Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.
Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.
Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.
Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.
Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.
Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.
Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
50juta untuk Acara Tujuh Bulanan Rara
Hari-hari berlalu sejak kejadian itu. Raya memutuskan untuk menjaga jarak dengan Zevan dan Rara. Ia memilih mengalihkan seluruh perhatiannya pada pekerjaan, sebagai tempat pelarian nya.
Apalagi saat Rara meminta uang untuk membayar SPP.
Raya sama sekali tak pernah menggubrisnya, dan memilih untuk pergi dari pada membuat emosinya memuncak.
Bahkan selama tujuh bulan ini, setiap ia usai jam kerja, Raya memilih untuk mampir ke tempat hiburan, atau menemui Syila di rumah atasannya, lalu pulang setelah dua belas dengan alasan lembur.
Namun, malam ini...
Raya yang baru pulang melangkah masuk ke dalam rumah dengan tubuh yang terasa lelah. Namun, saat ia baru melangkah masuk, tiba-tiba suara tak terasa familiar terdengar.
“Akhirnya kamu pulang juga.”
Raya menoleh ke arah ruang tamu. Di sana, Bu Riana, Bu Rodiah, Zevan, Rara dan Ayah mertuanya sudah berkumpul. Tatapan mereka langsung tertuju kepadanya.
“Ada apa?” tanya Raya singkat.
Bu Riana segera membuka suara. “Kasur yang ada di kamar kamu sangat nyaman, Ra. Bisa nggak kamu pindahkan ke kamarnya Rara?” tanyanya. “Soalnya, semakin besar kehamilan semakin nggak nyaman."
Raya terdiam sesaat, lalu terkekeh pelan.
“Kalau mau ya beli, Bu. Kenapa minta aku buat mindahin kasur ke kamar Rara?” tanya Raya.
“Nduk, mengalah saja. Adikmu sedang hamil,” sela Bu Rodiah.
Pandangan Raya lalu beralih pada sang ibu, lalu mengangkat alis.
“Aku harus mengalah?” tanyanya. “Mengalah lagi gitu?”
“Iya,” jawab Bu Riana. “Lagipula kamu itu nggak bisa kasih Zevan anak, jadi nggak tahu rasanya hamil. Tapi, setidaknya kamu harus meratukan adikmu yang sedang mengandung anak suamimu.”
Mendengar ucapan ibu mertuanya yang tampak tak merasa bersalah, membuatnya terkekeh. Tak percaya dengan ucapan wanita itu.
“Aku hanya menunda, Bu. Bukan berarti aku nggak bisa memberikan Mas Zevan anak.” Tatapannya beralih kepada Zevan. “Mas Zevan saja yang nggak bisa menahan nafsu.”
“Jangan salahkan Zevan, ini salahmu karena nggak bisa melayani suamimu dengan baik. Kalau enggak, mana mungkin Zevan nidurin adikmu.”
“Oh… Aku yang salah berarti?” tanya Raya memastikan.
“Memang,” jawab Bu Riana singkat.
Raya mengangguk. “Kalau aku nggak kerja, nanti ibu malah bilang nggak berguna kalau jadi beban suami. Jadi gimana dong? Kan Ibu selalu mencari kesalahanku, waktu itu juga begitu. Aku dirumah karena sakit pun, ibu nyebut aku beban, aku mentingin kerjaan, ibu bilang nggak melayani suami dengan baik.”
Raya lalu menggaruk kepalanya. “Ibu mau apa sebenarnya?” tanyanya. “Mau kami bercerai gitu?”
“Raya, cukup Raya.”
Raya mengangkat telapak tangannya agar Zevan diam.
“Oke, aku siap kok bercerai, dan aku nggak butuh hartanya Mas Zevan. Karena aku tahu Mas Zevan nggak punya apapun, rumah saja numpang istri.”
Setelah ia mengatakannya, suasana ruangan itu seketika hening.
“Mbak… Ibu mertua bilang begitu karena nggak mau calon cucunya nggak nyaman di dalam perutku, jadi jangan marah ke ibu.”
Tatapan Raya lalu mengarah pada Rara, lalu ia tersenyum senyum getir.
“Puas Ra?” tanya Raya. “Sudah jadi orang ketiga?”
“Mbak ngomong apa?”
Raya mengalihkan pandangannya ke arah lain, muak dengan ekspresi Rara berubah jadi menyedihkan.
“Kalian hanya melihatku berada di titik ini,” suaranya pelan, menahan tangisnya. “Lalu dimana kalian waktu aku kerja jadi Ob?”
Raya menggeleng. “Nggak ada yang nanyain kabar aku, aku sudah makan atau belum. Sama sekali nggak ada. Dan saat aku naik pangkat, kalian menoleh cuma minta uangku, lalu jagain anak yang nggak tahu diri.”
Pandangannya perlahan mulai terhalang oleh air matanya sendiri.
“Sekarang aku harus mengalah bagaimana lagi?” Suaranya meninggi.
“Raya, itu cuma kasur. Kenapa kamu jadi berlebihan begini sih?” ucap Bu Rodiah.
Raya menggeleng, lalu menundukkan kepalanya. “Hanya kasur,” ulangnya. “Setelah kasur, lalu apa lagi setelah ini, rumah? Pekerjaanku? Atau… uangku yang harus aku berikan ke Rara?”
Ia mengusap pipinya. “Sudahlah. Aku capek, jangan membuatku emosi,” ucapnya.
Lalu ia melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang tamu dengan langkahnya yang gontai.
Sementara itu, Zevan masih duduk di sofa. Tatapannya tak lepas dari anak tangga yang baru saja dilewati Raya hingga perempuan itu menghilang dari pandangannya.
