NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:300
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 5 : Yang Tertinggal

"SEKARANG!!!"

Teriakan Bima pecah di dalam perut yang berdenyut kencang itu.

Mereka berlima menusukkan apa saja yang ada di tangan mereka ke tanah tipis yang hampir transparan itu. Bima pakai pisau lipat Pramuka kecilnya yang berkarat, Arga pakai ranting kayu runcing, Maira dan Elina pakai batu tajam, Gilang pakai cutter kecil yang dia bawa dari basecamp.

Tanah selaput itu tidak langsung robek. Awalnya alot, seperti menusuk karet ban yang tebal.

Kressek... kressek...

Induk di atas mereka meraung. Raungan dari ribuan lubang kecil di wajah sebesar mobil itu. Akar mulut raksasa di atas mereka turun lebih cepat, sudah tinggal satu meter dari kepala mereka. Bau busuk kayu ribuan tahun menyembur.

Tiga anak Bhayavedin di dinding yang tadi tiarap, sekarang dipaksa induknya untuk lari dan mendorong mereka ke dalam mulut akar induk.

"ROBEK LAGI! LEBIH KENCENG!" teriak Arga, tangannya berdarah karena rantingnya patah dan menusuk telapak tangannya sendiri.

Maira menjerit sambil menusuk, bukan karena takut, tapi karena dia melihat kaki Elina yang baru saja bebas dari akar hisap, sekarang mulai disambar lagi oleh akar-akar cacing putih kecil dari tanah tipis itu. Akar itu mencoba menahan Elina agar tidak kabur.

BREETTT!!!

Akhirnya!

Setelah ditusuk berlima dengan tenaga terakhir, selaput tanah itu robek menganga! Robekannya panjang sekitar satu meter, lebar setengah meter.

Cahaya putih oranye sore langsung menyilaukan mata mereka! Sinar matahari sore yang hangat! Udara segar hutan pinus normal langsung masuk menerobos bau anyir perut hutan! Suara jangkrik, suara burung sore, suara angin yang menggerakkan daun pinus, semuanya terdengar jelas!

Itu dunia luar!

"ELINA DULUAN!" Bima teriak sambil menahan robekan selaput itu dengan kedua tangannya agar tidak menutup lagi. Selaput itu hidup, dia mencoba menutup kembali seperti luka yang menyembuh.

Maira langsung mendorong Elina yang kakinya masih lemas dan ada bekas tusukan berdarah.

Elina melompat! Setengah badannya masuk ke robekan itu. Dia jatuh berguling di tanah keras hutan normal yang penuh daun kering! Tanah keras! Bukan tanah lunak berdenyut!

"AKU BISA! AKU DI LUAR!" Elina teriak nangis, suaranya pecah. Dia sudah bisa melihat langit oranye, sudah bisa melihat pohon pinus normal, sudah bisa melihat pita kuning panitia lomba yang berkibar 2 meter di depannya. Pita kuning pos 4! Yang dari tadi mereka cari!

Maira lompat kedua, jatuh di sebelah Elina. Arga lompat ketiga. Bima yang masih menggendong Gilang yang kakinya lemas karena bekas hitam di keningnya masih perih, lompat keempat. Mereka berempat jatuh berguling di tanah hutan normal.

Tinggal Elina yang setengah badan sudah di luar, tapi pinggang ke bawah masih di dalam robekan perut, karena dia balik badan untuk menarik Maira yang sempat kesangkut.

Dan itu adalah kesalahan 2 detik yang fatal.

Dari dalam perut yang robek itu, dari kegelapan di belakang robekan, dari balik tubuh Induk yang meraung marah karena makanannya kabur, sebuah akar besar melesat.

Bukan akar cacing putih kecil. Tapi akar utama. Akar sebesar lengan orang dewasa, warnanya hitam kecoklatan, kulitnya seperti kulit kayu lapuk yang mengelupas, dan ujungnya tidak runcing, tapi terbuka seperti tangan dengan lima jari dari akar kecil yang bergerak-gerak.

Akar itu melesat dengan kecepatan yang tidak masuk akal, tidak seperti gerakan tumbuhan. Seperti cambuk.

