Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Cuma kamu yang mengerti aku
Mobil yang dikendarai oleh Bagas bergerak menuju hotel. Iya, itu lah yang selalu dilakukan oleh Bagas, jika dia merasa pusing dengan pekerjaan ataupun jika kesal karena selalu dibanding- bandingkan dengan Suzan oleh sang papa, dia selalu mencari tempat ternyaman. Dan tempat itu adalah Casandra.
Iya, Casandra lah yang selalu ada untuknya di saat Bagas lelah dengan pekerjaan. Sebenarnya Bagas enggan sekali untuk datang ke Surabaya mengurus masalah yang ada di cabang perusahaannya. Karena menurutnya itu hal yang membosankan.
Karena hal yang menyenangkan buat Bagas adalah berada di perusahaan pusat, meeting dan bertemu dengan klien. Karena menurutnya hal itu jauh lebih mudah dibanding mengurus perusahaan yang sedang bermasalah. Namun sang papa yaitu pak Hartanto justru mempercayakan hal itu kepada Suzan. Karena menurutnya Suzan lebih mahir jika menghadapi klien.
Suzan akan dengan mudah memenangkan proyek- proyek besar dan membuat para klien dengan senang hati menjalin kerja sama dengan perusahaan keluarga Hartanto.
Sedangkan pak Hartanto sendiri sengaja mengirim Bagas ke cabang perusahaan agar dia bisa belajar menyelesaikan masalah yang terjadi di sana.
Awalnya Bagas memang menolaknya, tapi berkat Casandra yang terus membujuknya agar dia menurut pada sang papa, dan dia berjanji akan menemani Bagas ke Surabaya, Bagas pun akhirnya menuruti apa kata pak Hartanto.
Bagas pun pergi ke Surabaya bersama dengan Casandra. Dan tentu saja semua orang mengira bahwa Bagas hanya pergi berdua dengan Fikri. Bahkan berkat kecerdikan Casandra, Fikri juga tidak tahu jika ada seorang perempuan yang selalu menemani Bagas ketika di kamar hotel.
Namun pada akhirnya, Bagas yang memang tidak menyukai hal itu dari awal lebih memilih untuk menyerahkan masalah perusahaan tersebut kepada Fikri, asistennya.
Untung saja, Fikri asisten yang cerdas dan ulet dalam bekerja. Dia bisa diandalkan dalam mengerjakan berbagai permasalahan yang ada.
"Lho.. Babby... Kok kamu sudah pulang...? Katanya kamu akan pulang agak telat hari ini...'' tanya Casandra begitu ia membukakan pintu untuk Bagas.
Bagas menghela nafas sambil masuk ke dalam kamar kemudian melempar jas dan dasi yang sudah dia lepas ke atas tempat tidur.
"Aku lelah..." jawab Bagas sambil mendudukkan bokongnya di tas kasur kemudian membuka sepatunya.
Iya, sebenarnya ada satu hal lagi selain soal pekerjaan yang membuat Bagas tiba- tiba tidak mod lagi bekerja pada hari ini.
Tadi pagi setelah Bagas sampai di kantor cabang, Bagas melakukan video call dengan Suzan, karena Bagas ingin ngobrol dengan Alvaro. Namun ternyata, Suzan sudah berada di kantor dan dia sedang siap- siap untuk bertemu klien dari Australia.
Suzan nampak cantik dan anggun berbalut busana kantor yang elegan. Ini adalah untuk ke sekian kalinya Bagas melihat kedudukan Suzan nampak jauh lebih tinggi darinya di perusahaan keluarga. Sedangkan dia, selalu mengerjakan yang sepantasnya dikerjakan oleh karyawan biasa.
Tentu saja Bagas merasa kemampuannya selalu diremehkan oleh sang papa dan juga oleh Suzan. Walaupun pada kenyataannya tidak lah demikian. Sebenarnya pak Hartanto sudah berkali- kali memberikan kesempatan kepada Bagas melakukan hal yang biasa dilakukan oleh Suzan. Namun karena hasilnya tidak memuaskan, pak Hartanto pun lebih memilih Suzan untuk menggantikan tugas Bagas. Dan Bagas harus belajar lagi agar kemampuannya lebih baik lagi dalam berbisnis.
"Sabar babby... " ucap Casandra sambil mengusap lengan Bagas.
Iya, tentu saja Casandra merasa sedih jika Bagas sedang berkecil hati seperti sekarang akibat perbedaan perlakuan pak Hartanto kepada Bagas dan Suzan.
Iya, selama ini aku selalu sabar tapi itu nggak adil. Suzan enak- enakan menemui klien, sedangkan aku harus pusing mikirin maslaah perusahaan..." sahut Bagas.
"Jadi kamu nggak suka pergi ke Surabaya sama aku...?'' tanya Casandra.
"Bukan babby... Bukan seperti itu... Aku merasa papa nggak adil aja.,." jawab Bagas.
"Makanya kamu harus buktikan dong pada papamu kalau kami bisa. Kalau kamu seperti ini terus, justru papa kamu akan semakin menyepelekanmu babby..." sambung Casandra.
