"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.
Elena Hamil.
Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.
Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.
Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.
Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
"Apa masih lama topengnya jadi?" tanya Leon dengan nada dingin yang sarat akan ketidaksabaran.
Ia berdiri di balkon kamarnya, sebelah tangannya memegang ponsel sementara tangan lainnya menggenggam gelas kristal berisi red wine mahal.
Suara di seberang telepon terdengar sedikit gemetar.
"M–mungkin sebentar lagi, Sir. Kami baru saja mendapatkan bahan baku silikon sintetis kualitas terbaik dari Jerman seperti yang anda minta. Proses pencetakannya membutuhkan waktu agar teksturnya pas dengan suhu kulit."
Leon berdecak kesal. "Buat semirip mungkin dengan yang kemarin! Jangan sampai ada satu kerutan pun yang berbeda. Aku tidak mau terlihat seperti orang cacat karena topeng murahan. Mengerti?!"
"Baik, Sir. Segera kami selesaikan."
Leonard langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak dan melempar ponselnya ke atas ranjang. Ia kembali menyesap wine-nya seraya menatap ke bawah dari balkon kamarnya di lantai dua.
Kening pria tampan itu berkerut dalam saat melihat pemandangan di lantai dasar. Para pelayan tampak berlarian ke sana kemari bagai semut yang sarangnya baru saja ditendang.
Ada yang membawa vas bunga mawar segar, ada yang mendorong troli berisi tumpukan bahan makanan mewah ke arah dapur, dan ada pula yang sibuk memoles lantai hingga mengkilap menyilaukan mata.
"Apa rumah ini kedatangan tamu penting? Kenapa mereka sok sibuk sekali hari ini? Kakek tidak bilang ada kunjungan," gumam Leon pada dirinya sendiri.
Meski penasaran, Leon memutuskan untuk tak peduli. Seharian ini ia memang sengaja mengurung diri dan tidak keluar kamar sama sekali.
Ia memilih menghabiskan waktunya dengan duduk di depan laptop, memantau pergerakan saham perusahaannya di Italia serta memeriksa laporan panen dari perkebunan tehnya.
Bukan tanpa alasan Leon bersembunyi. Saat ia bercermin di pantulan kaca jendela, rahang dan lehernya masih terlihat sedikit merah dan bengkak.
Semua itu murni akibat sentuhan brutal dari wanita kampung yang semalam berani-beraninya menyeret dan memaki-makinya. Kulit Leon yang kelewat sensitif rupanya menolak kontak fisik sekasar itu.
"Aku hanya akan keluar saat makan malam tiba," desis Leon sambil mengusap rahangnya yang masih berdenyut nyeri.
***
Malam pun akhirnya tiba.
Di ujung tangga utama, Elena melangkah turun perlahan. Penampilannya malam ini sungguh di luar nalar.
Gaun merah maroon berbahan tipis itu melekat sempurna membalut lekuk tubuhnya. Bagian punggungnya terbuka lebar hingga ke pinggang, sementara belahan di bagian paha kirinya menjuntai setiap kali ia melangkah.
Rambut panjangnya ditata bergelombang dan bibirnya dipulas lipstik merah merona. Ia terlihat sangat luar biasa, mematikan, sekaligus menawan.
Namun, alih-alih mendapat tepuk tangan, langkah elegan Elena langsung disambut oleh tatapan tajam nan menghakimi dari seorang bocah laki-laki berusia enam tahun di bawah tangga.
Noah melipat kedua tangannya di depan dada, persis seperti bapak-bapak yang sedang meronda. Matanya memicing tak suka menatap ibunya dari atas ke bawah.
"Ma, apa aku tidak salah melihat?" tegur Noah dengan nada sok dewasa yang membuat Xander dan Naomi di sebelahnya menahan tawa.
"Kenapa Mama memakai pakaian kurang bahan begini? Tukang jahitnya kehabisan kain ya? Atasnya terbuka, bawahnya terbelah! Kalau Mama masuk angin lalu minta kerok, aku tidak mau bantu ya!"
Wajah Elena seketika memerah padam. Ia buru-buru menarik kain gaunnya untuk menutupi paha.
"Noah, jangan sembarangan bicara! Mama juga sebenarnya malu, tapi ini kan paksaan dari—"
"Sstt! Nggak ada malu-malu malam ini!" potong Naomi cepat, langsung merangkul pundak Elena dan membelanya di depan sang cicit.
