Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DELAPAN BELAS
## Bab 18: Lingkaran yang Semakin Menyempit
Jumat pagi itu, Bayu bangun dengan perasaan yang jauh lebih berat dari biasanya. Semalam, setelah insiden kecil soal notifikasi Wulan, ia tidak bisa benar-benar tidur nyenyak, terus memikirkan bagaimana caranya menjaga agar penjelasan yang ia berikan pada Ayu tetap konsisten jika suatu saat nama Wulan kembali muncul dalam percakapan mereka.
Ia duduk sebentar di tepi ranjang sebelum bersiap ke kantor, menatap Ayu yang masih tertidur pulas di sampingnya. Wajah itu, yang selama ini selalu memancarkan ketenangan dan kepercayaan penuh, kini terlihat berbeda di matanya sendiri—bukan karena Ayu benar-benar berubah, melainkan karena Bayu sendiri mulai melihatnya melalui lensa ketakutan yang semakin hari semakin membesar.
Di kantor, hari itu ia berusaha menampilkan diri seperti biasa, meski pikirannya terus melayang jauh dari pekerjaan yang seharusnya menjadi fokus utamanya. Beberapa kali ia harus mengulang pekerjaan yang salah karena kurang konsentrasi, membuat rekan-rekan kerjanya mulai bertanya-tanya soal kondisinya.
"Bay, lo yakin baik-baik aja? Udah beberapa hari ini kelihatan nggak fokus banget," tanya Doni, kembali menyinggung hal yang sama seperti beberapa waktu lalu.
"Iya, Don, cuma lagi ada masalah keluarga dikit. Nanti juga kelar kok," jawab Bayu, mencoba menutupi kegelisahannya dengan senyum yang semakin sulit ia pertahankan keasliannya.
---
Siang harinya, di sela istirahat, Bayu menyempatkan diri menelepon ibunya, Bu Sri, mencoba mencari tahu sejauh mana kecurigaan yang mungkin sudah tumbuh di benak ibunya sendiri.
"Bu, kemarin pas aku sama Ayu berkunjung, Ibu nanya-nanya soal kondisi rumah tangga kami. Emangnya ada apa, Bu?" tanya Bayu, mencoba terdengar santai meski jantungnya berdegup lebih cepat menunggu jawaban ibunya.
Bu Sri terdiam sejenak di seberang telepon, sebuah keheningan yang terasa lebih lama dari yang seharusnya. "Bay, Ibu mau tanya sesuatu, dan Ibu mau kamu jawab jujur."
"Tanya apa, Bu?" Bayu merasakan firasat buruk mulai menjalar di dadanya.
"Kamu punya hubungan lain di luar pernikahan sama Ayu, kan?" tanya Bu Sri, langsung tanpa basa-basi, sebuah pertanyaan yang membuat Bayu terdiam cukup lama sebelum akhirnya berhasil menjawab.
"Ibu dapet informasi dari mana?" Bayu balik bertanya, mencoba mengulur waktu, meski pertanyaan itu sendiri sudah cukup menjadi pengakuan tidak langsung atas kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
"Nggak penting dari mana, Bay. Yang penting, Ibu pengen kamu jujur. Kalau emang bener, Ibu harap kamu segera selesaikan masalah ini sebelum semakin banyak orang yang tersakiti," kata Bu Sri, suaranya terdengar campuran antara kecewa dan khawatir.
Bayu menghela napas panjang, menyadari bahwa lingkaran orang yang mengetahui atau setidaknya mencurigai kebenaran ini semakin menyempit, semakin mendekat ke pusat kehidupannya sendiri. "Bu, aku... aku emang ada masalah. Tapi tolong, jangan cerita dulu ke Ayu. Aku yang bakal selesaikan sendiri, dengan caraku."
"Bayu," suara Bu Sri terdengar tegas, jarang sekali ia menggunakan nada seperti itu pada anaknya. "Ibu nggak akan cerita ke Ayu, itu bukan hak Ibu. Tapi Ibu minta kamu segera bertanggung jawab, entah gimana caranya. Jangan biarkan ini berlarut-larut lebih lama lagi. Kasian Ayu, kasian juga anak yang di luar sana kalau memang benar ada."
Percakapan itu berakhir dengan perasaan berat di dada Bayu, menyadari bahwa bahkan ibunya sendiri kini sudah mengetahui, atau setidaknya sangat mencurigai, kebenaran yang selama ini ia jaga dengan susah payah dari orang-orang terdekatnya.
---
Sore harinya, sepulang kerja, Bayu tidak langsung pulang ke rumah, memilih untuk mampir ke bengkel Feri, mencari sedikit ketenangan dari sahabatnya itu di tengah tekanan yang semakin menumpuk dari berbagai arah.
"Fer, ibu aku udah tau, atau minimal curiga banget," kata Bayu, begitu sampai di bengkel, duduk lemas di kursi plastik yang biasa mereka gunakan untuk mengobrol.
"Serius, Bay? Dari mana ibu lo tau?" tanya Feri, tampak terkejut mendengar perkembangan baru itu.
