Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden tebal membangunkan diriku. Sisi ranjang di sebelahku sudah dingin dan kosong. Gabriel selalu pergi sebelum fajar menyingsing pria itu tidak pernah benar-benar tidur, atau mungkin dunia kejahatannya memang tidak pernah membiarkannya beristirahat.
Aku mendudukkan diri pelan-pelan, merasakan pegal yang menyisa di sekujur tubuh. Gaun maroon semalam sudah tergantikan oleh jubah sutra putih yang disiapkan oleh pelayan. Setiap pagi di rumah ini berjalan dengan pola yang persis sama, sangat tertata, dingin, dan monoton.
Saat aku melangkah ke luar kamar menuju balkon lantai tiga yang menghadap ke halaman belakang puri, dua orang pria bersetelan jas hitam otomatis mengangguk hormat. Mereka adalah pengawal pribadi yang ditugaskan Gabriel untuk tidak melepas pandangan dariku sedetik pun.
"Selamat pagi, Nona Aurora," sapa Elena, kepala pelayan paruh baya yang membawa nampan berisi sarapan dan secangkir teh chamomile.
"Pagi, Elena," balasku pelan sambil duduk di kursi besi tempa balkon. "Apakah Gabriel sudah berangkat?"
"Tuan Gabriel sudah meninggalkan kediaman sejak pukul lima pagi untuk menghadiri pertemuan dengan para tetua keluarga di pusat kota," jawab Elena profesional seraya menata piring di hadapanku. Ia ragu-ragu sejenak sebelum menambahkan, "Beliau menyuruh saya menyampaikan bahwa malam ini akan ada jamuan makan malam khusus di puri ini."
Tanganku yang sedang memegang cangkir teh mendadak terhenti. "Jamuan makan malam?"
"Ya, Nona. Pertemuan internal tingkat tinggi. Dan... Tuan meminta Nona untuk siap pada pukul tujuh malam."
Perasaanku langsung tidak enak. Selama dua bulan berada di sini, Gabriel selalu menyembunyikan keberadaanku dari jangkauan dunia luar maupun anggota keluarganya yang lain. Menampilkanku di depan para petinggi mafia Moretti sama saja dengan memasang sasaran tembak di punggungku. Bagi musuh-musuh Gabriel, atau bahkan bagi sekutunya sendiri, selir favorit adalah kelemahan terbesar yang bisa dimanfaatkan.
---
Pukul enam sore, dua orang perancang busana suruhan Gabriel datang membawakanku sebuah gaun baru. Kali ini gaun malam memeluk tubuh berwarna hitam pekat dengan potongan backless yang berani, dipadukan dengan perhiasan berlian murni yang mengikat leherku.
Ketika jarum jam menunjukkan tepat pukul tujuh, aku melangkah turun menuju ruang makan utama puri yang megah. Lampu kristal raksasa memancarkan cahaya keemasan ke atas meja kayu jati panjang yang sudah dipenuhi hidangan mewah.
Di sana, Gabriel sudah duduk di kepala meja. Ia tampak memikat sekaligus mengerikan dalam setelan tuxedo hitam tanpa cela. Namun yang membuat napas saya tertahan adalah sosok wanita anggun yang duduk di samping kanannya. Wanita itu mengenakan gaun putih gading yang tampak sangat kontras denganku, jemarinya dihiasi cincin berlian berukuran besar cincin yang sangat aku kenal sebagai simbol pertunangan resmi keluarga bangsawan mafia.
Dia adalah Lady Isabella, wanita terpilih yang direncanakan akan menjadi istri sah Gabriel demi aliansi politik antar-keluarga.
Langkah kakiku terhenti di ambang pintu. Suasana di ruang makan mendadak hening ketika puluhan pasang mata menatap ke arahku.
Gabriel memutar gelas wiskinya pelan, lalu menatapku dengan mata hitamnya yang tenang namun mengintimidasi. Ia mengibaskan tangannya sedikit, memberi sinyal agar aku mendekat.
"Kemarilah, Aurora," panggilnya dengan suara berat yang menggelegar di ruang makan yang sunyi itu.
Aku memaksakan kakiku untuk melangkah maju, merasakan tatapan tajam dan penuh penghinaan dari Lady Isabella. Wanita itu menatapku dari atas ke bawah, bibirnya mengukir senyum tipis penuh cemooh.
"Jadi ini wanita simpanan yang rumornya sangat kau agungkan itu, Gabriel?" suara Isabella terdengar sinis dan dingin. "Sangat sederhana... tidak sebanding dengan repot-repot yang kau korbankan untuk menyimpannya di puri utama."
Langkahku terhenti tepat di sebelah meja. Rasa malu dan hina menyengat dadaku, namun aku berusaha menegakkan kepala, menolak untuk terlihat lemah di depan wanita itu.
Gabriel tidak langsung merespons ucapan Isabella. Ia berdiri dari kursinya, melangkah perlahan menghampiriku. Di depan semua pengawal dan tamunya, Gabriel meraih tanganku, menarik tubuhku hingga melekat rapat pada dadanya. Tangannya melingkar di pinggangku dengan posesif, menegaskan posisiku di depan semua orang.
"Jaga bisikanmu, Isabella," ucap Gabriel dingin, suaranya mengandung ancaman pembunuhan yang begitu nyata hingga membuat wanita bergaun putih itu bungkam seketika. "Di ruang makan ini, atau di mana pun di dunia ini... tidak ada yang berhak menilai apa yang menjadi miliku."
Gabriel menunduk, mengecup pelipisku di hadapan Isabella yang mukanya memerah menahan marah dan malu.
"Duduklah di sampingku, Cara mia," bisik Gabriel di telingaku, suaranya terdengar lembut namun genggamannya pada pinggangku menunjukkan dominasi mutlak.
Aku menatap mata Gabriel, menyadari bahwa malam ini permainan di antara kami telah berpindah ke panggung yang jauh lebih berbahaya. Aku bukan lagi sekadar rahasianya di dalam kamar terkunci, melainkan bidak utama di tengah perang kekuasaan dan kecemburuan dunia mafia.