"Dengar ya, Noah sayang. Nenek sengaja mendandani ibumu begini. Ini namanya strategi ranjang eh, maksud Nenek, taktik perang! Kita harus memberikan serangan jantung mendadak pada cucu Nenek alias ayah kandungmu itu!"
Noah menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang mendadak pusing menghadapi kelakuan nyeleneh nenek buyutnya ini.
"Terserah Nenek saja. Tapi ingat, kalau ada nyamuk yang menggigit kaki Mama, aku akan menuntut rumah ini."
Xander yang sejak tadi tertawa geli kini berdeham, mencoba memasang wajah serius. Ia menyejajarkan tingginya dengan Noah.
"Bagus. Sekarang perhatikan Kakek, Noah. Ingat rencana kita tadi siang? Nanti begitu pria penipu itu turun untuk makan malam, kamu harus memanggil Kakek dengan sebutan papa. Jangan sampai keceplosan memanggil Kakek. Mengerti, Jagoan?"
Noah memutar bola matanya malas, lalu mengangguk patuh.
"Iya, iya, aku mengerti, Papa Xander. Asalkan Mama bahagia dan uang saku bulananku di rumah ini cair dengan lancar, aku akan melakukan peran apa pun yang kalian minta. Menjadi anak tiri pun aku ikhlas."
Mendengar kata uang, Elena hanya bisa menepuk jidatnya. Jiwa mata duitan putranya benar-benar menurun darinya.
Sementara keluarga itu sibuk berdebat kecil sambil tertawa-tawa di ruang tengah, tak ada satu pun yang menyadari penderitaan batin seorang pria paruh baya yang berdiri tegak di sudut ruangan.
Joni tampak menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan isak tangis. Matanya berkaca-kaca menatap punggung kecil Noah dengan tatapan nelangsa.
Bagaimana tidak menangis dalam diam? Siang tadi, bocah iblis berwajah malaikat itu kembali menguras habis isi dompetnya lagi.
Bukan untuk hal penting, melainkan hanya untuk memesan lima puluh kotak piza ukuran raksasa dengan topping daging paling mahal, murni hanya untuk mentraktir teman-temannya.
Alasan Noah sangat sederhana, bocah itu bilang kalau Joni pasti banyak dosa dan menyuruhnya bersedekah supaya Joni bisa masuk surga.
Kini, dompet Joni benar-benar rata dengan tanah.
"Sabar, Jo, sabar. Aku akan meminta ganti rugi berlipat-lipat pada sir Leon!" batin Joni meratapi nasibnya sambil mengusap sudut matanya dengan sapu tangan.
"Tumben ramai sekali," gumam Leon sembari menuruni anak tangga.
Matanya menyapu meja makan panjang di ruang tengah. Namun, bukan hidangan mewah yang mengunci pandangannya, melainkan pemandangan tak terduga yang langsung membuat tekanan darahnya naik.
Di sebelah kursi Xander, kakeknya, duduk seorang wanita bergaun sangat seksi yang punggungnya terbuka lebar. Wanita itu mencondongkan tubuhnya ke arah Xander dengan senyum sumringah yang membuat Leon mual.
Tunggu dulu! Leon menyipitkan mata, menajamkan penglihatannya.
"Bukankah dia wanita kampung yang menolongku semalam?! Dan bocah kecil yang sedang makan paha ayam di seberangnya itu..."
Leon tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Kepalanya mendadak pening. Kenapa wanita bar-bar itu bisa ada di rumahnya?!
Belum tuntas keterkejutannya, suara mendayu-dayu dari wanita itu kembali menampar gendang telinganya.
"Sayang, mau makan apa malam ini? Daging panggang atau sup iga? Biar aku yang potongkan dan melayani mu ya," ucap Elena dengan manja yang dibuat-buat, sambil mengelus wajah Xander mesra.
Leon seketika melotot horor. Jantungnya nyaris melompat dari dada.
"Apa dia bilang tadi?! Sayang?! Pada kakekku?!" batin Leon menjerit histeris.
Ia menoleh ke arah Naomi yang duduk anteng di seberang Xander. Hebatnya, neneknya itu hanya diam menikmati wine, seolah suaminya yang sedang digoda wanita muda itu hanyalah pajangan.
"Astaga, Kakek benar-benar sudah gila!" geram Leon tertahan.
Dengan tangan terkepal erat menahan amarah yang meledak-ledak, Leon buru-buru mempercepat langkahnya menuju meja makan.
ampun dh kocak parah/Facepalm/
noah dagang cu-pang/Facepalm//Facepalm/