Bagas menoleh ke arah Casandra.
"Kenapa kamu jadi membela papaku...? Kamu sudah tidak perduli dengan perasaanku lagi...?" Bagas nampak tidak setuju dengan perkataan Casandra.
"Bukan begitu babby. Selama ini kamu merasa diperlakukan beda kan sama papa kamu. Papa kamu lebih mementingkan mbak Suzan dari pada anak sendiri..." sambung Casandra sambil menatap wajah Bagas.
Bagas pun mengangguk.
"Maka dari itu, kamu harus ubah pola pikir kamu mulai hari ini..." lanjut Casandra.
Bagas masih diam dan hanya menatap Casandra. Kemudian Casandra memberikan masukan kepada Bagas apa yang seharusnya Bagas lakukan agar sang papa percaya padanya.
Bagas menghela nafas. Iya, dia merasa apa yang dikatakan oleh Casandra benar adanya.
"Aku akan selalu membantu kamu babby..." ucap Casandra dengan penuh keyakinan.
Bagas mengangguk, lalu memeluk Casandra dengan erat.
"Terima kasih babby, kamu memang satu- satunya orang yang selalu mengerti aku..." ucap Bagas yang selalu merasa nyaman berada di dekat Casandra.
"Iya babby..." Casandra membalas pelukan Bagas.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Setelah selama lima hari Bagas berada di Surabaya, akhirnya bagas pun bersiap untuk kembali ke Jakarta. Dan siang ini Bagas bersiap- siap untuk ke Bandara tentunya bersama dengan Casandra.
Ketika Bagas sedang membereskan baju dan memasukkannya ke dalam koper dibantu oleh Casandra tiba- tiba terdengar suara pintu diketuk.
"Babby... Tolong selesaikan ya, aku buka pintu dulu..." ucap Bagas.
"Ok..." Casandra memasukkan semua baju Bagas ke dalam koper.
Bagas membuka pintu dan di depan pintu sudah ada Fikri yang juga sudah siap dengan kopernya.
" Pagi pak Bagas...Pak Bagas sudah siap...?'' tanya Fikri dengan santun.
"Iya,..." jawab Bagas.
"Kalau bagitu mari kita berangkat sekarang ke Bandara...." ucap Fikri.
"Kau pergi saja dulu. Saya menyusul..." jawab Bagas.
"Tapi pak Bagas..." sahut Fikri.
"Kamu berangkat saja lebih dulu, bukankah kamu naik pesawat pukul sebelas...? Saya nyusul saja, jadwal penerbangan saya pukul satu siang..." ucap Bagas.
"Ja...jadi kita tidak pulang bareng pak...?'' tanya Fikri heran kenapa Bagas tidak berangkat bareng saja dengannya.
"Saya kan sudah bilang, jam penerbangan kita beda..." sahut Bagas.
"Tapi kenapa pak...?'' tanya Fikri.
"Banyak bertanya kamu...! Saya bos kamu, saya sudah menyuruhmu berangkat lebih dulu, ya sudah cepat kamu pergi, nanti kamu ketinggalan pesawat..." jawab Bagas yang mulai kesal karena Fikri mulai berani banyak tanya.
"Ba..baik pak Bagas..." jawab Fikri sambil menganggukkan kepala.
"Kalau begitu saya permisi..." Fikri pamit.
"Ya sudah cepat sana pergi..." Bagas mengibaskan tangannya ke arah Fikri.
Bagas lalu masuk kembali ke dalam kamar menemui Casandra yang sudah siap.
"Pasti asisten kamu ya...?" tanya Casandra.
"Iyaa..." jawab Bagas sambil duduk di tempat tidur.
"Kita makan siang dulu, pesawat kita masih dua jam lagi..." ucap Bagas sambil melirik jam tangannya.
"Oke..." jawab Casandra.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Pukul delapan malam Bagas sampai di rumah kediaman keluarga Hartanto. Karena dari Bandara Bagas mampir dulu ke aparteman Casandra, dan sengaja menemani kekasihnya di sana.
"Selamat sore tuan..." seorang asisten rumah tangga menyambut kedatangan Bagas sambil mengambil koper dari tangannya.
"Sore..." jawab Bagas lalu duduk di sofa ruang tamu dan melepas sepatunya.
"Sayang, kamu sudah pulang..." bu Hartanto menghampiri sang putra lalu memeluk dan mencium pipinya.
"Iya...mah..." jawab Bagas.
"Kamu nampak lelah, pasti kamu capek ya,mengurus masalah perusahaan...?'' tanya Bu Hartanto.
Bagas menghela nafas.
"Gimana, masalahnya sudah beres ...?'' tanya bu Hartanto.
"Sudah dong mah, kalau belum mana mungkin Bagas pulang hari ini..." jawab Bagas.
" Oya... ? Wah, papa pasti senang mendengarnya..." sahut bu Hartanto bangga pada sang putra.
Bagas menghela nafas.
