NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Bebeb Arum dan Identitas Markonah

Sementara itu, jauh di dalam kerimbunan semak belukar, Kiano terus memacu sepasang kakinya tanpa memedulikan estetika lagi. Dengan modal celana kolor Upin-Ipin basah yang mulai terasa gatal karena hempasan daun-daun liar, ia melesat lurus menembus kabut hitam.

"Napas gue... napas gue berasa mau pindah ke lambung, Gusti!" cerocos Kiano tersengal-sengal, memegangi dadanya yang naik-turun seperti habis ikutan marathon di Jakarta Car Free Day tahun 2050. Masker filter yang ia pakai tadi sudah hilang entah jatuh dimana.

Langkah Kiano mendadak ngerem mendadak sampai tumitnya berdecit di atas tanah basah. Di depannya, jalur hutan terputus. Berganti menjadi sebuah pasar yang begitu ramai. Namun tentunya bukan pasar manusia. Jelas ini pasar jin!

"Aduh, mampus! Gue bisa ketahuan terus ditangkap warga dan dibawa ke istana lagi. Mereka pasti nyangka gue Pangeran Wirasada. Ini gue harus nyari sesuatu buat nutupin muka gue yang ganteng ini," gumam Kiano panik.

Ia celingukan mencari apa saja yang bisa menutupi wajahnya. Pandangannya langsung tertuju pada sebuah anyaman bambu atau besek makanan berukuran cukup besar yang tergeletak begitu saja di tanah. Ia mengambilnya dengan cepat lalu memakainya di kepala. Masa bodoh jika ia disangka jin gila, yang penting identitasnya aman demi keselamatan nasional.

Kiano pun mulai melangkah, mencoba mencari jalan keluar dari kerumunan pasar. Tatapan para penghuni pasar gaib itu sontak tertuju padanya. Semua orang menatapnya heran. Namun Kiano tidak peduli. Ia terus berjalan menunduk sambil memegangi keranjang bambu di kepalanya.

Bertepatan dengan itu, dari arah depan, seorang gadis bunian tengah berlari kencang membelah kerumunan orang. Wajahnya tampak panik dan ketakutan.

"Aku harus sembunyi!" ucap gadis itu lirih.

Sial baginya, karena terus menoleh ke belakang, ia tidak melihat ada pemuda gesrek berkepala besek di depannya. Akhirnya, ia pun menabrak tubuh Kiano.

Bruk!

Keduanya langsung terjungkal ke atas tanah.

Untungnya, anyaman bambu penutup kepala Kiano tidak sampai terbang atau jatuh. Si gadis buru-buru bangkit berdiri, sementara Kiano hanya meringis kesakitan sebelum ikut berdiri tegak.

"Aduh, siapa sih yang nabrak gue? Untung wajah gue ori tanpa oplas. Kalau iya, hidung bangir gue udah amblas kayaknya," gerutu Kiano.

Ia mendongak, sedikit mengintip dari balik celah besek penutup kepala untuk memastikan siapa gerangan makhluk yang telah menabraknya.

"Bebeb Arum?!" Kiano membelalakkan mata sempurna saat melihat gadis di depannya.

Wajah itu mirip sekali dengan teman SMA-nya yang bernama Arummi Synthia. Gadis yang selalu ia goda di sekolah, namun sayang, cintanya tak pernah terbalas karena Arummi terlalu ketus, barbar, dan cuek padanya.

Namun, reaksi si gadis bunian tak kalah terkejut. Gadis yang mengenakan pakaian mewah bak putri keraton itu sebenarnya adalah Arum Rengganis. Dialah putri kandidat ke-50 yang beralasan sakit dan sengaja tidak datang ke acara kencan buta maraton Kiano. Arum Rengganis tidak sudi dijodohkan, apalagi dengan pangeran yang tidak ia sukai.

Sebagai putri dari Negeri Gunung Kidul gaib, ia sudah mencoba menyuap pengawalnya agar memberikan kesaksian dan alasan palsu pada Dharma. Namun sayang, siasatnya ketahuan oleh pengawal suruhan ayahnya sendiri, hingga ia terpaksa melarikan diri ke pasar ini.

'Dari mana pemuda aneh ini tahu namaku?' batin Arum Rengganis terkejut setengah mati. Ia mengira pemuda berkepala keranjang di depannya ini benar-benar mengenal identitas aslinya yang sedang menyamar.

"Arum, kenapa malah bengong? Kenapa bebeb bisa ada di sini? Ini Aa Kiki, pujaan hatimu!" ucap Kiano dengan penuh percaya diri sembari mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Arum Rengganis. Besek di kepalanya ikut bergoyang absurd.

Arum Rengganis menggelengkan kepala. Ia sama sekali tidak punya waktu untuk meladeni pemuda gila berkepala keranjang ini. Pengawal suruhan ayahnya bisa muncul kapan saja.

"Aku bukan Arum!" ucapnya ketus, lalu melangkah lebar melewati Kiano begitu saja.

Kiano tentu saja tidak terima ditinggal begitu saja oleh gadis yang mirip dengan gebetan pujaan hatinya. "Bebeb mau ke mana?! Jelasin dulu kenapa bisa ada di dunia dedem—maksud Aa, dunia... ah, sial!"

Kiano mendadak mengerem kalimatnya saat menyadari beberapa pasang mata warga jin di sekitar lapak dagangan mulai menatapnya tajam. Ia menelan ludah dibalik beseknya. Hampir saja ia keceplosan mengucap kata 'dedemit'. Kalau sampai warga gaib di pasar ini tersinggung, fiks dia bisa berakhir dirujak massal dan dijadikan takjil mistis.

