Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.
Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.
Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.
Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.
Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03. Kepergian yang Tak Dianggap Serius
.
Arsen masih berdiri di tengah aula bercakap-cakap dengan kolega bisnisnya. Sesekali pandangannya berkeliling mencari Keira, tetapi sosok perempuan itu sudah tidak terlihat di antara para tamu. Awalnya Arsen mengira istrinya hanya pergi ke bagian belakang rumah untuk menenangkan diri, sehingga tidak terlalu memikirkannya. Namun, setelah beberapa menit berlalu dan Keira tetap tidak muncul, Arsen akhirnya mengambil ponsel dari saku jasnya lalu menghubungi nomor perempuan itu.
Panggilan pertama tidak dijawab. Arsen menunggu beberapa saat sebelum mencoba lagi, tetapi hasilnya tetap sama. Dering ponsel terdengar cukup lama sebelum akhirnya terputus dengan sendirinya.
“Keira pergi ke mana sih?” gumamnya sambil menatap layar ponsel.
Pria itu perlahan melangkahkan kakinya hendak keluar untuk mencari istrinya, tetapi baru beberapa langkah berjalan tiba-tiba Marissa menghampirinya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Marissa sambil menahan lengannya.
“Aku pulang dulu. Aku mau melihat Keira,” jawab Arsen tanpa banyak penjelasan.
“Sekarang?” Marissa langsung menggeleng dan mencekal lengannya lebih kuat. “Apa kamu sudah gila? Keluarga Halim masih ada di sini. Kalau kamu meninggalkan pesta begitu saja itu akan membuat para tamu terlebih keluarga Halim berpikir bahwa kita tidak menghargai tamu.”
“Bukan tidak menghargai, Ma,” bantah Arsen. “Aku hanya sedikit khawatir. Aku sudah menelponnya beberapa kali, tetapi dia tidak mengangkat.”
Marissa mendengus kesal. “Mungkin dia hanya sedang kesal,” bujuk Marissa pelan seolah persoalan itu sama sekali tidak penting. “Biarkan saja. Setelah emosinya reda, dia juga akan pulang sendiri. Lagian dia mau ke mana sih? Palingan juga tidur di rumah!”
Arsen terdiam. Sebenarnya ia masih merasa sedikit khawatir pada Keira, tetapi perkataan ibunya membuatnya mengurungkan niat. Ia menoleh ke arah keluarga Halim yang memang masih berada di aula, lalu kembali melihat ponselnya yang tidak kunjung mendapatkan balasan.
“Kalau begitu, aku tunggu sampai pesta selesai,” ucap Arsen akhirnya.
Marissa tersenyum lega. “Begitu lebih baik. Jangan sampai keluarga Halim menganggap keluarga kita tidak serius dengan pernikahan ini. Ingat, mereka bisa mengangkat pamor kita tapi juga bisa menjatuhkan.”
Arsen tidak menjawab. Ia hanya memasukkan kembali ponselnya ke saku kemudian berjalan menuju beberapa rekan bisnis yang sejak tadi menunggunya.
Benar kata ibunya. Keira tidak akan pergi jauh. Selama empat tahun menikah, perempuan itu selalu berada di sisinya. Bahkan ketika mereka melewati masa-masa sulit, Keira tidak pernah meninggalkannya. Karena itu, Arsen sama sekali tidak berpikir bahwa kepergian istrinya malam ini akan menjadi sesuatu yang serius.
Ia hanya menganggap Keira sedang merajuk. Nanti dia akan membujuknya dengan membelikan berlian. Setelah itu perempuan itu akan kembali patuh seperti biasa.
—
Taksi yang membawa Keira berhenti di depan gerbang sebuah kediaman megah yang selama bertahun-tahun hanya sesekali didatangi Keira.
Lampu-lampu taman menyala menerangi jalan menuju bangunan utama. Begitu mobil berhenti di depan gerbang, seorang kepala pelayan yang telah menerima kabar dari Daren tentang kepulangan sang nona segera maju bersama puluhan pelayan yang sudah berjajar rapi di kedua sisi pintu gerbang yang telah dibuka lebar.
Begitu Keira turun dari taksi, kepala pelayan itu membungkukkan tubuh dengan penuh hormat. “Selamat datang kembali, Nona.”
Puluhan pelayan di belakangnya ikut membungkuk. “Selamat datang kembali, Nona Keira.”
Lalu salah seorang pelayan bergerak cepat menerima koper Keira dari sopir taksi. Sopir taksi yang melihat semua itu begitu takjub. Apalagi melihat bangunan megah di hadapannya. Seakan. Dirinya baru saja melihat syuting drama Korea.
Keira berdiri sejenak di hadapan mereka. Setelah empat tahun hidup sederhana dan membiarkan semua orang mengira dirinya hanya seorang istri pengusaha biasa, suasana seperti ini terasa asing sekaligus familiar.
Di tempat ini, tidak ada yang melihatnya sebagai perempuan miskin, mempertanyakan pakaian sederhananya atau menyuruhnya membawa nampan atau melayani tamu. Karena dia lah pemilik dari segala kemewahan yang ada di dalamnya.