Akar itu langsung melilit pinggang Elina.

Kencang.

Elina yang sudah setengah di luar, yang sudah merasakan tanah keras dan melihat pita kuning, langsung tertahan.

Mata Elina membelalak. Dia menatap ke bawah. Akar hitam itu melilit pinggangnya, dan dari lilitan itu keluar duri-duri kecil yang menusuk pinggangnya.

"RAAAAA!!!"

Maira yang sudah di luar, yang jaraknya hanya setengah meter dari Elina, langsung menangkap kedua tangan Elina.

"Maira! Jangan lepas!"

Bima, Arga, Gilang yang sudah di luar ikut menangkap tangan, kaki, baju Elina. Mereka berlima tarik-tarikan dengan akar hitam itu.

Di dalam perut, Induk Bhayavedin meraung lebih keras. Raungannya bukan suara, tapi getaran yang membuat daun-daun pinus di luar ikut bergetar.

WUAAAAAAA!!!

Kekuatan tariknya tidak seimbang. Akar hitam itu jauh lebih kuat dari tenaga empat orang yang sudah kelelahan seharian.

Tanah di sekitar robekan mulai retak karena tarikan itu.

Tangan Maira yang memegang tangan Elina licin. Licin karena lendir hitam dari selaput perut, licin karena keringat, licin karena darah dari bekas tusukan di kaki Elina.

"Gue pegang... gue pegang Lin... jangan lepas..."

Lepas.

Jari-jari Elina terlepas dari jari-jari Maira.

Satu detik itu terasa lambat sekali.

Wajah Elina yang tadinya lega karena sudah di luar, berubah menjadi kaget. Bukan marah. Hanya kaget dan takut. Mulutnya terbuka mau bilang sesuatu, mungkin mau bilang "tolong", tapi tidak sempat.

Akar hitam itu menarik Elina masuk kembali ke dalam perut itu dengan sentakan keras.

WUSSS!!

Elina hilang ditelan kegelapan perut.

BRETT!!

Detik berikutnya, robekan selaput perut itu langsung menutup kembali. Menutup rapat. Menyatu. Seperti luka yang sembuh dalam satu detik. Tanah di depan mereka kembali menjadi tanah hutan normal yang keras, penuh daun kering. Tidak ada bekas robekan. Tidak ada bekas selaput transparan. Tidak ada cahaya dari dalam. Hanya tanah hutan biasa.

Kalau bukan karena tangan Maira yang masih berlumuran lendir hitam dan darah Elina, mereka akan mengira semua yang terjadi di dalam perut tadi hanya mimpi.

Hening.

Hutan pinus sore itu seharusnya ramai dengan suara jangkrik. Tapi sore itu, di spot itu, tidak ada suara jangkrik. Seolah-olah hutan normal pun takut dengan apa yang ada di bawah tanah itu.

Gilang yang pertama jatuh terduduk lemas di tanah, menatap tanah tempat Elina tadi hilang. Bekas hitam di keningnya berdenyut perih.

"Elina... Elina ketarik lagi... di depan mata gue..."

Maira masih dalam posisi merangkak, tangannya masih menggenggam udara kosong bekas tangan Elina. Matanya kosong, lalu air matanya tumpah deras. Dia langsung memukul-mukul tanah keras itu dengan kedua tangannya.

"ELINA! ELINA! BUKA LAGI! BUKA PINTUNYA! ELINA DI DALAM! BUKA!"

Maira menggaruk-garuk tanah itu dengan kukunya sampai kukunya patah dan berdarah, tapi tanah itu tetap tanah keras normal yang tidak bisa digaruk.

Arga berdiri dengan napas ngos-ngosan, air matanya keluar, tapi dia melampiaskannya dengan marah. Dia menatap Gilang dengan mata merah.

"GARA-GARA LO! GARA-GARA LO NOLEH TADI PAS DI GERBANG! KALAU LO GAK NOLEH KITA GAK BAKAL MASUK KE PERUT SETAN ITU! ELINA GAK BAKAL KETARIK!"

Gilang yang masih duduk lemas langsung membalas dengan marah dan rasa bersalah yang meledak.