"Kayaknya dari saudara jauh yang tinggal deket kontrakan Wulan. Ibu langsung nanya blak-blakan tadi siang," jelas Bayu, menceritakan percakapan yang baru saja terjadi.
Feri menghela napas panjang, menepuk pundak sahabatnya itu. "Bay, gue rasa ini emang udah waktunya. Semakin lo tunda, semakin banyak orang yang bakal tau duluan sebelum Ayu sendiri yang tau langsung dari lo. Itu bakal jauh lebih nyakitin buat dia, tau kebenaran dari orang lain, bukan dari suaminya sendiri."
"Aku tau, Fer. Tapi aku takut banget," Bayu menundukkan kepalanya, suaranya bergetar menahan emosi yang sudah lama ia pendam. "Aku takut kehilangan Ayu. Tapi aku juga nggak bisa ninggalin Wulan sama Raka."
"Nggak ada solusi yang nggak nyakitin, Bay. Cepat atau lambat, lo harus pilih, atau minimal, lo harus jujur dulu ke semua pihak biar mereka juga punya hak buat milih apa yang mereka mau lakuin setelah tau kebenarannya," saran Feri, kalimat yang terdengar sederhana namun menyimpan kebijaksanaan yang sulit diterima oleh Bayu yang masih terus berharap ada jalan keluar tanpa harus kehilangan apa pun.
---
Malam harinya, sesampainya di rumah, Bayu mendapati Ayu sedang duduk di ruang tamu, wajahnya tampak sedikit berbeda dari biasanya—bukan marah, namun ada semacam ketenangan yang terasa aneh, seolah ia sedang menyimpan sesuatu dalam pikirannya.
"Mas, tadi siang aku iseng nanya ke Tika soal orang yang katanya pernah dia lihat sama kamu di daerah pinggiran kota waktu itu," kata Ayu, tanpa basa-basi, langsung membuka topik yang membuat jantung Bayu berdegup kencang seketika.
"Terus, Tika bilang apa?" tanya Bayu, mencoba tetap tenang meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
"Dia bilang, waktu itu dia lihat kamu turun dari motor di depan sebuah kontrakan, terus ada perempuan yang nyambut kamu di depan pintu, sambil gendong anak kecil," jelas Ayu, matanya menatap lurus ke arah Bayu, mencari reaksi yang mungkin bisa memberikan petunjuk lebih jelas dari yang selama ini ia terima.
Bayu terdiam, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk merespons, namun kali ini, penjelasan-penjelasan yang biasa ia gunakan terasa semakin sulit untuk dirangkai dengan meyakinkan. "Itu... itu mungkin salah orang, Yu. Atau mungkin waktu itu aku emang lagi nganterin dokumen proyek ke rumah salah satu vendor."
"Vendor yang punya anak kecil dan nyambut kamu kayak udah kenal deket banget?" Ayu mengejar dengan pertanyaan yang semakin tajam, sesuatu yang jarang ia lakukan sebelumnya.
Bayu tidak langsung menjawab, hanya menatap Ayu dengan tatapan yang mulai kehilangan kepercayaan dirinya sendiri untuk terus mempertahankan kebohongan yang, ia sadari, semakin hari semakin sulit untuk dijaga konsistensinya di hadapan pertanyaan-pertanyaan yang semakin mendekati inti kebenaran.
"Yu, itu... itu bukan seperti yang kamu pikirkan," jawab Bayu, sebuah kalimat klise yang bahkan terdengar lemah di telinganya sendiri.
Ayu menatapnya lama, tidak langsung melanjutkan pertanyaan lebih jauh, namun raut wajahnya menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya, keraguan yang selama ini berhasil ia tepis dengan berbagai penjelasan logis, kini mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih serius—sebuah kecurigaan yang, meski belum sepenuhnya terkonfirmasi, sudah cukup kuat untuk membuatnya tidak lagi bisa sepenuhnya mempercayai setiap kata yang keluar dari mulut suaminya sendiri.
"Ya udah, Mas. Aku capek, mau istirahat dulu," kata Ayu akhirnya, memilih untuk tidak melanjutkan konfrontasi malam itu, meski dari nada suaranya, jelas terdengar bahwa ini bukan akhir dari pertanyaan-pertanyaan yang akan terus muncul dalam waktu dekat.
Bayu duduk terpaku di ruang tamu setelah Ayu masuk ke kamar, menyadari bahwa lingkaran yang selama ini melindungi rahasianya kini benar-benar sudah menyempit hingga titik yang paling kritis—ibunya sudah curiga, sahabatnya sudah mendesak untuk jujur, dan sekarang, istrinya sendiri sudah mulai mempertanyakan kebenaran di balik setiap alasan yang selama ini berhasil ia gunakan untuk menutupi kehidupan gandanya. Ia tahu, waktu yang tersisa untuk mempertahankan kebohongan ini sudah hampir habis, dan apa pun yang terjadi selanjutnya, akan menjadi awal dari babak baru yang jauh lebih sulit dari apa pun yang pernah ia hadapi sebelumnya.
---
*Bersambung ke Bab 19*