Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMBILAN BELAS
Brak!
Setumpuk berkas laporan akreditasi yang tebal dihantamkan dengan kasar di atas meja kerja tata usaha. Dentuman keras itu bergema menyengat di dalam ruangan kantor staf yang hening, mengejutkan beberapa pegawai yang sedang bergelut dengan layar komputer masing-masing.
Silvia, wanita 30 tahun yang menjabat sebagai staf tata usaha Fakultas Farmasi, berdiri dengan napas memburu setelah berjalan cepat dari ruangan Zain. Wajahnya yang terpoles riasan tebal tampak memerah menahan amarah yang membakar dada. Lengannya bersedekap rapat, sementara sepasang matanya menatap tajam ke arah pintu lorong utama seolah-olah hendak menembus dinding beton gedung fakultas.
Di sudut ruangan, Wanto, staf bendahara kampus yang sedang menyeduh kopi hitam hangat, menghentikan gerakannya. Pria yang lebih tua beberapa tahun itu berdecak pelan seraya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah rekan kerjanya.
"Ada apa lagi sih, Bu Silvia?" tegur Wanto dengan nada santai, memutar tubuhnya seraya menopang pinggul di tepi meja. "Baru saja kembali dari ruangan Profesor Zain sudah membanting dokumen seperti mau mengajak perang. Meja kantor itu tidak punya salah apa-apa, lho."
"Kamu tidak usah banyak bicara, Pak Wanto!" cerca Silvia dengan suara melengking penuh kejengkelan. "Anak-anak zaman sekarang itu benar-benar tidak tahu aturan dan tidak punya malu! Bukannya fokus belajar dan kuliah yang benar, malah bertingkah genit dan mencoba menggoda dosen di ruangannya!"
Wanto menaikkan sebelah alisnya, menarik cangkir kopinya sembari melangkah mendekat. "Menggoda dosen? Memangnya siapa yang Bu Silvia maksud? Jangan asal tuduh kalau tidak punya bukti, nanti jadi fitnah."
"Fitnah kamu bilang!" Silvia tertawa sumbang, mengibaskan tangannya di udara dengan gestur berlebihan. "Baru saja aku dari ruangan Profesor Zain mau minta tanda tangan berkas akreditasi. Dan kamu tahu apa yang kulihat di dalam?"
Wanto menyeruput kopi hitamnya pelan, tidak terlalu berminat namun tetap mendengarkan. "Ada apa di sana?"
"Di dalam ruangan Profesor Zain yang dingin dan tertutup itu, ada seorang mahasiswi!" jerit Silvia berbisik, memajukan tubuhnya ke arah Wanto. "Dia duduk santai di depan meja Profesor Zain, makan siang dari kotak makanan yang sudah disiapkan di sana! Kelakuannya benar-benar seperti wanita murahan yang sengaja mengejar pria sukses!"
Wanto terkekeh geli, menepuk-nepuk cangkir seramiknya. "Aduh, Bu Silvia, Bu Silvia... Pikiranmu itu kok cepat sekali melayang ke mana-mana. Bisa saja mahasiswi itu adalah penanggung jawab mata kuliah, atau mungkin sedang ada urusan akademik dan tugas penting yang harus didiskusikan langsung dengan Profesor Zain. Kenapa harus berpikir sedemikian jauh?"
"Bapak Wanto yang terhormat!" potong Silvia dengan nada suara penuh penekanan, menatap Wanto dengan pandangan meremehkan. "Saya ini Silvia! Saya sudah hafal luar kepala bagaimana kebiasaan Profesor Zain! Dari cara bicaranya, sikapnya yang dingin, perilakunya, bahkan bagaimana cara dia berjalan menyusuri setiap lorong di kampus ini! Saya mengamati setiap detail pria itu!"
Silvia menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun meluapkan kekesalan yang tak tertampung. "Tidak mungkin seorang Profesor Zain mengizinkan seorang mahasiswi masuk ke dalam ruang kerjanya jika tidak ada apa-apa! Jangankan mahasiswi biasa, mahasiswa bimbingan skripsinya sendiri saja tidak pernah diperbolehkan melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan itu! Kalau konsultasi selalu di luar atau di perpustakaan!"
Wanto hanya mendengarkan seraya menaikkan bahunya tipis.
