NovelToon NovelToon
BLACK ROSE

BLACK ROSE

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumi

Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.

Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.

Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?

*****

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. KERUMAH KAKEK.

Sore ini Dewi dan pak Wijaya pindah ke kluarga Raharja. Betapa senangnya Dewi di sambut oleh orang kaya raya. Mereka semua berwibawa, pakaiannya branded dan penampilan mereka seperti Qaisera, tegas dan dingin. Bathin Dewi.

Inikah rumah orang kaya, sangat luas dan megah. Dewi terkagum-kagum melihat rumah keluarga Raharja. Kenapa Qai tidak pernah bercerita, bahwa dia pernah hidup disini bersama pria tampan seperti Rio dan Berlin.

Harusnya Qai sombong, karena ia cucu orang terkaya nomor sekian di Indonesia. Sekarang ia jadi enggan mengaku namanya Dewi, lebih baik tetap menjadi Qai yang kaya, supaya bisa berdekatan dengan Berlin. Rasanya ia sudah jatuh cinta kepada Berlin.

Dewi sudah bisa menyimpulkan kalau Qai dulu dibuang oleh keluarga Raharja, baru sekarang dicari, karena papanya datang dari luar negeri.

Sebagai agen XpostOne ia cerdas. Tapi sekarang akal sehatnya tumpul. Siapapun orangnya pasti akan tergiur melakukan penipuan yang sekarang ia lakukan.

"Qai duduklah, sekarang kau sudah kembali. Sudah lama tante mencarimu tapi kau memblokir nomor kontak kami jadi susah menghubungi..." ucap Emely menatap Dewi. Perempuan itu perlahan mendekati Dewi dan berbisik.

"Kau jangan cerewet membongkar masa lalu, jika itu terjadi aku tidak segan-segan memb*nuhmu."

"Sini Qai bagi nomor kontak barumu?" ucap mereka semua.

Dengan tangan gemetar Dewi kemudian membagi kontak, khusus Berlin ia memberi nama kontaknya "My Love" Ia merasa sudah jatuh cinta kepada Berlin. Tapi pemuda itu sangat acuh dan dingin, mirip Qai penampilannya. Apa begini orang kaya?

"Dewi beri hormat kepada kakek, kenapa kau kelihatan linglung."

"Siap..siap..." ucap Dewi gugup.

"Qai kau sangat berbeda, biasanya kau tegas dan pemberani."

"Karena aku tidak menyangka kau kalian saudara ku." Dewi asal nyeletuk aja. Gimana gak gugup mereka semua menatapnya.

"Kau terlihat lebih dewasa dari umurmu, pasti ini gara-gara capek merawat pak Wijaya. Kakek prihatin atas nasibmu." ucap kakek memegang tangan Dewi. Umurku memang lebih tua tiga tahun dari Qai, tapi kalau nanti aku hidup disini, aku jamin akan terlihat muda. bathin Dewi.

"Emely kau kasih kamar pak Wijaya dan panggilkan dokter yang terbaik, belum setua kakek sudah banyak penyakit."

"Ya paa...sekarang aku panggil dokter Ardi." sahut Emely beranjak dari ruang keluarga.

"Trimakasih kakek memanggilkan dokter terbaik, sebenarnya sudah kewajibanku mengurus pak Wijaya, walaupun hidupku miskin tapi aku tidak menyerah." ucap Dewi mencari simpati. Ia tidak bohong juga, ia memang miskin di kampungnya.

"Kakek setiap bulan mengirim uang ke rekening Wijaya, apakah kamu tidak tahu?"

"Kakek jangan bersandiwara didepan ku, sudah jelas pak Wijaya pikun kenapa kakek mengiriminya uang, harusnya kirim ke Qai.." ucap Ende kesal.

"Mana buku tabungan pak Wijaya, sebagai anak kau pasti melihatnya. Dewi katakan yang sebenarnya supaya putraku tahu.."

"Kakek, selama aku berada disampingnya aku tidak pernah melihat buku tabungan."

Busyet, dimana ditaruh buku itu harusnya aku tanya Qai, tapi Qai tidak membuka hapenya, apakah aku tanya lewat GSM? kalau lewat GSM Jhon Meyer pasti baca dan bisa kebongkar rahasia ini.

"Qai jangan bengong nanti kita cari lagi sekarang tante mau ajak ke kamar." ucap Emely menarik tangan Dewi.

"Siap tante."

"Rio tolong urus pak Wijaya dokter sebentar lagi datang."

"Aku saja yang urus, kau temani mama ke atas." ucap tuan Flores.

Qai berdiri mengikuti Emely ke lantai dua. Kembali Dewi bengong, kamarnya sangat elegan da pakaian, tas, sepatu, asesoris serta hadiah menunpuk di meja khusus.

"Tante ini semua untukku?" tanya Dewi membuka hadiah itu.

Berlin dan Rio yang ikut ke kamar agak risih melihat tingkah Dewi yang terlihat kampungan padahal dulu Qai penuh etika.

"Qai sabarlah tidak sopan langsung buka hadiah, kau kampungan." Berlin langsung menegur.

"Ohh...maafkan aku terlalu euphoria." sahut Qai memeluk Berlin dan menangis.

"Ya ampun Berlin kau menyinggung perasaannya. Qai lama menderita tentu sekarang ia terlihat seperti kerasukan melihat hadiah." ucap Emely.

"Tenang Qai jangan mengotori bajuku, kalau mau peluk ada kak Rio." ucap Berlin melepaskan diri dari pelukan Dewi.

"Aku tidak apa-apa di peluk..." ucap Rio mengembangkan tangannya.

Dewi berlari ke Rio bukan karena ia senang dengan Rio, tapi berpura-pura lemah.

"Kak Rio kau baik sekali, maafkan aku sudah merepotkanmu."

"Qai kau kenapa sih, kenapa kau lebay sekali. Dulu tidak pernah panggil kakak."

"Terus harus panggil apa?" ucap Dewi melepaskan pelukannya, ia kembali gugup.

Rio dan Berlin menatap Dewi dengan sempurna. Waktu umur lima belas tahun Qai sudah terlihat sangat cantik, kulitnya putih bersih seperti susu.

*****

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
wahhhh.... jangan sampai sianida itu di campur ke kopi / ke susu... bisa" kejang" yang minum
Cu
bagus
Ci
suka sama jln ceritanya
Ca
ku dukung sama dia
Bo
nice
Be
romantis
Bu
asik nih
Bi
wiuuh mantapp
Ba
cepet sembuh kek
Sin
good job
Lala
emang keren ini
90
lanjut cari
89
jangan lupa mampir
88
bisa aja nih
87
apa ya kisah selanjutnya
86
next penasaran
85
makin penasaran
84
seksi gt ya
83
wow keren banget
82
yess bgus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!