut di depan mereka berdua, tangannya menyentuh bahu Alya, matanya penuh sesuatu yang menyerupai rasa bersalah kolektif, seolah dosa keluarganya sendiri kini menjadi bebannya untuk ditebus. "Aku akan mencari Pak Warno besok," katanya. "Kalau dia mengurus pengiriman Rani ke panti itu, dia mungkin tahu detail yang tidak tertulis di sini."

"Aku ikut," Alya berkata, menggenggam tangannya. "Kita udah janji, nggak ada lagi yang dihadepin sendirian."

"Aku juga ikut," Rani menambahkan, menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Ini ceritaku juga."

Raze mengangguk, menggenggam tangan Alya. Di tengah gudang berdebu yang menyimpan begitu banyak kepedihan, ada sesuatu yang menyerupai kekuatan baru yang terbentuk di antara mereka bertiga. Bukan lagi tiga orang yang mencari jawaban sendirian, melainkan satu keluarga yang memutuskan untuk menghadapi masa lalu bersama-sama.

Dalam perjalanan pulang, Rani tertidur di kursi belakang, kelelahan emosional akhirnya mengalahkan tubuhnya, dan Alya duduk di depan, kepalanya bersandar ke bahu Raze setiap kali mobil berhenti di lampu merah. Tangan mereka bertaut di atas persneling seperti sudah menjadi kebiasaan yang tidak lagi perlu dipikirkan.

"Kamu diem dari tadi," Alya berbisik, tidak ingin membangunkan Rani.

"Aku masih mencerna semuanya," Raze menjawab, pelan. "Ayahmu bukan orang jahat, Alya. Dia korban keadaan yang sama seperti kalian berdua, hanya dengan cara yang berbeda."

"Aku tau," Alya berbisik, mengecup pipinya sekilas. "Dan entah kenapa, itu bikin aku lebih gampang maafin dia, dibanding kalau dia emang orang jahat beneran."

Raze mengangkat tangannya yang bertaut, mengecup punggung tangannya lama di lampu merah. Matanya menatap lurus ke depan tapi jarinya mengusap kulitnya dengan kelembutan yang tidak pernah berkurang meski hari mereka begitu berat. "Aku beruntung punya kamu," katanya, sederhana. "Di tengah semua reruntuhan ini, kamu masih sanggup menemukan cara untuk mencintai, bukan cuma membenci."

Halaman terakhir buku catatan itu, ditulis bertahun-tahun kemudian, menyimpan satu kalimat yang membuat dada Raze sesak membacanya keras-keras untuk mereka berdua.

Raze bertanya lagi hari ini soal kecelakaan itu. Aku melihat sesuatu di matanya. Dia curiga ada yang salah, tapi tidak berani menuduh ayah angkatnya sendiri. Aku memilih diam, karena aku terlalu pengecut mengakui bahwa aku pernah membeli keheningan seorang ayah dengan uang, dan membiarkan dua anak kembar tumbuh tanpa mengenal satu sama lain, demi menjaga nama baik perusahaan yang sekarang dia warisi. Jika suatu hari dia membaca ini, aku hanya berharap dia mengerti, aku bukan monster tanpa hati nurani. Aku hanya manusia yang memilih jalan pengecut, berulang kali, sampai jalan itu menjadi kebiasaan.

Raze menutup buku itu perlahan, tangannya gemetar untuk pertama kalinya sepanjang hari itu, dan Alya menariknya ke dalam pelukan, membiarkan pria yang biasanya begitu tegar itu akhirnya membiarkan dirinya rapuh di hadapan dua wanita yang hidupnya terjalin begitu erat dengan masa lalu keluarganya.

"Kamu bukan dia," Alya berbisik lagi, kalimat yang sudah menjadi mantra di antara mereka. "Kamu yang nyariin kami. Kamu yang bawa kami balik."

Malam itu, buku bersampul kulit hitam miliknya sendiri kembali terbuka dengan tulisan yang penuh emosi yang sulit dia pilah satu per satu.

Aku membaca kata-kata terakhir seorang pria yang membesarkanku, mengaku sebagai pengecut di halaman yang sama tempat dia mengakui telah menghancurkan dua kehidupan. Aku tidak tahu harus membencinya atau mengasihaninya. Mungkin keduanya, seperti kebanyakan hal dalam hidup ini yang jarang benar-benar hitam atau putih.

Ayah Alya bukan pengkhianat seperti yang mungkin dia takutkan selama ini. Dia orang tua yang ketakutan, membuat pilihan mustahil di tengah malam paling kelam dalam hidupnya. Aku berharap, suatu hari, Alya bisa mengunjungi makamnya bukan dengan kemarahan, melainkan dengan pengertian.

Besok aku akan menemui Pak Warno. Aku berharap dia bisa memberi kami jawaban terakhir yang masih tersisa, agar Alya dan Rani bisa berhenti mencari, dan mulai benar-benar hidup.

Malam ini, aku menulis di buku ini sebagai pengakuan. Aku takut mewarisi lebih dari sekadar kerajaan bisnisnya. Aku takut mewarisi kepengecutannya. Aku berjanji pada diriku sendiri malam ini, apa pun yang terjadi selanjutnya, aku tidak akan pernah memilih jalan diam lagi.

❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!