Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Suara isak tangis di dalam kamar yang sepi itu perlahan menyurut. Parrie Rose mengusap sisa air mata di pipinya serta lelehan darah yang mengering di sudut bibirnya. Tubuhnya masih sedikit bergetar, namun api keberanian yang sempat padam kini kembali menyala di dalam matanya. Ia merapikan gaunnya yang berantakan, melangkah pelan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air dingin.
Saat ia baru saja mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil, getaran keras dari ponselnya di atas meja rias mengagetkan heningnya malam.
Nama 'Kaetos' tertera jelas di layar.
Parrie menatap nama itu sejenak. Sebuah usapan lembut mendarat di dadanya yang masih terasa agak sesak. Ia membuang napas panjang, menetralkan suaranya agar tidak terdengar serak atau habis menangis, lalu menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Kau sudah sampai rumah?" tanya Parrie dengan suara sengaja dibuat seringan dan semanis mungkin.
Di ujung telepon sana, keheningan sempat tercipta selama beberapa detik.
Hening yang sarat akan kecanggungan dan rasa bersalah yang sengaja disembunyikan. Kaetos yang saat itu sedang berdiri di balkon penthouse-nya dengan segelas wiski di tangan, menatap gemerlap lampu kota New York dengan raut wajah yang mendadak kembali dingin dan acuh tak acuh.
"Sudah," jawab Kaetos singkat. Suaranya datar, berat, dan terkesan sangat cuek.
Pria itu sebenarnya belum siap berpisah dengan Parrie.
Perasaan hangat saat mendekap gadis itu tadi sore masih membakar seluruh sel di tubuhnya. Namun, rasa gengsi, ketakutan akan memperlihatkan sisi lemahnya lagi, serta kebiasaannya bersembunyi di balik topeng pangeran es membuat Kaetos memilih berakting pura-pura marah dan dingin sepanjang sambungan telepon malam itu.
"Kenapa nada suaramu mendadak berubah keras seperti itu, Kae?" goda Parrie, menangkap perbedaan sikap pria itu dengan sangat jeli.
"Tidak ada. Aku hanya terganggu karena kau memaksaku menurunkanmu di tempat sepi tadi," cetus Kaetos dingin, berpura-pura kesal. "Jangan berpikir karena kejadian sore tadi, kau bisa bertingkah seenaknya padaku."
Mendengar ketegangan palsu dan kepura-puraan Kaetos dari balik telepon, Parrie tidak sedikit pun merasa tersinggung. Sebaliknya, sebuah senyuman hangat dan geli terukir di bibirnya yang memar. Parrie bisa membayangkan bagaimana raut wajah tampan Kaetos yang sedang menekuk alisnya dan berpura-pura tangguh di sana.
"Kau sudah langsung merindukanku, ya?" goda Parrie lagi dengan nada manja seperti seorang kekasih pada umumnya. "Aku sama sekali tidak menyangka kau akan merindukanku sebegitu hebatnya hanya dalam kurun waktu beberapa jam, Kaetos."
"Jangan bermimpi, Parrie Rose," potong Kaetos cepat dengan nada ketus yang terlalu cepat meluncur—sebuah pertanda bahwa tebakan Parrie tepat sasaran. "Aku sama sekali tidak merindukanmu. Jangan percaya diri."
Parrie terkekeh pelan. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya yang megah. Kehangatan bicara dengan Kaetos secara ajaib mampu mengikis rasa takut dan trauma yang ditinggalkan oleh perlakuan kasar Glenmore beberapa menit lalu.
"Begitu, ya? Padahal aku sangat merindukanmu," bisik Parrie pelan.
Tiba-tiba, sebuah ide jahil melintas di benaknya. Parrie ingin menguji sejauh mana pria angkuh ini bisa mempertahankan topeng dinginnya.
Parrie sengaja mengecilkan volume suaranya hingga menjadi bisikan yang sangat halus dan tak terdengar jelas di seberang sana. "...sebenarnya tadi aku ingin bilang kalau... pssst pssst pssst..."
Di ujung telepon, Kaetos meremas gelas wiskinya. Ia mendekatkan speaker ponsel ke telinganya, memiringkan kepalanya sedikit dengan dahi berkerut dalam.
"Apa yang kau katakan?" tanya Kaetos dengan nada menuntut, tak menyadari bahwa ia sedang masuk ke dalam perangkap manis Parrie. "Suaramu tidak terdengar. Bicara yang jelas, Parrie."
"Maju sedikit, Kae... dekatkan teleponmu ke telinga," bisik Parrie lagi dengan suara yang sengaja dibuat misterius dan begitu lembut.
Kaetos tanpa sadar menuruti perintah itu. Ia menegakkan tubuh tegapnya dari pagar balkon, melangkah maju dua langkah dan menempelkan layar ponselnya lebih rapat ke telinganya. "Aku sudah mendengarkan. Bicara sekarang—"
CUP!
