Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.
Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.
Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.
Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.
Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Keesokan harinya, Astrid datang ke kantor Mateo lebih awal dari biasanya. Ia membawa Ariana yang saat itu sedang asyik bermain balok warna-warni di sudut ruangan yang memang sengaja disiapkan untuknya. Suasana kantor masih cukup sepi. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan beberapa staf yang mulai berdatangan.
Di ruang rapat kecil, Julio sudah menunggu bersama Mateo. Mantan polisi itu terlihat jauh lebih serius dibanding biasanya. Wajahnya tegang, seolah sedang mempersiapkan diri untuk menyampaikan sesuatu yang tidak mudah didengar.
Begitu Astrid masuk, Julio langsung berdiri dari kursinya. "Kita perlu bicara."
Jantung Astrid seketika berdegup lebih cepat. Sejak menerima pesan Julio semalam, ia sudah memiliki firasat buruk. Telapak tangannya mulai terasa dingin. Namun, ia tetap melangkah masuk dan duduk di kursi yang tersedia.
Mateo yang duduk di sampingnya tidak mengatakan apa pun. Pria itu hanya menatapnya dengan tenang, seolah memberi ruang dan waktu agar Astrid siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Julio kemudian mengeluarkan sebuah map cokelat dari tas kerjanya dan meletakkannya perlahan di atas meja.
Tatapan Astrid langsung tertuju pada map itu. Entah mengapa, ia mendadak takut untuk membukanya. Karena selama ini kecurigaan masih menyisakan harapan kecil bahwa semuanya mungkin hanya salah paham. Namun, bukti adalah sesuatu yang berbeda. Bukti mampu menghancurkan harapan dalam hitungan detik.
"Astrid," ujar Julio pelan. "Aku minta maaf."
Wanita itu mengangkat pandangan. Kalimat sederhana itu langsung membuat dada Astrid terasa sesak. Dengan jari-jari yang sedikit gemetar, ia membuka map tersebut.
Lembar pertama berisi beberapa foto Lucas dan Starla yang berjalan sambil bergandengan tangan. Jarak di antara keduanya terlalu mesra untuk disebut sekadar teman. Cara mereka saling memandang, menatap, dan bergandengan juga terlalu akrab untuk disebut hubungan profesional.
Astrid menelan ludah yang terasa pahit. Perlahan ia membalik halaman berikutnya. Seketika tubuhnya membeku.
Lucas dan Starla berciuman dan berpelukan di sebuah pusat perbelanjaan. Lebih tepatnya di sebuah gerai merek pakaian terkenal yang menjual dalaman dan lingerie. Mereka tampak santai dan nyaman. Seolah tidak ada yang perlu disembunyikan.
Jantung Astrid semakin terasa berat. Tangannya kembali membalik lembar berikutnya. Dan kali ini napasnya benar-benar tertahan. Dalam foto itu, Lucas terlihat merangkul pinggang Starla saat mereka memasuki lobi sebuah apartemen mewah.
Astrid menatap foto tersebut cukup lama. Dunia di sekelilingnya seakan menghilang. Yang tersisa hanya suara detak jantungnya sendiri.
"Apartemen itu milik Lucas." Suara Julio terdengar samar di telinganya. "Aku sudah memastikan dokumen pembeliannya."
Astrid memejamkan mata. Dadanya terasa seperti diremas oleh tangan yang tak terlihat. Jadi selama ini bukan hanya makan malam atau pertemuan diam-diam. Lucas bahkan membeli sebuah apartemen untuk wanita itu.
Sementara selama bertahun-tahun dirinya selalu diminta berhemat. Harus pandai mengatur keuangan agar tidak sampai terjadi kekurangan.
Lucas selalu mengatakan bahwa mereka harus mengatur keuangan dengan bijak. Namun, ternyata pria itu mampu membeli apartemen mewah tanpa pernah memberitahunya.