"Ini jelas-jelas ada konspirasi di antara mereka!" lanjut Silvia semakin membara, matanya mendelik tajam. "Apalagi di atas meja sudah tertata rapi kotak makanan. Jelas sekali mahasiswi tidak tahu diri itu sedang berusaha menggoda dan memanfaatkan kebaikan Profesor Zain! Awas saja, aku harus mencari tahu siapa nama dan identitas mahasiswi itu!"
Wanto berdecak keras di dalam hati. Rasa malas menyergap pikirannya untuk meladeni luapan emosi wanita di depannya ini. Di mata staf fakultas, Silvia dikenal sebagai sosok perawan tua yang amat cerewet dan suka mencampuri urusan orang lain. Lebih tepatnya, wanita itu sudah tiga kali gagal melangkah ke pelaminan karena semua pria yang pernah menjadi calon suaminya ternyata berstatus sebagai suami orang lain. Rasa frustrasi dan dahaga akan perhatian membuatnya terobsesi pada sosok Profesor Zain yang sempurna, tampan, cerdas, dan kaya raya.
"Bu Silvia, dengarkan saya baik-baik," ujar Wanto dengan nada rendah namun penuh ketegasan, menatap lurus ke dalam mata Silvia. "Profesor Zain itu ibarat bintang tinggi di langit malam. Beliau adalah pria yang tidak akan pernah bisa Bu Silvia gapai atau dapatkan, sampai kapan pun."
Wajah Silvia membeku, matanya membelalak kaget mendengar perkataan tajam itu. "Apa maksudmu, Pak Wanto?"
"Saya bicara kenyataan," balas Wanto santai, menyeruput kopinya kembali. "Saya tahu persis kalau Profesor Zain itu sudah menikah dan memiliki seorang istri."
Silvia tertawa hampa, menggelengkan kepalanya keras-keras. "Ngomong apa kamu ini? Tidak mungkin! Profesor Zain itu single! Di kampus ini beliau tidak pernah membawa wanita atau memakai cincin kawin! Jangan asal buat cerita bohong untuk mematahkan semangatku!"
"Saya tidak buat cerita," sahut Wanto mantap. "Beberapa bulan lalu, saat Profesor Zain mengurus berkas dokumen kepegawaian dan sertifikasi dosen di ruangan bendahara, saya tak sengaja melihat lembaran fotokopi buku nikahnya terselip di dalam stofmap miliknya. Beliau sudah sah secara hukum dan agama berstatus sebagai seorang suami."
Silvia mendadak membisu, napasnya tertahan di tenggorokan. Wajahnya yang tadinya memerah kini perlahan menjadi pucat pasi.
"Mengenai dengan siapa beliau menikah, saya memang tidak tahu karena tidak sempat membaca nama istrinya," tambah Wanto seraya berbalik melangkah menuju mejanya. "Tapi yang jelas, Profesor Zain bukan pria lajang yang bisa Bu Silvia impikan lagi. Jadi berhentilah mengurusi hidup beliau sebelum Bu Silvia sendiri yang kena batu akibat ulah Bu Silvia."
Sementara itu, di dalam ruangan kerja Kaellan Zain Alfatih, keheningan yang terbias menyelimuti udara setelah kepergian Bu Silvia yang menutup pintu dengan marahnya.
Amara masih terduduk kaku di kursinya, dengan jemari yang mengepal erat di atas pangkuan. Rasa hangat dari telapak tangan Zain yang baru saja merengkuh bahunya perlahan menguap, menggantikannya dengan gelombang emosi yang berkecamuk hebat di dalam dadanya.
Amara menengadah, menatap raut wajah suaminya yang kembali berubah dingin dan kaku, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu yang besar baru saja.
"Status Amara di dalam hidup saya bukan sesuatu yang berhak Anda pertanyakan..." Amara mengulang kalimat Zain tadi dengan nada suara bergetar dan penuh sindiran pahit. "Hanya itu, Kak Zain? Hanya kalimat mengambang seperti itu yang bisa Kak Zain katakan?"
Zain yang hendak kembali melangkah menuju kursi kerjanya menghentikan gerakan. Pria itu memutar tubuhnya, menatap Amara dari balik bingkai kacamatanya. "Lalu? Apa yang salah dengan kalimat itu, Amara?"
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