Sebuah kecupan jauh yang nyaring dan penuh kehangatan meluncur dari bibir Parrie tepat ke arah microphone ponselnya!
"Selamat malam, Pangeran Es-ku. I love you," bisik Parrie manja tepat setelah kecupan itu.
DEG!
Di balkon penthouse yang dingin, tubuh Kaetos seketika membeku kaku bagai tersengat listrik!
Wajah tegap yang tadinya dipenuhi raut dingin dan acuh tak acuh itu seketika memerah padam hingga ke ujung telinganya. Jantung di dalam dadanya berdegup kencang dan liar tanpa kontrol. Kaetos refleks menggigit bibir bawahnya rapat-rapat demi menahan rasa salah tingkah gila yang menghantam seluruh pertahanannya.
"Kau... kau benar-benar gila, Parrie Rose!" desis Kaetos dengan suara parau yang bergetar hebat, mencoba terdengar marah meski napasnya terengah-engah oleh rasa malu yang memuncak.
"Tapi kau menyukainya, kan?" kekeh Parrie riang dari seberang telepon. "Sudah dulu, ya. Aku mau istirahat. Jangan lupa mimpikan aku malam ini, Kaetos."
"Tutup teleponnya sekarang sebelum aku mendatangi rumahmu!" gertak Kaetos dengan rasa salah tingkah yang sudah berada di puncaknya.
"Tidur yang nyenyak, Kae. Muaaah!"
KLIK.
Parrie mematikan sambungan telepon itu terlebih dahulu. Ia memeluk ponselnya di dada, membiarkan senyuman manis bertahan di wajahnya selama beberapa detik.
Di seberang sana, Parrie sangat yakin Kaetos sedang mengacak-acak rambutnya sendiri sambil mengutuk rasa salah tingkahnya yang tak tertolong.
Namun, begitu layar ponselnya meredup dan keheningan kamar kembali menyergap, senyuman hangat di wajah Parrie perlahan-lahan menguap tanpa sisa.
Raut wajahnya berubah menjadi dingin dan sangat tajam. Parrie mengubah posisinya menjadi duduk di tepi tempat tidur. Jemarinya menyentuh sudut bibirnya yang memar dan agak bengkak akibat tamparan Gerald Ford, serta pergelangan tangannya yang meninggalkan bekas memar merah keunguan akibat cengkeraman Glenmore.
Bisa-bisanya Glenmore Ford mencoba melecehkanku dan membuat keributan gila di kamar ini tadi, batin Parrie dengan kilatan mata yang memancarkan dendam mendalam.
Setitik amarah yang membara kembali merayap naik menjejali dadanya. Parrie menyadari satu hal penting: selama ini ia terlalu banyak mengalah. Ia membiarkan Maeve mengatainya anak haram, ia membiarkan ayahnya menamparnya demi membela istri sahnya, dan ia membiarkan Glenmore berpikir bahwa ia adalah gadis lemah yang bisa ditekan dan dilecehkan kapan saja!
Mereka lupa siapa aku sebenarnya, desis Parrie dalam hatinya.
Parrie tumbuh di jalanan keras, bertahan hidup dari kekejaman dunia tanpa perlindungan siapa pun. Ia bukan gadis naif yang akan menangis meratapi nasib di pojokan kamar saat dijahati.
Jika tadi sore ia berhasil menghancurkan Julian Vance dan melumpuhkan mental Allenatore di kampus, maka rumah ini—mansion mewah keluarga Ford ini—bukanlah pengecualian.
Rumah ini adalah wilayahku juga sekarang, batin Parrie dengan nada dingin penuh dominasi. Darah Ford mengalir di tubuhku, dan aku berhak berada di sini.
Tadi saat Glenmore berusaha menindihnya, Parrie memang sempat ketakutan karena kondisinya sedang sangat kelelahan setelah berurusan dengan Kaetos sepanjang sore. Kekuatan fisiknya belum pulih sepenuhnya. Namun, rasa takut itu kini sudah berganti menjadi api keberanian yang mematikan.
Parrie menatap bayangan dirinya di cermin besar di depan tempat tidur. Wajahnya yang cantik memang dihiasi luka dan memar, tapi matanya... mata jernih itu kini memancarkan kekuatan seorang ratu yang siap berperang.
"Besok..." bisik Parrie lurus menatap pantulan matanya sendiri di cermin, suaranya pelan namun terdengar bagaikan vonis kematian. "...besok aku akan memastikan kau membayar mahal untuk sikap kasarmu tadi, Glenmore. Aku akan memberimu pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu."
Parrie meremas sprei tempat tidurnya kuat-kuat. Ia tidak akan lagi bergantung pada belas kasihan Gerald Ford—sang ayah atau perlindungan Kaetos Ashford untuk urusan di dalam rumah ini. Parrie Rose akan menghancurkan kedamaian palsu keluarga Ford dengan tangannya sendiri.
update terusss😍😍😍