Astrid kembali membuka halaman berikutnya. Dan kali ini tangannya benar-benar gemetar. Foto itu terasa seperti pisau yang langsung menembus jantungnya. Lucas sedang berciuman sambil memangku Starla di dalam mobil yang terparkir di sebuah basement, dengan pakaian yang sudah terbuka.
Lucas terlihat begitu lembut dalam memperlakukan Starla. Begitu penuh perhatian dan sangat tulus. Senyum yang terlihat di wajah pria itu adalah senyum yang sudah sangat lama tidak pernah Astrid lihat. Bahkan ketika mereka masih tidur di ranjang yang sama. Bahkan ketika mereka masih disebut suami istri.
Sesuatu di dalam diri Astrid akhirnya benar-benar runtuh. Bukan karena ia baru mengetahui Lucas selingkuh. Jauh di dalam hatinya, ia sudah mencurigainya sejak lama.
Yang menghancurkannya adalah kenyataan bahwa semua dugaan itu ternyata benar. Semua kebohongan itu nyata. Semua pengkhianatan itu nyata. Semua rasa sakit itu nyata. Air mata perlahan jatuh membasahi pipi Astrid.
Namun, Astrid tidak menangis histeris. Ia tidak berteriak atau mengamuk. Tidak pula mempertanyakan kenapa semua ini terjadi. Ia hanya duduk diam.
Dan justru itulah yang membuat Mateo semakin khawatir.
"Astrid..."
Wanita itu mengangkat tangannya pelan. Memberi isyarat bahwa dirinya masih sanggup bertahan atau setidaknya sedang berusaha. Ruangan menjadi hening, beberapa menit berlalu tanpa ada yang berbicara. Hingga akhirnya Astrid menghapus air matanya sendiri dan perlahan menutup map tersebut.
Mateo dan Julio saling berpandangan.
Mereka sempat mengira Astrid akan hancur saat melihat semua bukti itu. Mereka mengira wanita itu akan menangis lebih keras dan histeris atas pengkhianat suaminya.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Astrid menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan.
Saat Astrid mengangkat kepala, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Walau masih ada luka, masih ada kesedihan, dan masih ada kekecewaan yang begitu dalam. Namun, kini ada sesuatu yang selama ini tidak pernah terlihat darinya, tekad.
"Astrid ...," panggil Mateo hati-hati. "Kamu tidak apa-apa?"
Astrid menatap kembali map di hadapannya. Kemudian sebuah senyum tipis muncul di bibirnya. Bukan senyum bahagia atau senyum lega, melainkan senyum seseorang yang baru saja mengambil sebuah keputusan besar.
"Aku tidak akan mengamuk."
Julio mengernyit. "Kenapa?"
Astrid menutup map itu sepenuhnya. "Aku juga tidak akan mendatangi Starla."
Mateo mulai memahami ke mana arah pikirannya. "Astrid..."
Wanita itu menatap lurus ke depan. "Lucas memiliki harga diri yang sangat tinggi."
Suaranya terdengar tenang. "Terlalu tinggi."
Air mata terakhir jatuh dari sudut matanya. Namun, senyum itu tetap ada. Astrid mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Dulu dia menghancurkan harga diriku sedikit demi sedikit. Jadi aku tidak akan membalas dengan teriakan. Aku juga tidak akan membalas dengan air mata."
Astrid mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia menarik napas panjang. Tatapannya perlahan berubah tajam. Penuh keyakinan dan penuh keberanian.
"Aku akan membalas dengan caraku sendiri."
Ruangan kembali sunyi. Mateo menatap wanita itu tanpa berkedip. Dia benar-benar melihat kebangkitan Astrid. Bukan kebangkitan seorang istri yang dikhianati. Melainkan kebangkitan seorang wanita yang akhirnya menyadari bahwa dirinya jauh lebih berharga daripada laki-laki yang telah mengkhianati cinta dan pengorbanannya.
ku kirim 🌹&☕.. biar semangat...
Ini br awal Lucas...Setelah ini akan byk badai yg siap menerpa km