"GUE GAK SENGAJA! GUE JUGA KORBAN! LO YANG SOK TAU BILANG KOMPAS MUTER TERUS JALAN AJA! LO YANG BIKIN KITA NYASAR! JANGAN NYALAHIN GUE DOANG!"

"BISA GAK LO GAK JADI BEBAN SEKALI AJA?!" Maira ikut meledak, menatap Gilang. "ELINA TUH PACAR LO! DIA YANG PALING TAKUT! LO MALAH YANG PERTAMA PINGSAN! LO LIAT TANGAN GUE! TANGAN GUE MASIH ADA DARAH DIA KARENA GUE GAK KUAT NARIK DIA!"

Mereka yang berhasil keluar, yang seharusnya lega karena sudah kembali ke dunia normal, malah saling menyalahkan. Panik, takut, sedih, dan rasa bersalah bercampur jadi satu meledak di tengah hutan pinus sore itu. Suara teriakan mereka beradu, saling tunjuk.

Bima yang dari tadi diam, duduk lemas menatap tanah tempat Elina hilang, yang awalnya juga syok dan matanya kosong menatap lendir hitam di tangannya, perlahan berdiri.

Sebagai ketua regu, dia tahu kalau mereka berantem di sini, Elina benar-benar akan mati di dalam. Dia ingat wajah Elina yang terakhir, yang kaget, bukan marah.

Bima menarik napas panjang, suaranya serak dan keras, membentak.

"CUKUP! DIAM SEMUA! DIAM!"

Maira, Arga, Gilang langsung diam, menatap Bima. Napas mereka masih ngos-ngosan.

Bima jongkok di tengah mereka, di atas tanah tempat Elina hilang. Dia menatap satu per satu dengan mata merah.

"Dengerin gue. Kita semua salah. Gue salah karena sok berani ngetawain bapak penjaga pos bilang hutan larangan. Arga salah karena maksain jalan terus padahal kompas udah muter. Gilang salah karena noleh. Maira salah karena dorong pintu. Kita semua salah. Tapi kalau kita berantem di sini, Elina beneran jadi kayak Kak Reza di dalam. Jadi makanan. Jadi wajah yang nempel di tubuh induk itu."

Maira langsung nangis lagi mendengar nama Kak Reza.

Bima melanjutkan, suaranya lebih pelan tapi tegas.

"Elina masih hidup. Tadi pas ketarik, gue liat matanya masih hidup. Dia nunggu kita. Perut itu robek pas induknya narik napas kan? Berarti perut itu masih bisa disobek lagi. Tapi kita gak bisa robek dari luar. Tanahnya keras. Kita harus bikin induknya narik napas lagi dari dalam. Kita harus masuk lagi."

Arga menghapus air matanya, menatap pita kuning pos 4 yang ada 2 meter di depan mereka. Pita kuning yang tadi hilang di dimensi perut, sekarang ada lagi karena mereka sudah kembali ke dimensi normal.

"Pos 4... pos 4 itu di depan... mungkin di pos 4 ada jawaban... kenapa gerbang kelima itu ada di jalur pos 4... mungkin penjaga pos tau cara manggil gerbang itu lagi..."

Bima mengangguk. Dia berdiri, mengulurkan tangan yang masih berlumuran lendir hitam ke teman-temannya.

"Kita ambil Elina lagi. Berlima. Tadi kita masuk berlima karena kesasar. Sekarang kita masuk lagi berlima karena kita mau ngambil teman kita balik. Janji?"

Maira meraih tangan Bima duluan, tangannya masih berdarah karena garuk tanah. "Janji."

Arga meraih tangan Bima. "Janji."

Gilang yang terakhir, dengan bekas hitam di keningnya, meraih tangan Bima sambil nangis. "Janji... gue janji gak bakal noleh lagi..."

Mereka berempat berdiri, saling berpegangan tangan, menatap tanah tempat Elina hilang.

Di bawah tanah itu, sangat pelan, tanah itu berdenyut sekali.

Dug...

Dan dari dalam tanah itu, samar-samar, terdengar suara Elina menangis pelan, tertahan, dari dalam perut hutan.

****

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!