“Zevan, bujuk Raya,” ujar Bu Riana.
Zevan lalu menoleh ke arah ibunya.
“Dua hari lagi Rara sudah harus mengadakan acara siraman,” lanjut Bu Riana. “Pokoknya harus dibuat besar. Ibu mau mengundang teman-teman Ibu sosialitanya ibu,”
Pak Rio langsung menoleh kepada istrinya.
“Rin, sikap kamu tadi kepada Raya seperti itu. Mana mungkin Raya mau membantu?”
“Sudahlah, Mas.” Bu Riana mengibaskan tangannya. “Ini kewajibannya sebagai kakak. Lagipula, kalau Rara melahirkan nanti dan anaknya sudah besar, dia bisa memanggil Raya Ibu. Lagian kamu sejak tadi diam saja nggak membela, munafik kamu Mas.”
“Bapak punya riwayat penyakit jantung, Bu. Kalau nggak ada, sudah Bapak bela mati-matian Raya,” ucap Pak Rio dengan suara pelan.
'Sejak Bapak punya penyakit jantung, Bapak yang biasanya marah-marah sama ibu, sekarang malah membiasakan diri buat bicara pelan.’
‘Tapi benar juga apa yang ibu katakan tadi, kalau Raya biayain acaranya Rara, nanti timbal baliknya Raya akan di panggil ibu sama anaknya Rara.’
Zevan menatap ibunya.
“Nanti aku bujuk Raya, Bu.”
“Sekarang. Waktunya sudah mepet,” desak Bu Riana.
Zevan kembali mengembuskan napas. Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada Rara yang sejak tadi hanya terdiam.
“Ra...”
“Sebaiknya nggak perlu ada acara, Mas,” ujar Rara lembut. “Cukup didoakan saja.”
Zevan menatap istrinya beberapa saat. Ia kemudian meraih lengan Rara dan menariknya perlahan ke dalam pelukan.
“Mas akan bujuk Raya,” katanya. “Mas akan minta dia membantu mengeluarkan dana untuk acara tujuh bulananmu. Apalagi ini anak pertama kita.”
Suasana pun seketika hening, tak ada jawaban yang keluar dari mulut Rara.
.
.
Hari semakin larut.
Raya masih belum bisa memejamkan mata. Setelah beberapa kali mencoba untuk tidur, ia akhirnya bangkit dari ranjang dan memutuskan turun ke lantai utama untuk membuat secangkir teh hangat.
Langkahnya baru saja sampai di dekat dapur, namun langkahnya terhenti saat ia melihat punggung seorang pria yang sangat familiar baginya.
‘Kenapa sial banget malam ini.’
Melihat keberadaan Zevan didapur, Raya mengurungkan niat dan memiliki untuk berbalik.
Namun, baru satu langkah ia berjalan—
“Raya, Mas mau ngomong sama kamu.”
Langkah Raya terhenti tanpa menoleh sedikitpun.
“Apa?”
“Raya, sebenarnya ini mendadak sih, tapi… Mas mohon, tolong bayarin acara tujuh bulanannya Rara, ya. Cuma lima puluh juta kok.”
Raya mengerutkan kening saat mendengar permintaan suaminya, namun bukan masalah acaranya tapi masalah pengeluarannya.
“Kenapa banyak sekali?” tanyanya.
“Ibu minta acaranya dibesarkan. Mau undang teman-teman Ibu, sama Bupati juga,” jelas Zevan.
Raya terkekeh sinis, lalu melipat kedua tangannya di dada.
“Raya, Mas mohon...” Zevan terdengar memelas. “Nanti Mas ganti uangmu.”
“Mau berapa tahun Mas akan menggantinya dengan gaji Mas yang cuma tujuh juta?” tanya Raya.
Setelah ia mengatakannya, ia berhasil membuat Zevan terdiam.
“Nggak mampu, nggak usah, Mas. Uangmu lebih baik ditabung untuk kebutuhan Rara dan anaknya nanti.” Ia berhenti sejenak. “Bilang saja kepada Ibu, acaranya diganti dengan kenduri. Gampang, kan? Kalau cuma tiga juta, aku masih bisa bantu.”
“Tapi ini anak pertama kita, Ray.”
“Acara seperti itu hanya tradisi, bukan harus,” ujar Raya.
Tanpa menunggu jawaban Zevan, Raya berbalik dan meninggalkan dapur.
Senyum miring perlahan muncul di wajahnya.
‘Rasain kamu, Mas.’
Setelah Raya pergi. Pandangan Zevan turun ke arah kopi yang masih mengepulkan asap tipis
“Van, bagaiman, di kasih nggak?”
Zevan menoleh sekilas ke arah ibunya. Kemudian menggeleng. “Enggak, Bu.”
“Gimana sih kamu, Van. Pasti nggak kamu buju si Raya.”
“Sudah, Bu. Tapi Raya tetap menolak buat kasih. Katanya kalau nggak mampu nggak usah diadakan, cukup dengan genduri saja.”
Tak lama suara helaan napas terdengar dari belakangnya.
“Raya ini, cuma ngeluarin modal saja pelit banget. Uang nggak di bawa mati kali,” sungutnya. “Nggak papa kalau nggak mau kasih, biar ibu jual barangnya,” ucapnya.
Zevan langsung menatap sang ibu. “Ibu yakin?”
“Yakinlah, kenapa enggak? Ini demi kebaikannya kalau mau jadi menantu berbakti.”
Setelah mengatakannya, Bu Riana berbalik pergi.
Kini suasana dapur kembali hening. Tatapan Zevan kembali menatap ke arah luar jendela.
‘Raya, kamu yang memulai semuanya.’