"Mana mungkin papa bangga sama Bagas. Papa kan bisanya mencari- cari kesalahan Bagas..." sahut Bagas.
"Yang selalu dibangga- banggakan oleh papa kan Suzan..." sambung Bagas sambil tersenyum sinis.
Nyonya Hartanto menghela nafas. Iya, nyonya Hartanto juga sebenarnya kasihan pada Bagas karena selalu dinomor duakan oleh papanya. Dan justru Suzan lah yang selalu diprioritaskan olehnya dengan alasan Suzan lebih kompeten dari Bagas. Namun tentu saja Nyonya Hartanto tidak berani membantah sang suami.
"Mah, aku ke atas dulu ya mau menemui Suzan dulu..." ucap Bagas.
"Istri kamu belum pulang..." jawab Bu Hartanto.
"Apa...? Dia masih belum pulang....?'' tanya Bagas.
Iya, ini memang bukan pertama kali Suzan pulang terlambat. Karena Suzan begitu sibuk mengurus kantor.
"Papa juga belum pulang...?'' tanya Bagas.
Nyonya Hartanto menggelengkan kepalanya.
"Mereka lagi ketemu klien dari Hongkong. Trus lanjut meeting di kantor..." jawab bu Hartanto.
Bagas kembali menghela nafas lalu menggelengkan kepalanya.
"Ya udah mah, Bagas ke kamar dulu ya..." ucap Bagas.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Bagas lalu pergi ke kamar Alvaro karena dia ingin memberikan mainan sebagai oleh- oleh yang pernah dia janjikan pada Alvaro. Alvaro yang baru selesai belajar ditemani oleh baby sisternya pun sangat senang mendapat hadiah mainan dari sang papi.
"Papi makasih ya hadiahnya..." ucap Alvaro sambil memeluk Bagas.
"Kamu suka...?'' tanya Alvaro.
"Suka.." jawab Alvaro sambil memainkan mainan robotnya.
Ketika Bagas dan Alvaro sedang main robot bersama, tak lama kemudian Suzan pulang dan langsung menghampiri mereka berdua di kamar Alvaro.
"Sayang... Kamu pulang jam berapa tadi...?'' tanya Suzan.
Bagas menoleh ke arah Suzan sambil memasang wajah bete. Ya tentu saja Suzan menyadari jika sikap sang suami berbeda. Suzan paham Bagas bersikap seperti itu karena dia pulang terlambat. Iya, Bagas memang paling kesal jika Suzan pulang terlambat.
"Mami lihat... Papi bawain Varo mainan baru..." ucap Alvaro sambil memamerkan mainan robotnya yang baru.
"Wah bagus ya mainannya..." sahut Suzan.
"Tapi sekarang kan sudah malam, mainannya dilanjut besok ya, Varo bobo dulu, besok kan sekolah..." ucap Suzan dengan lembut.
"Yaaahhh.. Mami... Kan Varo masih mau main..."Alvaro kecewa karena tidak boleh main lagi.
"Iya, besok pulang sekolah dilanjut lagi mainnya,oke..." sahut Suzan.
"Sekarang Varo gosok gigi dulu sama suster, lalu bobo..." sambung Suzan sambil mengusap kepala sang putra.
"Iya mami..." jawab Alvaro.
"Sus ..." panggil Suzan.
"Iya nyonya...." suster Yuli segera masuk ke kamar Alvaro.
"Tolong bantu Alvaro gosok gigi, abis itu bobo ya..." ucap Suzan.
"Baik nyonya..." jawab sus Yuli dengan sopan.
Suster Yuli lalu menuntun Alvaro ke kamar mandi.
"Mas... Ayo kita ke kamar..." ucap Suzan.
Bagas yang masih bete dengan Suzan pun bangun dari tempat tidur dan langsung melangkah keluar dari kamar Alvaro tanpa memperdulikan Suzan. Suzan yang merasa bersalah pada Bagas hanya bisa menghela nafas lalu menyusul sang suami ke kamarnya.
"Mas... Aku minta maaf karena sudah pulang terlambat, tadi di kantor banyak banget kerjaan, ada meeting juga dan ada beberapa klien yang harus aku temui..." ucap Suzan menjelaskan pada Bagas.
"Iya aku tahu kamu sibuk. Tapi kan aku sudah kasih tahu kamu kalau aku pulang hari ini. Seharusnya sebelum aku sampai rumah kamu, sudah pulang lebih dulu. Aku ini dari luar kota beberapa hari lho. Kamu nggak ada niat buat nyambut kepulangan aku gitu ...?'' jawab Bagas dengan ketus.
"Iya sayang... aku sebenarnya sudah merencanakan pulang lebih awal, tapi tiba- tiba ada meeting mendadak dan klien dari Hongkong minta bertemu sore ini..." ucap Suzan.
"Iya...iya... oke...oke...kamu nggak salah... Aku yang salah kenapa aku pulang lebih awal dari kamu..." sahut Bagas dengan perasaan kesal
"Nggak mas, kamu nggak salah. Aku yang salah...aku minta maaf ya..." jawab Suzan.
Bersambung...