“Nona terlihat lelah. Koki akan menyiapkan makan malam,” ucap kepala pelayan setelah berdiri tegak kembali.
Keira menggeleng pelan. “Tidak usah, Pak Hero. Aku akan langsung beristirahat.”
Pak gero kembali membungkuk hormat. “Baik, Nona. Kamar Nona sudah disiapkan.”
Keira menyerahkan tas kecilnya kepada seorang pelayan, kemudian melangkah masuk ke halaman rumah yang luas itu. Setiap langkah membawanya semakin jauh dari kehidupan yang baru saja ia tinggalkan.
Sesampainya di dalam rumah, Keira kemudian melanjutkan langkahnya menuju lantai atas, di mana kamarnya berada. Tidak ada air mata yang jatuh. Tidak ada penyesalan yang tersisa.
Selama empat tahun, ia sudah membalas hutang budi karena Arsen pernah menyelamatkan nyawanya. Selama empat tahun itu Arsen dan keluarganya sudah hidup bergelimang harta. Dan malam ini hutang budi itu ia anggap sudah lunas.
****
Pesta baru selesai ketika malam sudah semakin larut. Setelah semua tamu pergi, Arsen langsung masuk ke mobil dan meminta sopir membawanya pulang. Sepanjang perjalanan, ia sempat kembali menghubungi Keira, tetapi istrinya itu sama sekali tidak mengangkat panggilan. Arsen menghela napas dan menyandarkan tubuhnya pada jok.
“Masih marah rupanya,” gumamnya. Ia tidak mencoba menelepon lagi. Lagi pula sebentar lagi ia akan sampai di rumah.
Begitu tiba di rumah, Arsen masuk seperti biasa. Rumah itu sudah sepi karena para pelayan yang bertugas malam tidak berada di ruang keluarga. Ia meletakkan kunci mobil di atas meja, kemudian berjalan menuju lantai atas dengan pikiran yang masih tertuju pada Keira.
“Keira?” panggilnya ketika membuka pintu kamar. Tapi sama sekali tidak ada jawaban.
Arsen mengira istrinya sudah tidur, tetapi setelah lampu kamar dinyalakan, ia justru mendapati tempat tidur kosong. Arsen mengira istrinya sedang berada di kamar mandi. Namun saat ia membuka pintu kamar mandi, Keira juga tidak ada di sana.
“Keira?”
Arsen berjalan menuju ruang pakaian dan baru menyadari ada sesuatu yang berbeda. Beberapa bagian lemari yang biasanya penuh dengan pakaian Keira kini terlihat kosong. Arsen membuka laci dan menemukan barang-barang pribadi istrinya juga sudah tidak berada di tempatnya.
“Apa dia benar-benar pergi?” gumamnya pelan karena merasa heran. Pria itu masih belum menganggap tindakan Keira sebagai sesuatu yang serius. Ia justru merasa perempuan itu sedang merajuk dan ingin dibujuk.
Pria itu kemudian kembali turun hingga sampai ke ruang keluarga. Di sana ia sudah melihat pelayan yang sebelumnya berada di rumah utama kini sudah sampai kembali di rumahnya dan bersiap tidur.
Tiba-tiba saja, tatapan Arsen tiba di atas meja kecil gimana tadi dirinya meletakkan kunci mobil. Sebuah benda yang berkilau, Arsen mendekat dan ternyata itu adalah cincin pernikahan mereka yang biasanya dipakai oleh Keira kini tergeletak di sana bersama selembar kertas yang dilipat.
Arsen mengambil cincin dan kertas itu dengan dada berdetak kencang lalu membacanya. Setelah selesai, ia menatap tulisan tersebut beberapa saat sebelum menghembuskan napas pelan.
“Cuma karena kejadian di pesta tadi?” katanya lirih, seolah tidak percaya istrinya bisa mengambil keputusan sebesar itu hanya karena merasa tersinggung. “Dasar kekanakan!”
Arsen duduk di atas sofa sambil melonggarkan dasinya. Ia membaca surat itu sekali lagi, kemudian mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Keira. Nada sambung terdengar di telinganya. Tapi sama seperti sebelumnya, panggilan itu kembali berakhir tanpa jawaban.
Arsen menurunkan ponselnya dan menatap layar beberapa saat. Ada sedikit rasa kesal karena Keira benar-benar mengabaikannya, tetapi ia masih yakin perempuan itu hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
“Palingan juga cuma merajuk,” ujarnya sambil meletakkan ponsel di atas meja. “Besok juga pulang.”
Setelah itu, Arsen kembali naik ke lantai atas lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa menyadari bahwa sejak malam itu ia akan tidur tanpa Keira di sampingnya.
pegangin nyawa ny pak darma yg udh muak tinggal di raga ny sendiri ,,
selama ini anda begitu sombong ,, menyepelekan keira ,,
skarang kenyataan siapa keiraa ,,
jantungan kn andaa ,,
🤭🤭😁😁😁
ga nyangka kn kl wnita yg jd babu d rmh klian,bhkn d usir krna wnita lain trnyta holang kaya????
mkanya,jgn songong jd orng.....😛😛😛
up lagi thor 🤭🙏