Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Setelah beristirahat sejenak dan meletakkan barang-barang di kamar, Dara kembali keluar menuju teras vila. Tatapannya kembali jatuh ke arah pantai. Wajahnya langsung berbinar.
"Aa."
Gavin yang sedang menuangkan minuman menoleh. "Iya."
"Boleh kita main ke pantai?"
Gavin mengikuti arah pandangan istrinya. Lalu tersenyum kecil. "Boleh."
Mendengar jawaban itu, Dara hampir melompat kegirangan. "Benarkah?"
"Iya."
"Asyik!"
Melihat senyum lepas Dara, Gavin hanya menggeleng pelan sambil ikut tersenyum. Sudah lama sekali ia tidak melihat seseorang bisa sebahagia itu hanya karena hal-hal sederhana.
Beberapa menit kemudian, keduanya sudah berjalan menyusuri bibir pantai. Dara melepas sandal, lalu menginjak pasir yang terasa lembut di telapak kakinya.
"Empuk," gumam Dara takjub.
Tak lama kemudian, ombak kecil datang menyentuh kedua kakinya. Dara spontan terkikik geli. "Aa! Airnya mengejar aku!"
Gavin yang melihat tingkah istrinya tidak bisa menahan senyum. "Memang ombak seperti itu."
Dara malah semakin tertawa. Sesekali ia sengaja berjalan cepat dengan kaki pincang, menghindari ombak. Namun, beberapa detik kemudian kembali mendekat agar kakinya terkena air lagi.
Melihat Dara bermain seperti anak kecil membuat Gavin perlahan ikut larut dalam suasana. Sudah bertahun-tahun ia menjalani hidup dengan wajah datar dan pikiran yang dipenuhi pekerjaan. Namun sore itu, tanpa sadar, tawa lepas keluar dari bibirnya.
Dara yang mendengarnya langsung menoleh. Matanya membulat. "Aa."
"Ya?"
"Rupanya Aa bisa tertawa kencang."
Gavin langsung menyadari dirinya sedang tersenyum. Ia berdeham pelan. "I-tu, hanya sedikit."
Dara ikut tersenyum lebar. "Suara tawanya bagus."
Ucapan sederhana itu membuat Gavin kembali tersenyum tanpa sadar.
Mereka terus berjalan menyusuri pantai hingga matahari mulai condong ke barat. Namun, karena terlalu lama berjalan di atas pasir, kaki kiri Dara yang memang sedikit pincang mulai terasa nyeri. Langkahnya perlahan melambat.
Gavin langsung menyadarinya. "Kakimu sakit?"
Dara tersenyum kecil. "Sedikit."
Tanpa banyak bicara, Gavin segera menggendong Dara. Membawanya kembali ke vila.
Setelah meminta air hangat kepada penjaga vila, Gavin menuangkannya ke dalam baskom kecil. "Duduklah."
Dara menurut.
Perlahan Gavin membantu merendam kaki kiri istrinya ke dalam air hangat.
"Hangatnya," gumam Dara. "Kakiku jadi mulai terasa lebih baik."
Beberapa menit kemudian, Gavin mulai memijat perlahan telapak hingga betis Dara. Gerakannya hati-hati, tidak terlalu kuat, tidak terlalu pelan.
Dara sempat terkejut. "Aa. Tidak usah."
"Tidak apa-apa," balas Gavin masih terus memijat.
"Tapi...."
"Kakimu harus dirawat." Suara Gavin tetap tenang. "Kalau dipaksa berjalan terus, nanti malah semakin sakit."
Dara hanya bisa menatap wajah suaminya. Tangannya terasa hangat. Pijatan Gavin juga sangat lembut. Dia merasa bahagia karena ada seseorang yang begitu memperhatikan kakinya tanpa sedikit pun menunjukkan rasa kasihan. Yang ada hanyalah perhatian.
Perlahan pandangan mereka bertemu. Tak ada yang berbicara. Namun, kali ini tidak ada lagi rasa canggung seperti sebelumnya. Tatapan itu bertahan beberapa detik lebih lama.
Malam turun dengan tenang di atas vila tua yang berdiri kokoh di puncak tebing. Setelah menikmati makan malam sederhana yang dimasak oleh pasangan penjaga vila—ikan bakar, tumis kangkung, sambal, dan sayur bening—Dara dan Gavin memilih tidak langsung masuk ke kamar.
Udara malam terasa sejuk. Angin laut bertiup pelan membawa aroma asin yang menenangkan. Dari kejauhan terdengar suara ombak yang silih berganti menghantam karang di bawah tebing.
Dara membawa dua cangkir teh hangat ke balkon..Sementara Gavin datang menyusul sambil membawa sepiring singkong rebus yang masih mengepulkan uap.
"Pelan, panas," ucap Gavin saat melihat Dara hampir menyentuh singkong yang baru diangkat dari kukusan.
"Iya, Aa."
Dara meniup pelan sepotong singkong sebelum menggigitnya sedikit. Matanya langsung berbinar. "Enak!"
Gavin tersenyum tipis. "Singkongnya memang baru dipanen dari kebun belakang vila."
"Pantas saja enak." Dara kembali menggigit singkong itu sambil menikmati pemandangan di depan.
Malam itu langit benar-benar cerah. Ribuan bintang bertaburan menghiasi angkasa. Bulan sabit menggantung di antara awan tipis, memantulkan cahaya ke permukaan laut hingga terlihat seperti jalur perak yang memanjang di atas air.
Dara mendongak tanpa berkedip. "Aa."
"Ya."
"Di Jakarta ternyata bintangnya sedikit, ya."
Gavin ikut mendongak. "Bukan sedikit."
"Lalu?"
"Cahayanya kalah oleh lampu kota."
"Oh. Pantas." Dara mengangguk pelan. Ia tersenyum kecil. "Kalau di sini rasanya langit lebih dekat. Seperti di pegunungan, pemandangan langitnya selalu indah."
Beberapa saat mereka menikmati suasana dalam diam. Keheningan itu sama sekali tidak terasa canggung, justru menenangkan. Hanya ada suara ombak, desir angin, dan sesekali suara jangkrik dari taman vila.
Gavin meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil. Tatapannya perlahan beralih kepada Dara.
"Dara."
"Iya, Aa."
"Aku ...." Gavin berhenti sejenak, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat. "Aku ingin meminta maaf."
Dara menoleh heran. "Maaf. Kenapa?"
Gavin menatap kaki kiri Dara yang terjulur santai di depan kursinya. "Kalau dulu kamu tidak menolongku, kakimu mungkin tidak akan seperti sekarang."
sukses selalu utk kak author 🤗