"Beb, tunggu!" Kiano langsung mengambil langkah seribu untuk mengejar.

Arum Rengganis yang mendengar suara langkah kaki di belakangnya mulai panik. 'Siapa sebenarnya pemuda aneh ini? Kenapa dia terus mengejarku? Apa dia juga salah satu pengawal ghaib suruhan Ayah yang sedang menyamar?' batinnya berkecamuk penuh curiga.

"Arum sayang, tungguin Aa! Aa mau pulang ke Jakarta! Tolongin Aa!" teriak Kiano tanpa tahu malu, berlari kencang dengan kolor Upin-Ipinnya yang berkibar-kibar membelah kerumunan jin pedagang.

"Aku bukan Arum!" teriak gadis itu frustrasi tanpa menghentikan laju larinya.

"Jangan bohong!" balas Kiano keras kepala.

"Aku memang bukan Arum! Namaku... namaku... Markonah!" jerit Arum Rengganis asal sebut, saking terdesaknya mencari nama samaran paling absurd agar pemuda gesrek itu berhenti menguntitnya.

Kiano yang sedang berlari spontan nyaris tersedak air liurnya sendiri mendengar nama tersebut. Ia mengira jika selama ini Arummi di sekolah mungkin diam-diam ketularan gesrek seperti dirinya.

"Kamu jago juga bercanda, Beb! Tapi nama Markonah asli gak cocok banget buat muka estetik kamu!" teriak Kiano sembari terus memacu langkah.

"Berhenti mengikutiku! Kalau tidak, aku beri kau pelajaran!" bentak Arum Rengganis yang sudah kesal setengah mati karena terus dikuntit.

Karena merasa sudah sangat terdesak, sang putri terpaksa mengeluarkan sedikit energi gaibnya. Dalam satu hentakan kaki, tubuhnya langsung memudar dan menghilang begitu saja di tengah kerumunan pasar jin.

"Loh, dia ngilang?!"

Kiano sontak ngerem mendadak. Ia berdiri mematung di tengah jalan, menatap kosong ke arah tempat Arum Rengganis berdiri sedetik yang lalu. Sontak, kedua bahu Kiano merosot lesu.

Pantas saja. Gadis yang ia kenal di Jakarta Barat bernama Arummi tidak pernah bercanda, apalagi mengatakan omong kosong sekocak itu. Tapi yang ini jelas beda, Coy! Dia bisa menghilang dalam sekejap mata, yang artinya dia fix bukan sebangsa manusia seperti dirinya, melainkan penduduk asli dimensi dedemit ini.

"Duh, beneran ngilang, Coy. Fix, ini mah bukan Arummi gebetan gue yang galak itu," gumam Kiano meratapi nasibnya.

Ia menepuk jidatnya yang terbungkus besek bambu. Sialnya, tepukan itu terlalu keras hingga beseknya melesat turun dan tersangkut pas di lehernya, membuat kepalanya menyembul keluar seperti ayam potong siap pajang di etalase warteg.

Beberapa pedagang jin berkepala domba dan bermata tiga di dekat lapak sayur gaib langsung menoleh serentak. Mereka menatap Kiano dari ujung kepala sampai ujung kolor kuningnya yang bergambar Upin-Ipin tersenyum lebar.

"Hehe... siang, Mang. Punten, numpang nanya, konter pulsa yang jual kartu perdana sinyal 6G di pasar ini sebelah mana, ya?" tanya Kiano dengan senyum narsis andalannya, mencoba bersikap ramah tamah demi keselamatan jiwanya.

Bukannya menjawab, para jin itu malah saling berbisik heboh.

"Gusti! Itu kan Pangeran Wirasada!" bisik jin berkepala domba. "Tapi... kenapa gaya busana putra mahkota kita sekarang jadi minimalis begitu? Mana ada gambar bocah botak kembar lagi di celananya!"

"Iya! Pangeran kayaknya stres berat gara-gara mau dijodohin massal sampai pakai kalung besek nasi begitu!" sahut jin yang lain.

Kiano membelalakkan mata. Waduh, gawat! Besek penyamarannya gagal total! Sebelum warga pasar gaib itu berbondong-bondong menculik dan mengaraknya kembali ke kasur emas Kerajaan Mandala Hyang, Kiano buru-buru memutar badan. Ia bersiap mengambil langkah seribu lagi.

Namun sial, karena terlalu panik, ia malah tersandung kakinya sendiri. Tubuhnya limbung lalu ambruk dengan posisi tengkurap nista di atas tanah basah, membuat kondisinya semakin kacau balau.

Bertepatan dengan itu, Tengkorak Hideung yang baru saja mengalahkan dua wanita kembar jadi-jadian berhasil mengendus keberadaan Kiano. Jin jawara itu tengah terbang membelah keramaian pasar gaib.

Wujudnya saat ini masih sangat menyeramkan—wajahnya berupa tengkorak hitam legam bagaikan arang dengan sepasang mata merah menyala dan gigi taring yang panjang.

Tampaknya, ia kelupaan mengubah wujudnya kembali ke mode manusia akibat sisa emosi sehabis bertarung tadi. Ya, meskipun wujud manusianya yang berkumis melintang pun sebenarnya sama-sama menyeramkan bagi Kiano.

"Tuan! Akhirnya aku menemukanmu!"

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!