Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.
Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.
Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Ting....
Ting.....
Alya menatap ke ponselnya lagi....
"itu siapa...?"
"bukanya itu arus"
"kayaknya iya"
"tapi kok tega ya.."
"mau gimana lagi, kalian tadi lihatkan foto yang ku kirim. Lagi liburan aja dia sempet sempetnya pergi sama preman, mana pakek mobil lagi. Kayaknya dia memang ikut mafia.." balas Bagas dalam grub itu.
Pesan terus bergulir begitu cepat, terlihat jelas kalau Bagas terus menyudutkan arus di dalam pesan itu.
Alya tak tahan lagi, ia berlari ke lapangan tempat acara akan di mulai.
Saat sampai ia langsung menghampiri Bagas, dengan napas masih menggebu Alya langsung menunjukkan riwayat pesan.
"apa maksudnya ini..." ungkap Alya sedikit keras kepada Alya.
Sontak beberapa orang yang di sana menoleh ke arah Alya.
Sebagian orang di sini belum mengecek ponsel karena asik dengan liburannya.
"ada apa ly" Juita menghampiri Alya.
Bagas yang melihat layar ponsel Alya ia langsung menatap Alya.
"ada apa, kenapa malah ngarah ke aku."
"kalok bukan kamu yang mancing, gak akan seribut ini."
"sadar ly, aku ngelakuin ini demi kamu. Lagian yang ku tunjukin memang benar kan arus pergi bersama preman, bahkan mungkin dia bukan preman tapi mafia. Harusnya kamu tau kalau arus tadi babak belur, pasti dia habis berantem terus ngadu ke teman mafianya untuk balas dendam."
"sadar ly, kalok kamu terus sama dia. Dia bisa nyeret kamu, lihat sekarang kamu udah mau terseret jadi rusak seperti dia."
Bagas mendekati Alya mencoba memegang kedua bahu gadis itu.
"dengar ly, kamu harus sadar... Pilihanmu itu salah, lebih baik kamu putuskan hubungan dengan pria brengsek itu sebelum terlambat."
Namun sebelum Bagas berhasil menyentuhnya, Alya sudah mundur terlebih dahulu.
plak.....
Tamparan keras mendarat tepat di pipi Bagas.
"gas.... Memang semua itu benar, kamu memang seperti itu..!"
"seperti itu...?"
Bagas tak mengerti dengan maksud Alya, namun ia tak mendapatkan jawaban Alya. Karena Alya sudah berlari pergi.
Juita langsung mengejar menantunya itu, lagi pula orang tua Alya tak ikut tur ini jadi dia bertanggung jawab atas menantunya itu.
Sampai di kediaman Alya, Juita mengetuk pintu beberapa kali.
Namun tak ada jawaban....
Akhirnya Juita langsung membuka pintu, melihat Alya yang tengah terisak ia langsung menghampirinya.
"ly, sebenarnya ada apa...?"
Alya mengusap air matanya ia menunjuk ke arah ponsel.
Juita mengambil ponsel, dan membaca semua pesan.
"ma... Alya yakin kak arus bukan orang seperti itu.."
Juita mengelus kepala menantunya itu, tanpa menjawab.
Jujur saja dia tak dapat berkata apapun sekarang, hatinya sebagai ibu tentu ingin tak mempercayai semua itu.
Tapi tentu dia bisa mengenali sosok di foto itu, dan itu jelas arus.
"udah kamu tidur dulu, nanti kalo arus kembali baru di bicarakan lagi"
Alya sedikit mengangguk, ia berbaring di kasur. sedangkan sang mertua pergi dari sana.
acara yang akan di adakan malam ini akhirnya batal, beberapa orang sibuk melihat ponsel dan foto arus.
Terutama foto saat arus berdiri memegang besi dengan pria tua bersimbah darah di dekatnya.
Walau begitu mereka tak ada yang berani mengungkapkan langsung, lagi pula dewangga merupakan orang yang di hormati di desa.
di ruangan lain, terlihat foto arus tengah di usap menggunakan jari lentik.
"maaf, aku harus melakukan ini... Jika tak begini kau akan bersama orang orang desa jahat itu" gumam putri.
Tok tok tok....
"masuk" jawab putri....
Laras masuk lalu menutup pintu lagi...
"nona muda, selanjutnya apa lagi."
Putri menggeleng..
"biarkan semua mengalir semestinya dulu..."
"tapi nona nona muda, apa anda yakin mau membuat tuan muda arus seperti ini. bukankah anda paling benci saat tuan arus di hina..?"
"mau bagaimana lagi, jika mereka menghina maka biarkan saja. Dengan begitu dia tau siapa yang paling menghargainya."
di kamarnya Alya sama sekali tak dapat tidur, ia bolak balik kan tubuhnya. Memejamkan matanya beberapa kali namun ia sama sekali tak mampu terlelap.
Saat subuh, akhirnya ia menumpahkan segalanya di dalam sujudnya.
air matanya tak dapat terbendung.
Siang itu mereka kembali ke desa, bahkan setelah sampai ke desa arus sama sekali belum muncul.
Alya bahkan langsung pergi ke kamar, Lia ingin mendatanginya namun di cegah oleh Julia.
"biarkan dia menenangkan diri dulu." saran Juita.
Sore harinya, baru arus terlihat menggunakan motor sportnya melewati desa.
Setiap orang yang melihatnya langsung menggosipkan arus.
Arus sendiri tau, walau tak mendengar suara. tapi gelagatnya terlihat jelas.
Sampai rumah arus langsung di hadang oleh kedua orang tuanya.
"dari mana saja baru pulang....!" tegas dewangga.
"main..." jawab arus singkat.
brak.....
"apa kamu lupa kamu sudah menikah, apa kamu tak bisa menjaga perilaku. lihat sekarang bagaimana keadaan istrimu, seharunya aku tak usah mengizinkanmu menikah jika tau akan begini..!" bentak dewangga.
Bahkan saking marahnya dewangga hendak main tangan, beruntung Juita menahan sambil menggeleng pelan.
"Alya...? Alya kenapa...?" tanya arus.
"kenapa kamu bilang...! apa kamu tak tau mata Alya sampai sembab karena kelakuanmu..!"
mendengar ini arus langsung bergegas bergerak tanpa memperdulikan panggilan ayahnya lagi.
Bahkan dewangga terus memanggil, namun arus sama sekali tak bergeming.
"anak ini..."
"sudah pa, biarkan arus menemui Alya dulu. Siapa tau dengan bertemu arus Alya bisa tenang dan mau makan. sejak berita ini terdengar Alya sama sekali belum makan"
saat masuk kamar, Alya langsung berhambur ke pelukannya.
"akhirnya kakak pulang" ungkapnya sambil terisak.
Arus mengelus kepala Alya, perlahan. Ia membiarkan wanita itu menumpahkan semuanya lewat air mata.
Setelah isakan Alya mulai mereda, baru arus melepaskan pelukan sang istri.
"katakan, sebenarnya ada apa..."
Alya mulai menjelaskan semuanya, dari Bagas yang tiba tiba mengirim foto arus saat hendak pergi.
lalu tentang foto arus yang memegang besi dengan pria tua yang bersimbah darah.
sampai kata kata Bagas yang menyakitkan baginya.
Arus mengusap kepala sang istri.
"apa kamu tak menaruh kecurigaan kalau itu semua benar....?"
Alya menggeleng...
"kalau dulu mungkin ia, tapi sekarang Alya yakin kalau kak arus tak seperti itu..."
arus tersenyum...
"ya sudah, kamu udah makan belum. Wajahmu pucet banget."
Alya kembali menggeleng....
"aku tadi gak napsu makan, takut kalau tiba tiba ada yang tau hal ini lalu nyegat kak arus di jalan."
arus tersenyum....
"makasih sudah peduli, tapi lain kali jangan gini lagi. Aku gak akan kenapa Napa, sekarang tunggu di sini biar aku ambilin makan, kamu perlu isi perut dulu."
saat arus berdiri, Alya langsung mencekal tangannya.
"kak... biar aku ambil sendiri, kalok kakak ke bawah pasti kakak di marahi sama papa"
arus melepas tangan Alya dengan lembut...
"gak papa, kamu tunggu aja di sini. Semua aman."